
"Sudahlah,berhentilah menangis"ucap Leon menghibur Abel sambil mengelus punggung putih itu agar tenang.
Tak beberapa lama nafas Abel mulai teratur menandakan Abel sudah tertidur,Leon menatap wajah Abel yang sudah terlelap.
"Aku sangat mencintaimu,aku tidak tau ini cinta atau obsesi,tapi yang terpenting aku ingin kamu selalu ada di dekat ku dan tidak boleh bersama orang lain"gumam Leon dan mengeratkan pelukannya.
Setelah beberapa waktu,akhirnya Leon melonggarkan pelukannya dan menatap dan mengecup kening Abel lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu,dia meminta pelayan monsion nya untuk membuatkan kopi agar pikirannya jernih dan tidak memikirkan hal hal kotor bersama Abel.
.
.
.
Abel terbangun dari tidurnya,bisa di katakan tidur nyenyak,entah apa yang membuatnya se nyenyak itu.
Dia melihat di samping nya,dan menghembuskan nafas berat.
"Dimana pria itu setelah berbuat jahat kepadaku lalu menghilang?"gumam Abel lalu beranjak dari tempat tidur lalu memungut pakaian yang di tarik paksa oleh Leon,kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Abel melihat dirinya dari pantulan cermin wastafel,menyedihkan pikirnya.
"Aku sudah seperti wanita ja*lang saja jika dilihat dari penampilan ku ini"ucap nya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak akan meneteskan air mata lagi,aku sudah lelah dengan semua ini,ada apa dengan diriku?"ucap nya sambil melihat lihat dirinya dari balik pantulan cermin.
"Sudahlah Abel,Ayah dan Ibu mu diatas sana sedang melihatmu,sebaiknya jangan mengeluh,mereka pasti sedang mendoakan mu,sekarang kamu harus bangkit dan jangan terlihat lemah."ucap nya menyemangati diri.
"Yang terpenting sekarang kamu harus menyelesaikan sekolah mu lalu mencari pekerjaan,setelah itu ...kamu coba lagi melawannya"lanjutnya yang sempat terhenti di akhir kata.
Abel membenarkan pakaiannya lalu keluar dari kamar mandi,namun baru saja dia membuka pintu terlihat Leon sedang berdiri sambil menatap nya.
"Sudah selesai?apa yang kamu lakukan di dalam?"tanya Leon yang sudah rapi dengan pakaian kantor nya
Abel berusaha menetralkan dirinya yang sempat terkejut karna kehadiran Leon.
"Aku mencuci wajah ku,ada apa?"tanya Abel yang kali ini santai,tidak ada ekspresi marah,ketus,atau sinis.
"Owh"Leon hanya ber o ria
"Bisakah aku pergi ke kamar yang sebelumnya?"ucap Abel kali ini sangat berbeda dari biasanya,dia bahkan terkesan santun di hadapan Leon.
Leon tercengang,ada apa dengan kelinci manis nya kali ini?kenapa terkesan hangat?pikir Leon
"Ada apa denganmu?"tanya Leon dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Aku baik baik saja,ada apa?"ujar Abel
"Kenapa cara berbicara mu berbeda dari biasanya?"tanya Leon sambil menyerngitkan dahinya.
"Bukan kah kamu menyuruhku untuk berbicara sopan dan manis dengan mu agar aku bisa melanjutkan sekolah? "tanya Abel.
"Yah,aku menyuruhmu seperti itu,tapi jika kamu ingin sekolah maka cium aku untuk satu hari sekolah"ucap Leon sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan tersenyum smirk.
Abel menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum manis menatap Leon.
"Baiklah,aku setuju"jawab Abel
Leon menyerngitkan dahinya mendengar penuturan Abel.
"Apa?!!apa dia habis terbentur saat di dalam kamar mandi?kenapa dia jadi seperti ini?tapi ini bagus"batin Leon.
"Baguslah jika kamu setuju"ucap Leon sambil tersenyum nakal.
"Sekarang bisakah aku kembali ke kamar sebelum nya?"tanya Abel
"Kenapa kembali kesana?disini saja,dan temani aku"jawab Leon sambil mendekati Abel.
