Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-45


__ADS_3

Hans hanya menghela nafasnya, mungkin waktunya belum tepat untuk berbicara pada atasannya itu.


Pintu tempat Abel di tangani belum jua terbuka,Leon sangat gelisah,dia terus berjalan bolak balik di depan pintu tersebut.Hampir setengah jam Leon dan Hans menunggu di luar hingga akhirnya pintu tersebut terbuka.


Dokter keluar dari ruangan dan segera di datangi oleh Leon yang terlihat sangat khawatir dari ekspresi wajahnya itu.


"Bagaimana keadaannya?"tanya Leon


"Nona mengalami syok berat dan juga dehidrasi karna kurangnya asupan yang masuk ke tubuhnya, tapi kami sudah mengimpusnya agar tenaga nya kembali pulih,dan untuk syok nya itu bisa di pulihkan dengan terlalu lelah dan juga jauhi dari hal hal yang membuat dia semakin syok" jelas dokter panjang lebar.


Leon mencerna perkataan dokter itu dengan seksama, namun terlihat guratan marah di wajahnya karna mendengar kelinci manisnya kurang asupan.


"Jadi si brengs*ek itu tidak memberi makan kelinci manisku?!! sia*lan kau Gion!!" batin Leon.


"Baiklah, biaa kutemui dia sekarang?" tanya Leon.


"Tentu, tapi pastikan jangan membuatnya terganggu, ia perlu istirahat" jelas dokter tersebut.


"Ckk, tanpa kau mengatakannya aku tidak akan mengganggu istirahatnya" ucap Leon sinis sambil melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Abel di rawat.


Dokter itu hanya menghela nafasnya mendengar penuturan Leon, Hans menghampiri Dokter tersebut untuk bisa memaklumi keadaan Leon dan Dokter itu mengangguk faham.


Leon mendekati Abel yang sedang terbaring di ranjang pasien untuk yang kedua kalinya, namun kali ini berbeda, Abel di pasangi selang oksigen di hidungnya agar lebih mudah bernafas setelah dehidrasi.


Ia mengambil kursi kecil di samping pintu dan menaruhnya di dekat ranjang Abel lalu duduk disana.


"Kamu mengalami hari yang sangat berat" ucap Leon sambil mengusap kepala Abel.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu, sayang" sambil mengecup tangan Abel.


Saat dia mencium tangan Abel, dia menyerngitkan dahi nya karna tangan Abel yang satunya di perban.


"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Leon sambil memegang lengan Abel yang terperban.


Tangan Abel yang terperban adalah lengan bekas infus waktu itu, karna Abel menariknya secara paksa membuat lengannya membengkak, sehingga dokter harus mengobati lengannya tersebut dan menginfus di lengan sebelah nya lagi.


"Aku sangat merindukanmu" ucap Leon sambil meletakan kepalanya di perut Abel.


"Cepat bangun kelinci manis, aku akan selalu menemanimu dan tak akan membiarkan mu pergi atau di bawa oleh siapapun" ucap Leon mengecup kening Abel sedangkan Abel masih memejamkan matanya tak sadarkan diri.


Leon terus menemani Abel di samping ranjang Abel tanpa beranjak sedikitpun, dia terus menatap wajah Abel yang sedang memejamkan mata tanpa bosan sedikit pun.


Selang beberapa lama akhirnya Abel tersadar, dia menggerakan jarinya pelan tanpa membuka mata, karna sungguh pusing kepalanya jika di buka secara spontan.

__ADS_1


Leon melihat pergerakan dari tubuh Abel mulai merasa senang, dia segera memencet tombol di dekat ranjang untuk memanggil dokter.


"Sayang? kamu sudah bangun?" tanya Leon antusias.


Abel perlahan membuka matanya perlahan, yang pertama ia lihat adalah wajah Leon yang membuat sudut bibir Abel terangkat tipis.


"Apa aku sedang bermimpi atau apa? aku melihat pak singa"batin Abel.


Sayup sayup Abel mendengar Leon memanggilnya sambil memegang pipi Abel dengan telapak tangan hangat milik nya.


"Sayang? apa yang kamu rasakan?" pertanyaan yang bisa di dengar Abel.


Tidak beberapa lama dokter datang bersama perawar menghampiri Abel dan Leon untuk memeriksa keadaan Abel.


