
Dua tahun sudah Abel menjalani hidup seorang diri tanpa bantuan keluarga dan saudara,namun Abel beruntung masih punya sahabat yang baik dan selalu ada untuk nya. Siapa lagi jika bukan Jeje.
Di pagi yang cerah dan matahari sudah mulai menunjukan sinarnya, nampak seorang gadis cantik sudah siap untuk pergi kesekolah. Dia adalah Abel,dia bangun pukul 05:42 untuk membersihkan rumah, Rumah peninggalan ayah dan ibunya. Syukurlah ayah dan ibunya tidak meninggalkan hutang saat mereka pergi sehingga Abel tidak perlu esktra banting tulang untuk membayarnya.
Dia mengenakan seragam SMA nya dengan rapi, dia menggerai rambutnya hari ini,karna dia terkadang risih ketika banyak pria di sekolah yang selalu memperhatikan lehernya.
Siapa sangka dengan menggerai rambutnya itu tidak ada bedanya, tatapan memuja dan penuh kagum selalu tergambar oleh wajah para siswa.
Sebelum berangkat sekolah, Abel selalu sarapan jika tidak pun dia hanya minum air putih saja. Dia selalu berusaha tersenyum menjalani harinya, bohong jika Abel tidak merindukan kedua orang tua nya, Bayang bayang kasih sayang mereka selalu saja terlihat di setiap sudut rumah itu.
.
.
.
.
Abel pergi kesekolah dengan berjalan kaki, jarak sekolah dengan rumah Abel lumayan jauh. Terkadang Abel juga merasa lelah tapi mau bagaimana lagi?, daripada uang nya habis untuk ongkos kesekolah lebih baik di gunakan untuk keperluan lain,pikir Abel.
Disinilah dia sekarang, Di depan gerbang sekolah yang hanya untuk kalangan atas namun dia berhasil masuk kesana berkat prestasi yang ia toreh, SMA Pranata Jaya.
Celingak celinguk dia mencari seseorang saat berjalan menuju ruang kelasnya.
"Jeje dimana yah? Biasanya dia datang pagi? "gumam Abel.
Dia terus berjalan,hingga tepukan di pundaknya menghentikan langkahnya.
"Mencari Jeje? "Sapa suara yang terdengar hangat di telinga, siapa lagi kalau bukan Arjun orang nya.
Abel menoleh kebelakang dan mendapatkan pria tampan jakung sedang bersenyum dengan senyuman khas nya yang menawan.
"Eh? Arjun?"ucap Abel
"Iya Jun, aku sedang mencari Jeje. Kamu tau dia dimana?"tanya abel.
"Jeje belum datang, mungkin sebentar lagi. Lagipula ini masih awal juga"ucap Arjun yang tak lepas dari senyuman nya yang hangat.
"Oh, Kamu tumben sekali datang awal? biasanya juga sedikit siangan?"tanya Abel yang sudah tau kebiasaan Arjun,Yah mereka satu kelas,hal itu juga yang membuat hidup Arjun selalu merasa manis karna sekelas dengan gadis yang ia sukai. Namun dia belum berani mengatakannya, karna ia takut persahabatan mereka akan rusak. Itu sebab nya Arjun memendam nya dulu sebelum nanti waktu yang pas dia akan mengatakannya.
"Memangnya tidak boleh datang awal? Aku mau mengajak mu sarapan di kantin" jelas Arjun.
"Emm..maaf yah Jun, aku menunggu Jeje saja nanti"ucap Abel pelan agar Arjun tidak merasa tersinggung.
__ADS_1
"Astaga Bell, sekali sekali kamu harus mau, kebetulan Jeje belum ada, Mau yah please..."bujuk Arjun dengan wajah penuh harap.
Jika saja ada siswi lain yang melihat, maka mereka akan langsung pingsan,tapi tidak dengan Abel.
Abel juga kasihan melihat Arjun,dia sudah datang pagi pagi hanya untuk mengajaknya sarapan bersama dan kebetulan tadi Abel tidak sarapan di rumah,hanya minum saja.
