Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-72


__ADS_3

Abel tak menanggapinya dan berjalan ke arah sofa dengan ekspresi yang masih sama.


"Kamu mau kemana?"tanya Leon yang melihat Abel berjalan kesofa dan tidak menanggapi nya.


Leon beranjak dari kasur dan berjalan menyusul Abel yang sedang duduk di sofa membelakanginya.


Tanpa aba aba Leon langsung meletakan kepalanya di atas paha Abel dan berbaring.


"Kenapa mengacuhkanku?"tanya Leon sembari menatap Abel dari bawah pangkuan.


Abel tak menjawab pertanyaan Leon, dia hanya diam dan pura pura tidak mendengarkannya dengan wajah tak berdosa.


"Hey, aku berbicara padamu kelinci manis"ucap Leon sembari mencubit pelan pipi Abel.


"Shhhtt"Abel berdesir sakit saat Leon mencubit pipinya, tapi dia sama sekali tidak mengatakan apapun.


Karna merasa di acuhkan, Leon akhirnya bernisiatif mengambil keuntungan dari diamnya Abel.


"Kamu akan menyesal karna mengacuhkanku"batin Leon.


Leon menyingkirkan kepalanya dari pangkuan Abel dan duduk di sebelahnya sembari menyandarkan diri di sandaran sofa.


"Baiklah, teruslah mendiamiku seperti ini. Aku akan keluar sebentar lagi untuk jalan jalan di festival yang ada di pusat kota, mungkin kamu akan melewatkannya dan terus terkurung disini selamanya"ucap Leon sembari memainkan ponselnya.


Dan benar saja, Abel memutar kepalanya memandangi Leon setelah mendengar penuturan yang keluar dari mulut Leon barusan.


"Festival? ah yah aku lupa! festival itu sangat meriah dan hanya ada 2 kali dalam setahun, aku tidak ingin melewatkan festival itu"batin Abel.


Abel dilanda kegugupan dan perasaan tidak enak, ingin sekali dia membujuk Leon agar membawanya, tapi gengsi dalam dirinya membuatnya frustasi.


Diam diam Leon melirik kegelisahan yang terjadi pada Abel, dia tau jika Abel sedang berfikir keras untuk membujuknya.


"Haha, lihatlah wajah merah gelisah itu? begitu menggemaskan"batin Leon.


Abel mulai gelisah, dia daritadi terus memainkan ujung bajunya dengan sesekali melirik Leon yang sedang fokus menatap layar ponselnya.


"Bagimana ini? dasar Abel bodoh! seharusnya kamu jangan mengacuhkan orang seperti dia!"rutuk batin Abel.


"Ayo lakukan atau tidak sama sekali"batin Abel lagi.


Perlahan Abel menggeser tubuhnya agar duduk lebih dekat dengan Leon yang masih setia memainkan ponselnya.


"Ekhem!"Abel berdehem untuk mengalihkan pandangan Leon dari ponsel, namun Leon seakan sengaja mengabaikan itu.

__ADS_1


"Kita lihat seberapa besar usahanya"batin Leon.


"Ekhem!"Abel berdeham sekali lagi dengan agak besar,namun Leon tak jua mengalihkan pandangannya.


Karna mulai merasa jengah dan kesal karna Leon mengabaikannya, akhirnya Abel berinisiatif membujuk Leon secara langsung.


"Pak singa..."ucap Abel sembari menggoyangkan tangan Leon.


"Hm"Leon menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ih! Pak singa..."panggil Abel dengan sedikit kesal dan merengek.


"Hm"jawab Leon sama.


Karna merasa kesal dengan respon Leon yang hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya, Abel menarik paksa ponsel yang di pegang oleh Leon.


"Kalau ada orang bicara itu di perhatikan, jangan menatap ponsel terus! aku daritadi memanggilmu,tapi kamu hanya berdehem saja tanpa menatapku, aku ini kekasihmu!"cerocos Abel kesal tanpa sadar mengatakan jika dia kekasih Leon.


Leon tertegun mendengar penuturan Abel, matanya menatap tak percaya memandangi Abel. Abel barusaja mengatakan jika dia mengakui jika dia adalah kekasih Leon.


"Apa? apa yang baru saja kamu katakan?, bisa ulangi?"tanya Leon dengan senyum menggoda Abel.


