
"Iya, aku tidak akan marah" jawab Abel.
Leon tersenyum, kelinci manisnya ini sangat imut jika jadi penurut juga sangat penggoda dan manis saat marah.
"Good Girl!, baiklah ayo sarapan sekarang" ucap Leon sembari menyendok makanan untuk menyuapi Abel.
"Ayo buka mulut mu" perintah Leon, tapi Abel tak kunjung membuka mulutnya.
"Aku bisa makan sendiri, lagipula tangan ku sudah sembuh karna memukul mu tadi" jelas Abel.
"Tidak ada penolakan, ayo buka mulut mu sekarang" tolak Leon yang sudah duduk di sebelah Abel.
"Tidak yah tidak, kenapa kamu suka sekali memaksa? apa hidupmu tidak ada hal lain yang ingin di lakukan selain memaksa?" tanya Abel kesal.
"Tentu saja ada, yaitu membuatmu mencintaiku" jawab Leon yang langsung membuat Abel terdiam dan merasa perasaannya tidak enak.
"Ada apa dengan ku? kenapa mendadak sendi sendi ku tak berdaya?" batin Abel.
"Ekhem! sudahlah, kemarikan makanannya" Abel berdehem kemudian ingin mengambil makanan dari tangan Leon,tapi dengan cepat Leon menjauhkanya agar tak di jangkau oleh Abel.
Leon menatap wajah Abel ldengan mata teduh nya, sangat lembut pikir Abel.
"Bisakah kamu mencintaiku? sekali saja, aku tidak akan pernah mengecewakan mu" pinta Leon lembut dengan tatapan teduh nan lembut.
Setelah mendengar permintaan Leon, Abel secara cepat memalingkan wajah ke arah lain. Antara rasa malu dan gugup menyelubungi hati nya setelah mendengar penuturan Leon barusan.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara. A..aku lapar" ucap Abel mengalihkan pembicaraan.
Leon tau jika Abel hanya mengalihkan pembicaraan agar terhindar dari pertanyaannya. Untuk kali pertama dalam hidup seorang Leon Sebastian Xylander harus benar benar berjuang bahkan dia tidak bisa menggunakan uang untuk melakukannya.
"Anggap saja ini karma karna kamu selalu menjauhi wanita" batin Leon.
"Baiklah, ayo makan" ujar Leon sembari menyuapkan makanan ke mulut Abel dan entah mengapa Abel tidak menolaknya lagi.
"Aku sangat ragu. Ini bukan kali pertama seorang pria berprilaku baik padaku, tapi entah mengapa rasanya sangat berbeda kali ini?" batin Abel.
Singkat cerita makanan yang di suapi Leon untuk Abel telah habis, Leon tersenyum bahagia karna kelinci manisnya tidak menolak lagi untuk di suapi.
"Apa kamu tidak makan?"tanya Abel yang melihat Leon yang daritadi terus tersenyum memandang dirinya.
__ADS_1
"Tentu, aku akan makan. Ayo suapi aku" jawab Leon yang langsung dapat serngitan dari Abel.
"Kenapa aku?" tanya Abel.
"Karna tadi aku sudah menyuapimu dan sekarang giliranmu yang menyuapiku" jawab Leon.
"Itu kan karna kamu memaksa" balas Abel tak ingin di salahkan.
"Tetap saja" ujar Leon dengan wajah smirk.
"Huff, baiklah" Abel mengalah dan mengambil piring berisi makanan dan menyuapi Leon.
Perasaan Abel kembali merasa aneh saat tidak sengaja bertatapan secara dekat dengan Leon waktu menyuapinya.
"Aneh sekali, mungkin aku perlu olahraga agar perasaan ku semakin tenang" batin Abel.
Kegiatan menyuapi Leon pun selesai, Abel hendak membersihkan piring dan juga gelas sisa sarapan mereka,tapi Leon malah melarangnya.
"Apa yang kamu lakukan?"tanya Leon.
"Apa lagi? apa kamu tidak bisa melihar jika aku sedang membereskan sisa makanan" jawab Abel.
"Aku yang akan membereskan ini, kamu pergilah mandi dan pakaianmu akan aku berikan nanti" Ujar Leon yang langsung membawa semua barang barang itu ke bawah.
Abel melihat kepergian Leon, ada rasa senang di hatinya yang dia sendiri tidak tau mengapa.
"Apa ini yang di namakan baper? hahah aku sudah menjadi bocah kekinian saja" tutur Abel di selingi tawa. Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Berendam di air hangat membuar tubuh Abel menjadi segar setelah pulang dari rumah sakit, dia begitu menikmatinya.
Abel meraih handuk yang terdapat di kamar mandi dan kemudian mengintip keluar dari kamar mandi.
"Apa pak singa ada di sini?"monolognya.
"Di mana pakaiannya? dia bilang akan membawakannya kemari" tutur Abel.
Dan tiba tiba saja suara deep voice terdengar di telinga Abel yang sedang mengintip dari balik pintu kamar mandi.
"Mencariku?"tanya nya, yah siapa lagi jika bukan Leon.
__ADS_1
Abel mengedarkan pandangan dan berhenti pada pria yang sedang duduk di dekat jendela, pantas saja Abel tak melihatnya tadi.
"Iyah, di mana pakaianku?"tanya Abel.
"Pakaianmu?"tanya Leon balik dan di jawab anggukan oleh Abel.
"Tidak ada" jawab Leon santai yang membuat wajah Abel memerah.
"Bukannya kamu bilang akan mengantarkan pakaianku? sekarang aku harus mengenakan apa?" tanya Abel kesal.
"Tidak usah pakai baju jika begitu, kamu sangat cantik jika tidak mengenakan baju" jawab Leon santai.
"Dasar Pak singa mesum! apa tidak ada hal hal positif di kepalamu?" ucap Abel kesal.
"Haha, aku bercanda kelinci manis. Aku sudah membawakan pakaian untukmu, kemari dan ambil" jelas Leon yang menyuruh Abel mendekatinya.
"Tidak mau, kamu saja yang kesini. Kamu pasti ingin mencari kesempatan dalam kesempitan" tuduh Abel.
"Tentu saja, bukan kah kesempatan tidak boleh di sia siakan?" ucap Leon yang membuat wajah Abel menekuk kesal.
"Baiklah, aku mengalah" ucap Leon yang beranjak mendekati Abel sembari menenteng paper bag di tangan.
Abel menyembunyikan tubuhnya dan hanya menampakan kepala saja saat Leon mendekat.
"Berikan padaku" pinta Abel dengan mengulurkan tangannya.
"Apa yang kamu sembunyikan? bukan kah aku hampir melihat semua nya? ayo keluar" Leon yang kembali menggoda Abel.
"Sudahlah, aku benar benar lelah untuk bertengkar sekarang ini. Ayo berikan padaku Pak singa" jelas Abel dengan wajah memelas.
"Panggil nama ku dengan benar dulu, baru akan ku berikan" syarat Leon.
"Huff, baiklah. Leon, berikan padaku..aku sudah sangat kedinginan sekarang" pinta Abel dengan nada lembut miliknya yang langsung membuat sudut bibir Leon terangkat.
"Manis sekali" tutur Leon sembari memberi paper bag pada Abel.
"Sudah yah, aku akan memakai pakaian dan selamat tinggal" ucap Abel yang langsung menutup pintu.
"Hufff, tadi itu menegangkan kan"batin Abel.
__ADS_1
Bersambung...