Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-74


__ADS_3

Sekarang Leon sadar, dia lupa mengelus kepala Abel sebelum pergi tadi. Dia tersenyum geli melihat tingkah Abel.


"Iya iya maaf, aku melupakannya"ucap Leon kemudian mengelus kepala Abel lembut. Abel tersenyum senang sembari memamerkan giginya itu.


"Sudah, sekarang pergilah ke kantor"ucap Abel sembari mendorong Leon.


"Iya iya, tapi berikan aku satu ciuman"ujar Leon.


"Tidak mau"jawab Abel kemudian berlari masuk ke kamar dan menguncinya.


"Hey kembali"panggil Leon.


"Pergilah ke kantor atau kamu akan terlambat"teriak Abel dari dalam kamar.


"Berikan aku satu ciuman dulu"jawab Leon.


"Tidak mau"teriak Abel lagi sembari menutup wajahnya malu.


Leon tersenyum memandangi pintu kamar yang tertutup itu, dia bisa tau jika Abel sedang malu sekarang lewat suaranya.


"Em...baiklah, aku berangkat dan jangan lupa makan siang ku"ucap Leon mengingatkan Abel.


"Iya"jawab Abel.


Leon akhirnya melangkah pergi menuju mobil yang terparkir di halaman monsion, terlihat di sana sudah ada Hans yang sedang menunggu kehadiran Leon.


"Selamat pagi Tuan, silahkan"ucap Hans sopan sembari membukakan pintu mobil untuk Leon.


"Hm"respon Leon dengan senyuman tipis yang tak luput dari bibirnya sembari masuk kedalam mobil.


Hans sedikit terkejut, namun dia dengan cepat menormalkan ekspresinya.


"Apa hari Tuan sedang baik?"tanya Hans sembari menyetir.


"Heum...yah, hari ku sudah sangat baik sejak kehadirannya"jawab Leon sembari menghela nafas senang dan menyandarkan tubuhnya.


"Nona Abel?"tanya Hans.


"Yah kamu benar, ini semua karna dia dan mungkin sebentar lagi kamu harus memanggilnya Nyonya, Nyonya Xylander"jawab Leon.


Sekarang Hans benar benar mengerti, hubungan Leon dan Abel semakin hari semakin dekat.

__ADS_1


"Syukurlah, berkat Abel, Tuan menjadi tidak terlalu menakutkan dan menegangkan"batin Hans lega.


"Baik Tuan, itu berita bagus, saya turut bahagia"ujar Hans yang hanya dibalas anggukan oleh Leon.


.


.


.


Abel memegangi dadanya saat melihat kepergian Leon dan Hans menggunakan mobil dari atas balkon, pipi nya mendadak memanas dan entah kenapa jantungnya rasa ingin meledak karna detakan yang terlalu cepat.


"Berhentilah berdetak terlalu kencang, aku sulit bernafas" ujar Abel sembari memegang dadanya.


"Pak singa, entah kenapa aku merasa setiap harinya aku semakin bergantung padamu"bergumam sembari menatap foto besar Leon yang terpajang di sudut kamar.


Abel kembali tersipu malu sembari menutupi wajahnya karna mengingat adegan tadi pagi bersama Leon.


"A...apa mungkin aku sudah mulai mencintai mu, Pak singa?"monolog Abel.


"Jantungku selalu saja berdetak hebat saat berdekatan denganmu, aku sendiri bingung kenapa ini terjadi? apa itu artinya aku menyukaimu? ah...sudahlah, aku terdengar seperti orang gila yang berbicara sendiri" tutur Abel dengan terus memandangi foto Leon.


Abel membaringkan dirinya di kasur sembari menutup wajah dengan bantal, dia merasa sangat malu sekarang dan di tambah lagi dengan pipi yang terus bersemu merah.


Saat Abel sedang sibuk mengemasi makan siang Leon di dapur, seorang pelayan datang menghampirinya.


