Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-76


__ADS_3

"Eum...ini enak"ucap Leon sembari mengunyah makanan yang diberi oleh Abel.


"Tentu, karna Abel yang memasaknya"jawab Abel berlaga sombong.


"Yah, kamu akan menjadi istriku yang baik nanti"ucap Leon.


"Yah, terserahmu"ucap Abel kemudian memasukan mulut Leon kembali makanan.


"Kamu tau? tadi di jalan aku melihat ada toko yang menjual kue manis yang kelihatannya sangat enak"ucap Abel yang masih menyuapi Leon tapi tak menatap wajah lawan bicaranya.


Leon berfikir sejenak dan mencerna baik baik penuturan Abel.


"Apa dia menginginkan kue itu?"batin Leon.


"Kamu menginginkannya? ,kita bisa kesana kapan pun kamu mau"ucap Leon yang langsung membuat Abel mendongak menatap Leon.


"Tidak, aku tidak ingin kue itu, aku ingin bekerja disana"pungkas Abel yang langsung mendapat serngitan dari Leon.


"Untuk apa bekerja disana? ,apa aku kurang kaya untuk memberimu uang? atau kartu kartu di laci kamar mu kurang?"tanya Leon.


Abel menundukkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya tak berani menatap Leon yang sudah bisa dia pastikan sedang bertampang layaknya singa.


"Bu...bukan seperti itu, aku tidak ingin uangmu, aku ingin uang ku sendiri"jelas Abel gugup dengan terus menundukan kepala.


"Kenapa tidak ingin uang ku? apa uang ku uang haram?"tanya Leon yang mulai mengintrogasi.


Terasa di ruangan itu menjadi dingin dan mencekam bagi Abel.


"Aku tidak tau uang mu itu uang haram atau bukan, tapi bukan itu masalahnya, aku tidak ingin terus bergantung denganmu. aku ingin memiliki uang sendiri, sehingga saat aku memerlukan apapun aku tidak perlu lagi memintanya padamu"jelas Abel panjang lebar dengan polosnya.


Leon tertegun mendengar jawaban Abel, dan sekarang Leon mulai bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa gadis di depan ku ini memiliki kekurangan? dia bahkan tidak ingin terus bergantung padaku dan memilih mandiri, lalu? apa lagi kekurangannya yang membuatku tidak menyukainya?"batin Leon.


"Kemarilah"panggil Leon sembari menepuk pahanya.


Abel mendongakkan kepalanya memandangi Leon yang menyuruhnya mendekat, sedikit ragu untuk Abel untuk mendekat, namun ia tetap berjalan pelan menghampiri Leon.


Leon menatap lekat manik mata Abel yang sudah berada dipangkuannya, di elusnya pelan pipi putih mulus itu dengan tatapan teduh.

__ADS_1


"Aku sudah tergila gila denganmu Arabella, aku tidak tau lagi caranya untuk menemukan obat kegilaan itu selain dirimu"batin Leon.


"Tidak perlu takut, aku tidak marah"ujar Leon sembari tersenyum hangat.


Abel mengerjapkan matanya polos sembari sedikit memiringkan kepala menatap Leon.


"Apa itu artinya aku boleh bekerja disana?"tanya Abel. Leon menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis dibibir.


"Heum...baiklah"ucap Abel lirih sembari menunduk.


Leon mengangkat dagu Abel agar memandanginya, ia menatap lembut Abel yang terlihat sedih dan kecewa dari raut wajah cantiknya itu.


"Aku memang tidak mengijinkanmu bekerja, tapi aku akan membuatkanmu usaha sendiri, usaha kue yang dimana kamu yang memimpin"tutur Leon.


Abel diam mencerna ucapan Leon, dan beberapa detik kemudian dia membolakan matanya menatap Leon dengan beberapa kali kerjapan mata.


"Untuk apa? itu akan membuat banyak uang, tidak tidak, lebih baik aku bekerja saja"bantah Abel.


Leon memegangi kedua pipi Abel dan menatapnya dengan jarak yang sangat dekat, mungkin hanya dengan gerakan kecil mereka langsung berciuman.


