
"Kamu adalah gadis yang sangat sempurna untukku, rasanya sangat hampa di hati ku ketika tidak melihatmu"gumam Leon sembari mengelus lembut rambut Abel.
"Selamat tidur kelinci manis, aku mencintai mu"lanjutnya kemudian mengecup kening Abel lembut.
.
.
.
Abel mengerjapkan matanya saat sinar mentari yang mulai menyinari wajahnya. Dia menghela nafas sebelum membuka matanya yang terasa berat karna sangat mengantuk. Di lihatnya pria tampan yang menemaninya tidur tadi malam masih terlelap di sampingnya sembari memeluk perut Abel.
Di telisiknya wajah tampan pria itu yang terlihat tenang saat tertidur. Hidung mancung, rahang tegas, dan bibir tipis yang se*xy membuat mata betah berlama lama memandanginya. Tidak bisa Abel pungkiri jika dia sempat terpesona memandangi wajah Leon yang sedang terlelap di sampingnya.
"Pak singa ternyata sangat tampan, aku baru menyadarinya"batin Abel.
Tanpa sadar tangan Abel bergerak memegang pipi Leon yang di tumbuhi rambut rambut halus dan rapi itu, terlihat sunggingan di bibir Abel saat mengelus pipi Leon.
"Maafkan aku yang sering marah dan merutuki mu, tapi aku tidak salah. Kamu sendiri yang memulainya"batin Abel.
"Apa dia tidak bekerja hari ini? ini sudah semakin siang"batin Abel.
Abel menepuk pipi Leon pelan untuk membangunkannya, tapi Leon sama sekali tak bergeming dan masing nyaman dengan tidurnya.
"Pak singa"panggil Abel membangunkan Leon sembari menepuk pipi Leon pelan.
"Pak singa, ayo bangun!"ucap Abel sedikit keras tapi Leon tak jua bangun.
"Dia ini tidur atau pingsan? sepertinya aku harus melakukan hal yang lebih maenstrim" gumam Abel.
Abel menghembuskan nafasnya panjang kemudian mendekati telinga Leon. Dan 1 2 3...
"Pak singa, ayo bangun!" teriak Abel tepat di telinga Leon. Dan benar saja, Leon terkejut dan langsung berdiri dari tempat tidur.
"Apa? ada apa?"tanya Leon panik dengan mata melotot.
Abel terkekeh kencang melihat reaksi yang di perlihatkan oleh Leon sekarang ini.
"Haha, akhirnya kamu bangun juga" kekeh Abel.
Leon menatap Abel yang terkekeh geli menertawakannya, dan sekarang Leon pun sadar jika Abel yang berteriak.
"Oh, kelinci manis ku ternyata sudah berani yah sekarang" ucap Leon kemudian kembali naik ke atas kasur dan memeluk pinggang Abel lagi.
__ADS_1
"Hey, jangan seperti ini. Bukan kah kamu harus bekerja? pergilah bersiap" ucap Abel sembari menarik tangan Leon yang melingkar di pinggangnya.
"Tidak mau, aku ingin menghabiskan waktu denganmu" ucap Leon manja sambil menelusupkan wajahnya di ketiak Abel. Abel berteriak kegelian saat Leon menelusupkan wajah di ketiaknya.
"Hentikan, ini geli haha" ucap Abel kegelian.
Leon menarik wajahnya dan menatap Abel dengan senyum hangatnya.
"Apa yang kamu pakai? kenapa sangat sangat harum?"tanya Leon.
"Aku pakai sabun mu yang ada di kamar mandi"jawab Abel polos yang membuat Leon terkekeh.
"Aku juga tau itu, dasar kelinci!"ucap Leon kemudian mengecup singkat bibir Abel.
"Morning kiss Baby" ucap Leon. Abel hanya diam dengan wajah bersemu merah.
"Jangan mencium ku lagi! itu tidak sopan!"ucap Abel kesal.
