
Gion sekarang dilanda dilema berat memikirkan semua ini, melupakan Abel adalah hal terberat untuk nya dan juga hatinya. Abel adalah cinta pertama dari seorang Gion yang anti wanita, gadis belia yang menjadi muridnya hampir 3 tahun ini.
"Bisakah aku egois? aku ingin memilikinya untuk diriku ini, aku tidak ingin dia dimilki orang lain"batin Gion.
.
.
.
Abel berdiri di depan bingkai foto besar Leon sembari menelisik foto itu lekat. Tanpa sadar garis sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis menatap bingai besar itu.
"Kami pria menyebalkan, tapi kamu penting untuk ku"gumam Abel pada bingkai foto Leon.
"Lain kali aku akan memukul mu karna berani membuatku merindukanmu"lanjut nya kemudain berlalu.
Abel melangkahkan kaki nya menuruni tangga, namun mata nya beralih menatap seseorang sedang duduk di sofa ruang tamu dan nampak para pelayan Monsiom sangat menghormati dan melayaninya.
"Siapa dia?"monolog Abel.
Abel berjalan mendekat ke arah ruang tamu dengan langkah pelan, dan berhenti di dekat tiang besar monsion melihat orang itu dari kejauhan.
"Apa dia tamu nya Pak singa?"monolog Abel.
Terlihat disana seorang pria setengah baya yang sedang duduk menikmati secangkir teh dan juga sangat hormati dan dilayani dengan baik disana.
Saat Abel akan beranjak, tanpa sadar dia menyenggol pot bunga hingga menimbulkan suara yang cukup menggema. Pria setengah baya yang sedang menikmati teh nya pun lantas menoleh kesumber suara, dan mendapati Abel yang sedang terlihat panik.
"Siapa gadis itu?"batin si pria Tua.
Abel segera membereskan kekacauan itu, namun seorang pelayan datang memghampiri Abel dan memaksa untuk mengambil alih pekerjaan Abel.
"Biarkan saya yang membersihkan ini, Nona"ucap pelayan itu sopan.
"Eum...baiklah"ucap Abel mengalah dengan perasaan tidak enak.
Saat Abel akan kembali kelantai atas, suara panggilan membuatnya mengurungkan niat nya untuk kembali kekamar.
"Hey, siapa kamu?"tanya Pria setengah baya tadi.
Abel menoleh dan menatap Pria tua itu dengan perasaan gugup dan takut.
"Kemarilah"panggil nya lagi.
Abel dengan langkah pelan dan perasaan yang sedikit takut berjalan mendekati Pria tua itu dengan kepala tertunduk.
Pria tua itu menelisik penampilan Abel dari atas hingga bawah.
"Natural "batin pria tua.
__ADS_1
"Siapa kamu?"tanya pria tua itu.
Abel mulai gelagapan, dia bingung harus menjawab apa, apa dia harus menjawab jika dirinya tawanan Leon? kekasih Leon? atau pembantu rumah ini saja?
"Eum...anu, sa...saya"ucap Abel gugup.
"Tatap mata lawan bicaramu saat berbicara"ucap pria tua itu sedikit tegas dan langsung membuat Elen menatap pria tua itu dengan sedikit takut.
"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Pak singa?"batin Abel.
"Ma...maaf"ucap Abel.
"Yah, kenapa kamu ada disini? siapa kamu?"tanya nya.
"Eum...nama saya Arabella Clarissa, sa...saya disini ka...karna"ucap Abel gugup.
Pria Tua itu mengangkat satu alis nya menunggu jawaban dari Abel. Dia kembali duduk di sofa dan juga menyuruh Abel duduk disana.
"Lanjutkan"perintah nya.
"Eum...saya dibawa Pak singa, eh maksud saya Leon kemari"ujar Abel.
"Leon membawa mu kemari?"tanya pria tua itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Iyah, Tuan"jawab Abel apa adanya.
"Saya tidak menghitung nya, jadi saya tidak tau"jawab Abel polos sembari menunduk.
