Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
98. Akhtar pulang


__ADS_3

"Papa benar-benar nggak nyangka, ternyata kamu pinter juga ya"


Papa Rayan masih terus memeriksa hasil laporan pekerjaan Tara. Ternyata diam-diam Tara membuat usahanya sendiri tanpa bantuan Papanya.


Berkat hobinya dalam dunia fashion, dengan penampilannya yang sering kali membuat tren tersendiri. Tara berhasil membuat brandnya sendiri.


Tara yang sedang di puji papanya itu acuh tak acuh sambil memainkan kuku jarinya.


"Kenapa kamu nggak pernah minta bantuan Papa??"


"Tara itu pingin berusaha sendiri, Tara tidak mau di remehkan sama orang lain. Nanti mereka pasti mengira jika semua usaha Tara ini tak lepas dari bantuan Papa. Makanya Tara mau membuktikan sama orang-orang kalau Tara bisa"


Papa Rayan bangga pada anaknya itu. Walau terlihat manja dan kekanakan, tapi diam-diam dia mengerjakan sesuatu yang membuat orang tuanya bahkan tak percaya.


"Walau ini brand kecil, tapi Papa akui iki sudah sangat bagus Tara. Perkembangannya cepat, kamu mau menarik minat pembeli dengan hasil-hasil karya kamu yang berbeda"


Papa Rayan melihat semua contoh-contoh barang buatan Tara. Mulai dari pakaian pria dan wanita, tas, sepatu dan masih banyak aksesoris-aksesoris fashion lainnya.


"Papa doain supaya ada yang tertarik dan kolaborasi sama brand kamu"


Tara mendekati Papanya yang duduk di balik meja kantornya.


"Makasih Papa, Papa emang yang terbaik" Tara memeluk leher Papa Rayan.


"Lalu rencana kamu selanjutnya apa sayang?? Yakin nggak butuh bantuan Papa??"


"Enggak Pa, Tara yakin Tara mampu berdiri dengan kaki Tara sendiri"


Tara mengambil laporan yang tadi Papanya periksa.


"Setelah ini Tara akan melakukan pemotretan Pa. Karena ada barang baru yang harus di luncurkan. Nanti kalau permintaannya banyak, hasil dari penjualan itu Tara akan membuka konveksi sendiri. Karena selama ini Tara hanya menyewa, jadi tidak bisa maksimal. Menurut Papa bagaimana??"


Papa Rayan senang karena putrinya benar-benar sudah dewasa dan bisa memikirkan masa depannya sendiri.


"Menurut Papa itu rencana yang bagus. Kalau kamu terus menyewa jasa konveksi, lama-lama pengeluaran kamu akan semakin membengkak. Hasil dari penjualan kamu bisa terkuras habis hanya menanggung beban jahit saja. Memang awalnya akan mengeluarkan modal yang sangat besar, tapi kedepannya kamu tidak perlu pusing lagi dengan hal itu. Beban yang kamu tanggung hanya biaya perawatan dan beban gaji karyawan konveksi saja"

__ADS_1


Tara menjentikkan jarinya.


"Benar kata Papa"


"Lalu kamu sudah putuskan, siapa yang akan jadi model kamu?? Usahakan cari yang sudah punya nama Tara, pengaruhnya sangat besar"


Tara memang berpikir seperti itu. Tapi dengan uang tabungannya hang mulai menipis, Tara tidak yakin bisa membayar model yang sudah profesional.


"Tara belum yakin soal itu Pa" Tara mendadak lesu dan kembali duduk di tempatnya yang semula.


"Kenapa?? Masih kurang dananya?? Butuh bantuan Papa??"


"Tara kan sudah bilang Pa, Tara mau usaha sendiri!!" Tegas Tara.


"Bukan bantuan uang yang Papa maksud sayang, tapi Papa punya kenalan seseorang. Mungkin bisa jadi model buat brand kamu. Dia cukup terkenal, jadi Papa rasa dia cocok untuk mempromosikannya"


"Tapi kalau sudah terkenal pasti mahal Pa" Diandra menyandarkan bahunya pada sofa dengan lemas.


"Kamu tenang saja, kapan-kapan Papa akan ajak dia makan malam. Nanti kamu ikut juga, dan kenalkan semua brand kamu sama dia. Nanti Papa juga akan bantu untuk bicara sama dia"


Mata Tara kembali terlihat berbinar, menegakkan badannya kemabli dengan semangat.


"Nanti Papa kabari kapan dia senggang"


"Oke Papa, sekarang anak perawan mu ini pergi dulu" Tara mengambil semua laporannya tadi dan memberikan kecupan singkat pada Pipi Papanya sebelum berlari kecil meninggalkan ruangan itu.


