
"Eum...yah itu tergantung dengan jawaban gadis itu, jika dia setuju menikah denganmu maka sudah dipastikan aku merestui kalian, dan sebaliknya"jelas George.
Leon berjalan mendekati Daddy nya dan memeluk tubuh pria setengah baya itu yang masih kokoh walau sudah tua dengan penuh kasih sayang dan bahagia.
"Terima kasih Dadd, dia pasti setuju dan menerima lamaran ku"ucap Leon bersungguh sungguh dengan masih memeluk tubuh sang Daddy dengan erat.
"Jangan terlalu percaya diri dan lepaskan aku, kamu ingin membunuh pria tua ini?"ujar George sedikit menaikkan volume suaranya.
Leon yang sadar langsung melepaskan pelukan eratnya dari sang daddy dan menatap wajah berkerut pria di depannya itu dengan wajah sumringah seperti sedang mendapatkan proyek millyaran.
"Jangan menatap ku dengan wajah mengerikan itu, kamu terlihat seperti pria fedofil sekarang"ejek George dengan tatapan sinis.
"Berhenti mengejekku Dadd, aku tidak setua itu untuk disebut fedofil"ujar Leon sedikit kesal.
"Haha berhentilah bersikap seperti anak kecil Son, kamu sebentar lagi akan berumah tangga dan akan menjadi seorang ayah"tutur George tertawa sembari menepuk pundak Leon.
Leon tersenyum senang mendengar penuturan Daddy nya itu, ucapan George barusan sangat membuat Leon bersemangat dan semakin bertekad menikah Abel.
"Aku pasti akan memperistri Abel Dadd, pasti"batin Leon.
"Heum... bisakah sekarang kamu meminta gadia itu turun dan kalian menceritakan sedikit hubungan kalian?"tanya George. Leon sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan sang Daddy.
"Apa kelinci manis ku itu sudah tidak apa apa?"batin Leon.
"Baiklah, aku akan memintanya turun, tapi pastikan Daddy tidak membuatnya takut seperti tadi hingga berniat pergi dari sini"jelas Leon dengan menatap Daddy nya sedikit tajam.
"Yah, aku bukan penjahat hingga harus menakutinya"jawab George.
Leon mengangguk ringan kemudian beranjak naik kelantai atas untuk menemui Abel di kamarnya.
Sepanjang perjalan Leon tak hentinya tersenyum, ucapan Daddy nya tadi terus terngiang ngiang di telinga nya.
"Yeahh...!"batin Leon bersorak.
Tangan besarnya memutar knop pintu dan mendorong nya perlahan, terlihat oleh netra Leon seorang gadis sedang berbaring di kasur membelakanginya. Dengan langkah pelan Leon berjalan mendekati sang gadis tanpa suara.
"Apa dia tidur?"batin Leon.
Di luar dugaan, belum sampai kaki Leon di kasur, tapi Abel sudah berbalik dan menatapnya teduh.
Leon membalas tatapan itu dengan senyum tipis hangatnya dan melanjutkan langkahnya mendekati Abel.
"Kamu sudah kembali?"tanya Abel kemudian beranjak duduk.
__ADS_1
"Yah sudah, ku pikir kamu tidur tadi"ujar Leon sembari ikut duduk di kasur.
"Tidak, aku tidak bisa tidur. Eum...apa yang kalian bicarakan? apa Daddy mu tidak suka aku disini? apa dia ingin aku pergi? dan yah apa dia marah?"cerocos Abel dengan wajah khawatir.
"Syutt..."Leon menutup mulut Abel dengan satu jari telunjuknya.
"Berhentilah berfikir buruk, itu tidak baik untuk otak"jelas Leon kemudian menarik jarinya.
Abel terdiam kemudian memainkan ujung Dress nya.
"Daddy tidak mengatakan apapun seperti yang kamu katakan barusan. Dan yah, apa kamu ingin mendengar kabar baik?"jelas Leon, Abel mengangkat kepalanya menatap Leon.
"Kabar baik apa?"tanya Abel.
"Sepertinya Daddy menyukaimu, dia ingin kamu turun dan berbicara hangat bersama"jawab Leon yang membuat Abel sedikit syok dengan apa yang ia dengar.
"Daddy nya menyukaiku? ini sulit dipercaya, tapi entah kenapa aku sangat senang mendengar kabar ini"batin Abel.
