Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-83


__ADS_3

"Benar yang dikatakan Daddy, itu adalah cara kami menunjukkan kasih sayang kami sebagai seorang pria"ujar Leon.


Abel mengangkat kepala dan menatap wajah kedua manusia itu, lalu mempercayainya begitu saja.


"Benarkah? aku baru tau, maafkan aku yang membuat keributan tadi"ucap Abel sedikit menundukkan kepala.


"Jangan merasa bersalah, kami juga salah karna terus ribut dan tidak memikirkan mu"ucap George sembari mengelus pucuk kepala Abel dan melirik sekilas Leon.


"Anak pintar...!"batin George.


Leon yang dilirik oleh sang Daddy juga sedikit mengangkat senyum nya, ternyata mereka sangat ahli bersandiwara.


"Bukan kah aku sangat pintar? haha ini sangat menyenangkan"batin Leon.


Abel mengangkat kepalanya dan menatap wajah George dan Leon bergantian, dia menelisik kedua wajah itu dengan wajah yang berekspresi seperti anak kecil.


"Tapi kurasa Daddy lebih tampan dari Pak singa"ujar Abel yang langsung membuat suasana tadi kacau, Leon bereskpresi sedikit terkejut dan George yang mendapat pujian langsung memasang wajah arogannya dan membenarkan posisi duduknya agar terlihat gagah.


"Kamu benar, aku memang tampan walau sudah tidak muda, tidak seperti pria itu"ucap George sombong dan memasang wajah mengejek pada Leon.


"Apa yang kamu katakan? jelas aku lebih tampan dari Daddy, dia sudah tua"ucap Leon kesal.


"Yah, kalian berdua tampan"ujar Abel menenangkan Leon.


"Jangan berbangga, Abel mengatakan itu agar kamu tidak kesal, ada dasarnya aku tetap nomor satu"ucap George dengan nada dan ekspresi sombong.


"Menyebalkan"batin Leon jengkel.


"Terserah Daddy, bisakah kita kembali ke topik pembicaraan yang pertama tadi? ini sudah begitu lama bukan?"ujar Leon.


"Eum yah kamu benar, aku melupakan itu"ucap George.


"Daddy sudah tua, tentu saja cepat lupa"batin Leon.


George dan Leon kembali menatap Abel yang juga bergantian menatap mereka berdua, harus kah Abel jujur sekarang? tapi ini sedikit canggung.


"Bagaimana nak? katakanlah jawabanmu"ucap George lembut sembari mengelus pucuk kepala Abel.


"Huft...lebih baik katakan daripada tidak sama sekali"batin Abel.

__ADS_1


Abel membenarkan posisi duduk nya dan menatap Leon yang duduk diseberang sofa sana dengan sedikit senyum malu.


"Eum...sebetulnya ini sedikit memalukan dan membuat ku canggung, tapi lebih baik mengatakannya daripada terus di pendam"tutur Abel yang membuat Leon semakin penasaran akan jawabannya.


"Sebenarnya, aku juga sudah mulai menyukai Pak singa, namun aku sedikit takut untuk mengatakannya di awal karna aku takut ini perasaan sementara. Tapi aku salah, aku memang benar benar menyukai Pak singa"jelas Abel kemudian menunduk sembari mencengkeram ujung baju nya malu.


Leon yang mendengar pengakuan Abel, seketika sumriangah dengan senyum lebar. Karna merasa senang dengan jawaban yang sesuai harapannya, Leon dengan spontan beranjak dari duduk nya dan langsung memeluk Abel yang sedang tertunduk malu tanpa menghiraukan sang Daddy.


"Aku tau kamu juga mencintaiku"gumam Leon yang masih memeluk Abel.


"Pak singa, apa yang kamu lakukan? Daddy mu melihat kita"ucap Abel merasa malu.


"Biarkan saja, aku sedang bahagia sekarang"ucap Leon yang mengeratkan pelukannya.


George yang merasa sebagai penggangu antar Leon dan Abel merasa tidak terima di abaikan seperti ini, dia mendekati kedua sejoli itu dan menarik telinga Leon kuat.