"Tidak sopan? lalu bagaimana caranya agar sopan? apa kita perlu menikah dulu?"tanya Leon dengan senyum menggoda.
"Menikah menikah menikah, itu saja yang ada di kepalamu. Aku ingin sukses dulu barulah akan menikah, aku tidak ingin dilihat sebelah mata oleh keluarga suami ku nanti" jelas Abel kemudian beranjak memasuki kamar mandi.
Leon mencerna ucapan Abel dengan teliti. Ternyata selain harus mendapatkan hati Abel, dia juga harus menunggu Abel sukses seperti yang dikatakannya tadi. Tapi dia adalah Leon, Leon Sebastian Xylander. Orang dalam yang akan membuat Abel dengan mudah memasuki dunia kesuksesan.
.
.
.
"Pak singa, apa kamu benar benar membuatku belajar di rumah?"tanya Abel di sela sela sarapan.
"Tentu"jawab Leon singkat.
"Tidak bisakah aku belajar di sekolah saja? aku akan menjaga diri dengan baik" bujuk Abel.
"Tidak,Baby. Aku tidak akan mengambil resiko yang membuatmu terluka"jelas Leon.
"Hm, baiklah. Akan butuh lama bagiku untuk lulus"gumam Abel pelan.
"Ekhem, sebenarnya kamu tidak perlu sekolah untuk sukses"ucap Leon.
"Ha? apa maksudmu?"tanya Abel tak mengerti.
__ADS_1
"Yah, aku bisa membuatmu sukses tanpa perlu ijazah atau semacamnya" jawab Leon. Abel menyerngitkan keningnya mendengar penuturan Leon.
"Tidak mau, aku tidak mau sukses dengan bantuan orang dalam. Itu tidak murni, aku tidak mau" ucap Abel kesal. Leon tersenyum bangga dengan jawaban Abel.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu"ucap Leon.
Hans datang menghampiri Leon dan Abel yang sedang sarapan di ruang makan sembari membawa berkas di tangannya.
"Tuan, jadwal meeting dengan Klien sebentar lagi"jelas Hans.
"Baiklah, kamu bisa tunggu di mobil dulu"jawab Leon.
"Baik,Tuan"ucap Hans sopan kemudian berjalan kembali ke mobil.
Leon mendekati Abel dan mengelus lembut pucuk kepalanya. Abel mungkin sudah terbiasa dengan perlakuan Leon yang suka mengelus kepalanya, hingga membuatnya tidak menolak.
"Aku akan berangkat sekarang, jaga diri baik baik heum?"ujar Leon lembut.
"Baik"jawab Abel sembari menunduk tak sanggup menatap Leon.
"Dan ingat, jangan..."ucap Leon terpotong.
"Jangan berkeliaran atau keluar dari Monsion ini"lanjut Abel sembari tersenyum.
"Bagus, kelinci ku yang pintar"puji Leon kemudian mengecup kening Abel lembut.
"Aku berangkat yah"ucap Leon sambil memegang pipi Abel.
"Iya"jawab Abel singkat.
Leon tersenyum menatap Abel kemudian melenggang pergi. Abel tersipu malu dengan perlakuan Leon yang sangat manis ini, dia terus memegang pipi nya yang terasa panas.
Abel mengikuti Leon keluar Monsion dan melihat kepergian Leon menggunakan mobil mewahnya.
Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini, tangan Abel mendadak melambaikan tangan saat mobil bergerak menjauh sambil tersenyum.
"Dadah Pak singa" ucap Abel sembari tersenyum hangat.
Rupanya saat Abel melambaikan tangan, Leon melihat itu dari balik kaca spion. Terlihat lengkungan di bibirnya setelah mendapatkan perhatian kecil dari Abel,walau kecil namun begitu berarti bagi Leon.
"Aku mencintaimu"batin Leon yang terus melihat ke arah kaca spion hingga akhirnya mobil berjalan menjauh.
Bersambung...
__ADS_1