Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-2


__ADS_3

Seketika mereka berdua memutar badan dan melihat ke sumber suara.


Dan terpampanglah sosok pria tampan,tinggi,dan yang pastinya digilai siswi di sekolah dan di idolai oleh Jeje juga pastinya, namun tidak dengan Abel.


"Eh Rey, iya kita mau pulang"Ucap Jeje dengan tersenyum manis.


"Kamu pulang menggunakan apa?"tanya Rey tanpa ekspresi.


"a...aku pulang menggunakan mobil, Rey"Jawab Jeje dengan wajah yang semringah.


"Bukan kamu,tapi teman mu"jelas Rey yang langsung membuat Jeje dan Abel saling bertatapan.


"Huff,aku pikir Aku yang ditanya"batin Jeje kecewa.


"Aku pulang dengan Jeje" jawab Abel tanpa menatap Rey.


"Kamu pulang dengan ku saja"ucap Rey dengan nada dingin yang menusuk tulang.


"Dan kamu, kamu bisa pulang sendirikan?"tanya Rey pada tepat di depan wajah Jeje.


Jeje yang ditatap seketika membeku dan pipinya terasa panas karna salah tingkah.


"Astaga..Pangeran ku menatap ku secara angsung, oh my god!!"batin Jeje yang bersorak gembira.


"Tidak bisa! aku pulang dengan Jeje saja"bantah Abel.


"Eh?..kamu apa apaan sih Bell, kamu pulang sama Rey saja, kasian tau dia"Ucap Jeje yang tersenyum malu pada Rey.


"Tidak usah, aku pulang jalan kaki saja"tolak Abel.


"Kamu harus pulang dengan ku, Ayo!"ucap Rey sambil menarik tangan Abel menuju mobil sportnya di parkiran sekolah.


"Eh? lepaskan aku! Je..!! tolongin aku" teriak Abel sambil meronta minta di lepaskan,sementara Jeje hanya berdiri dan terus tersenyum menatap kepergian sahabatnya itu.


"Tidak apa apa hari ini Rey pulang sama Abel,Ini adalah peluang pertama aku,tadi saja sudah di tatap secara langsung sama Rey,sumpah! aku akan tidur nyenyak malam ini"batin Jeje.


"Eh kamu, lepaskan aku!! aku tidak mau pulang sama kamu, lepaskan"teriak Abel sepanjang perjalanan menuju parkiran. Namun Rey seakan tuli,baginya teriakan Abel bagaikan Alunan musik yang sedap di dengar oleh telinga.


"Diam!! kamu harus pulang dengan ku titik!" ucap Rey dengan nada tegas. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan takut,tapi tidak dengan Abel. Dia sudah terbiasa mendengar ucapan yang tidak enak dari Karin dan para awaknya.


Saat tiba di depan mobil, Rey segera membuka pintunya dan memasukan Abel kedalam dan dengan cepat Rey memutar mobil untuk masuk,agar Abel tidak keluar.


"Kamu apa apaan sih!? Aku tidak mau kenapa di paksa?"bentak Abel dengan marah.


"Diam! Awas saja kamu berisik,disini sudah sepi, aku bisa melakukan apapun sama kamu,sekarang diam!"ancam Rey dan seketika Abel terdiam,Abel sudah dewasa dia mengerti apa yang di katakan Rey tadi.


"Bagus!,duduk diam disitu"tutur Rey.

__ADS_1


Abel sama sekali tidak menjawab,dia bahkan memalingkan wajahnya ke luar jendela tanpa mau melihat atau melirik Rey. sedangkan Rey, dia selalu saja melirik Abel,entah apa yang dia pikirkan sekarang.


"Untuk kali pertama,dan ini akan menjadi kebiasaan"batin Rey Ambigu.


"Kita makan siang dulu,baru akan pulang" tutur Rey memecah keheningan.


"Tidak perlu,aku harus pulang cepat,aku akan bekerja setelah ini" tolak Abel.


"Tidak ada penolakan, kamu harus mau"ucap Rey memaksa.


Sudah cukup,hilang sudah kesabaran Abel. Sekarang dia sudah siap meledak.


