Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-66


__ADS_3

"Sangat lezat, aku akan selalu kecanduan dengan masakanmu kelinci manis"batin Leon.


"Aku adalah pria paling beruntung di dunia ini, sangat sangat beruntung. Dia bukanlah manusia, tapi keajaiban untuk ku. Keajaiban yang berhasil membuat ku seperti orang gila seperti sekarang ini" batin Leon.


.


.


.


Abel sekarang sedang duduk di teras Monsion sembari mengamati sekelilingnya yang dianggapnya indah dan nyaman.


"Semoga saja Pak singa menikmati makan siangnya"bergumam sembari tersenyum tipis.


Saat dia tengah berada di dunia nya sendiri, tiba tiba dia merasa seperti ada yang menepuk pundaknya dari belakang dan secara spontan Abel berbalik.


"Tidak ada orang, tapi kenapa aku merasa ada yang menepuk pundak ku?"bermonolog.


"Huft, mungkin itu hanya perasaan ku saja"ucap Abel tak terlalu memikirkannya.


"Kenapa Pak singa sangat lama? aku merasa kebosanan"gumam Abel yang terus memandang pagar Monsion.


"Kenapa aku merasa begitu ingin bertemu dengannya?"bermonolog sembari menatap sendu pagar.


"Pak singa ayo cepat pulang"nada lirih.


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu menatap pagar Monsion dengan perasaan bosan, akhirnya Abel memutuskan masuk kedalam saja.


Abel berjalan ke dapur dan menghampiri Chef yang sedang memasak pastinya.


"Paman?"panggil Abel pada Chef, dan secara spontan sang Chef berbalik dan menatap Abel.


"Nona Muda"ucap Chef sembari menunduk hormat.


"Apa yang paman lakukan? jangan menunduk"ucap Abel merasa tak enak.


"Itu sudah peraturannya Nona"jelas Chef.


"Huft, iya dia benar dan Pak singa yang berkuasa"batin Abel.


"Em...Paman sedang masak apa?"tanya Abel sopan.


"Saya sedang masak untuk makan malam Nona"jawab Chef sopan.

__ADS_1


"Makan malam? heum...aku ingin memasak"batin Abel.


"Bisakah aku memasak untuk makan malam juga?"tanya Abel dengan wajah penuh harap.


"Tentu Nona, tapi Tuan tidak akan senang jika Nona kelelahan karna memasak" ucap Chef.


"Tidak Paman, aku akan memasak untuk Pak singa, eh maksud ku Leon. Dia tidak akan marah"jelas Abel.


Dengan terpaksa Chef membiarkan Abel memasak di dapur, awalnya Abel hanya sekedar membantu tapi lama kelamaan Abel yang mengambil alih semua pekerjaan.


"Biar aku saja Paman, paman tolong iriskan tomat itu saja"jelas Abel yang sedang sibuk memasak.


"Baik Nona"jawab Chef.


Abel menyibuki diri dengan memasak di dapur beberapa lama. Dia memasak makanan dan juga membuat kue, entah ada apa dengan Abel, dia sangat bersemangat menyambut kepulangan Leon.


Tanpa sadar waktu terus berlalu dan sekarang adalah jam kepulangan Leon, dan Abel masih sibuk di dapur hingga melupakan semua nya.


Kaki panjang Leon melangkah memasuki Monsion dan segera menelisik kedalam mencari kelinci manisnya yang sedang ia rindukan seharian.


Saat melewati dapur tanpa sengaja dia melihat orang yang ia cari sedang sibuk berkutat dengan krim dan cup cake.


"Apa yang sedang kelinci manisku lakukan?"batin Leon sembari berjalan mendekati Abel yang sibuk hingga tak menyadari kedatangannya.


"Sedikit lagi dan siap, ku harap Pak singa suka"gumam Abel bersemangat sembari menaruh cery di atas krim cup cake.


"Aku pasti akan menyukainya"ucap seseorang dari belakang dan langsung memeluk tubuh Abel posesif.


"Pa...pak singa? kamu sudah pulang? ah yah aku lupa waktu"ucap Abel.


"Kamu begitu sibuk hingga tak menyadari kepulangan ku"ucap Leon manja sembari meletak dagu nya di pundak Abel.


"Pak singa hentikan ,nanti ada yang melihat"ucap Abel pelan.


"Siapa yang melihat? akan ku keluarkan bola matanya"ucap Leon yang terus mengendus endus leher Abel.


"Aku merindukanmu, kelinci"ucap Leon.


Abel tersenyum malu dengan wajah merona bagaikan tomat matang mendengar penuturan Leon, biasanya dia akan merasa geli tapi kali ini dia merasa salah tingkah dengan ucapan manis dari Leon.


"Apa yang kamu buat,heum?" terus memeluk Abel posesif.


"Aku sedang membuat Cup cake"jawab Abel lembut sembari tersenyum menatap mahakarya nya.

__ADS_1


"Untukku?"tanya Leon.


"Em...bukan,siapa juga yang membuatnya untukmu"ucap Abel ketus menutupi gengsi nya.


Leon yang mendengar penuturan Abel langsung menggigit pipi Abel pelan dengan gemas.


"Dasar pembohong, sudah jelas tadi kamu mengatakan jika ini untukku"ucap Leon.


"Kalau sudah tau kenapa bertanya"ucap Abel sembari memegang pipinya yang di gigit Leon.


"Apa kamu lelah? pergilah mandi dulu"ucap Abel tulus nan lembut.


Leon yang mendapatkan perlakukan manis dari Abel tak bisa menutupi rasa senang di hatinya sekarang.


Leon menggendong tubuh Abel ala bridal stile secara tiba tiba yang membuat Abel langsung memeluk leher nya dengan erat.


"Kenapa kamu sangat manis,heum? mulai sekarang kamu tidak boleh kemana mana, nanti kamu akan di bawa pergi orang jika melihat tingkah mu sekarang ini"ucap Leon menggendong Abel ke lantai atas.


"Apa? kamu mengurungku lagi? tidak, aku tidak mau"ucap Abel sembari mengerucutkan bibirnya imut.


Leon yang melihat Abel cemberut langsung mengecup bibir itu berulang kali.


Cup, cup, cup, cup, cup.


"Kenapa kamu begitu manis? ahh, ini tidak bisa di biarkan, aku harus menyembunyikan mu di kamar"ucap Leon bergegas memawa Abel menuju kamar.


"Hahaha itu geli"teriak Abel kegelian.


Saat sudah sampai di kamar, Leon segera menutup pintu menggunakan kaki nya dan meletak Abel di kasur.


"Kenapa kamu begitu manis? apa kamu ingin menggoda ku?"tanya Leon tersenyum mesum pada Abel yang berada di bawah kungkungannya.


"Tidak, aku tidak menggoda mu. Kamu saja yang terlalu mesum, aku bahkan tidak menggoda mu"ucap dengan wajah polos sembari menggeleng.


Nafas Leon tercekat sembari menggigit bibir bawahnya melihat tingkah Abel yang membuatnya sekali dia melahapnya sekarang juga.


Cup, cup, cup, cup, cup


Leon menghujani wajah Abel dengan ciuman di seluruh wajahnya, Abel bahkan sempat kesulitan bernafas karna ulah Leon.


"Kyaaa, hentikan! aku tidak bisa bernafas!"teriak Abel.


"Bagaimana aku bisa menghentikannya jika aku di suguhkan pemandangan yang lebih manis daripada madu?"tanya Leon.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2