Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-77


__ADS_3

Abel tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan ini dari Leon, tidak bisa ia bendung jika dia sangat sangat bahagia.


"Terima kasih Pak singa, aku menyukainya"ucap Abel tulus sembari tersenyum.


"Baguslah jika kamu menyukainya, anggap saja jika ini cincin pertunangan kita"ucap Leon.


Abel reflek terkejut sembari membelalakan mata setelah mendengar penuturan Leon barusan.


"Pertunangan?"tanya Abel memastikan.


"Yah, tapi jika kamu ingin mengadakan pesta pertunangan maka hari juga aku bisa membuatnya untukmu, bagaimana?"ujar Leon sembari tersenyum tipis menatap Abel dekat.


"Ti...tidak perlu, a...aku hanya terkejut saja dengan ini yang sedikit mendadak"jawab Abel sedikit gugup.


"Bukan kah semakin cepat semakin bagus, karna moto kehidupanku adalah jangan menyia nyiakan waktu jika kamu ingin menjadi pemenang"jelas Leon sembari memainkan rambut Abel.


"Wah...moto kehidupannya benar benar bagus, tapi yang dikatakan Pak singa ada benar nya juga"batin Abel.


"Eum...yah terserah mu saja"ucap Abel mengalah, karna pada dasarnya Leon lah yang berkuasa.


"Baiklah, pernikahan kita juga akan kupercepat, karna itu semua terserah ku"ucap Leon yang membuat Abel melongo.


"Menikah? eum...ada sedikit kejanggalan"ujar Abel yang membuat Leon mengerutkan keningnya bingung.


"Kejanggalan? kejanggalan apa?"tanya Leon.


"Yah, suatu kejanggalan. Apa orang tuan mu menyetujui ini?"tanya Abel dengan ekspresi serius tapi malah terlihat lucu dimata Leon.


"Orang tua ku?"tanya Leon balik.


"Yah, orang tua mu. Kamu masih memiliki orang tua kan? , tapi apa kamu yakin dia menyukai ku? apa dia akan menerima statusku ini yang hanya gadis biasa dan jauh dari kata berkelas?"tanya Abel dengan wajah yang sedikit cemas dan terlihat kerutan di dahi nya itu.


Leon hampir terkekeh dengan pertanyaan dan kegelisahan yang terlihat di raut wajah Abel sekarang.


"Lihat lah wajah cemas itu, apa dia benar benar mengkhawatirkan ini? haha Daddy ku tidak mungkin menolak gadis pilihanku, apalagi setelah tau kelebihan dan kemampuanmu"batin Leon.


Leon menangkup wajah Abel dengan kedua tangan besar nan lebarnya, dia tersenyum hangat dan menatap wajah Abel teduh.

__ADS_1


"Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu semua, Daddy ku akan menerima pilihanku, apalagi jika tau jika calon menantu nya ini begitu ajaib"jelas Leon.


Abel mendadak bersemu merah mendengar penjelasan Leon yang lembut dan menyentuh hatinya, sekarang ada sedikit lega di hati Abel setelah mendengar apa yang dikatakan Leon.


"Aku ajaib? ajaib darimana nya? aku bukan pesulap"ucap Abel dengan sedikit tawa disana.


"Yah aku tau kamu bukan pesulap, tapi aneh nya kamu membuat keajaiban di hidupku"jawab Leon.


"Berhentilah menggoda ku seperti itu, atau aku akan..."berhenti.


"Akan apa?"tanya Leon.


"Bukan apa apa"jawab Abel sembari memalingkan wajah.


"Ayo katakan"perintah Leon sembari menggelitiki Abel.


"Kyaa hahaha"teriak Abel tertawa.


Leon menyudahinya dan tersenyum lebar menatap Abel, dia suka saat melihat senyum di bibir Abel, ada rasa senang di hatinya.


"Eum...karna aku sudah mengantarkan makan siang dan kamu juga sudah memakannya, maka sekarang aku harus kembali"jelas Abel.


