Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-54


__ADS_3

Abel pun beranjak dari dapur dan berjalan jalan di Monsion besar itu, dia juga melihat foto besar di salah satu ruangan,Ada rasa senang di hati Abel saat melihatnya.


"Apa ini Pak singa saat kecil? haha dia sangat lucu dan tampan"gumam Abel.


"Apa dia Ayah dan Ibu Pak singa?" monolognya saat melihat tiga orang dalam satu bingkai besar.


"Kenapa aku tidak pernah melihat Orang Tua nya? apa mereka tinggal di tempat lain?"monolog Abel.


Abel beralih berjalan ke luar Monsion,tepatnya di halaman Monsion Leon yang begitu luas.


"Di sini sangat Luas, aku bahkan bisa membuka Ruko di halaman rumah Pak singa" gumam nya.


Abel menghampiri tanaman Bunga dan juga tanaman lain yang ada di samping Monsion, dia memegang bunga tersebut lalu tersenyum.


"Kalian sangat cantik dan indah, tidak kusangka Pak singa juga suka tanaman dan Bunga" gumam Abel.


Abel melihat tukang kebun yang sedang memotong rumput tidak jauh dari lokasinya berada, ia segera menghampiri tukang kebun itu dengan senyum hangat.


"Permisi,Paman" sapa Abel lembut dan sopan.


Tukang kebun yang sedang fokus memotong rumput pun lantas menoleh ke asal suara.


"Nona Muda? Selama pagi menjelang Siang,Nona" ucap pria separuh baya itu sambil menunduk hormat.


"Hey apa yang Paman lakukan? jangan menunduk saat usia mu seperti ini, Paman bisa sakit punggung" kecoh Abel sembari membantu Tukang kebun berdiri seperti semula.


"Saya tidak apa apa Nona dan saya merasa tidak enak saat Nona memanggil saya Paman" ujar Tukang kebun sopan.


"Tidak apa, Paman lebih Tua dariku. Rasanya sangat tidak sopan" jelas Abel lembut sembari tersenyum hangat.


"Nona sangat baik" tutur Tukang kebun itu.


"Paman bisa saja. Oh yah, apa paman sudah makan?"tanya Abel.


"Belum Nona, tapi untuk sarapan saya sudah" jawab Tukang kebun sopan.


"Baguslah...ayo makan siang bersama ku saja Paman, Paman Chef sudah memasak begitu banyak makanan untukku siang nanti, kita dan para pelayan serta penjaga lain akan makan bersama" jelas Abel panjang lebar.


Tukang kebun itu tertegun mendengar penuturan Abel, dia langsung bisa menyimpulkan bahwa inilah alasan Tuan Muda nya menyukai gadis di hadapannya ini, selain cantik dia juga baik dan peramah,pikir Tukang kebun.


"Saya rasa itu tidak perlu Nona, kami semua merasa tidak pantas makan bersama dengan Nona" tolak Tukang kebun sopan.

__ADS_1


"Jangan merasa tidak enak, aku lebih merasa tidak enak saat makanan yang banyak harus di buang percuma karna tidak habis di makan" tutur Abel yang membuat Tukang kebun terharu.


"Paman tunggu disini dulu, aku harus memanggil pelayan dan penjaga yang lain untuk makan siang bersama" ucap Abel kemudian melenggang pergi meninggalkan Tukang kebun yang terus menatap punggungnya hingga tak terlihat oleh matanya lagi.


Disinilah mereka semua berada, di ruang makan mewah dan besar milik Leon. Abel memanggil semua pelayan dan penjaga untuk makan bersama, tidak semua nya mau makan, karna mereka harus bertugas menjaga pintu utama dan tempat lainnya di Monsion itu.


"Ayo duduk" ucap Abel ada pelayan dan beberapa penjaga yang hanya berdiri menunduk.


"Maaf,Nona. Sepertinya kami tidak layak makan bersama Nona disini" jawab salah satu pelayan.


"Kenapa tidak layak? memangnya aku siapa? jika kalian merasa takut dengan pak singa, eh maksudku Leon...aku akan bicara padanya nanti saat dia pulang" jelas Abel panjang lebar.


