Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-73


__ADS_3

"Good night kelinci manis"ucap Leon mengecup kening Abel kemudian mematikan lampu.


Mereka tertidur dengan nyenyak malam itu dengan Leon yang sama sekali tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Abel, sangat nyaman pikir Leon.


Pagi harinya Abel bangun terlebih dahulu daripada Leon, dia beranjak dari tempat tidur dengan berhati hati agar tidur Leon tidak terganggu.


"Ini masih setengah enam, lebih baik aku siapkan sarapan"batin Abel.


Abel pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum turun kebawah untuk menyiapkan sarapan.


Ketika sudah sampai di dapur, Abel dengan sigap mulai menyiapkan bahan bahan untuk sarapan pagi ini. Dia begitu bersemangat memasak, entah karena hoby atau karna perasaannya saja yang sedang baik.


Sedangkan dikamar, Leon meraba raba kasur di sebelahnya mencari Abel dengan mata masih terpejam. Tangannya terus meraba raba sana sini,namun tak jua mendapati Abel, hingga akhirnya dia membuka mata.


"Dimana kelinci manisku?"suara serak khas orang bangun tidur.


Ia mengedarkan pandangan keseluruh kamar,namun tak menemukan Abel di manapun.


"Sayang..."teriak Leon memanggil Abel, namun tak ada tanggapan.


"Dimana dia?"bermonolog sembari menuruni tempat tidur.


"Sayang?"panggil Leon dengan tangan yang mendorong pintu kamar mandi, tapi Abel juga tidak di sana.


"Dimana dia?"mulai panik. Buru buru Leon mencuci muka dan berjalan cepat kelantai bawah untuk mencari keberadaan Abel.


"Ck! dimana dia?"mulai kesal dan panik.


Saat kaki panjangnya menuruni anak tangga, aroma masakan menyeruak di indra penciuman seorang Leon. Dia segera mengedarkan pandangan, karna dia tau ini adalah aroma masakan kelinci manisnya, lebih tepatnya Abel.


"Ternyata kelinci manisku disini, dia terlalu sibuk sekarang"bergumam sembari berjalan mendekati Abel yang sedang sibuk memasak di dapur.


Leon berjalan pelan mendekati Abel yang sedang memasak dengan membelakanginya, dan dengan tiba tiba Leon memeluk Abel dari belakang.


"Kyaa!"teriak Abel terkejut.


"Kamu sedang apa heum?"tanya Leon sembari mendusel dusel wajahnya di leher Abel.


"Pak singa? kenapa mengejutkanku? aku sedang memasak, bagaimana jika masakannya tumpah?"cerocoh Abel jengkel.


"Iya iya aku minta maaf"ucap Leon meminta maaf.


"Huft iya, menyingkirlah sekarang, aku harus memasak"pinta Abel pada Leon yang dari tadi terus memeluknya.


"Biarkan saja seperti ini, aku tadi hampir memanggil polisi karna tidak menemukanmu di kamar"ujar Leon yang langsung membuat Abel cekikikan tertawa.


"Haha, kamu ada ada saja, polisi tidak akan menerima laporan darimu"ucap Abel membalas pernyataan Leon kemarin.


"Siapa bilang? jika kamu mau, aku akan membeli kantor polisi itu"ucap Leon arogan.

__ADS_1


"Huft, iya iya kamu yang berkuasa, sekarang bisa beri aku ruang untuk memasak? duduklah di kursi dan sarapannya akan segera siap"jelas Abel.


"Baiklah"ucap Leon sembari melepaskan pelukannya dari Abel.


Leon terus mengamati Abel yang memasak hingga menyajikannya di atas meja, terlihat lengkungan di sudut bibir Leon saat melihat itu. Dirinya merasa seperti sudah beristri, dan tentu yang ia mau jadikan istri adalah Abel.


"Sudah siap, sekarang ayo sarapan"ucap Abel yang sudah meletakan piring terakhir masakannya.


Leon menatap seluruh makanan diatas meja dengan mata berbinar, Abel benar benar type istri idaman pikir Leon.


"Wah...ini pasti sangat enak"gumam Leon.


"Tentu, itu karna aku yang memasaknya"lanjut Abel dengan nada sombong.


"Yah kamu benar, sekarang ambilkan aku makanan"pinta Leon dan di jawab anggukan oleh Abel.


Mereka sarapan dengan tenang dan sesekali Leon yang minta tambahkan makanan pada Abel. Dan akhirnya ritual sarapan mereka berdua telah selesai, Abel hendak membereskan piring sisa makan mereka, namun Leon melarang Abel.