"Permisi Nona, tadi Tuan Muda menelpon dan meminta Nona juga ikut saat mengantarkan makan siangnya di perusahaan"jelas pelayan sopan.


Abel memiringkan kepalanya memandangi pelayan itu, dia sedikit berfikir mengenai pembicaraan ini.


"Benarkah? dia memperbolehkan ku keluar?"tanya Abel memastikan.


"Benar Nona, nanti Nona akan di antar dan ditemani dengan penjaga yang dipercaya oleh Tuan Muda"jawab pelayan itu sopan.


"Heum...baiklah, beri aku beberapa menit untuk bersiap"pinta Abel.


"Baik Nona"jawab pelayan itu sopan.


Abel segera melangkahkan kakinya naik ke lantai atas menuju kamar nya untuk mengganti pakaian, tidak mungkin kan dia pergi keperusahaan Leom dengan baju yang sudah dibasahi keringat sehabis memasak?


Tidak perlu waktu lama bagi Abel untuk bersiap, dia sudah selesai bersiap dengan penampilan sederhana nya namun terlihat begitu natural dan menawan.

__ADS_1


"Aku sudah siap"ujar Abel pada pelayan tadi yang masih setia menunggu di bawah.


"Baik Nona, mari saya antar ke halaman. Disana sudah ada penjaga dan sopir yang akan mengantar dan mengawal Anda hingga sampai keperusahaan"jelas pelayan panjang lebar.


"Em...baiklah"jawab Abel sembari tersenyum kaku dengan semua perlakuan ini.


"Ternyata aku sangat berharga hingga harus di jaga seketat ini. Pak singa benar benar protektif yah..."batin Abel.


Mobil yang membawa Abel bergerak menuju ke perusahaan milik Leon berada, sepanjang perjalanan Abel tak henti hentinya menatap keluar jendela, ada rasa senang di hatinya.


Disinilah Abel sekarang berada, di depan halaman perusahaan pencakar langit milik Leon yang sudah di kenal banyak perusahaan hingga keluae Negeri.


"Apa ini benar benar milik Pak singa? jika ya, maka sudah di pastikan dia tidak akan miskin walau aku menghabiskan seluruh isi kartu nya dirumah"batin Abel sembari melihat perusahaan.


Abel melangkahkan kakinya memasuki perusahaan dengan di temani penjaga kepercayaan Leon di belakangnya.


Sepanjang perjalan menuju ruang Leon, tak hentinya mata para karyawan memandangi Abel. Abel yang di pandangi hanya bisa menunduk dengan perasaan canggung dan gugup.


"Kenapa mereka melihatku seperti itu? apa aku terlihat aneh dengan Dress ini?"batin Abel.


Saat di dalam lift barulah Abel merasa lega jauh dari tatapan mengerikan karyawan Leon. Abel menatap dirinya dari balik cermin yang ada di lift untuk melihat keanehan atau kesalahannya.


"Tidak ada yang aneh, Dress yang diberikan pak singa juga pas"batin Abel.


Mata Abel beralih menatap penjaga yang berada di sampingnya yang berwajah datar tanpa senyuman, sama seperti penjaga lainnya saja, pikir Abel.


"Hey"panggil Abel pada penjaga itu. Penjaga itu berpaling dan menatap Abel.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"tanya nya.


"Apa ada yang salah denganku? apa aku terlihat aneh?"tanya Abel polos sembari memutar mutar tubuhnya.


Penjaga itu menatap Abel dengan tatapan tak percaya. Kenapa bisa Abel menanyakan keanehan pada dirinya? sedangkan dia terlihat sempurna dan sangat menawan? pikir penjaga itu.


"Tidak Nona, tidak ada yang aneh, Anda sudah rapi"jawab penjaga itu dan segera mengalihkan pandangannya.


Ting


Lift terbuka.


Abel segera berjalan keluar diikuti penjaga tadi di belakang, ada rasa senang di hati Abel saat akan menemui Leon sekarang ini.

__ADS_1


"Aku ingin menemuinya...!!"batin Abel


Bersambung...


__ADS_2