
Hari ini hari yang membahagiakan bagi Dewa. Karena setelah kemarin membuat janji temu dengan Dokter kandungan, saat ini Dewa sudah tiba di rumah sakit bersama Diandra.
Dia sudah tidak sabar ingin melihat anaknya yang masih berukuran sangat kecil itu. Apalagi kalau benar anak yang di kandung Diandra itu adalah anak perempuan. Maka kebahagiaannya akan berkali-kali lipat.
Diandra sudah berbaring di ruangan yang serba putih dengan berbagai atar yang Diandra tidak tau untuk apa. Sementara Dewa setia di samping Diandra untuk menemaninya.
"Oke kita mulai ya" Ucap Dokter perempuan itu setelah seorang mengoleskan gel yang terasa dingin di kulit Diandra.
Dewa memang sengaja memilih dokter perempuan untuk Diandra, karena dia tidak rela tubuh Diandra di lihat orang lain walau nyatanya juga bukan milik Dewa.
"Usia kandungannya sekarang 18 minggu ya, janinnya juga sehat dan aktif sekali. Tuan bisa lihat dia bergerak-gerak di dalam sana" Dewa sudah tidak lagi mendengarkan penjelasan Dokter itu. Dia justru menatap haru mayar monitor yang besar itu.
"Dan ini detak jantungnya" Air mata Diandra luruh seketika saat bunyi detak jantung yang sangat cepat itu terdengar di telinganya.
Dia sangat menyesal sempat menolak kehadirannya. Nyatanya detak jantung itu saja begitu indah dan mampu mengoyak hati Diandra dengan penuh rasa bersalah.
"Dokter, apa jenis kelaminnya??" Tanya Diandra. Di dalam hatinya dia sangat berharap jika perempuan mengingat Dewa menginginkannya.
Diandra juga melihat Dewa yang antusias dengan pertanyaannya itu.
"Untuk jenis kelaminnya..." Dokter itu menggantung kalimatnya. Dia memutar-mutar alat yang masih menempel di atas perut Kania itu.
Jantung Diandra berdetak cepat menantikan jawaban dari Donternya.
"Nah ini dia. Selamat Tuan anda akan segera di karuniai anak laki-laki. Kelak pasti akan hebat seperti anda" Lanjut Dokter setelah menemukan apa hang dia cari.
"La-laki-laki??" Ulang Dewa. Dia tampak syok lalu tersenyum kepada Diandra tapi terlihat jelas sekali jika matanya mulai berair.
"Iya Tuan, sekali lagi selamat. Dan untuk yang lainnya semuanya sehat dan baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Terima kasih Dokter" Jawab Dewa.
Diandra sedari tadi tak pernah melepaskan tatapannya pada Dewa. Mungkin jika orang lain yang terus di tatap seperti itu pasti akan merasa risih.
__ADS_1
Diandra turun dari brankarnya, lalu menghampiri Dewa yang berbicara dengan Dokter di luar tirai yang membatasi mereka
"Sudah?? Ayo kita pulang" Ajak Dewa dengan lembut setelah Diandra keluar dari ruang pemeriksaan.
"Terimakasih Dokter, bulan depan saya pasti kembali lagi. Dan saya minta untuk tetap merahasiakan ini dari siapapun" Ucap Dewa memandang Dokter itu dengan tajam.
"Baik Taun saya mengerti" Jawab Dokter itu patuh.
Diandra diam sejak tadi, dia merasa cemas. Berkali-kali dia melirik Dewa yang juga diam di sampingnya.
Sampai di salam mobil pun mereka masih terdiam. Diandra yakin pasti Dewa sangat kecewa dengan hasilnya tadi yabg tak sesuai harapannya.
"Mas??" Akhirnya panggilan itu bisa Dewa dengar lagi setelah permintaannya kemari di setujui oleh Diandra.
Rasa hangat langsung menyeruak di dalam hatinya, hingga menjalar ke seluruh tubuh.
"Iya, kenapa??" Tanya Dewa seperti biasa, dengan suara lembut yang sudah dia ubah sejak Diandra mencoba bunuh diri waktu itu.
"Kamu kecewa ya sama hasilnya tadi?" Tanya Diandra dengan sendu.