"Maksud kamu apa?! Kamu dengan seenaknya memaksa ku untuk pulang bersama mu,lalu kamu juga memaksaku untuk makan siang!!mau kamu apa Hah?"Abel meluapkan amarahnya.


cittttt


Rey mengerem mobil mendadak,Ia langsung menatap Abel dengan tatapan yang tajam.


Saat ini perasaan Abel tak menentu,antara marah,takut,dan waspada.


"Kenapa dia mengerem?"batin Abel.


"Ada apa?Kenapa melihatku?"Jawab Abel yang gugup tapi berusaha tetap normal.


"Jadilah kekasihku"Ucap Rey to the point.


"apa apaan ini?"batin Abel.


"Kenapa diam?Jadilah kekasihku"Lanjut Rey.


"Kamu jangan bercanda,aku tidak suka"ucap Abel memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bercanda, Aku suka sama kamu" ujar Rey sembari menggenggam tangan Abel.


"Aku suka sama kamu sudah sejak lama dan aku mau kamu menjadi kekasih ku"lanjut Rey.


glekk!!


"Aku tidak menyukainya ,Aku tidak bisa menjadi kekasihnya"batin Abel.


"Maaf Rey, aku tidak bisa..dari awal aku tidak pernah ada rasa sama kamu, aku tidak bisa menerima mu" jelas Abel sembari menarik tangannya yang di genggam oleh Rey.


"Tapi aku mencintai mu Bell, aku tidak suka kamu dekat dan akrab dengan si breng*sek Arjun itu"ujar Rey.


"Jangan libatkan Arjun, kamu jangan egois Rey!!walaupun kamu memaksa, kamu tetap tidak akan bisa menepati hati ku"jelas Abel.


"Kenapa? kamu menyukai Arjun?, maka dari itu kamu tidak bisa menerima ku?"Tanya Rey.

__ADS_1


"Aku tidak menyukainya dan tidak menyukai siapapun"jawab Abel.


"Aku turun disini saja,terima kasih tumpangannya"Lanjut Abel hendak turun dari mobil.


"Jangan! aku mengantar mu sampai ke rumah" ucap Rey sambil menyalakan kembali mobilnya.


Hening, tiada lagi percakapan dan hanya ada rasa canggung dan Kecewa yang memenuhi Mobil.


Sakit


itulah yang dirasakan Rey sekarang,tapi dia bukanlah pria yang mudah menyerah. Abel mengatakan bahwa belum ada yang menepati hatinya dan itu adalah keuntungan bagi Rey,dia akan terus berjuang untuk mendapatkan hati Abel.


"Belum berhasil Rey. tidak apa apa ,masih banyak waktu untuk menepati hatinya"batin Rey menyemangati dirinya sendiri.


Sekarang mobil sudah berhenti di depan rumah sederhana milik Abel. Abel segera membuka sabuk pengamannya untuk turun, namun sebelum turun dia mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf kepada Rey.


"Terima kasih Rey atas tumpangannya,dan sekali lagi aku minta maaf"ucap Abel sambil menunduk.


"Tidak perlu meminta maaf. Namanya juga hati, tidak bisa dipaksakan.Tapi ingat, aku akan terus berusaha untuk mengisinya" tutur Rey sembari memperlihatkan senyumannya yang langka.


Abel tidak menjawab,dia langsung turun dari mobil.


"Aku pulang"Ujar Rey.


"Iya"jawab Abel


Mobil Rey pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Abel.


Abel segera memasuki rumah dan segera menguncinya.


"Huff,melelahkan sekali..aku harus bersiap untuk berangkat bekerja"gumam Abel.


Dia segera membersihkan diri dan memakai seragam Kerjanya.


Abel bekerja di Kafe sebagai pelayan. Dia sudah bekerja setahun disana,sikapnya yang ramah dan sopan membuat para pekerja di sana menyukainya.


.


.


.


"Tuan,Ini berkas yang anda minta dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita" jelas Hans.


"Hm,kamu bisa pergi"balas Leon.


"Baik tuan,permisi"ucap hans sembari meninggalkan ruangan Sang atasan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2