"Dasar anak nakal, siapa yang menyuruhmu nyosor nyosor seperti itu? dia belum sah menjadi istrimu"ucao George yang masih menjewer telinga anak nya.


"Akh, lepaskan Dadd, sakit.."ringis Leon. George melepas jewerannya dan menatap Leon tajam.


"Kamu pikir aku apa? kalian berpelukan seakan aku ini benda mati, dasar..."dumel George kesal.


"Itu hanya reflek"ucap Leon.


"Alasan"ucap George.


"Sudahlah Pak singa, Daddy benar"ujar Abel sembari memegang bahu Leon.


"Yah aku tau"ucap Leon.


George beranjak dan berdiri sembari merenggangkan tubuhnya dan mengedarkan pandangan keseluruh monsion milik Leon dengan sedikit senyum licik.


"Kurasa aku akan tinggal disini beberapa waktu, aku merasa kesepian di Monsion sana"ujar George.


Leon yang mendengar penuturan Daddy mulai merasa curiga, sepertinya Daddy nya akan terus mengganggu nya dan tidak akan membiarkannya berdua dalam waktu lama bersama Abel.


"Benarkah? apa Daddy tinggal sendiri disana?"tanya Abel. George mengalihkan pandangannya dan menatap Abel.


"Waktu nya drama hebat"batin George.

__ADS_1


George kembali duduk di tempatnya sembari memasang ekspresi sedih miliknya itu.


"Yah, aku tinggal sendiri disana, kesepian tanpa ada teman bicara"ucap George sendu.


Abel yang mendengar itu juga ikut merasa sedih dan kasian, di usia tua seperti ini seharusnya George merasa senang dan bahagia pikirnya. Tapi itu berbeda dengan Leon, dia sedikit terkejut mendengar itu, Daddy nya mengarang cerita. Di sana Daddy tidak sendiri, dia memiliki teman yang juga pensiunan di sekitaran monsion, dan juga banyak nya rutinitas yang bagus di usia itu.


"Apa begitu Dadd? kenapa Daddy tidak tinggal disini saja? dan juga apa Pak singa tidak pernah mengunjungimu?"tanya Abel dengan ekspresi yang juga sendu.


"Wah dia mempercayainya, aktingku sangat bagus"batin George.


"Mana mungkin aku tinggal disini, Leon tidak menyukaiku tinggal disini dan akhirnya dia mengirimku keluar negeri dan tak pernah mengunjungiku"ucap George kembali membuat drama dengan bersikap rapuh,sedih, dan tertindas.


Leon membolakan matanya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Daddy nya, itu sama sekali tidak benar. Daddy nya sendirilah yang ingin tinggal di luar negeri jauh dari perkotaan yang sibuk.


"Itu tidak benar! apa yang Daddy katakan? kenapa Daddy membuat drama seperti ini?"ucap Leon merasa kesal dan tidak terima di jelekkan seperti itu di depan gadis nya.


George yang mendapat serangan tidak terima dari anak nya kembali berekting sedih dan terpukul, dia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan ekspresi yang sama.


"Kamu lihatkan? dia membentakku"ucap George pada Abel.


Abel melihat wajah Leon dengan wajah tak percaya, kenapa Leon melakukan ini pada Daddy nya sendiri? fikir nya.


"Kenapa kamu membentak Daddy mu?"tanya Abel pada Leon.


"Tidak, aku tidak membentak Daddy sayang, aku hanya membenarkan penuturan salah yang diucapkan Daddy padakku"jelas Leon.


"Sudahlah nak, bisa bawa aku ke kamar ku, aku ingin istirahat saja"pinta George dengan sendu dan lirih.


"Baiklah"ucap Abel menyanggupi.


Abel membantu George ke kamar tamu dengan ekspresi kasian, tapi berbeda dengan George, dia merasa sudah menang sekarang setelah melihat ekspresi kesal anaknya itu.


"Aku menang..."gerakan mulut George pada Leon yang ditinggal di ruang tamu.


Leon merasa begitu frustasi sekarang, bagaimana mungkin Daddy nya bisa begitu sekejam dan sedrama ini padanya?


"Daddy!! kamu menyudutkanku!"teriak Leon menggema di ruang tamu dengan perasaan kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2