Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-80


__ADS_3

"Yah, aku baik"ucap Abel pelan dengan wajah yang masih sama.


George melihat semua kejadian itu, sekarang bisa ia simpulkan jika anak nya yang selalu ia ejek sebagai pria karatan sekarang sudah memiliki tambatan hati.


"Aku tidak melakukan apapun padanya, mungkin kamu yang selalu menakutinya"ejek George.


Leon memutar kepalanya memandangi wajah sang Daddy nya yang berekspresi biasa saja dengan sedikit senyuman mengejek di sudut bibirnya.


"Daddy ayolah,jangan seperti ini, Daddy menakutinya. Lihatlah wajah nya itu, sudah seperti mayat"ucap Leon kemudian kembali memandai Abel.


"Syutt, Pak singa tolong diam, situasi nya sangat menegangkan sekarang. Sepertinya aku harus pergi dari sini"ucap Abel berbisik dengan gugup.


Leon sedikit melebarkan matanya menatap lekat Abe,l kemudian memutar kembali kepalanya memandangi sang Daddy.


"Apa Daddy ku mengatakan sesuatu? , apa pun yang terjadi kamu tidak akan pergi dari sini"ucap Leon dengan sedikit menatap sinis sang Daddy.


"Jangan menatap ku seperti itu, mau ku keluarkan bola matamu itu?"ucap George dengan nada sinis.


"Tidak, Daddy mu tidak mengatakan apapun, tapi seperti nya aku harus kembali kerumah ku saja"jawab Abel sembari menunduk.


"Sudah kukatakan aku tid..."ucap Leon terpotong lantaran sang Daddy yang menyela.


"Kenapa kamu harus pergi?"tanya George memandang Abel dari seberang sofa.


Abel kembali gugup serta sedikit takut, dia tak mampu mengangkat kepalanya hanya untuk melirik George.


"Aku sangat takut dan gugup..."batin Abel.


"Tentu saja karna Daddy dia ingin pergi"ucap Leon menjawab pertanyaan Daddy nya yang diberikan untuk Abel.


"Aku tidak bertanya padamu, dasar pria karatan"sindir George.


Leon tidak membalas sindirian Daddy nya dan fokus menatap sang gadis pujaan hatinya yang terus menunduk dengan tangan yang memainkan ujung dress nya itu.


"Eum...saya harus pergi karna...saya sudah terlalu lama disini, saya akan pergi saja"jawab Abel gugup.


"Tidak bisa! kamu tidak akan pergi kemana pun, dan itu sudah final!"ucap Leon tegas sembari berdiri.


George sangat menikmati kecemasan dan ketidaktrimaan Putranya itu. Ada apa dengan gadis yang sedang duduk dengan gugup itu, sehingga membuat anak nya kepalang panik dan marah saat tau sang gadis ingin angkat kaki dari Monsion nya?


"Yah, Putra ku benar, untuk apa kamu pergi? bukan kah kamu sudah lama disini? aku tidak yakin pria karakatan ini tidak berbuat macam macam"ujar George dengan nada sinis.


"Apa yang Daddy katakan? aku tidak melakukan apapun padanya"bantah Leon tak terima.


"Benarkah? aku tidak percaya ucapan mu itu"ucap George mengejek.

__ADS_1


"Bisakah diam dulu? aku rasanya ingin pingsan dengan suasana ini"ucap Abel menghentikan perdebatan antara Anak dan Ayah itu.


Leon mendekati Abel dan mengangkat dagunya agar menatap wajahnya. Di tangkupnya kedua pipi tirus itu dengan telapak tangannya yang besar dan lebar.


"Kamu sedang tidak baik baik saja, ayo kekamar"ucap Leon lembut kemudian dengan spontan menggendong Abel ala bridal style.


Abel membolakan matanya dengan kepanikan yang tak bisa ia bendung.


"Apa yang kamu lakukan? turunkan aku, aku malu Pak singa"ucap Abel dengan suara pelan.


"Untuk apa kamu malu, dengan Pak tua itu? kamu tidak perlu hiraukan dia"ucap Leon kemudian berjalan membawa Abel naik ke kamar.


George kembali menyeruput teh nya dengan senyum bangga karna berhasil membuat Putra nya kesal.


