Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-70


__ADS_3

"Ini bukan pemerasan, ayo kita menikah dan memproses banyak anak kecil untuk pewaris ku"jawab Leon samtai lagi.


"Haha sekarang bagaimana cara kelinci manisku menolak?"batin Leon.


Abel terdiam mendengar penuturan Leon yang membuat hati nya bimbang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? akan kah dia harus membiarkan Gion terperangkap di ruangan itu selamanya? lalu, dimana letak hati nurani seorang Abel sekarang?


"Apa tidak ada cara lain?"tanya Abel pelan sembari menunduk.


Leon tersungging mendengar pertanyaan Abel barusan. Dia tau Abel belum yakin dengan hatinya, maka dari itu dia sedang di landa bimbang gulana yang menyelimuti hatinya tersebut.


"Tidak"jawab Leon singkat,padat, dan jelas.


"Bagaimana ini?"batin Abel.


"Cepatlah buat keputusan, aku harus keluar sekarang"ucap Leon mendesak Abel.


Abel gelagapan, akan kah dia menerima tawaran Leon untuk menikah? dia sangat takut jika nantinya perasaan dia atau Leon akan memudar setelah mengucapkan janji pernikahan.


"A...aku"ucap Abel gugup.


"Huft, baiklah aku menerima tawaranmu. Lepaskan Pak Gion, dia tidak bersalah Pak singa"ucap Abel yang membuat Leon tersenyum kemenangan.


"Akhirnya"batin Leon senang.


Setelah menghabiskan waktu yang begitu lama, akhirnya Abel setuju untuk menikah dengannya. Seharusnya Leon melakukan rencana ini sejak lama.


Leon berjalan mendekati dan mencium seluruh wajah Abel senang.


"Bagus, aku akan membebaskan pria bodoh itu"ucap Leon.


Abel hanya diam sembari menatap Leon dalam, apa kah keputusannya sudah benar untuk menikah dengan Leon? tapi dia tidak boleh egois, dia tidak bisa mengorbankan masa depan seseorang yang tak bersalah.


"Pak singa, aku sudah berjanji akan menikah denganmu, tapi bisakah menunggu sampai aku lulus?"tanya Abel pelan takut Leon marah dan menolak membebaskan Gion.


"Em..."Leon berfikir.


"Tergantung"jawab Leon singkat.


"Hah? tergantung apa?"tanya Abel bingung.


"Tergantung sampai kapan aku tahan untuk tidak menyentuhmu"jawab Leon sembari menatap Abel menggoda.


Abel tertegun mendengar jawaban Leon, apakah Leon hanya menginginkan tubuhnya saja? pikir Abel.

__ADS_1


"Apa kamu hanya menginginkan tubuhku?"tanya Abel lirih dengan ekspresi sedih.


"Apa yang kamu katakan? tentu saja itu tidak benar, aku mencintai semua yang ada pada dirimu. Aku mencintamu Nona Arabella Clarissa"jawab Leon sembari memegang kedua pipi Abel agar menatapnya.


Abel hanya diam tanpa mengatakan apapun selama beberapa waktu, dia hanya menatap Leon dengan tatapan sendu.


"Pak singa, bisakah sekarang kamu membebaskan Pak Gion? keluarga nya pasti merindukannya sekarang ini"jelas Abel pelan.


"Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan dia?"tanya Leon cemburu.


"Aku tidak mengkhawatirkan nya, aku hanya kasihan dengan keluarganya"jawab Abel.


"Huft, baiklah"jawab Leon pasrah.


"Aku akan membebaskannya sekarang, kamu berdiam dirilah disini sampai aku kembali, kamu mengerti?"tanya Leon lembut.


"Iya, aku mengerti"jawab Abel.


"Kelinci pintar"ucap Leon sembari mengelus kepala Abel.


Entah kenapa, setelah mendapat elusan di kepala oleh Leon, perasaaan Abel menjadi senang. Mungkin sekarang dia sudah mulai kecanduan dengan elusan lembut dari Leon.


"Baik"jawab Abel kembali semangat.


Kaki panjangnya berjalan kembali ke ruangan dimana Gion di kurung. Dia dengan ekspresi dingin nan Arogannya berjalan mendekati Gion yang terikat di atas kursi.


