
Leon menyilangkan kedua lengannya di dada sembari menyenderkan kepala di sandarkan kursi kebesarannya. Bukan kah hari ini hari yang sangat baik untuknya? dia menjadi kekasih Abel dan mendapatkan kabar bagus ini juga.
"Dengarlah berita kehancuranmu"batin Leon.
.
.
.
Kali ini Abel tidak hanya berdiam diri di dalam kamar, tapi dia sedang membantu Tukang kebun menyiram dan membersihkan tanaman di samping Monsion.
"Paman, sudah berama lama Paman bekerja disini?"tanya Abel pada Tukang kebun setengah baya itu.
"Saya sudah bekerja di Monsion ini sejak Tuan muda masih kecil,Nona"jawab Tukang kebun sopan.
"Oh...berarti Paman sudah tau seluk beluk tempat ini?"tanya Abel lagi.
"Bisa di bilang seperti itu, Nona"jawab Tukang kebun.
"Apa paman tau, di salah satu ruangan ada beberapa penjaga yang menjaganya dengan ketat. Sebenarnya ada apa disana? Apa Pak singa, eh maksud saya Leon menaruh semua hartanya di sana atau apa?"tanya Abel lagi panjang lebar.
"Maaf Nona, sepertinya saya tidak bisa menjelaskannya"ucap Tukang kebun itu menunduk.
"Ada apa paman?"tanya Abel yang melihat Tukang kebun itu menunduk.
"Saya tidak apa apa Nona"jawab Tukang kebun.
Abel hanya bisa menghela nafas berat, sepertinya dia harus bertanya langsung pada Leon saja karna Pelayan disini tidak mau buka mulut sedikit pun.
"Kenapa aku selalu lupa menanyakan ini pada Pak singa ketika bersama? huft! aku sangat kesal pada diriku sendiri"batin Abel jengkel.
"Paman, bisakah aku mengambil beberapa bunga ini?"pinta Abel sembari memegang beberapa tangkai bunga di tangannya.
"Tentu,Nona.Silahkan"jawab Tukang kebun.
......................
Di kamar, Abel sedang berfikir keras agar mengetahui apa yang terdapat di ruangan itu. Bahkan otaknya yang cerdas sulit untuk mencari caranya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau sedikit saja, setelah itu aku tidak perduli lagi"gumam Abel sendu.
"Aku berharap aku tidak lagi lupa menanyakan ini pada Pak singa nanti sore"harap Abel.
Tiba tiba pintu kamar Elen di ketuk dari luar, Abel segera beranjak membukakan pintu.
"Maaf Nona, tapi tadi Tuan muda menelpon dan meminta Anda untuk memasak makan siang untuknya"jelas pelayan wanita sopan.
"He? Em...baiklah, aku akan segera turun ke dapur"ucap Abel sedikit berfikir.
"Baik Nona"ucap Pelayan itu kemudian berlalu.
Abel menghela nafasnya, dia sempat lupa jika dia sekarang adalah kekasih dari Leon. Membuatkan makan siang untuk kekasih sendiri bukan kah boleh boleh saja?.
Abel sekarang berada di dapur, dia segera mengeluarkan semua bahan bahan makanan untuk makan siang Leon hari ini.
"Semoga menu ini cocok di lidah Pak singa"gumam Abel.
Abel mulai memotong, mencuci, dan memasak dengan cekatan di dapur tanpa di bantu siapapun. Tanpa sadar, Abel terus tersenyum selama memasak.
"Entah kenapa aku sangat senang"batin Abel.
Akhirnya ritual memasak makan siang untuk Leon selesai, Abel juga memasukan sesuatu di dalam kotak makanan itu. Entah apa yang ia masukannya sebelum akhirnya memasukan kotak itu kedalam paper bag.
Abel segera menghampiri Pelayan tadi dan mengatakan jika makan siang Leon sudah selesai di masak.
"Baik Nona, salah satu supir akan mengantarkan makanannya ke perusahaan"ucap pelayan itu sopan, Abel hanya mengangguk dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
.
.
.
Leon sekarang berada di ruangannya dengan senyuman sembari menatap tab nya yang terhubung langsung ke CCTV Monsion.
Dia bisa melihat secara langsung Abel yang sedang sibuk memasak di dapur dengan senyuman yang tak luput dari bibirnya.
"Makanan yang ia buat pasti akan sangat lezat,karna selama memasak dia selalu tersenyum"gumam Leon.
__ADS_1
"Ahh, ini kah yang di namakan kasmaran? begitu indah dan mendebarkan jantung"gumam Leon sembari menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan memegang dadanya.
Tiba tiba pintu di ruangannya di ketuk dari luar.
"Permisi Tuan, saya membawakan makan siang dari Nona Muda"ucap Hans dari luar.
Leon segera membenarkan ekspresinya dan mempersilahkan Hans masuk.
"Masuklah"jawab Leon dingin.
Hans mendorong pintu dan masuk sembari menenteng Paper bag di tangannya yang pastinya berisi makan siang untuk Leon.
"Ini Tuan"ucap Hans sembari meletakan paper bag itu di meja Leon sopan.
"Hm, sekarang keluarlah"perintah Leon dingin dengan wajah datar.
"Baik Tuan"ucap Hans kemudian berlalu.
"Huft..."batin Hans.
Setelah kepergian Hans, Leon kembali ke mode kasmarannya tadi dengan terus tersenyum seperti orang gila.
"Makanan dari kelinci manisku..."ucap Leon sembari memeluk paper bag itu seperti anak kecil yang memeluk boneka.
"Aku mencintai mu kelinci manis"gumam nya.
Leon segera mengeluarkan kotak makanan dari paper bag itu dan dengan tidak sabaran untuk menganboxingnya.
Terlihatlah makan siangnya yang lengkap, ada sayur,nasi, daging, kacang kacangan, buah ,dan juga yogurt. Leon tersenyum lebar menatap kotak makannya, namun tanpa sengaja dia melihat sebuah kertas kecil berwarna biru yang terselip diantara buah buahan.
Leon mengambil nya dan segera melihat apa yang ada di sana, setelah mengetahui apa yang tertera di kertas itu Leon seakan ingin berteriak pada dunia dan mengatakan jika dia sedang jatuh cinta.
"Aku tidak begitu terlalu seleramu, tapi aku akan berusaha membuat kebutuhanmu terpenuhi, semoga kamu menyukainya"
Pesan yang singkat, namun berhasil membuat Leon seperti sedang mendapatkan proyek milyaran dan mungkin lebih dari itu.
Leon menyimpan kertas kecil itu di laci nya agar tidak hilang, dia akan terus menyimpan hal hal manis yang di berikan oleh Abel padanya.
Akhirnya Leon memulai makan siangnya dengan hati yang bahagia, sesendok masik kemulutnya dan langsung membuatnya ingin sekali pulang dan mengatakan pada Abel jika dia sangat menyukainya.
__ADS_1
"Sangat lezat, aku akan selalu kecanduan dengan masakanmu kelinci manis"*batin Leon.
"Aku adalah pria paling beruntung di dunia ini, sangat sangat beruntung. Dia bukanlah manusia, tapi keajaiban untuk ku. Keajaiban yang berhasil membuat ku seperti orang gila seperti sekarang ini*" batin Leon.