Pria tua itu diam sembari tersenyum tipis menatap Abel, dia menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangan di dada.
"Seperti nya pria karatan itu sudah menemukan hal ajaib"batin Pria tua.
"Ekhem!"ucapnya berdehem memecahkan suasana.
Abel mendongakkan kepalanya menatap pria setengah baya itu dan menatap pria itu dengan tatapan polos nya.
"Apa kalian sudah melakukannya?"tanya pria tua.
"Hah? melakukan apa?"tanya Abel tidak mengerti.
"Jadi mereka belum melakukannya"batin pria tua.
"Tidak ada, apa kamu tau siapa aku?"tanya pria tua itu. Abel menggeleng tanda tak tau.
"Baiklah, perkenalkan aku Daddy nya Leon, pria yang membawamu kemari"jawab pria tua itu.
George Xylander, Ayah dari Leon dan satu satu nya kesayangan Leon setelah Abel.
Abel membolakan matanya dengan mulut sedikit ternganga, perasaan sekarang campur raduk bagaikan cucian baju di mesin cuci.
__ADS_1
"Jadi ini Ayah Pak singa? bagaimana ini? aku harus bagaimana? apa aku harus lari dari sini?"batin Abel.
"Ma...maaf Tuan, saya tidak mengenali Anda"ucap Abel gugup dan sedikit takut sembari menundukan kepala.
George hanya memperhatikan Abel yang mulai merasa sedikit gelisah dengan wajah sedikit pucat.
"Jangan takut, aku ini manusia bukan singa ataupun hantu"ucap George santai sembari terus menyeruput teh nya.
"Dia memang bukan singa ataupun hantu, tapi hawa nya sangat menakutkan, sama seperti saat aku baru mengenal Pak singa"batin Abel.
"Maaf, saya akan pergi dari sini"ucap Abel pelan dan hendak beranjak.
"Siapa yang menyuruhmu pergi dari sini?"tanya Geroge selidik sembari menatap Abel.
Tubuh Abel meremang mendapat tatapan dari George, rasanya ia ingin berlari kencang dari ruang tamu.
"Ma...maaf"ucap Abel pelan kemudian kembali duduk di sofa.
"Kenapa kamu suka sekali meminta maaf? aku tidak suka itu"ucap George sembari meletakan gelas teh nya di meja.
Abel menelan saliva nya dengan susah payah, seharusnya dia tidak pulang dan tetap bersama Leon di kantor. Berada di situasi ini sangat menyulitkan bagi Abel, dia sangat takut dan tak tau harus berbuat apa.
"Ba...baik Tuan"jawab Abel pelan.
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan atasan mu"bantah George.
"Lalu saya harus memanggil apa?"tanya Abel polos.
"Eum...panggil aku.... "ucap George terpotong lantaran seseorang yang menerobos masuk kerumah dan langsung membuat keributan di pintu depan.
"Ck, anak itu mengganggu saja"batin George.
"Ayolah Dadd...kenapa tidak memberi kabar jika ingin kemari? aku baru mengetahui ini setelah Hans memberi tahu ku"cerocos Leon kemudian memeluk tubuh Daddy nya.
"Aku hanya memberi kejutan, tapi malah aku yang di kejutkan dengan seorang gadis cantik di monsion mu"ucap George dengan sedikit nada ejek pada Leon.
Leon mengalihkan pandangannya kearah Abel yang sedang duduk di sofa bagaikan anak kecil yang tak tau menau dengan wajah sedikit pucat dan keringat dingin.
"Daddy? apa yang Daddy lakukan padanya?"tanya Leon sembari berjalan mendekati Abel dan mencoba menenangkannya.
"Hey, kamu baik baik saja?"tanya Leon lada Abel.
"Yah, aku baik"ucap Abel pelan dengan wajah yang masih sama.
George melihat semua kejadian itu, sekarang bisa ia simpulkan jika anak nya yang selalu ia ejek sebagai pria karatan sekarang sudah memiliki tambatan hati.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, mungkin kamu yang selalu menakutinya"ejek George.
Bersambung...
__ADS_1