"Dimana Abel? lepaskan aku!"bentak Gion.


"Cih, untuk apa kau mencari calon istriku?"tanya Leon dingin dengan tampang arogannya.


"Siapa yang kau sebut calon istrimu? Abel bukan milikmu, dia milikku!"ucap Gion marah.


"Hahaha"Leon tertawa remeh sembari memandangi Gion.


"Kau bermimpi terlalu tinggi hingga lupa akan bumi, berkatmu Abel setuju untuk menikah denganku, lupakan saja jika kau pernah menyukai nya karna sekarang dia milikku"ucap Leon dengan tatapan tajam mencengkeram rahang Gion.


"Apa maksudmu? kau pasti memaksanya! lepaskan dia!"bentak Gion.


"Ck ck ck, Gion yang malang. Sudahilah tekadmu untuk memilikinya, karna pada dasarnya aku lah pemenang nya"ucap Leon remeh pada Gion.


"Aku akan membebaskanmu sekarang sesuai permintaan calon istriku itu, dia begitu baik hingga memintaku membebaskan orang yang telah melukainya. Bukan kah aku pria beruntung yang berhasil menikahinya? ck, tidak seperti dirimu, sangat menyedihkan"tutur Leon meremehkan Gion.


"Dia tidak mencintai mu, kamu memaksanya!"tukas Gion.

__ADS_1


"Haha, kau ini sangat polos atau mungkin bodoh? mungkin keduanya. Dia sendiri yang menerima lamaranku, berarti dia mencintaku"ucap Leon penuh penekanan sembari menghempas rahang Gion.


"Jangan buang waktumu yang tidak berguna itu hanya untuk berdebat denganku yang tidak mungkin akan kalah, ratapi saja nasibmu itu"ucap Leon sinis kemudian melangkah keluar.


"Sialan!! aku akan menghabisimu!"teriak Gion pada Leon yang sudah berada di luar.


"Cih, serangga kecil"batin Leon yang mendengar teriakan Gion dari dalam.


"Bebaskan dia dan bawa dia jauh dari monsion ini, dia mengganggu ku"ucap Leon pada penjaga.


"Baik Tuan"jawab penjaga serentak.


"Sekarang mari kita lihat kelinci manis ku sekarang"batin Leon kemudian berjalan cepat kembali ke kamarnya.


Sedangkan di kamar, Abel sedang duduk di sofa sembari menumpuh wajah di atas lutut.


"Pak singa pria yang baik walau dia punya penyakit [mesum] yang tak mungkin bisa di obati"batin Abel.


Saat dia sedang melamun dengan segala pikirannya, sosok tangan besar nan hangat melingkar sempurna di pinggang rampingnya itu. Abel menoleh ke samping melihat pelakunya dan benar apa yang di pikirkan Abel, Leon lah pelakunya.


"Aku sudah menyuruh penjaga mengembalikan dia ke tempatnya, apa yang kamu lamunkan heum?"tanya Leon lembut.


Abel menggeleng sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Leon barusan.


"Aku hanya bosan saja"jawab Abel berbohong.


Leon mengerutkan keningnya dan menyunggingkan senyum di bibir setelah mendengar jawaban Abel.


"Jangan pernah berbohong padaku, matamu itu adalah saksi di setiap ucapanmu"ucap Leon kemudian mencubit pelan pipi Abel.


"Maaf"jawab Abel pelan karna ketahuan berbohong.


"Tidak apa apa, tapi lain kali jangan memendam apapun sendiri. Aku akan selalu ada untukmu, sebagai teman, pacar,suami, maupun ayah"jelas Leon yang membuat Abel tersenyum malu sekaligus tersentuh.


"Kamu mulai lagi, berhentilah menggoda ku"ucap Abel kemudian menarik hidung mancung Leon.


"Akh! aku tidak menggodamu, itu tulus dari lubuk hatiku yang terdalam"ucap Leon membuat pipi Abel memanas.


"Sudahlah, kamu tidak akan pernah bisa berhenti menggodaku"ucap Abel yang akan beranjak, namun Leon yang melihat itu dengan cepat menarik pergelangan tangan Abel, sehingga membuat tubuh Abel oleng dan jatuh di pelukan Leon.


Bersambung...


Like, coment, vote, favorite (: bye

__ADS_1


__ADS_2