"Kamu serius? bagaimana mungkin seseorang langsung menyukai orang yang ia temui beberapa waktu saja?"tanya Abel.
Leon tersenyum kemudian menggenggam kedua tangan Abel di tangannya yang besar itu.
"Tentu saja ada, seperti diriku yang menyukaimu di pandangan pertama, begitu juga dengan Daddy ku yang melihatmu tadi"jawab Leon lembut.
Wajah Abel bersemu merah mendengar ucapan Leom barusan, jantungnya berdegup dengan tempo yang cepat, rasanya akan meledak.
"Kamu malu? kamu terlihat menggemaskan dengan pipi merah itu"goda Leon yang membuat pipi Abel semakin memanas.
"Ih...! berhenti menggoda ku"ucap Abel kemudian menarik tangannya dari genggaman Leon dan melempari Leon dengan bantal.
"Rasakan itu, menyebalkan"gumam Abel kesal.
"Baiklah, maafkan aku. Bisakah sekarang kita turun kebawah? mungkin sekarang Daddy ku merasa bosan menunggu dan mulai menyelidiki isi Monsion ini"tutur Leon.
"Baiklah, Ayo...!"ucap Abel kemudian beranjak dan menarik tangan Leon.
"Sepertinya kamu sangat bersemangat menemui Daddy"ucap Leon.
Abel tersadar dengan tingkahnya yang terlalu bersemangat itu, dan dengan secepat kilat dia menormalkan ekspresinya.
"Aku baik baik saja, aku hanya takut Daddy mu lama menunggu dibawah"ucap Abel berbohong.
"Dasar pembohong!"ucap Leon sambil menarik hidung mancung Abel.
__ADS_1
"Akhh...itu sakit Pak singa"keluh Abel sembari memegang hidungnya.
"Siapa suruh berbohong denganku, sudahlah ayo cepat pergi"ucap Leon kemudian menggandeng Abel turun ke bawah.
.
.
.
.
"Jadi, siapa nama mu?"tanya George pada Abel.
Abel menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan George padanya, sungguh! ini hanyalah pertanyaan umum, tapi begitu mencekam bagi Abel.
"Nama saya Arabella Clarissa, Tuan"jawab Abel dengan sedikit senyuman walau terlihat kaku.
"Arabella..."gumam George sembari memegang dagunya.
"Dimana kamu tinggal dan dimana orang tua mu?"tanya George lagi.
Leon ingin menyela,namun dengan cepat Abel menahan nya dengan memegang tangan Leon agar tak bersuara.
"Biarkan aku menjawabnya, heum?"ucap Abel pelan dan Leon menggangguk setuju.
"Apa yang kamu khawatirkan? gadis mu ini sangat pemberani dan hebat, bukan?"batin Leon.
"Saya sebelumnya tingga di jalan xxx, dan untuk mengenai orang tua, orang tua saya sudah meninggal karna kecelakaan beberapa tahun lalu"jawab Abel kemudiam menunduk, ada rasa sedikit sedih di hatinya jika sudah berbicara mengenai orang tua nya.
"Maaf nak, aku tidak bermaksud membuatmu sedih"ucap George sedikit merasal bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf Tuan, saya tidak tersinggung"ucap Abel.
"Jangan memanggilku Tuan, aku bukan atasanmu. Mulai sekarang kamu bisa memanggilku Daddy, anggap saja aku adalah ayah mu, heum?"jelas George lembut sembari mengelus kepala Abel.
Abel merasa sangat terharu dengan perlakuan dan perkataan George barusan, hingga tanpa sadar dia beranjak dan memeluk tubuh pria setengah baya itu dengan air mata yang langsung tumpah.
"Hiks, terima kasih...aku sangat tersentuh"ucap Abel sesegukan.
George membalas pelukan Abel dengan baik dan mengelus punggung gadis kecil dipelukannya itu dengan perasaan senang, sekarang dia memiliki anak perempuan.
"Aku tidak tau apa yang terjadi denganku, aku sebelumnya tidak mudah percaya dengan siapapun, tapi dengan dirimu aku sangat percaya, hingga perkataan tadi lolos dari mulutku dan hatiku mendukungnya"batin George.
__ADS_1
Bersambung...
Like, komen, vote