Abel mulai kelabakan, dia sama sekali tidak sadar atas apa yang ia ucapkan barusan.


"Apa? ulangi apa? aku tidak ingat apa apa"ucap Abel sembari memalingkan wajahnya.


"Kamu salah dengar"sarkas Abel.


"Dasar tidak mau mengaku!"ucap Leon kemudian mengangkat tubuh Abel keatas pangkuannya.


"Bagaimana rasanya di acuhkan? apakah enak?"tanya Leon sembari memegang dagu Abel mendekati wajahnya.


"Kamu mengacuhkan ku, seharusnya kamu jangan mengacuhkan ku seperti itu"ucap Abel cemberut seakan lupa jika dia tadi juga mengacuhkan Leon.


"Lalu? kenapa kamu mengacuhkanku?"tanya Leon sembari mengusap usap leher Abel dengan ibu jarinya.


"Em..."Abel mulai berfikir untuk beralasan.


"Itu wajar! aku boleh mengacuhkanmu,tapi kamu tidak boleh mengacuhkan ku"ucap Abel seakan dia yang paling benar sembari tersenyum bangga.


"Benarkah? itu wajar? Heum...baiklah, maka wajar bukan bagi ku menikahi kekasihku yang maha benar ini?"tanya Leon sembari tersenyum menggoda Abel.


Abel kelabakan, apa kah dia salah bicara? atau otak nya sedang louding? dia sedang terjebak saat ini.

__ADS_1


"Em...Pak singa, bisakah tunggu sampai aku lulus? hanya beberapa bulan saja"ucap Abel lembut membujuk Leon.


"Tidak bisa sayang ku...aku ini pria normal yang tinggal bersama gadis yang cantik dan menggemaskan, tidak mungkin bagiku untuk tahan lebih lama"ucap Leon dengan nada yang meniru nada bicara Abel barusan.


"Em...tapi kan.."ucap Abel terpotong karna Leon menutup bibirnya dengan jari telunjuk.


"Bukankah kamu home schooling? tidak masalah jika kita menikah sebelum kamu lulus"ucap Leon.


Abel hanya diam dengan memanyunkan bibirnya dengan mata yang beberapa kali mengerjap layaknya anak kecil.


"Jangan menatapku seperti itu, atau kamu akan menyesal"ucap Leon kemudian mengecup sekilas bibir Abel.


"Iya, tapi aku boleh kan ikut di festival itu?"tanya Abel dengan puppy eyes sembari memamerkan gigi nya.


"Em...mungkin tidak, kamu sudah mengabaikan ku tadi"jawab Leon santai yang membuat wajah Abel berubah, dia kembali cemberut.


"Itu karna kamu yang menggangguku, aku marah denganmu makanya aku mengabaikanmu"ucap Abel kesal.


"Kamu marah denganku?"tanya Leon menatap lekat manik mata Abel.


"Iya"jawab Abel kesal.


"Lain kali jika kamu marah denganku, pukul saja aku atau lempari aku barang barang seperti sebelumnya. Jangan mengacuhkan ku seperti ini, itu membuatku sedih"jelas Leon.


"Iya, aku tidak akan mengacuhkanmu lagi"jawab Abel pelan lalu menunduk.


"Kelinci pintar"ucap Leon sembari mengelus pipi Abel lembut.


"Baiklah, kita akan pergi ke pusat kota untuk festival itu, tapi besok"ucap Leon yang membuat wajah Abel berbinar.


"Yeay!"ucap Abel bersorak hingga tanpa sengaja membuat Leon menahan gejolak kejantanan nya yang menegang ulah Abel.


"Ekhem, yasudah sekarang waktunya tidur, ini sudah larut"ucap Leon kemudian menggendong Abel ala koala kembali ke kasur.


"Aku bisa berjalan sendiri Pak singa"ucap Abel.


"Tidak ada penolakan atau lupakan soal festival itu"ancam Leon yang langsung membuat Abel menurut.


"Good girl"ucap Leon.


Leon meletakan tubuh Abel perlahan di atas kasur dan ikut berbaring.


"Good night kelinci manis"ucap Leon mengecup kening Abel kemudian mematikan lampu.

__ADS_1


Mereka tertidur dengan nyenyak malam itu dengan Leon yang sama sekali tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Abel, sangat nyaman pikir Leon.


Bersambung...


__ADS_2