
Tangan Leon tak tinggal diam, tangannya mulai menjalar ke bawah baju tidur yang kenakan Abel dan mengelus lembut paha Abel yang membuat Abel makin terbuai.
Abel memejamkan matanya saat tangan besar Leon mengelus elus pahanya di bawah sana. Melihat Abel yang menikmati permainannya, Leon semakin semangat dalam kegiatannya.
Saat tangan Leon akan menyentuh bagian berharga miliknya, akal sehat Abel kembali normal, dia segera menahan tangan Leon.
"Jangan, ini salah"ucap Abel pelan sembari menggelengkan kepala.
Leon yang sudah di ujung tanduk harus menahan hasrat nya ketika Abel menolak. Sebenarnya apa yang di pikirkan Abel? Leon akan tetap menikahinya.
Nafas Leon naik turun menahan hasratnya sembari menatap Abel sendu, dia begitu mencintai Abel sehingga dia tidak bisa memaksa Abel melakukannya.
"Pergilah mandi, kamu akan telat berangkat ke kantor"ucap Abel canggung sembari mengalihkan pandangannya.
"Em...baiklah, mandi bersama"ucap Leon kemudian menggendong Abel dan memasukannya ke bathup.
"Tidak tidak, aku tidak mau"ucap Abel.
Leon menarik dagu Abel agar menatapnya kemudian dia tersenyum tipis menatap Abel.
"Kenapa kamu begitu malu dan selalu menolak? aku pasti akan menikahimu, jika perlu hari ini kita akan menikah"jelas Leon.
"Bu...bukan begitu, a...aku..."ucap Abel gugup.
"Sudah, jangan di lanjutkan"ucap Leon mengelus pipi Abel.
"Kamu tau? ini pertama kalinya aku begitu berjuang untuk cinta, dan kamu orang pertama yang aku perjuangkan. Yah, aku tergila gila dengan mu Nona Arabella sangat tergila gila" jelas Leon yang membuat Abel tersentuh.
Tanpa sadar Abel beranjak dan memeluk Leon dengan erat.
"Pak singa, aku tau kamu mencintaku dengan tulus, tapi bisakah kamu memberiku waktu? aku takut perasaan ku cuma perasaan sesaat, aku takut Pak singa"ucap Abel sembari menangis.
Leon tersenyum mendengar penuturan Abel dan membalas pelukan dari Abel. Dia sama sekali tidak merasa sedih atau marah, dia malah merasa begitu senang karna Abel sudah berani jujur padanya.
"Tidak apa apa, jangan menangis. Aku akam tetap menunggu mu, jika bila perlu aku akan menunggu mi seumur hidup ku untuk membuatmu mencintaiku" ucap Leon sembari mengusap air mata Abel lembut.
"Hiks, kenapa kamu begitu bijak dalam berkata kata? tapi begitu mesum saat bertindak?"tanya Abel yang membuat suasan yang tadinya haru menjadi kacau.
Leon yang tadinya sedang bereskpresi sendu menjadi terkekeh mendengar penuturan yang keluar dari bibir Abel.
"Kenapa kamu mengacaukan suasananya?"tanya Leon.
"Ha? apa yang ku kacaukan?"tanya Abel polos.
Leon memegang keningnya frustasi, sepertinya dia harus mengajarkan Abel agar bisa mengendalikan suasana romantis.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu keluar dulu, aku akan mandi. Jika kamu tidak keluar maka aku akan melakukannya dan tidak akan lagi memperdulikan penolakan mu"ucap Leon smirk. Abel beranjak dan berlari terbirit birit setelah mendengar penuturan Leon.
"Haha, begitu menggemaskan untuk di rusak di awal"gumam Leon.
.
.
.
"Aku berangkat sekarang, jangan kemana mana dan ingat..."ucap Leon terpotong.
"Jangan terlalu lelah"lanjut Abel yang langsung mendapatkan senyum hangat dari Leon.
