
"Aku menang..."gerakan mulut George pada Leon yang ditinggal di ruang tamu.
Leon merasa begitu frustasi sekarang, bagaimana mungkin Daddy nya bisa begitu sekejam dan sedrama ini padanya?
"Daddy!! kamu menyudutkanku!"teriak Leon menggema di ruang tamu dengan perasaan kesal.
Sedangkan Abel dan George yang mendengar terikan kesal Leon berusaha keras menahan tawanya. Leon sangat kalah telak jika sudah berhadapan dengan Daddy nya itu.
"Nak, apa kamu nyaman bersama Leon?"tanya George pada Abel ketika sudah sampai di kamar.
"Tentu, dia baik walau terkadang menyebalkan"jawab Abel keceplosan.
"Maaf, maksud ku..."ucap Abel terpotong.
"Tidak perlu meminta maaf, Leon memang seperti itu, tapi apa kamu tau? dia adalah pria yang kesepian, untuk melihat senyum nya saja sangat sulit"jelas George sembari membujurkan kaki nya di atas kasur.
Sekarang Abel semakin tertarik mendengar cerita George mengenai Leon, bukan Abel namanya jika tidak bisa menuntaskan rasa penasaran di dadanya itu.
"Benarkah? bisa Daddy ceritakan sedikit tentang Pak singa, eh maksud ku Leon? dia memang sudah bercerita sedikit tapi mungkin tidak menyeluruh"ujar Abel sembari mulai memijat kaki George.
George tersenyum melihat tingkah Abel, dia tau Abel sedang membujuknya, tapi caranya membujuk itu sangatlah manis, jarang sekali melihat anak muda di jaman sekarang mau memijat kaki orang tua.
"Apa yang ingin kamu ketahui?"tanya George lembut.
"Apa saja, aku ingin tau kenapa senyuman itu bisa hilang dan yang lainnya"jawab Abel.
"Ternyata kamu sangat mirip dengan mendiang istriku, dia sangat manis dan selalu ingin mengetahui sesuatu dengan segera"ujar George.
Abel hanya menanggapi ucapan George dengan senyum tipis di bibirnya, dia sedikit merasa malu sekarang.
"Kamu tau? alasan aku selalu membuat kesal Leon adalah agar membuatnya sedikit berekpresi, karna biasanya dia selalu berwajah datar dan jarang tersenyum"tutur George.
"Leon telah kehilangan ibunya saat dia masih kecil, dia sangat kekurangan kasih sayang seorang wanita. Walau aku selalu berusaha membuatnya tidak merasakan kekurangan itu, tapi tetap saja akan sangat berbeda"lanjutnya.
"Leon awalnya adalah pria hangat, namun hal itu berubah setelah sebuah pengkhianatan, dia menjadi tertutup, dingin, dan tak berekpresi"ucap George, Abel sangat tertarik dengan cerita bagian ini.
"Jika boleh tau, siapa yang mengkhianati Pak singa, eh Leon?"tanya Abel.
__ADS_1
"Dia adalah seorang wanita yang dipilih Leon sebagai kekasihnya dulu, Leon begitu memanjakan dan begitu menyayanginya, namun wanita itu mengkhianati Leon dengan berselingkuh dengan rekan bisnis Leon sendiri"jawab George dengan perasaan sedikit sedih.
"Jadi ini alasan mengapa Pak singa selalu bersikap dingin pada orang orang"batin Abel.
"Dengar nak, kehadiranmu benar benar mengubah anakku itu, senyum yang hilang selama beberapa tahun lalu kini kembali, dia sekarang sudah kembali ke dirinya dahulu"jelas George sembari memegang kepala Abel.
"Tolong kamu jaga perasaannya, jangan membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap wanita lagi. Tapi jika yang bertingkah adalah Leon, maka aku tidak segan segan memberinya hukuman"lanjut George.Abel mengangguk pelan sembari tersenyum tulus setelah mendengar penjelasan George padanya.
"Aku akan selalu berusaha menjaga perasaannya, dan jika dia berani macam macam maka akan ku jewer telinga nya seperti Daddy lakukan"ucap Abel sembari memperagakan cara George menjewer Leon tadi.
