
"Manis sekali" tutur Leon sembari memberi paper bag pada Abel.
"Sudah yah, aku akan memakai pakaian dan selamat tinggal" ucap Abel yang langsung menutup pintu.
"Hufff, tadi itu menegangkan kan"batin Abel.
Abel mengeluarkan pakaian yang di berikan oleh Leon dari paper bag dan seketika mata Abel membola besar. Pakaian yang diberikan Leon lagi lagi adalah pakaian Branded yang harganya fantastis.
"Orang kaya selalu membeli barang tanpa berfikir dulu, uang mereka habis banyak hanya untuk sebuah pakaian" gumam Abel.
Lagi dan lagi pakaian yang di berikan oleh Leon adalah Dress, Abel sendiri sampai bingung kenapa Leon suka sekali memberinya Dress.
Abel melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung di sambut oleh Leon yang sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Kamu sudah selesai?"tanya Leon yang sedang duduk di sofa sembari mengetik sesuatu di laptop.
"Iyah, terimah kasih atas pakaiannya" ucap Abel tulus.
"Tentu, kemarilah" panggil Leon dan Abel perlahan mendekati Leon yang sedang fokus pada layar laptopnya.
"Aku akan ke kantor setelah ini, selama aku tidak disini kamu harus banyak istirahat dan jangan lupakan makan siang mu" jelas Leon lembut lalu menarik Abel duduk di pangkuannya.
"Ba..baiklah" jawab Abel gugup.
"Kamu sangat cantik dengan Dress ini" puji Leon.
"Kenapa kamu memberikan aku pakaian yang sangat mahal ini? bukan kah kamu bisa memberikanku pakaian yang murah saja" tutur Abel.
"Tidak boleh, kelinci manis ku tidak boleh memakai barang murah. Kamu tau kenapa?"tanya Leon tepat di wajah Abel yang membuat Abel seketika menegang.
"Karna kamu sangat berharga bagiku" lanjut Leon yang membuat wajah Abel memerah dan degupan jantungnya semakin berpacu.
"Ah yah, menyingkirlah..aku mau berdiri" alih Abel sembari ingin bangkit dari pangkuan Leon.
"Jangan pergi dulu, aku butuh kamu untuk memasangkan aku dasi" jelas Leon.
"Baiklah, di mana dasi nya?"tanya Abel canggung.
"Di lemari, carikan yang menurutmu cocok" ujar Leon dengan senyum hangatnya.
"Ekhem!!" Abel berdehem untuk menghilangkan rasa canggung nya dan kemudian beranjak mengambil dasi untuk Leon.
"Kenapa rasanya sangat aneh, jantung ku mendadak suka berdetak cepat setelah mendengar penuturan lembut Pak singa" batin Abel.
Abel berjalan ke arah Leon sembari membawa dasi di tangannya.
"Ayo berdiri" pinta Abel pada Leon yang masih berkutat dengan laptopnya di sofa.
__ADS_1
"Tidak bisa, kamu pasangkan di sini saja" jelas Leon.
"Baiklah" jawab Abel kemudian sedikit membungkuk untuk memasangkan Leon dasi, debaran kembali datang saat tidak sengaja menatap wajah Leon yang juga menatapnya.
Buru buru ia menyelesaikannya agar Leon tak mengetahui kegugupan yang sedang ia rasakan.
"Sudah" ucap Abel kemudian berdiri normal lagi.
"Terima kasih" ucap Leon tulus kemudian berdiri mensejajarkan posisi mereka berdua.
Leon memegang pipi Abel dengan tangan kanannya sambil tersenyum lembut menatap wajah Abel.
"Aku akan merindukanmu selama di kantor, kamu jaga diri baik baik selama aku tidak ada. Kamu mengerti?"jelas Leon
Abel hanya hanya mengangguk ringan dengan pandangan yang ia edarkan kemana mana, bisa ia akui jika sekarang dia sedang malu dengan penuturan Leon.
"Aku berangkat sekarang" ujar Leon kemudian tanpa aba aba dia menarik tengkuk Abel dan menciumnya lembut.
Abel tidak menolak atau memikirkan hal jahat tentang Leon kali ini,dia tidak mengerti dengan dirinya akhir akhir ini.
Leon mengecup kening Abel dan beranjak keluar untuk menuju ke kantornya. Abel segera berlari ke balkon untuk mengintip Leon yang akan pergi menggunakan mobil di bawah.