"Sekarang kamu semakin peka yah. Baiklah, aku berangkat sekarang"ucap Leon menarik tengkuk Abel dan mencium keningnya lembut.
"Aku mencintaimu, kelinci"lanjut Leon lagi yang hanya di balas senyum manis oleh Abel.
Leon berjalan ke arah mobil dan memandangi Abel yang masih setia berdiri di depan pintu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya menatap Leon.
"Sampai jumpa Pak singa"ucap Abel melambaikan tangan dengan senyum yang tak lepas.
Leon mendadak tersipu mendapatkan prilaku manis seperti itu dari Abel, Hans yang berada di bangku depan sempat syok melihat Leon yang mendadak malu karna Abel.
Mobil yang di kendarai oleh Leon akhirnya bergerak meninggalkan pekarangan Monsion mewahnya.
Senyum dari bibir Leon tak kunjung padam, dia bahkan menghela nafas bahagia sembari menyenderkan kepala di kursi mobil.
"Hari pertama yang membahagiakan"tutur Leon.
"Hari pertama saja sudah semanis ini, bagaimana dengan besok dan seterusnya? aku bisa diabetes"lanjutnya lagi.
Hans yang mendengar semua penuturan Leon menyerngitkan dahinya tak mengerti? apa yang manis? hari pertama apa? pikir Hans.
"Apa hari ini Tuan sedang bahagia?"tanya Hans memberanikan diri.
"Tidak, aku sangat sangat bahagia! sangat"ucap Leon penuh penekanan saking senangnya.
"Jangan bertanya lagi"perintah Leon yang sudah kembali ke mode Pak singa nya.
"Ekhem, baik Tuan"ucap Hans kemudian fokus ke jalanan.
"Akan ada saatnya..."batin Leon.
.
__ADS_1
.
.
"Lepaskan aku!!"teriak seseorang keras dengan kaki dan tangan yang di rantai.
"Brengs*ek!! aku akan membunuhmu saat aku terlepas!"lanjutnya lagi.
Beberapa orang datang dan menatapnya tajam sembari memegang pistol di tangannya.
"Ck! apa gunanya kamu berteriak dan mengumpat? apa kamu begitu bodoh hingga tidak tau jika ruangan ini kedap suara? cih! jika Tuan kami tau kamu akan langsung di rendahkan lebih parah dari ini"ucap salah satu orang tersebut.
"Bilang pada Tuan mu, jika dia memang berani coba lepaskan aku dan selesaikan ini dengan cara jantan!"teriak nya.
"Lupakan saja, kamu akan mati. Tuan kami begitu baik hati hingga membiarkan mu hidup setelah kamu mengganggu apa yang sudah ia cap sebagai miliknya"ucap satu orangnya lagi.
"Si*al!! dia hanya beruntung"ucapnya sinis.
Orang orang itu tidak lagi menanggapinya dan berjalan keluar sembari memasukan pistolnya di saku jaketnya.
"Sia*llllll!!"teriaknya keras.
.
.
.
.
"Bagaimana?"tanya Leon pada Hans.
"Semuanya sesuai dengan yang Tuan inginkan, perusahaannya sudah di ujung tanduk karna tidak memiliki pemimpin dan ada beberapa karyawannya yang korupsi juga"jelas Hans panjang lebar.
Leon tersenyum mengerikan mendengar penjelasan Hans.
"Bagus, bukan kah ini sangat menyenangkan? kita hanya tunggu detik detik terakhir dan boom! hancur"ucap Leon smirk sembari memperagakan ledakan di tangannya.
"Benar Tuan, saya juga menunggunya"balas Hans.
Leon menyilangkan kedua lengannya di dada sembari menyenderkan kepala di sandarkan kursi kebesarannya. Bukan kah hari ini hari yang sangat baik untuknya? dia menjadi kekasih Abel dan mendapatkan kabar bagus ini juga.
"Dengarlah berita kehancuranmu"batin Leon.
Bersambung...
__ADS_1