Abel terus memaksa mereka untuk duduk dan makan siang bersama dan akhirnya pelayan serta beberapa penjaga terpaksa ikut duduk dan makan siang bersama Abel.


"Nona sangat baik"


"Aku fikir tempat ini akan menjadi hangat jika Nona Abel benar benar menjadi Nyonya di Monsion ini"


"Aku sangat menyukai Nona Abel"


Isi fikiran beberapa pelayan dan penjaga pada Abel sekarang ini, mereka sangat senang dengan Abel yang hangat dan baik serta tidak memandang rendah mereka.


.


.


.


"Ini sudah jam makan siang, apa Kelinci manisku sudah makan?"monolog Leon.


"Aku harus memastikannya" lanjutnya kemudian mengambil tablet yang menghubungkan langsung dengan CCTV di Monsion miliknya.


Leon melihat semuanya, dari Abel yang pergi ke ruang galeri,kebun, serta mengajak pelayan dan penjaga makan bersama. Leon menyunggingkan senyumnya melihat sikap Abel yang benar benar tulus pada seseorang, dan sekarang dia semakin yakin jika Abel benar benar layak dan harus dia peristri.


"Kelinci manisku sangat baik, lihat senyuman pelayan dan penjaga itu?" ujar Leon dengan senyuman di bibirnya.


"Aku rasanya ingin sekali pulang dan menemuinya" ucap Leon.


"Sepertinya aku harus lebih keras membuatnya jatuh hati padaku, aku sudah benar benar ingin memperistri dirinya" lanjut Leon sembari memegang keningnya berfikir.


"Apa jalan jalan bisa membuat orang jatuh cinta?"monolog Leon.

__ADS_1


Leon meraih ponsel dan memanggil Hans untuk menemuinya. Hans membungkuk hormat pada Leon kemudian bertanya ada keperluan apa Leon memanggilnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"tanya Hans sopan.


Leon memandangi Hans teliti sembari mengetuk ngetuk pulpennya di meja. Hati Hans benar benar tidak nyaman sekarang, apa dia telah melakukan kesalahan? pikir Hans.


"Apa kamu pernah mencoba mendekati seorang wanita?" satu pertanyaan lolos dari bibir Leon yang langsung membuat Hans melotot.


"Jangan melototkan matamu padaku, apa kamu sudah tidk ingin melihat?"tanya Leon kesal.


"Maaf Tuan, Saya belum pernah mendekati seorang wanita" jawab Hans sembari menunduk.


Leon menatap Hans selidik, dia mulai berfikir random pada Hans.


"Apa kamu impoten?"tanya Leon santai yang langsung membuat wajah Hans memerah.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak Impoten" jawab Hans.


"Aku tidak yakin, kamu sendiri tidak pernah mendekati wanita" sindir Leon.


"Lihat dirimu sendiri Tuan, Anda sendiri sangat alergi dengan wanita sebelum adanya Abel,yang berkemungkinan Impoten itu adalah Anda Tuan"batin Hans.


"Saya masih normal Tuan" bela Hans pada dirinya.


"Terserah" jawab Leon datar.


"Apa kamu tau cara mendekati seorang wanita? walau ku tau kamu tidak pernah mendekati wanita, setidaknya cari tau caranya" jelas Leon dengan nada dingin dan datar.


"Apa Tuan berusaha mendekati Abel? Haha ini sangat seru, seorang Leon Sebastian Xylander mengejar cinta Arabella Clarissa"batin Hans.


"Mungkin dengan hal hal romantis seperti makan malam bisa membuat seorang wanita luluh,Tuan" usul Hans.


"Makan malam? makan malam yang seperti apa?"tanya Leon yang bingung.


Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertangaan atasannya yang tidak masuk akal itu.


"Bisa dibilang seperti Makan malam dengan nuansa romantis untuk membicarakan sesuatu dari hati ke hati,Tuan" jelas Hans yang sudah habis pikir.


"Oh" jawab Leon singkat dan segera mengalihkan pandangannya yang dingin itu. Hans hanya bisa mengela nafas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2