"Karena dia laki-laki, tidak seperti harapan kamu" Diandra seperti ingin menangis jika di lihat dari suaranya.
Dewa kemudian memilih menepikan mobilnya terlebih dahulu. Meski jalanan terlihat sepi, dia tidak mau memecah konsentrasinya saat mengemudi. Begitu pun dengan mobil anak buah Dewa di belakangnya. Mereka juga ikut menepikan mobilnya. Dewa memang hanya berdua di dalam mobil, tapi selalu membawa anak buahnya meski hanya mengawasi dari kejauhan.
Dewa menatap Diandra yang menundukkan kepalanya itu.
"Aku sama sekali tidak kecewa walau dia laki-laki Dee. Mau perempuan atau laki-laki yang penting sehat dan tidak kurang satu apapun. Aku akan tetap mensyukuri kehadirannya di rahimmu. Karena nanti jika dia sudah lahir, dia yang akan menjadi hadiah yang paling terindah dari kamu buat aku Dee"
"Aku janji, aku akan merawatnya dengan baik. Menyayanginya dengan sepenuh hatiku meski tidak ada kamu diantara kami. Aku pastikan dia tidak akan menghalangi kebahagiaanmu lagi. Hanya tersisa kurang dari lima bulan Dee, kamu akan segera bebas. Pegang omonganku ini Dee" Diandra tidak mau menatap Dewa, dia justru membuang pandangannya ke samping.
Dia tidak tau kenapa akhir-akhir ini menjadi sangat mudah menangis. Dan semua itu hanya karena Dewa yang selalu berhasil meyentil hatinya.
Walau Diandra selalu memalingkan wajahnya saat air matanya itu menetes, tapi Dewa tidak bodoh. Dia tau jika istrinya itu sedang menangis. Tapi Dewa hanya membiarkan Diandra menyembunyikan tangisannya itu. Dia tau Diandra juga butuh meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang pernah menolak kehadirannya Mas. Aku sungguh ibu yang jahat, aku menyesal karena pernah berniat jahat kepadanya" Diandra menundukkan kepalanya dengan bahu yang bergetar hebat, kali ini dia tidak bisa lagi menahan tangisannya di depan Dewa.
"Maafkan aku" Ucapnya lagi di tengah isakannya yang mulai terdengar.
Dewa melepas seat beltnya lalu menarik Diandra ke dalam dekapannya.
"Jangan menangis, kamu bukan ibu yang jahat. Aku tau posisimu saat itu. Akulah yang jahat disini"
Diandra semakin tergugu mendengar penuturan dari Dewa itu. Laki-laki yang dulu tega menyiksanya secara fisik dan psikis kini benar-benar tidak ada lagi. Dewa hanyalah laki-laki yang akan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan yang pernah dia lakukan kepada Diandra.
"Jangan menangis....." Ucap Dewa dengan tangannya yang terus mengusap lengan Diandra dengan lembut.
"Sayang" Lanjutnya dengan suara yang sangat pelan, mungkin Dewa berharap Diandra tidak mendengar Dewa mengatakan kata sayang, tapi posisi Dewa yang sedang memeluk Diandra membuat telinga Diandra dekat dengan bibir Dewa.
Tangan Diandra yang sejak tadi terkulai tanpa membalas pelukan Dewa, kini langsung melingkar sempurna di pinggang Dewa.
Diandra menangis sejadi-jadinya di dalan pelukan Dewa. Bahkan Dewa merasakan bajunya basah karena air mata Diandra.
🌻🌻🌻
Setelah hampir satu jam Diandra menangis di dalam mobil karena penyesalan dan rasa bersalahnya kepada Dewa, kini mereka telah sampai di depan pintu gerbang rumah mereka..
Dewa mengemudikan mobilnya dengan pelan sambil menikmati indahnya pantai di sisi kanan mereka.
CIIIITTT ...
Tangan Dewa terulur melindungi kepala Diandra agar tidak terbentur karena Dewa yang mendadak menginjak remnya.
"Tolong aku!!" Teriak perempuan yang mengehentikan mobil Dewa dengan tiba-tiba berdiri ditengah jalan itu.
"Siapa dia Mas??"
-
__ADS_1
-
Bersambung...