Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-60


__ADS_3

Rupanya saat Abel melambaikan tangan, Leon melihat itu dari balik kaca spion. Terlihat lengkungan di bibirnya setelah mendapatkan perhatian kecil dari Abel,walau kecil namun begitu berarti bagi Leon.


"Aku mencintaimu"batin Leon yang terus melihat ke arah kaca spion hingga akhirnya mobil berjalan menjauh.


"Hans, apa kamu sudah menyiapkan semuanya?"tanya Leon pada Hans yang sedang menyetir.


"Sudah Tuan, akan segera kami selesaikan nanti sore" jelas Hans.


"Bagus, pastikan suasana nya sangat romance dan tidak ada kesalahan" ucap Leon.


"Baik Tuan"jawab Hans.


.


.


.


Abel berjalan kembali menuju ruangan yang di jaga penjaga kemarin dengan ketat nya. Abel sangat penasaran dengan ruangan itu,dan dia pun lupa menanyakannya pada Leon kemarin.


Abel mengintip dari jarak jauh dan benar saja, ruangan itu masih di jaga dengan ketat oleh penjaga waktu itu.


"Ada apa sebenarnya dengan ruangan itu?"monolog Abel.


"Aku harus cari tau"ucap Abel.


Abel berjalan mendekati penjaga yang sedang berjaga dengan ekspresi normal, dia tidak akan mengacaukan rencananya sendiri.


Penjaga yang melihat Abel mendekati segera saling pandang, ada apa gerangan Nona Mudanya datang kemari? pikir para penjaga.


"Maaf Nona, ada perlu apa Nona kemari?"tanya penjaga itu sopan tapi tegas.


"Em...bisa bantu aku?"tanya Abel.


"Apa yang bisa kami bantu? lebih baik Nona minta bantu dengan pelayan atau penjaga lain saja"jelas penjaga.


"Tidak, mereka sedang sibuk. Aku harap kalian bisa membantuku"ucap Abel.


"Semoga mereka setuju"batin Abel.


"Maaf Nona, tapi kami sedang bertugas"ucap penjaga tegas.


"Jadi kalian tidak ingin membantu ku?"tanya Abel kesal.


"Maaf Nona"ucap penjaga kembali menatap datar kedepan.


Abel menghela nafas berat, dia sama sekali tidak berhasil melakukan rencananya ini.

__ADS_1


Abel berjalam gontai kembali ke kamarnya, sungguh dia benar benar penasaran dengan ruangan itu.


"Jika aku berhasil mengetahui isi ruangan itu maka aku akan tidur nyenyak setelah ini"gumam Abel sembari merebahkan tubuhnya di kasur.


.


.


.


Abel menghabiskan waktunya berbincang dengan pelayan Monsion. Abel sangat senang bisa memiliki teman bicara walau dia tidak mengenalnya, setidaknya dia tidak begitu merasa canggung.


"Nona, lebih baik Nona menyiapkan diri. Sebentar lagi Tuan Muda akan segera kembali"jelas pelayan.


"Ah yah, aku lupa"ucap Abel sembari memegang keningnya.


"Pakaian dan keperluan Nona sudah di siapkan di lemari juga meja rias, Nona bisa memeriksanya"jelas pelayan.


"Baiklah, terima kasih"ucap Abel tulus.


"Sama sama Nona"jawab pelayan.


Abel melangkahkan kakinya kembali ke kamar untuk menyiapkan diri menyambut kepulangan Leon.


Dan benar saja, pakaian tersusun rapi di dalam lemari serta make up dan juga alat alat make up tersusun di meja rias.


"Apa ini untukku? dan bagaimana cara menggunakan benda ini?"monolog Abel sembari memegang konsiler.


"Ah, sudahlah. Aku tidak akan pernah tau cara menggunakannya"ucap Abel kemudian melenggang masuk ke kamar mandi.