"Bagaimana keadaannya?"tanya Leon.


"Nona sudah siuman"jawab Dokter.


Abel melihat perlahan tempat ia berada yang pastinya rumah sakit pikir Abel, apa dia sudah selamat dari Gion? tanya Abel.


Dokter yang memeriksa Abel kembali keluar setelah memeriksa Abel dan memberi saran saran kepada Leon untuk kesembuhan Abel.


Leon mendekati Abel dan menatapnya teduh, terlihat senyuman di bibirnya melihat Abel yang sudah kembali sadar.


"Apa kamu yang menyelamatkan ku?"tanya Abel lirih


"Yah, aku menjemputmu dan membawamu kembali, bukan kah sudah ku katakan jika milikku tidak boleh di ambil atau di bawa pergi siapapun?" jelas Leon panjang lebar.


Abel tersenyum tipis, walau Leon sama saja dengan Gion karna menculiknya, namun Leon masih bisa di percaya pikir Abel.


"Terima kasih" ucap Abel tulus pada Leon. Leon tersenyum mendengar ucapan Abel, hatinya merasa hangat bahkan sangat hangat.


"Tidak perlu mengatakan itu, ini memang kewajibanku untuk melindungi mu" jelas Leon.


"Melindungi ku sebagai apa?"tanya Abel lirih pada Leon karna kondisi yang lemah.


"Tentu sebagai calon suami pasti nya" jawab Leon dengan penuh percaya diri mengatakan jika ia calon suami Abel.


Abel terkekeh pelan mendengar jawaban Leon yang sangat percaya diri.


"Siapa juga yang mau nikah sama kamu" ucap Abel sambil tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Pokok nya harus mau" ucap Leon tegas.

__ADS_1


"Eh? kamu jangan tidur lagi,kamu harus makan dulu baru istirahat" jelas Leon sambil memegang kedua pipi Abel.


"Em,baiklah" jawab Abel lalu membuka kembali matanya.


"Aku akan meminta perawat membawa kan makanan" ucap Leon lalu kembali menekan tombol di dekat ranjang dan meminta perawat mengantarkan makanan untuk Abel.


Perawat itu datang dengan nampan yang berisi makanan khusus orang yang sedang sakit di tangannya lalu memberikannya pada Leon kemudian kembali keluar.


"Baiklah, waktu nya makan dan aku akan menyuapimu"ucap Leon


"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri" ucap Abel lirih.


"Dengan tangan yang terbungkus perban dan di infus?"tanya Leon dengan wajah datar.


Abel melirik tangannya, ternyata kedua tangannya sedang tidak baik sekarang karna satu nya terinfus dan satu nya terperban dan terasa sangat ngilu.


"Emm,aku lupa"ucap Abel sedikit menyengir.


"Sekarang sudah bisa makan?"tanya Leon yang sudah memegang sendok yang siap dimasukan kemulut Abel dan Abel hanya mengangguk. Satu suapan mendarat di mulut Abel, Leon tersenyum karna bisa menyuapi Abel.


"Ada apa dengan tanganmu itu? aku lupa menanyakannya tadi pada dokter" tanya Leon pada Abel di selingi menyuapi Abel.


"Emm, itu bekas infus waktu itu" jawab Abel.


"Kenapa harus di perban?"tanya Leon menyengit.


"Emm...apa harus aku katakan yang sebenarnya? pasti pak singa akan menceramahi ku"batin Abel.


"Aku mencabut jarum infus dari lenganku" jawab Abel santai.


"Apa?!!" Leon terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Abel.


"Apa yang kamu pikirkan?! kenapa mencabutnya sendiri? itu sangat berbahaya,bagaimana jika jarum nya patah saat kamu mencabutnya?"tanya Leon khawatir.


"Aku harus melarikan diri saat itu, akan sulit jika aku terus menenteng kantong infus itu saat kabur" jelas Abel.


Leon menghela nafasnya mendengar penjelasan Abel, kelinci manisnya ini sangat pemberani.


"Apa dia(Gion) menyakiti mu? apa dia melakukan hal hal jahat padamu?"tanya Leon.


"Tidak, dia tidak menyakitiku"ucap Abel.


"Syukurlah, aku sangat khawatir padamu" ucap Leon lega dengan tersenyum hangat pada Abel

__ADS_1


tersambunh...


__ADS_2