"Mau ya Bell? Aku traktir kok"Sambung Arjun.
"Emm, yasudah aku mau"ucap Abel sembari memperlihatkan senyuman nya yang bisa membuat siapa pun terpana.
"Astaga..sampai kapan Aku harus memendam ini?"batin Arjun.
Mereka pun beriringan berjalan menuju kantin,banyak pasang mata melihat mereka, ada yang kagum dengan paras mereka berdua,ada juga yang iri sambil terang terangan menunjukan ekspresi tidak sukanya.
Setelah sampai mereka langsung mencari tempat duduk untuk sarapan bersama. Sepanjang perjalan menuju kantin,senyum tak pernah luput dari seorang Arjun.
"Bell? kamu mau pesan apa?"tanya Arjun.
"Samakan saja"Jawab Abel ramah.
"Yasudah Aku pesan dulu yah"ucap Arjun sembari pergi memesan makanan.
"Iya" jawab Abel sembari tersenyum.
Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sejak awal. Nampak rasa tak senang di wajahnya,bahkan tangannya sudah mengepal dan siap untuk memukul. Dia adalah Rey yang sudah terbakar sejak awal,namun tetap diam di tempat sebelum dia melakukan sesuatu.
.
.
.
Di lain tempat, seorang pria yang tampan sedang berjalan menuju ruangannya, sepanjang perjalanan mata tak lepas memperhatikannya,terlebih lagi para karyawan wanita.
"Astaga,Tuan Leon tampan sekali"
"Beruntungnya aku bisa melihat pria setampan nya"
"Aku ingin menikah denganmu Tuan Leon"
Kira kira seperti itulah gumaman karyawan wanita kepada atasannya itu.
Dia memasuki lift khusus Ceo yang diikuti oleh sekertarisnya Hans di belakang.
__ADS_1
Dia menuju dilantai paling atas di perusahaan itu,karna disitulah ruangannya.
Saat di lift,Leon membuka pembicaraan.
"Apa jadwal hari ini?"tanya nya tanpa menoleh ke lawan bicara.
Hans yang sudah faham langsung menjelaskan jadwal yang harus di hadiri oleh sang atasan.
"Jam 10 nanti ada meeting dengan Klien dari singapura, Jam 1 nanti ada pertemuan dengan Tuan Gilbert untuk urusan kerja sama di kafe Printiar, dan bla bla bla...."jelas Hans
"Hmm"Leon berdehem.
"Untung atasan"batin Hans.
.
.
.
.
Jam pulang sekolah pun tiba, para siswa siswi sudah siap untuk pulang kerumah mereka masing masing, begitu juga dengan Abel dan Jeje.
"Bell, kamu mau diantar pulang? kebetulan aku bawa mobil sendiri"Tawar Jeje.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok Je"ucap Abel yang merasa tidak enak dengan Jeje. Bisa bisa dia disangka memanfaatkan Jeje oleh siswa lain, terutama Karina.
"Astaga Bell, Aku tau kamu merasa tidak enak dengan ku. Santai saja Bell, siapa perduli sama mereka, lagipula kamu harus kerja juga nanti kamu bisa telat" jelas Jeje.
"Yasudah, aku mau" jawab Abel setuju.
"Oke, sekarang kita keparkiran yah"balas Jeje.
Mereka berdua pun beriringan berjalan menuju parkiran sekolah, saat melewati koridor terdengar suara di belakang memanggil.
"Mau pulang?"tanya nya dengan suara dingin.
Seketika mereka berdua memutar badan dan melihat ke sumber suara.
Dan terpampanglah sosok pria tampan,tinggi,dan yang pastinya digilai siswi di sekolah dan di idolai oleh Jeje juga pastinya, namun tidak dengan Abel.
"Eh Rey, iya kita mau pulang"Ucap Jeje dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Bersambung...
Like,Coment,Vote:)