Abel menelan saliva nya dan mencoba bersikap santai.
"Tenangkan dirimu Abel"batin Abel menyemangati.
Leon menarik senyum nya dan meranggul pinggang ramping Abel.
"Sudah kuduga,kelinci manis ku tidak mungkin mau dan mencari alasan"batin Leon
"Aku tidak keberatan,kamar ini juga milikmu"ucap Leon sambil membelai rambut Abel.
Sekarang jantung Abel seperti sedang lari maraton,dia sangat takut kejadian tadi malam terulang kembali.
"Tapi..."ucap Abel yang di potong oleh Leon.
"Tidak ada penolakan"ujar Leon.
"Emm,baiklah"jawab Abel yang memalingkan wajahnya agar tidak menatap Leon.
"Apa tidur mu nyenyak?"tanya Leon
"Lumayan"jawab Abel dengan ekspresi santai
"Sabar Abel,lakukan atau tidak sama sekali"batin Abel
__ADS_1
"Benarkah?kurasa semalam tidurmu nyenyak"ucap Leon sambil menyentuh tanda yang ia buat tadi malam,Abel membatu karna perlakukan Leon tapi dia berusaha mati matian untuk sesantai mungkin.
"Bukan kah aku seniman yang hebat?tanda ini sangat indah di tubuhmu"ujar Leon.
"Yah,kamu sangat hebat sampai sampai aku iri dan ingin melenyapkan mu"batin Abel
Abel tak menjawabn dan tetap mengalihkan pandangan nya.
"Sudahlah,aku tidak ingin membuatmu lelah pagi ini,segeralah mandi dan turun kebawah untuk sarapan"perintah Leon sambil memegang pipi Abel
"Baiklah"jawab Abel
Abel pun dengan cepat berjalan masuk ke kamar mandi lagi,dan saat di dalam sana dia menetralkan jantung nya yang hampir terlepas karna Leon.
"Kuatkan dirimu Bel"batin Abel
Setelah menyelesaikan mandi nya dia mengambil handuk dan melilitkan di tubuhnya,dan tiba tiba dia tersadar bahwa dia tidak membawa baju ganti.
"Astaga Abel,kenapa menjadi pelupa?sekarang apa yang harus kamu lakukan?"monolog nya.
Abel mengintip dari balik pintu kamar mandi untuk memastikan Leon tidak ada di kamar dan benar,Leon tidak ada di sana.
"Huff,syukurlah"gumam Abel sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dan membuka lemari.
Dia memilah milah baju di lemari untuk mencari pakaian yang bisa ia pakai tapi hanya ada pakaian pria yang pastinya milik Leon,lalu dia menghentikan kegiatannya dan merutuki kebodohannya.
"Apa yang kamu lakukan Abel?!! ini bukan kamar mu,tentu pakaian yang kamu cari tidak akan ada disini,hanya ada pakaian pria itu saja"ucap Abel pada dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku kenakan,pria itu juga tidak memberikan pakaian untuk ku pakai"celoteh Abel,namun tiba tiba pintu di ketuk dari luar.
"Nona,Tuan meminta anda untuk turun sarapan,apa Nona sudah selesai?"tanya Pelayan dari luar.
Abel gelagapan,dia bingung harus mengenakan apa,pasalnya tidak ada pakaian yang bisa ia pakai,apa dia harua mengenakan dress nya yang sudah hampir robek tadi?tidak!Leon hampir menerkam nya karna mengenakan nya.
"Iya,aku akan turun sebentar lagi"jawab Abel dan pelayan itu mengiyakannya.
"Baik Nona"jawab Pelayan
Leon sudah duduk di meja makan sambil membaca koran di temani oleh Hans pastinya,tiba tiba terdengar langkah kaki dari tangga,Leon spontan menoleh begitu juga dengan Hans.
Leon ternganga dan koran hampir terlepas dari tangannya.
"Apa yang dia kenakan?"batin Leon sambil menelan saliva nya.
Hans yang melihat Nona muda nya juga ikut tercengang dengan mata yang hampir keluar.
__ADS_1
Mereka sedang melihat Abel yang menuruni tangga dengan penampilan tak biasa.
Bersambung...