Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-67


__ADS_3

"Kyaaa, hentikan! aku tidak bisa bernafas!"teriak Abel.


"Bagaimana aku bisa menghentikannya jika aku di suguhkan pemandangan yang lebih manis daripada madu?"tanya Leon.


"Sudah sudah, aku lelah"teriak Abel.


Leon menghentikan kegiatannya dan menatap Abel lekat dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu merindukanku?"tanya Leon.


"Em...yah sedikit hehe"jawab Abel jujur.


"Itu berarti kamu merindukanku seharian ini?"tanya Leon berbinar.


"Ih! kamu banyak sekali bertanya, pergilah mandi"ucap Abel menarik hidung mancung Leon keras.


"Akhh, kamu sudah berani yah"ucap Leon kemudian menggelitiki Abel.


"Sudah sudah, hentikan, aku lelah Pak singa"ucap Abel lemas karna tertawa.


"Bagus, sekarang kamu lelah kan? haha"ucap Leon terkekeh.


"Pergilah mandi, setelah itu turun kebawah untuk makan"ucap Abel lembut.


"Baik ibu!"ucap Leon sembari memberi hormat seperti sedang upacara pada Abel.


"Aku bukan ibu mu"ucap Abel.


"Tidak apa apa, kamu akan menjadi ibu anak anak ku"ucap Leon kemudian berjalan memasuki kamar mandi.


Abel tersenyum sendiri mendengar penuturan Leon yang selalu saja bisa mengelak.


"Dasar Pak singa"ucap Abel.


Abel berinisiatif mengambilkan baju untuk Leon di lemari. Abel menyiapkan kaos santai dengan celana bahan kain yang pasti nyaman di pakai.


Abel meletakan pakaian yang ia pilih di atas tempat tidur kemudian menghela nafas.


"Pak singa! pakaiannya sudah kusiapkan di atas tempat tidur, aku akan kebawah sebentar!"ucap Abel berteriak.


"Tidak! jangan pergi, tunggu aku"jawab Leon berteriak dari dalam kamar mandi.


"Aku mau menyiapkan makan malam, Pak singa"jelas Abel.


"Biarkan saja pelayan yang menyiapkannya, kamu jangan kemana mana"ucap Leon.


"Huft, baiklah"ucap Abel mengalah.


Abel menunggu Leon selesai mandi sembari duduk di sofa memainkan ujung baju nya bosan.


"Pak singa, ayo cepat!!"teriak Abel dilanda kebosanan.

__ADS_1


"Aku sudah selesai, kamu saja yang tidak sadar"ucap Leon dari belakang Abel yang sudah siap dengan pakaian yang dipilihakan oleh Abel.


"Sejak kapan kamu selesai?"tanya Abel dengan wajah polos.


"Em...5 menit yang lalu mungkin"jawab Leon dengan wajah tak berdosa.


"Apa?! 5 menit yang lalu? lalu kenapa kamu tidak memberitahuku?"tanya Abel kesal.


"Karna aku menunggu kamu memanggil ku"kawab Leon santai.


"Kyaa!! kamu menyebalkan"ucap Abel kemudian mencubit perut Leon.


"Haha, aku minta maaf"ucap Leon lembut sembari mengelus pipi Abel.


"Iya, maka nya lain kali jangan gitu lagi"jawab Abel kesal.


"Iya iya"ucap Leon.


"Kita kebawah sekarang?"tanya Leon dan di jawab anggukan oleh Abel.


"Ayo"ucap Leon kemudian menggandeng tangan Abel berjalan ke lantai bawah.


Sepanjang perjalanan Leon tak hentinya menggoda Abel, Abel yang di goda mulai merasa malu dan kesal dengan Leon.


"Berhentilah atau aku akan memotong lehermu"ancam Abel kesal.


"Kamu ingin memotong leherku? lalu bagaimana caramu memberi tanda kissmark di malam pertama nanti?"tanya Leon yang membuat wajah Abel merah padam. Penyakit [mesum] Leon sudah tidak bisa di sembuhkan.