"Tentu saja ke rumah besar mu, atau jika kamu menginjikan aku akan pulang kerumah ku"jawab Abel sedikit kesal.


"Kenapa harus pulang sekarang?"tanya Leon dengan wajah memelas tak rela ditinggal Abel.


"Aku harus pulang, bukankah guru homeschooling ku juga akan datang hari ini?"jelas Abel. Leon mengangguk pelan tanda mengerti, tapi ada rasa tidak rela saat harus membiarkan Abel pergi.


"Tunda saja, aku akan mengatakan guru mu itu"usul Leon yang langsung mendapat tatapan tajam Abel.


"Tidak bisa, jika aku terus menundak sekolah ku, kapan aku akan lulus?"tanya Abel.


"Huft baiklah"ucap Leon akhirnya mengalah dan setuju.


Abel tersenyum menatap Leon yang sedikit lesu saat mengatakannya. Abel berjalan mendekati Leon dan mengelus pipi Leon yang ditumbuhi rambut rambut halus yang tertata rapi itu.


"Jangan lesu seperti itu, aku hanya pulang bukan akan mengelilingi dunia"ucap Abel yang memecahkan suasana tersebut. Leon kembali tersenyum setelah mendengar pernyataan konyol Abel.

__ADS_1


"Kamu bisa saja, sekarang berikan aku pelukan sebelum pergi"ucap Leon sembari merentangkan kedua tangannya.


Entah kenapa Abel dengan senang hati melakukannya, Abel mendekati dan memeluk Leon sembari menyembunyikan wajahnya di dada bing Leon.


"Semangat belajarnya"ucap Leon sembari mengelus elus pucuk kepala Leon.


"Yah, aku akan bersemangat"ucap Abel.


Abel melepaskan pelukan itu dan memasukan kembali kotak makanan yang ia bawa untuk Leon kedalam paper bag. Setelah semua selesai, Abel berdiri di depan Leon sembari tersenyum tipis.


"Aku pulang dulu, dan kamu semangat yah kerjanya"ucap Abel tulus.


"Tentu, akan akan semangat bekerja untukmu"balas Leon.


Abel hanya membalas ucapan Leon dengan senyum manisnya, dia kemudian berpamitan dan berjalan keluar. Saat Abel keluar dari ruangan Leon, terlihat penjaga yang menemani nya pergi ke kantor Leon berada di sana.


"Apa Nona sudah selesai?"tanya nya sopan.


"Sudah, bisa kita pulang sekarang?"tanya Abel.


"Tentu Nona, mari silahkan"ucap penajaga itu mempersilahkan Abel.


Sekarang mereka sudah di dalam perjalan pulang, terlihat senyum yang tak kunjung pudar di bibir Abel. Dia sangat senang hari ini setelah bertemu Leon, dia juga sesekali melirik cincin yang melingkar di jari manisnya itu.


"*Mungkin kah aku sudah sepenuhnya mencintaimu?"batin Abel.


"Jika memang aku sudah mencintaimu, ku harap kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku"


"Setelah mengenal dirimu lebih jauh, aku sadar kamu adalah pria baik yang kesepian dan haus akan kasih sayang, yah kita hampir sama, kita sama sama membutuhkan seseorang untuk menghilangkan rasa kesepian di hati ini"


"Pria yang awal nya ku pikir hanyalah pria pemaksa, menyebalkan, dan mesum, ternyata adalah pria baik dan sangat menyentuh hati jika diri sudah berhasil dekat dengannya"


"Semoga kamu adalah pria yang tepat dan ku harap ini awal dari kehidupan ku.Benar kata orang orang, jika akan ada pelangi setelah hujan ribut"batin Abel*.


Perasaan Abel sangat tenang dan damai sembari menyandarkan tubuh di kursi mobil, senyum pun tak pernah luput dari bibirnya.


"Aku mencintaimu Pak singa"batin Abel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2