
Leon terkekeh mendengar pertanyaan Abel yang tak masuk akal. Untuk apa Leon menyimpan semua hartanya di satu ruangan jika ada tempat bernama Bank?.
"Heum...aku menyimpan monster disana"jawab Leon sembari tersenyum.
Abel menyerngitkan keningnya mendengar penuturan Leon yang tidak masuk akal. Tidak mungkin Leon menyimpan monster di sana,bukan? pikir Abel.
"Aku serius Pak singa"ucap Abel kesal sembari memanyunkan bibirnya.
Leon tersenyum tipis dan mencubit pipi Abel yang menggembung karna kesal itu.
"Memangnya kenapa kamu sangat ingin mengetahuinya?"tanya Leon menatap Abel lekat.
"Em...entahlah, aku hanya ingin tau"jawab Abel santai.
"Jika tidak begitu penting,sebaiknya jangan mengetahuinya. Disana juga tidak penting"ujar Leon santai sembari memasukan cup cake ke mulutnya.
Abel menunjukkan wajah kecewa, dia sudah lama ingin mengetahui ada apa di dalam ruangan itu dan dia tidak akan kehilangan kesempatannya sekarang untuk mengetahuinya.
"Ayolah Pak singa, ku mohon..."ucap Abel memohon dengan tatapan seperti kucing meminta ikan.
"Uhuukkk" Leon tersedak kue karena melihat ekspresi Abel yang di luar ekspetasinya, Abel sangat imut dan sangat sulit baginya untuk menolak.
"Itu adalah karma"ucap Abel kesal dan hanya membiarkan Leon yang tersedak.
Leon menormalkan perasaannya sendiri, setelah beberapa waktu akhirnya Leon kembali seperti biasa.
Abel melirik Leon dengan tatapan tak perduli dan memalingkan wajahnya kesal.
"Hey, ayolah kelinci manis, ayo lihat aku"ucap Leon membujuk Abel.
"Tidak mau"ucap Abel.
"Huft, baiklah. Kamu sangat ingin mengetahui isi ruangan itu bukan? maka saat mengetahui apa yang ada di dalam, kamu di larang untuk banyak berbicara"jelas Leon.
Abel memutar kepalanya menatap Leon dengan senyum kemenangan.
"Benarkah? ayo sekarang kita kesana"ajak Abel dengan semangat empat lima.
"Tunggu"ucap Leon menghentikan Abel.
"Kenapa?"tanya Abel bingung sembari menatap Leon dengan sesekali mengerjapkan matanya.
"Apa kamu mendengarkan pesan ku tadi?"tanya Leon dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Oh...iya iya aku mendengarkannya, aku dilarang banyak bicara. Ayo sekarang kesana Pak singa..."ucap Abel sembari menarik tangan Leon.
Leon akhirnya beranjak dari kursinya dan berjalan bersama Abel menuju ruangan yang di maksud Abel tadi.
Saat di depan ruangan tersebut, terlihat penjaga masih setia disana. Mereka menunduk hormat saat melihat Leon dan Abel datang.
"Selamat malam Tuan dan Nona muda"ucap mereka serempak.
"Hm"jawab Leon dingin dengan ekspresi datar.
Abel berjinjit jinjit mencoba menelisik pintu ruangan itu, hingga tak menyadari Leon yang menatapnya jengah.
"Dasar kelinci, awas saja sampai dia banyak bicara saat tau apa yang ada di dalam, maka aku akan memberinya hukuman manis malam ini"batin Leon.
"Ayo cepat Pak singa"ucap Abel sembari menggoyang goyangkan lengan kekar Leon.
Para penjaga yang melihat adegan itu hanya bisa diam tak bersuara, kenapa Tuan muda begitu pasrah di hadapan gadis muda ini? pikir para penjaga.
"Huft, baiklah. Kalian, ayo buka pintu nya"perintah Leon pada penjaga.
Penjaga menunduk hormat dan melaksanakan perintah Leon untuk membuka kunci ruangan itu. Abel dengan semangat yang menggebu gebu celingak celinguk ingin mengetahui apa yang ada di dalam sana.