"Ck.. Anak itu" Papa Rayan hanya geleng-geleng melihat anak perempuannya terlihat kekanakan dan dewasa di waktu yang bersamaan.


🌻🌻🌻


Diandra dan Dewa sedari tadi tak bisa menghilangkan senyuman di bibir mereka. Bahkan sesekali air mata Diandra menetes membasahi pipinya. Tentu saja bukan air mata kesedihan karena bibirnya terus tersenyum. Melainkan air mata kebahagiaan. Karena akhirnya hari ini Akhtar di perbolehkan pulang.


Dewa terus saja memandang wajah putranya yang kini ada di dalam pangkuannya. Sementara Diandra duduk si sebelah Dewa dengan tangan yang terulur mengusap lembut pipi Akhtar.


Mereka berdua masih dalam perjalanan pulang, sedangkan Orang tua mereka dan juga yang lainnya menunggu kedatangan pewaris baru keluarga Bahuwirya di rumah.

__ADS_1


"Sayang, kenapa dia bobok terus dari tadi??"


Keluh Dewa entah sudah berapa kali, karena Dewa terus saja menanyakan itu pada Diandra.


"Akhtar kan masih bayi Mas. Jam tidurnya lebih banyak daripada saat dia bangun. Nanti semakin besar juga semakin berkurang" Tutur Diandra dengan lembut.


"Aku pingin cepat bisa bermain sama dia sayang. Main bola, belajar berenang, mengajarinya melukis tapi di satu sisi aku nggak rela dia cepat besar, segini terus kayaknya lucu" Dewa menggesekkan hidungnya dengan hidung putranya dengan lembut. Membuat bayi kecil itu menggeliat dengan lucu.


"Sssttt nggak bole gitu dong Mas. Biarkan dia berkembang dengan semestinya. Tapi kita jangan melewatkan setiap momennya, nanti kalau dia udah dewasa kita bakalan kangen masa-masa itu"


Diandra menyandarkan kepalanya pada bahu Dewa.


"Kamu benar sayang"


Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Niko itu memasuki halaman rumah mewah keluarga konglomerat itu.


Rumah yang dulunya milik Papa Elang, dan rumah Mama Bella disebelahnya, kini sudah di renovasi menjadi satu pekarangan. Dengan rumah Papa Elang yang di rombak total menjadi megah besar sedangkan milik Mama Bella tetap tak berubah sedikitpun. Itu karena Mama Bella tak mau kehilangan kenangan satu-satunya dari kedua orang tuanya.


Tak disangka Diandra sebelumnya jika penyambutan baby Akhtar akan semeriah itu. Semua keluarga sudah berkumpul di sana. Termasuk Mama Mita, Papa Rayan, Tara dan juga teman-teman Mama Bella yaitu Tante Sintia dan Siti.


"Selamat datang cucu Oma" Mama Bella langsung mengambil alih bayi kecil itu ke dalam gendongannya untuk yang pertama kalinya. Karena sejak di rumah sakit hanya Dewa dan Diandra saja yang di perbolehkan untuk menyentuh bayi itu.


"Aduh gemes banget Bell" Mama Mita ikut mengganggu tidurnya baby Akhtar.


Semuanya tampak bahagia dengan pulangnya Akhtar tak terkecuali Papa Elang dan Ayah Diandra. Para Kakek itu begitu bahagia karena cucu laki-lakinya telah hadir di tengah keluarga mereka.


"Selamat ya Diandra. Maaf waktu itu aku belum semangat mengucapkannya kepadamu" Tara mendekati Diandra yang duduk di sampung Dewa.


"Tidak papa Tara. Terimakasih ya udah datang kesini" Hubungan mereka berdua sekarang tampak membaik setelah pertengkaran mereka di rumah sakit itu.


Mereka semua kini asik dengan bayi menggemaskan itu. Berbagai pujian dan doa mereka panjatkan untuk Akhtar hingga me.buat Diandra kembali terharu.


Diandra tiba-tiba memeluk Dewa dengan isakan kecil yang hanya di dengar Dewa.


"Mas, aku bahagia sekali. Saking bahagianya aku tidak bisa membendung air mataku. Seandainya saja aku mengambil keputusan yang salah mungkin aku tidak bisa merasakan semua ini" Ucap Diandra berbisik pada Dewa.

__ADS_1


"Mas juga sayang. Ternyata semua sakit yang kita lalui berbuah begitu manis seperti ini"


Bersambung...


__ADS_2