
Setelah pergi meninggalkan Abel di kamar tadi,Leon berjalan ke kamar nya dan melepas seluruh pakaiannya. Ia mengguyur diri dengan air dingin. Tadi nya ingin sekali Leon membuat Abel mengandung anak nya agar Abel tak berani meninggalkannya,tapi mendengar rintihan kesedihan Abel membuatnya kasihan dan menggagalkan rencananya sendiri.
"Ah..shitt"umpatnya saat sesuatu miliknya tak mau jinak.
"Sabar Leon,tenangkan dirimu. Dia masih Muda"lanjutnya lagi.
Setelah menyelasaikan ritual mandi yang menyiksa,Leon segera mengenakan pakaiannya dengan pakaian casual. Dia mengenakan kaos putih yang pas di tubuh tegapnya dan celana training se lutut yang membuat dirinya semakin gagah.
Setelah berpakaian,dia berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Abel,ia langsung masuk ke kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. saat masuk kedalam kamar tersebut,dia melihat penghuninya yang melihat datar ke arah jendela dengan selimut yang membaluti seluruh tubuhnya.
Abel sama sekali tak menyadari jika Leon sedang menghampirinya,pikirannya kosong sekarang.
Leon mendekati Abel dan meraih dagu itu agar menoleh kearahnya. Abel yang tersadar langsung melihat kearah Leon.
"Kenapa belum mandi?"tanya Leon tapi tak di jawab oleh Abel.
"Aku bertanya,jangan membuatku mengulangi pertanyaan yang sama"tutur Leon.
"Bagaimana mungkin aku bisa mandi,aku bahkan tidak tau bagaimana caranya berdiri lagi. Aku sangat lelah,ingin rasanya aku..."ujar Abel yang mendadak tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku apa?jangan mencoba memikirkan hal gila yang membuatku tak senang. Jika kamu lupa caranya berdiri,maka ketahuilah masih ada aku yang akan setia mengajarimu sampai kamu tau caranya berlari lagi"tutur Leon,Abel hanya menunduk.
"Pergilah bersihkan dirimu,aku akan menyuruh pelayan agar membawakan pakaian untukmu"lanjut Leon dan di jawab anggukan ringan oleh Abel.
Saat Leon akan beranjak dari tempat tidur,Abel membuka pembicaraan.
"Bisakah aku melanjutkan sekolahku?"tanya Abel yang tak berani menatap Leon.
Leon mengalihkan pandangannya ke arah Abel dan melihat wajah penuh harap di balik palingan wajah itu.
"Tidak"jawab Leon singkat.
Setelah mendengar jawaban Leon,Abel memberanikan diri menatap Leon.
"Kumohon,aku hanya ingin melanjutkan pendidikan ku,aku berjanji tidak akan pergi lagi. Aku hanya ingin sekolah"bujuk Abel yang mulai berkaca.
Leon menarik nafasnya dan mendekati kembali Abel.
"Apa kamu ingin sekali sekolah?"tanya Leon dan di jawab anggukan oleh Abel.
"Aku akan membawa sekolah mu kemari jika perlu,kamu tidak perlu beranjak kemana pun"tutur Leon yang membuat mata Abel melotot.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar?pria ini benar benar arogan"batin Abel.
"Tidak,kamu tidak perlu membawa nya kemari,aku hanya ingin melanjutkan sekolah ku"jawab Abel.
"Kamu tidak boleh pergi dari sini,aku akan mengajukan homeschooling untukmu"ujar Leon.
"Kumohon,percayalah padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu,aku sudah berjanji maka aku akan menepatinya,kumohon.."bujuk Abel yang tanpa sadar memegang lengan kekar itu.
"Kita bicarakan ini nanti,bersihkan dirimu dulu dan turun untuk makan"ujar Leon lalu pergi meninggalkan Abel di kamar.
"Hiks,Abel bodoh! apa gunanya kamu menanyakan itu,dia pasti tidak akan mengizinkannya"rutuk Abel pada dirinya sendiri.
Tak beberapa lama,datang seorang pelayan sembari membawa pakaian dan keperluan lain yang di butuhkan oleh Abel.
"Nona ini pakaiannya,dan Tuan juga menyuruh saya untuk membantu Nona bersiap"tutur pelayan wanita itu sopan.
Abel hanya menganggukk,dan berjalan sambil menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir polos ke kamar mandi.
Saat di dalam kamar mandi,Abel melepas selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamar mandi tersebut.