"Aku punya banyak pelayan di monsion ini, kamu hanya perlu memasak makanan untukku saja"ujar Leon.


"Iya"jawab Abel.


"Sekarang pergilah mandi dan bersiap, bukan kah kamu akan berangkat kekantor hari ini?"jelas Abel.


"Yah kamu benar, aku akan kekantor hari ini"jawab Leon.


"Ayo bantu aku bersiap"ucap Leon kemudian menarik tangan Abel mengikutinya.


"Itu dulu, tapi sekarang kan sudah ada kamu, maka kamu harus menyiapkan keperluanku"ujar Leon santai.


"Huft...aku bukan istrimu"sarkas Abel.


"Memang bukan untuk sekarang, tapi untuk beberapa hari lagi"jawab Leon.


Seketika otak Abel menolak paham, dia diam sejenak untuk mencerna perkataan Leon barusan.


"Kenapa aku mendadak bodoh yah?"rutuk batin Abel.


Leon keluar dari kamar mandi dan mengenakan setelan yang disiapkan oleh Abel di atas kasur, terlihat senyuman di bibir Leon, ternyata selera Abel sama dengan seleranya.


"Sayang,kemarilah"panggil Leon pada Abel yang sedang asik duduk sofa sembari menatap televisi.


"Ada apa?"tanya Abel yang belum beranjak dari posisinya.


"Kemari dan pasangkan aku dasi"jawab Leon.


"Oh...sebentar"ucap Abel kemudian melangkah mendekati Leon.


Abel mengambil dasi yang tergeletak di atas kasur dan hendak memakaikan Leon dasi, namun dia lupa jika Leon lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Huft...sebentar yah"ucap Abel kemudian naik ke atas kasur.


"Apa yang kamu lakukan?"tanya Leon bingung.


"Memakaikan mu dasi"jawab Abel santai.


"Kemari dan mendekat"pinta Abel pada Leon. Leon hanya menuruti perintah Abel dan berjalan mendekatinya.


"Kamu sangat tinggi, sulit bagiku mengenakanmu dasi jika kamu terlalu tinggi"gumam Abel sembari memasangkan Leon dasi.


Sekarang Leon paham dengan tindakan Abel tadi, Leon tersenyum menatap wajah Abel yang sedang fokus mengenakannya dasi.


"Sudah"ucap Abel.


"Terima kasih"ucap Leon tulus kemudian menarik tengkuk Abel mencium keningnya.


"Sama sama"jawab Abel.


Sekarang Leon sudah rapi dan sudah siap akan berangkat ke kantor, dia meraih mantel hitam dan mengenakannya.


"Aku akan berangkat sekarang, dan yah tolong kirim makan siang untukku nanti yah"ujar Leon lembut.


"Em...baiklah, tapi kamu harus membayar mahal"ucap Abel sembari menyilangkan tangannya di dada. Leon tersenyum tipis menatap Abel.


"Katakan berapa harganya? aku akan membayarnya. Kamu lihat laci itu?"tanya Leon sembari menujuk laci di ujung kamar. Abel pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh Leon dan mengangguk.


"Yah aku melihatnya"jawab Abel.


"Disana ada beberapa kartu, ambil saja yang kamu mau, jika kurang katakan saja"jelas Leon yang membuat Abel membelalak matanya.


"Orang kaya ternyata menaruh kartu kredit seperti menaruh kertas saja, aku tidak habis pikir"batin Abel.


"Em..baiklah"jawab Abel gugup.


"Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Jangan berkeliaran dan tetap di dalam monsion, kamu mengerti?"jelas Leom yang di jawab anggukan oleh Abel.


Leon melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar, Abel menatap kepergian Leon dengan wajah gelisah.


"Pak singa!"teriak Abel saat Leon akan meninggalkan kamar. Leon menghentikan kakinya dan berbalik memandangi Abel.


"Ada apa?"tanya Leon. Abel berlari kecil menghampiri Leon.


Abel meraih tangan besar Leon dan menaruh nya di atas kepalanya.


"Kamu melupakannya"jawab Abel sembari cemberut.


Sekarang Leon sadar, dia lupa mengelus kepala Abel sebelum pergi tadi. Dia tersenyum geli melihat tingkah Abel.


"Iya iya maaf, aku melupakannya"ucap Leon kemudian mengelus kepala Abel lembut. Abel tersenyum senang sembari memamerkan giginya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2