"Ayo masuk"ucap Abel sembari menarik tangan Leon untuk melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Ada apa?"tanya Abel.
"Apa pun yang kamu lihat nanti itu adalah balasan setimpal atas apa yang terjadi"jawab Leon.
"Em...baiklah"jawab Abel.
Leon menggenggam tangan Abel dan berjalan masuk kedalam ruangan itu. Saat kaki Abel menatap selangkah memasuko ruangan tersebut, yang ia lihat hanyalah kegelapan dan bau aneh.
"Kenapa sangat gelap? aku tidak bisa melihat apapun"kecoh Abel.
Tangan Leon bergerak menekan tombol lampu, dan Cklek ruangan itu menjadi terang. Abel menutup matanya karna merasa kesilauan, setelah beberapa waktu akhirnya dia membuka matanya perlahan.
"Ruangan ini sangat berdebu"batin Abel.
Abel mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu dan tiba tiba matanya terbelalak tak percaya menatap apa yang ada di hadapannya sekarang ini.
Terlihat seorang pria yang ia kenal sedang terduduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Kondisi nya sangat menyedihkan dengan wajah dan tubuh memar di mana mana.
Tubuh Abel bergetar memandangnya, jauh dari lubuk hatinya, Abel sangat ingin menghampiri dan menolong nya, namun Abel mengingat jika Leon sedang bersama nya saat ini.
__ADS_1
Leon mengeratkan genggamannya saat mengetahui Abel sedang tidak baik baik saja saat melihat ini, Leon sangat tau jika Abel adalah gadis yang sangat baik terhadap siapapun.
"P...pak Gion?"panggil Abel lirih.
Yah, orang yang ada di ruangan itu adalah Gion. Leon menyekap Gion dan menyiksanya karna sudah berani menculik dan melukai Abel.
Karna merasa di panggil, Gion memutar kepalanya dan menatap gadis yang telah merebut hatinya sejak 3 tahun ini, dia adalah Abel.
"A...Abel?"ucap Gion lirih.
"Abel? Abel..."panggil Gion sembari mencoba melepaskan diri, namun hasil nya hanya nihil dan hanya membuatnya tersungkur.
"Pak Gion!"teriak Abel yang melihat Gion terjatuh ingin menolong, namun Leon menahan Abel agar tak mendekat.
"Jangan mendekat atau aku akan menghabisinya"ucap Leon dengan wajah serius.
"Tapi Pak singa, dia terjatuh"ucap Leon dengan raut wajah khawatir.
"Biarkan saja, dia bahkan membuatmu terluka saat itu"jawab Leon santai.
"Abel..."panggil Gion lirih sembari menahan sakit di tubuhnya.
Abel mendadak panik, dia harus apa sekarang? apa dia harus membiarkan Gion atau hanya diam karna perintah Leon? Abel di landa dilema sekarang ini.
"Pak singa...ku mohon bantu dia"Abel memohon sembari memegang tangan Leon.
"Ku mohon Pak singa, tolong dia"pinta Abel lagi.
Leon berdecih kesal, dia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Abel.
"Baiklah, penjaga!! bantu dia"perinta Leon pada penjaga.
Penjaga masuk dan membantu Gion untuk kembali ke posisi semula,duduk diatas kursi.
"Lepaskan aku!!"teriak Gion.
"Abel...aku mencintaimu, a...aku sama sekali tidak berniat menyakitimu, aku bahkan tidak tau kamu melarikan diri saat itu...hiks, Abel percayalah padaku"jelas Gion dengan isak tangis mengeluarkan semua isi hatinya.
Benar yang di katakan Gion barusan. Ini sepenuhnya bukan kesalahan Gion, Gion sama sekali tidak menyakitinya, dia bahkan memberi perawatan untuk Abel saat itu. Namun, karna Abel nekat melarikan diri hingga membuat dirinya sendiri terluka dan Leon menyalahkan Gion.
"Aku harus apa? aku harus membujuk Pak singa untuk mendengarkan ku"batin Abel.
Bersambung...
__ADS_1
Like, komen, vote.