"Wanita dari seorang Leon Sebastian Xylander tidak boleh bekerja di bawah perintah seseorang, dia harus memerintah, bukan yang diperintah"jelas Leon.


"Eum...terserahmu saja"ucap Abel pelan kemudian memundurkan wajahnya.


Leon tersenyum tipis menatap ekspresi Abel yang canggung dan gugup sekarang, ada rasa gemas di hati Leon saat melihatnya.


"Aku punya hadiah untukmu"ucap Leon memecahkan keheningan beberapa saat yang lalu.


Abel memalingkan wajahnya menatap Leon, dan menyerngitkan keningnya bingung.


"Hadiah?"tanya Abel.


"Yah, aku memiliki hadiah untukmu"jawab Leon kemudian mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.


Sebuah paperbag kecil bewarna hitam putih dengan tulisan brand terkenal di seluruh dunia di sana.


"Ambil dan buka lah"ucap Leon sembari menyodorkannya pada Abel.


Abel memperhatikan paperbag di tangannya dengan tatapan bingung, apa isi nya dress? pikir Abel.

__ADS_1


Tangan lentik Abel mulai membuka dan mengeluarkan barang yang ada di dalam paperbag itu, terlihat sebuah kotak bewarna merah yang sepertinya kotak perhiasan.


"Untukku?"tanya Abel bertanya pada Leon sebelum membuka isi kota itu.


"Tentu, hanya untukmu"jawab Leon.


Sedikit ragu bagi Abel untuk membuka kotak itu, dia bisa menduga jika barang apapun yang diberikan Leon pasti mahal. Terkadang Abel berfikir, apakah tidak masalah membuang uang hanya untuk barang barang yang tidak terlalu penting?.


Saat kotak itu terbuka, terlihatlah sebuah cincin berlian dengan inisial LA di sana.


Abel menatap Leon dengan tatapan bingung setelah melihat hadiah yang diberikannya. Leon juga merasa cemas ketika melihat ekspresi yang diberikan Abel, apa Abel tidak menyukai hadiahnya? pikir Leon.


"Ada apa? apa kamu menyukainya?"tanya Leon.


"Ini sangat cantik dan bagus, tapi ini juga pasti sangatlah mahal. Kamu tau? uang yang yang kamu keluarkan untuk membeli cincin ini bisa untuk memberi makan banyak orang yang kelaparan diluar sana"jelas Abel dengan apa adanya dan dengan nada yang lembut dan pelan.


Leon kembali tertegun mendengar penuturan Abel, sebegitu baiknya kah Abel sehingga selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri? pikir Leon.


"Begitu banyak orang yang kesusahan di luar sana, mereka semua sama seperti ku sebelum bertemu denganmu"lanjut Abel lagi.


Leon meraih tangan Abel dan mengecupnya lembut, lalu ditatapnya kembali wajah sendu Abel itu dengan tatapan teduhnya.


"Jangan khawatir, apa kamu pikir aku tidak peduli dengan orang lain? aku selalu memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan tiap bulannya tanpa ada kata telat ataupun kurang"jelas Leon.


Kini giliran Abel yang tertegun mendengar penuturan Leon, apa ini sungguhan? jika memang benar yang dikatakan Leon itu sungguhan, maka Leon adalah orang yang sangat baik berkedok pria dingin dan datar, pikir Abel.


"Kamu sangat baik"ucap Abel sembari tersenyum tipis.


"Kamu baru mengetahuinya? ,aku memang sangat baik"ucap Leon yang sudah kembali ke mode arrogannya.


"Sekarang kenakanlah cincin ini"lanjut Leon sembari mengambil cincin yang ada di dalam kotak perhiasan dan memakainya di jari manis Abel.


Abel tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan ini dari Leon, tidak bisa ia bendung jika dia sangat sangat bahagia.


"Terima kasih Pak singa, aku menyukainya"ucap Abel tulus sembari tersenyum.


"Baguslah jika kamu menyukainya, anggap saja jika ini cincin pertunangan kita"ucap Leon.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2