"Haha aku bercanda, sekarang ayo duduk"ucap Leon sembari menarik kursi untuk Abel.


"Iya"jawab Abel kemudin duduk di kursi.


Leon menatap hidangan yang tersedia di meja makan dengan tatapan tak percaya.


"Apa makanan semua ini kamu yang memasaknya?"tanya Leon.


"Em...tidak semua nya, aku juga di bantu oleh Chef di dapur"jelas Abel.


"Wah, pasti ini sangat lezat"ucap Leon bersemangat.


"Ayo siapkan"ucap Leon.


Abel dengan senyum mengembang di bibirnya mengambilkan Leon makanan yang di hidangkan dengan telaten seperti seorang istri yang melayani suaminya.


"Ini"ucap Abel sembari meletakan piring yang sudah ia isi dengan makanan pada Leon.


"Terima kasih"ucap Leon tulus sembari tersenyum.


"Iya sama sama"balas Abel.


Leon dengan semangat memasukan makanan ke mulutnya dan sesuai dugaan Leon, makanan ini sangat enak.

__ADS_1


"Sangat enak"puji Leon.


"Terima kasih"ucap Abel.


"Kamu makanlah, jangan cuma melihatku saja"ucap Leon yang masih fokus ke makanannya.


Leon makan sangat lahap, dia belum pernah makan selahap ini sebelumnya, namun semenjak merasakan masakan yang di buat oleh Abel, Leon menjadi sangat lahap.


Singkat cerita ritual makan malam Leon dan Abel sudah selesai,namun mereka berdua tak kunjung beranjak daru kursinya lantaran Abel yang menawarkan kue yang ia buat tadi pada Leon.


"Pak singa, cobalah"ucap Abel sembari menyodorkan cup cake yang ia buat pada Leon.


"Wah, makanan penutup yang pas"ucap Leon kemudian memasukan kemulutnya cupcake yang di pegang oleh Abel.


"Bagaimana?"tanya Abel dengan wajah berbinar.


"Em...ini sangat enak"jawab Leon sembari tersenyum.


"Yeah! tidak sia sia aku membuatnya lama"ucap Abel senang.


Mereka berdua menghabiskan waktu di ruabg makan sangat lama, mereka mengobrol ringan dan sesekali bercanda.


"Pak singa, bisa aku bertanya?"tanya Abel dengan wajah serius.


"Yah, katakan"ucap Leon yang masih memakan kue.


"Em...sebenarnya ada apa dengan ruangan disana?"tanya Abel dengan wajah penasaran.


"Ruangan mana?"tanya Leon yang masih belum paham.


"Ruangan yang di jaga oleh beberapa penjaga di sana"ucap Abel sembari menunjuk ke arah timur Monsion.


"Uhuk!!"Leon terbatuk dan menghentikan makannya.


"Eh, Pak singa. Ini minumlah"ucap Abel sembari memberi Leon segelas air putih.


Leon menerima gelas itu dan meminumnya sekali tegukan.


"Kamu tidak apa apa? makanya makan itu harus pelan pelan"nasehat Abel.


"Iya, maafkan aku"ucap Leon.


"Ah yah, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi"ucap Abel yang kembali mengingat pertanyaannya.


"Ekhem, kenapa kamu bisa sampai kesana?"tanya Leon mengubah ekspresinya agak sedikit serius.


"Em...aku kemarin berjalan jalan dan sampai kesana, ada apa disana? kenapa penjaga menjaga nya dengan ketat? apa kamu menyimpan seluruh hartamu disana?"tanya Abel berbondong sembari menunjukkan wajah polos.


Leon terkekeh mendengar pertanyaan Abel yang tak masuk akal. Untuk apa Leon menyimpan semua hartanya di satu ruangan jika ada tempat bernama Bank?.


"Heum...aku menyimpan monster disana"jawab Leon sembari tersenyum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2