Sepertinya tidak ada lagi es kutub dan pria dinding di Monsion ini, pikir George.


Leon membawa Abel kekamar dan membaringkannya dikasur, tapi Abel malah bangkit dan duduk menatap Leon dengan nafas tersengal sengal.


"Pak singa, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menggendong ku dan mengatakan itu pada Daddy mu? apa yang akan dia pikirkan nanti"cerocos Abel.


"Sudah ku katakan jangan pikirkan dia, kamu tidak mengenalnya, dia adalah pria terbuka berkedok pria tegas dan menakutkan"jelas Leon.


"Apa maksudmu?"tanya Abel tak mengerti.


"Sudahlah, nanti akan kujelaskan, tapi sekarang kamu harus beristirahat dan jangan kemana mana. Aku akan kebawah untuk berbicara dan menyapa Daddy ku, kamu mengerti?"jelas Leon lembut sembari memegang pipi kanan Abel.


"Berbaringlah, aku kebawah dulu"ucap Leon kemudian mencium kening Abel dan melenggang keluar.


Abel memandangi pintu yang baru saja di tutup oleh Leon dari luar.


"Pak singa sangat perhatian"gumam Abel.


.


.


.


.


"Kapan Daddy datang?"tanya Leon yang sudah duduk bersama Daddy nya.


"Beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya kamu menghancurkan suasan bagus ku tadi bersama gadis kecil itu"jawab George santai.


"Daddy, berhentilah membuatnya takut, dia gadis baik baik"ujar Leon.

__ADS_1


"Aku tidak menakutkannya, dan siapa yang mengatakan jika dia bukan gadis baik baik?"tanya George.


"Hah?"Leon tak mengerti.


"Huft, dasar pria tua!"ejek George.


"Ayolah Dadd, aku tidak tua"ucap Leon tak terima.


"Yah terserahmu, dimana kamu menemukannya dan kenapa dia tinggal disini?"tanya George.


Leon terdiam kemudian sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan sang Daddy.


"Apa aku harus mengatakan jika aku menculiknya dan menyuruhnya tinggal disini? , tidak tidak! itu bukan jawaban yang bagus untuk sekarang"batin Leon.


"Aku bertemu dengannya di kafe dan mulai dekat"jawab Leon berbohong.


"Sudah tua, masih saja suka berbohong"ujar George sinis sembari menjewer telinga sang anak.


"Akh..! lepas Dadd"ucap Leon memohon.


"Kamu pikir aku siapa? aku Daddy mu! aku bisa tau jika kamu sedang berbohong"ucap George sembari melepaskan jewerannya.


"Huftt...maaf"ucap Leon pelan.


"Kamu memaksanya tinggal disini?"tanya George dan Leon mengangguk pelan tanpa berani menatap Daddy nya.


"Dasar tidak romantis! seharusnya kamu melakukan pendekatan seperti orang pada umumnya"ujar George.


"Tapi aku tidak ingin membuang waktu, Dadd"elak Leon.


"Tapi apa dia mencintaimu?"tanya George skakmat.


Leon kembali sedikit berfikir, melihat perhatian dan perilaku Abel padanya akhir akhir ini sudah seperti perlakukan seorang kekasih yang mencintai kekasihnya.


"Eum...yah kurasa dia mencintaiku"jawab Leon dengan percaya dirinya.


"Halah, kamu belum mendengarnya dari mulut gadis itu"ucap George sinis.


"Berhentilah mengejek ku Dadd, akan ku tunjukan jika dia juga mencintaiku"ucap Leon bersungguh sungguh.


"Buktikanlah, lamar dia dan lihat jawabanya"ujar George membuat Leon mengangkat sudut bibirnya.


"Apa itu artinya Daddy merestui hubungan kami?"tanya Leon berbinar.


"Eum...yah itu tergantung dengan jawaban gadis itu, jika dia setuju menikah denganmu maka sudah dipastikan aku merestui kalian, dan sebaliknya"jelas George.

__ADS_1


Leon berjalan mendekati Daddy nya dan memeluk tubuh pria setengah baya itu yang masih kokoh walah sudah tua itu dengan penuh kasih sayang dan bahagia.


Bersambung...


__ADS_2