
"Kau tau? kesalahan terbesarmu adalah bermain main dengan seorang Leon, orang yang seharusnya kau jauhi tapi kau malah membuat api disaat nyawamu berada di tangannya" ucap Leon dengan amarah yang menggebu gebu dan sekali lagi membogem wajah Gion lalu pergi.
Gion hanya bisa menahan rasa sakit di tubuh nya itu tanpa mengatakan apapun, dia tidak akan melepaskan Leon begitu saja jika ia berhasil lepas dari sini.
.
.
.
Hari sudah hampir malam dan Abel sekarang sekarat karna kebosanan di karna kan Hans lebih banyak diam.
"Kenapa pak singa begitu lama? aku bisa mati kebosanan disini!!" batin Abel yang tidak sadar menunggu Leon kembali.
"Hans...aku bosan!!" ucap Abel lantang
"Tenanglah Bell, aku bingung harus melakukan apa di saat keadaan mu seperti ini" jelas Hans sedikit kebingungan.
"Ayo bawa aku pulang saja, disini tidak enak sekali Hans..." jelas Abek merengek.
"Aku tidak berani, Tuan bisa membunuh ku jika membawa mu pulang tanpa sepengetahuannya" ujar Hans.
"Kamu telpon saja dia dan katakan jika kamu membawa ku kembali pulang, aku sudah tidak nyaman disini Hans..." usul Abel.
Hans menyerngit mencoba berfikir, dia tidak akan mengambil resiko yang bisa membuatnya kehilangan satu kaki nya nanti.
"Maaf Bell, aku tidak berani. Tunggulah sampai Tuan kembali kesini dan jelaskan keinginanmu itu" tutur Hans.
Abel menghela nafas kecewanya, ia sangat ingin pergi dari rumah sakit saat ini, dia tidak tahan dengan aroma nya itu.
"Em, baiklah" ucap Abel lirih dengan wajah cemberut.
"Maaf Bell" batin Hans.
Tidak beberapa lama seseorang menyelonong masuk ke dalam ruangan Abel di rawat tanpa mengatakan apapun, siapa lagi yang berani melakukan itu selain Leon.
"Selamat datang, Tuan" ucap Hans menunduk hormat.
"Hm, kamu boleh pergi sekarang" ucap Leon dan di balas anggukan oleh Hans.
Abel memandangi kedatangan Leon dengan sedikit senyuman di sudut bibir nya, sebenarnya itu terjadi begitu saja tanpa di sadari oleh Abel sendiri.
__ADS_1
"Kamu sudah kembali?"tanya Abel.
Leon berjalan mendekati Abel dengan senyum hangat khusus untuk Abel.
"Yah, kamu merindukanku?"tanya Leon percaya diri.
"Siapa juga yang merindukanmu, aku hanya merasa bosan saja" jelas Abel mengalihkan pandangannya.
"Benarkah? apa saja yang kalian lakukan selama aku pergi?"tanya Leon sambil mengelus kepala Abel lembut.
"Apa yang kami lakukan? aku bahkan tidak bisa memegang dengan benar dengan tangan seperti ini" jawab Abel sedikit kesal.
"Haha, itulah sebabnya kamu harus segera sembuh dengan menjalani perawatan" tutur Leon terkekeh.
"Aku tau, pak singa...?" panggil Abel.
"Hm? ada apa?" memandangi Abel.
"Aku ingin pulang pak singa, aku tidak suka tempat ini, tolong bawa aku pulang" pinta Abel dengan wajah penuh harap.
Leon merasa tidak tega apalagi setelah melihat wajah penuh harap dari Abel sekarang ini.
Dokter datang ke ruangan Abel karena di panggil oleh Leon tadi.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"tanya Dokter itu sopan.
"Apa wanita ku sudah boleh pulang?"tanya Leon datar.
"Akan saya periksa dulu keadaan Nona" jawab Dokter dan mendapat serngitan dari Leon.
"Baiklah, jangan lama lama" ucap Leon dingin.
"Baik Tuan" ucap dokter dan mulai memeriksa Abel.
"Nona sudah mulai membaik dan sudah bisa di rawat di rumah saja dengan kondisi yang berangsur angsur membaik sekarang ini" Jelas dokter panjang lebar.
"Hm, baiklah" jawab Leon datar dan kemudian Dokter itu keluar.
"Yess!! ayo pulang sekarang" ucap Abel antusias sambil mencoba bangkit.
"Apa yang kamu lakukan, jangan bergerak" cegah Leon yang melihat Abel akan beranjak.
__ADS_1
"Apa? kenapa?"tanya Abel polos.
"Walaupun kamu sudah boleh di rawat dirumah tapi tetap saja jangan terlalu banyak bergerak nanti kamu akan sakit lagi" jelas Leon yang khawatir berlebihan.
"Aku tidak akan kembali sakit hanya dengan bergerak kecil seperti ini" tutur Abel jengah.ko
"Ku bilang tidak yah tidak, ayo kembali keposisimu" perintah Leon sambil membantu Abel kembali berbaring.
Abel menghembuskan nafasnya kesal dengan Leon yang terlalu protectif padanya.
"Apa dia pikir aku akan koma apa jika bergerak?,huff menyebalkan" batin Abel.
"Pak singa, ayo pulang" rengek Abel.
"Iya, kita akan pulang tapi sebelum itu kamu harus makan malam dulu" jelas Leon.
"Huff, baiklah" ujar Abel.
Leon mengambil makanan yang sudah dia pinta dari perawat untuk makan malam Abel malam ini.
"Aku akan menyuapimu" ucap Leon yang mulai menyendok makanan untuk Abel.
"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri, lagipula tangan ku sudah lebih baik sekarang" sambil menggerakkan tangannya.
"Tidak, itu belum sembuh total. Aku akan menyuapimu" tolak Leon yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Em, baiklah" ucap Abel pasrah. Leon tersenyum menang karna sudah berhasil mengalahkan Abel yang keras kepala ini.
Leon menyuapi Abel dengan telaten dan sedikit candaan yang membuat Abel kesal.
"Entah perasaan apa ini, ini baru pertama kali aku rasakan dalam hidup ku" batin Abel sambil memperhatikan Leon.
Singkat cerita mereka sudah akan beranjak pulang dari rumah sakit, Leon menggendong Abel ala bridal stile menuju mobil. Sebenarnya Abel menolaknya karna ia bisa berjalan namun lagi dan lagi Tuan Leon tidak ingin di bantah, sehingga Abel hanya bisa pasrah.
Leon meletakan tubuh Abel perlahan di kursi mobil dan memasangkan sabuk pengaman di tubuh Abel.
Abel sedikit merasa canggung dengan perlakukan Leon saat ini, jantung nya merasa berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Diamlah jantung! aku tidak ingin membuat diriku di permalukan di depan pak singa hanya karna bunyi mu itu" batin Abel.
Bersambung...
__ADS_1