George terkekeh melihat tingkah Abel, sepertinya memang benar, pria dingin dan datar seperti Leon butuh seorang wanita seperti Abel yang tegas, cerewet, galak, dan ceria.
Saat keduanya sedang bercanda gurau, datanglah orang yang mereka bicarakan dengan pakaian casual yang membuatnya terlihat sangat tampan, siapa lagi jika bukan Leon.
"Apa yang kalian bicarakan berdua? apa kalian melupakanku lagi?"tanya Leon yang langsung duduk didekat Abel.
"Kami tidak membicarakan hal yang begitu penting, dan bagaimana bisa kami melupakanmu, bukan kah kamu Tuan rumah nya?"ujar George sembari memejamkan sebelah matanya pada Abel.
"Yah, Daddy benar, kami hanya bercanda canda biasa"lanjut Abel.
Leon mengerutkan keningnya merasa curiga dengan dunia manusia ini. Leon mendekati Abel dan merangkul pinggang ramping itu agar lebih dekat dengannya.
"Heum...bisa dibilangkan seperti itu, tapi aku lebih suka saat kamu juga ada, karna kami bisa menjahilimu"jawab Abel sembari terkekeh dan diikuti George.
"Kamu mulai ketularan Daddy hanya dengan beberapa waktu, seperti nya aku harus memisahkan kalian berdua"ujar Leon.
"Kenapa seperti itu? Daddy sangat baik dan menyenangkan"ucap Abel.
"Abel benar"lanjut George membanggakan diri.
"Terserah, ayo ikut aku"ucap Leon sembari menarik tangan Abel.
"Kemana?"tanya Abel.
"Aku ingin berbicara padamu"jawab Abel.
"Mau kamu bawa kemana putriku itu? jangan macam macam dengannya"George bersuara.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berbicara dengannya, apa salahnya Dadd?"tanya Leon.
"Heum...baiklah, pastikan kamu tidak berbuat macam macam"ucap George.
"Iya"jawab Leon singkat dan membawa Abel keluar kamar.
"Kamu ingin membicarakan apa?"tanua Abel tapi tak ditanggapi Leon.
Sesampai di kamar, Leon langsung menutup pintu dan menatap wajah Abel lekat. Abel yang dilihat merasa malu sekaligus gugup.
"A...apa?"tanya Abel gugup.
Bukannya menjawab, Leon malah mendekati Abel dan memeluk tubuh itu erat, seakan takut terlepas.
"Aku merindukanmu, tadi aku tidak sempat bermanja dengan mu karna Daddy"jelas Leon sembari mendusel dusel wajahnya dileher Abel.
"Haha hentikan ,ini geli"ucap Abel sembari tertawa.
"Biarkan sebentar, aku sangat sangat merindukan mu kelinci manis"ucap Leon sembari menatap lekat manik jernih Abel.
"Kita baru berpisah beberapa jam saat kamu ke kantor, dan kamu mengatakan merindukanku?"tanya Abel.
"Tentu saja, bahkan sedetik pun aku sudah rindu"jawab Leon yang membuat Abel terkekeh tertawa.
"Haha pasti kamu akan sekarat jika aku menempuh pendidikan ke luar negeri"kekeh Abel yang langsung membuat wajah Leon berubah serius.
"Apa maksud mu pendidikan luar negeri?"tanya Leon serius.
"Yah, tadi Daddy mengatakan akan mendaftarkan aku ke sekolah luar negeri setelah lulus"jawab Abel enteng sembari menyilangkan kedua tanganya di dada.
"Apa ini? "batin Leon.
"Katakan ini lelucon? ini sangat tidak lucu"ucap Leon tak suka.
"Mana ku tau, tanyakan saja pada Daddy, dia sangat baik"jawab Abel.
Abel melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajah sedangkan Leon cepat cepat berjalan menuju kamar Daddy nya, dia harus bicara dengan Daddy nya yang menyebalkan itu.
__ADS_1
Bersambung...