Rasanya ingin sekali Abel berteriak sekencang kencangnya untuk melepas beban di dada setelah melihat tubuhnya penuh dengan tanda merah kebiruan yang di buat Leon.
Abel menahan isak tangisnya dan langsung menyalakan shower untuk mandi.
Pelayan tadi masih setia menunggu Abel,dia sempat tertegun melihat tubuh Nona Mudanya penuh dengan tanda kepemilikan. Abel hanya diam sejenak lalu meminta pakaian yang di bawa pelayan itu untuk dia kenakan.
"Bisa keluar sebentar?aku ingin mengenakan pakaian"pinta Abel kepada pelayan itu sopan.
"Tentu Nona,saya permisi"jawab pelayan wanita itu lalu berjalan keluar dari kamar.
Abel melihat pakaian yang di bawa pelayan tadi,sebuah drees biru selutut dengan lengan pendek sebahu.
Leon memang suka melihat Abel mengenakan dress,bahkan pakaian yang ia belikan untuk Abel waktu tinggal di apartement milik Arjun pun rata rata semuanya Dress.
Setelah mengenakan dress itu,Abel melihat pantulan diri nya di cermin meja hias. Pakaian ini sama sekali tak menutupi bekas merah kebiruan di tubuhnya,bahkan membuat nya terlihat jelas.
"Apa yang pria itu pikirkan,bagaimana cara aku menutupinya"batin Abel.
Tok..tok..tok..
pintu di ketuk dari luar
__ADS_1
"Nona,apa Nona sudah selesai?Tuan memanggil Nona untuk turun"ucap Pelayan tadi dari luar.
Abel membuyarkan perhatiannya di cermin dan menanggapi ucapan pelayan di luar.
"Yah,aku sudah selesai,aku akan segera turun"jawab Abel.
Abel membuka pintu dan pelayan tadi masih di luar untuk menemani Abel turun kebawah,namun sebelum berjalan menuju lantai bawah,Abel menanyakan sesuatu pada pelayan wanita tersebut.
"Apa kamu punya syal yang bisa ku pinjam?"tanya Abel,pelayan itu bingung dan kemudian mengerti setelah melihat tubuh Abel.
"Saya punya Nona,tapi bukan kah tidak sopan jika saya meminjam kan bekas saya ke Nona?"tutur pelayan itu sambil menunduk.
"Tidak apa apa,aku tidak perduli itu bekas siapa,kumohon pinjamkan untukku"pinta Abel. Akhirnya pelayan itu menyetujuinya dan meminjamkan syal nya pada Abel.
Leon sudah menunggu Abel di meja makan dengan tidak sabaran.
"Kenapa begitu lama?"batin Leon.
Akhirnya orang yang di tunggu Leon pun tiba di meja makan,namun Leon menyerngitkan keningnya lantaran melihat Abel mengenakan Syal. Abel yang melihat ekspresi Leon seketika menjadi bingung,apa dia melakukan kesalahan?.
"Ada apa?"tanya Abel.
"Apa kamu sakit?kenapa mengenakan syal?"tanya Leon tegas dengan ekspresi mengintimindasi.
"Dasar pria ini!!apa dia tidak mengerti?dasar Pak singa!tau nya marah marah!"batin Abel.
"Bukan urusanmu"jawab Abel ketus.
Leon beranjak dari kursi dan mendekati Abel di seberang meja,dan dengan cepat dia menarik syal tersebut dari leher Abel dan terlihatlah sesuatu yang dengan susah payah di tutupi Abel.
Leon menyunggingkan senyumnya,sekarang dia paham,kelinci manis nya merasa malu.
"Apa kamu ingin menyembunyikan ini?"tanya Leon,tapi tak di jawab Abel dia hanya menunduk malu.
"Jangan menyembunyikannnya,biarkan terlihat seperti ini agar dunia tau kamu adalah milik Leon"ucap Leon arogan.
"Apa apaan kamu ini,berikan syalnya"ucap Abel sambil berusaha mengambil syak tersebut dari tangan Leon.
"Cih,syal murah. Jika kamu mau aku akan membeli perusahaan syal terbagus di dunia ini,untuk apa kamu mengenakan syal jelek seperti ini"ucap Leon dengan Arogannya sambil melempar syal tersebut ke tong sampah.
"Hey,apa yang kamu lakukan?aku meminjam itu,kenapa kamu membuangnya?"ucap Abel yang akan segera mengambil syal itu tapi di tahan oleh tangan Leon.
__ADS_1
"Aku akan menggantinya,sekarang duduk dan makan"ucap Leon
Bersambung...