Abel hendak keluar kamar untuk ikut menyambut kepulangan Leon, tapi mendadak pelayan datang dan mengatakan jika Abel tunggu di kamar saja. Abel yang bingung pun hanya bisa menyetujuinya saja.


"Em...baiklah"jawab Abel.


Abel kembali menutup pintu kamar dan duduk di sofa yang terdapat di sudut ruangan.


"Ada apa? bukan kah tadi mereka menyuruh ku bersiap untuk menyambut Pak singa? lalu kenapa sekarang aku di suruh tungguh di kamar saja?"monolog Abel.


Terdengar pintu kamar di dorong, Abel segera memalingkan wajahnya melihat siapa yang masuk, siapa lagi jika bukan Leon. Tapi kali ini berbeda, dia datang dengan tangan yang menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya yang tegap itu.


"Pak singa? kamu sudah kembali?"tanya Abel kemudian berdiri. Leon berjalan mendekati Abel dengan senyuman di bibirnya, entah apa yang di rencanakan oleh Leon sekarang.


"Hay kelinci manis, merindukan ku?"tanya Leon.


"Rindu? em...aku lupa hehe"Abel cengenges.


"Sudahlah, aku ada sesuatu untukmu" ucap Leon yang membuat Abel penasaran.

__ADS_1


"Apa?"tanya Abel.


"Sebentar"ujar Leon kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya.


"Hadiah untukmu"ucap Leon menyodorkan sebuket bunga lavender yang indah dan harum.


Mata Abel berbinar ketika melihat hadiah yang diberikan oleh Leon. Bagaimana mungkin Leon bisa tau jika dia sangat menginginkan bunga ini beberapa waktu lalu.


"Lavender? untuk ku?"tanya Abel dengan bola mata berbinar menatap Leon.


"Yah, ambilah"ucap Leon dengan senyum hangat yang tak terlepas dari bibirnya.


Abel menerima buket bunga itu dengan senyum bahagia, dia menghirup dalam aroma bunga itu dan menghela nafas senang.


"Terima kasih Pak singa, aku sangat senang"ucap Abel tulus dengan senyuman manis milik nya.


"Sama sama, kamu suka?"tanya Leon sembari mengelus kepala Abel.


"Tentu, aku sangat menyukai nya. Bagaimana kamu tau jika aku sedang menginginkan bunga ini?"tanya Abel.


"Apa yang tidak bisa Leon ketahui heum?"tanya Leon.


Abel tersenyum malu, Leon benar benar manis kali ini pikir Abel.


Abel beranjak dan meletak bunga itu di dalam Vas kosong yang ada di atas lemari.


Setelah meletakan bunga tersebut, Abel berjalan kembali menghampiri Leon.


"Kamu pasti lelah, pergilah mandi"ucap Abel lembut, mungkin ini akibat dari bunga tadi.


"Sangat manis, aku mencintamu"ucap Leon mengecup kening Abel.


"Baiklah, aku akan mandi dan kamu bisa siapkan pakaian ku?"tanya Leon tepat di depan wajah Abel.


"Ak...iya, aku akan menyiapkan nya"ucap Abel gugup.


"Kelinci manis!"ucap Leon sembari mencubit pipi Abel pelan dan beranjak memasuki kamar mandi.


Wajah Abel mendadak panas, degupan jantung nya sangat cepat sekarang ini. Abel mendadak salah tingkah sendiri setelah kepergian Leon, ia menutupi wajahnya menggunakan tangan dan menjerit dalam hati nya.


"Kyaaa!! ada apa dengan ku? tidak mungkin kan aku jatuh cinta dengan Pak singa?"batin Abel.


Abel melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti untuk Leon yang sedang mandi. Abel terus saja tersenyum saat melakukan kegiatannya, ingatannya masih terus terngiang ngiang di kepala.


"Berhentilah memikirkan itu! aku sangat malu..!"gumam Abel pada dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2