Nampak Leon dengan gaya kharismatik nya bersama dengan Hans memasuki mobil dan berjalan meninggalkan Monsion mewahnya.
"Pak singa sudah pergi" ucap Abel lirih, entah ada apa dengan dirinya. Dia merasa sedikit tidak suka saat Leon meninggalkannya.
Abel duduk di atas tempat tidur dan merenung seketika dengan wajah murung.
"Aku sangat bingung dengan diriku ini. Aku tidak begitu suka saat Pak singa terlalu berdekatan denganku,tapi aku juga tidak senang saat dia pergi meninggalkan ku" gumam Abel.
"Apa aku sudah mulai menyukai Pak singa? tapi aku sangat takut ini hanyalah perasaan sesaat" lanjutnya sembari menutup wajah dengan telapak tangan.
Leon terus tersenyum selama di perjalanan, dia merasa suatu hal baik akan segera datang padanya.
"Baru beberapa saat aku pergi dan sekarang aku kembali merindukan kelinci manis itu"batin Leon.
"Apa yang dia lakukan sekarang? apa dia baik baik saja?"batin Leon.
Abel berjalan ke lantai bawah karna merasa kebosanan di kamar, dia menyapa setiap ada pelayan atau penjaga Monsion yang berlalu.
"Nona sangat peramah" batin salah satu pelayan.
Abel menghampiri Chef yang sedang memasak di dapur dengan sangat ahli. Abel tau jika dia harus banyak belajar agar sehebat Chef tersebut.
"Hay paman" sapa Abel pada Chef dan seketika Chef itu membalikan badan menghadap Abel.
"Hallo Nona" jawab nya sopan sembari sedikit menunduk.
__ADS_1
"Kenapa paman menunduk? aku lebih muda dari paman" ujar Abel.
"Tapi Nona atasan saya dan sebaiknya Nona jangan memanggil saya Paman, saya merasa tak pantas" jawab Chef itu sedikit tidak enak.
"Aku bukan atasan paman, lagipula paman lebih tua dariku maka dari itu aku memanggilmu paman"jelas Abel.
"Nona sangat baik dan itu sebabnya Tuan Muda sangat menyukainya" batin Chef.
"Tapi itu peraturannya,Nona"ucap Chef menunduk.
Abel menyerngit bingung, kenapa peraturan di tempat ini tidak bisa di ganggu gugat? apa kah sesuatu yang telah di perintahkan oleh Pak singa itu resmi? pikir Abel.
"Baiklah, paman sedang memasak apa?"tanya Abel.
"Saya sedang memasak untuk makan siang,Nona" jawab Chef.
"Bisa ku bantu?"tanya Abel.
"Tidak perlu,Nona. Nona harus banyak beristirahat agar sembuh total"tolak Chef sopan.
"Aku sudah sembuh, Paman" jelas Abel.
"Maaf Nona, tapi ini perintah dari Tuan Muda agar tidak membiarkan Nona kelelahan atau melakukan hal hal berat" jelas Chef panjang lebar.
"Pak singa selalu saja seperti itu..."batin Abel.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya...tapi apa boleh aku meminta segelas air?"tanya Abel lembut.
"Tentu,Nona"jawab Chef dan segera mengambil segelas air lalu memberikannya pada Abel.
"Terima kasih,Paman" ucap Abel tulis dengan senyum manis miliknya.
"Sama sama,Nona. Jika Nona memerlukan sesuatu katakan saja, saya dan para pelayan lain akan membantu Nona" jelas Chef dan di jawab anggukan oleh Abel.
"Ini sedikit berlebihan, aku bisa melakukan itu sendiri"batin Abel.
"Apa aku bisa berkeliling di tempat ini? aku merasa bosan"jelas Abel.
"Tentu,Nona. Penjaga akan menemani Nona berkeliling" ujar Chef.
"Tidak perlu,Paman. Aku bisa sendiri, aku hanya akan berjalan jalan di sekitar sini saja,jangan khawatir" jelas Abel.
"Baiklah,Nona" ucap Chef menyetujui.
Abel pun beranjak dari dapur dan berjalan jalan di Monsion besar itu, dia juga melihat foto besar di salah satu ruangan,Ada rasa senang di hati Abel saat melihatnya.
"Apa ini Pak singa saat kecil? haha dia sangat lucu dan tampan"gumam Abel.
__ADS_1
Bersambung...