Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-47


__ADS_3

Hans ingin sekali menghajar habis pria di depannya ini, tapi Leon melarangnya karna hanya dia yang berhak memberi pelajaran pada Gion.


"Pesan ku hanya ini, nikmatilah masa masa sekarang karna belum tentu besok atau seterusnya kamu bisa berbicara seperti sekarang" ucap Hans dingin kemudian berjalan keluar dan menyuruh penjaga mengawasi Gion dengan ketat.


.


.


.


Abel merasa badan nya pegal pegal karna berbaring terlalu lama ingin bangun,namun Leon malah melarangnya dengan begitu banyak larangan.


"Nanti badan mu akan sakit, lebih baik berbaring saja" jelas Leon.


Abel menghela nafas nya jengah. "Apa kamu mau aku terbaring seperti patung terus? aku lelah! aku ingin keluar" jelas Abel.


"Untuk apa keluar? aku bisa mendatangkan apapun kemari untukmu" ucap Leon dengan nada arogan.


"Ckk,mulai lagi" ujar Abel jengah


"Ayo ambil kursi roda dan bawa aku keluar dari ruangan ini, lagipula aku ini hanya sakit biasa bukan koma" ucap Abel.


"bagaimana jika kamu terpapar virus virus rumah sakit ini jika berkeliaran?" ucap Leon menakut nakuti.


"Ayolah pak singa, aku sudah sembuh sekarang" ucap Abel membujuk.


"Akan ku tanyakan kan pada dokter mu dulu" tutur Leon kemudian kembali menekan tombol di samping ranjang, Leon tidak mau meninggalkan Abel sendiri lagi sehingga ia lebih memilih menekan tombol tersebut.


Dokter datang dengan stetoskop di lehernya, dia menghampiri Abel dan juga Leon yang menatap kehadirannya.


"Ada apa Tuan?"tanya Dokter.


"Apa dia sudah boleh keluar dari ruangan ini? dia ingin berjalan jalan menggunakan kursi roda" jelas Leon datar.


"Akan saya periksa dulu" ucap Dokter lalu hendak ingin memeriksa Abel.


Leon menyengit tidak suka saat Dokter tersebut ingin memeriksa detak jantung Abel, dia memandangi Dokter dengan tatapan tajam.


"Cepatlah memeriksa, jangan terlalu lama" perintah Leon dingin.


Dokter itu dengan segera menyelesaikan pemeriksaannya dengan sedikit gugup.


"Nona seperti nya mulai pulih, untuk pemulihan secara total bisa di lakukan di rumah saja" jelas Dokter.


"Benarkah? bisa lepaskan selang oksigen ini dok? saya tidak nyaman dengan benda ini" ucap Abel antusias.


"Tentu Nona"ucap Dokter sambil melepaskan selang oksigen dari hidung Abel.


"Huff, akhirnya lepas juga..."lega batin Abel.

__ADS_1


"Jika tugas mu sudah selesai segeralah pergi" usir Leon dingin. Dokter itu hanya bisa menghela nafas kemudian pamit undur diri.


Leon memandangi Abel yang sedang menatapnya mengejek.


"Jangan menatap ku begitu, kamu akan tetap di rawat di rumah ku" ucap Leom datar.


"Iyah, sekarang ayo bantu aku bangun, aku sangat lelah berbaring terus" keluh Abel.


"Baiklah, ayo bangun" ucap Leon sambil membantu Abel duduk.


"Kamu tunggulah, aku akan meminta penjaga di luar membawakan kursi roda kemari" pesan Leon kemudian berjalan ke depan ruang rawat Abel.


"Apa?! yang benar saja dia itu?! dia membawa penjaga ke rumah sakit?"gumam Abel tak percaya.


"Aku tidak percaya ini..."lanjut nya dengan wajah tak percaya.


Leon kembali menghampirinya dengan kursi roda yang ia dorong ke arah Abel.


"Sudah siap?"tanya Leon dengan lembut.


"Tunggu, apa kamu membawa penjaga mu kemari?"tanya Abel.


"Yah" jawab Leon singkat.


"Kenapa?"tanya Abel lagi.


"Ihh, lebay" ucap Abel kesal.


"Sudahlah, mau jalan jalan sekarang?"tanya Leon.


"Tentu saja, ayo bantu aku berdiri" pinta Abel yang sudah siap untuk berdiri.


"Siapa yang akan membantu mu berdiri?" tanya Leon datar.


"Em? apa maksud mu?"tanya Abel tak mengerti.


"Kamu tidak boleh berdiri dulu, aku akan membantu mu duduk di kursi roda" jelas Leon kemudian menggendong Abel ala bridal stile tak lupa menenteng kantong infus di tangannya.


"Ehhh..."ucap Abel terkejut.


Leon meletak Abel perlahan ke kursi roda dan langsung jongkok menatap Abel.


"Apa kamu tidak akan mengatakan sesuatu?"tanya Leon.


"Em yah aku lupa, terima kasih" ucap Abel tulus.


"Kurang" ujar Leon


"Kurang? memangnya apa yang kurang?"tanya Abel polos.

__ADS_1


"Berikan aku ciuman" jawab Leon sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Abel. Abel memundurkan wajahnya saat Leon mendekati dirinya.


"Ciuman? tidak, aku tidak akan memberikannya,enak saja"ucap Abel sambil memalingkan wajahnya.


"Baiklah,kamu tidak akan memberikannya tapi aku akan mengambilnya sendiri" ucap Leon kemudian menarik tengkuk Abel dan mencium sekilas bibir Abel lembut.


"Pastikan ini hanya ciuman,Leon! atau dia akan kehilangan nafasnya lagi" batin Leon.


Abel yang mendapat ciuman lembut dari Leon mendadak membatu, tapi kemudian kembali menetralkan perasaannya.


"Dasar tidak tau malu! ini itu di rumah sakit" omel Abel.


"Memangnya kenapa jika di rumah sakit? aku bahkan bisa melakukannya di tengah jalan raya" ucap Leon santai kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Abel keluar.


"Dasar tidak tau malu" gumam Abel yang di dengar Leon. Leon hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan Abel. Abel sudah berhasil mengubah seorang Leon yang dingin dan acuh pada wanita menjadi hangat serta budak cinta nya Abel.


"Akan ku pastikan tidak ada lagi hari hari menyedihkan dalam hidup mu, akan ku pastikan kebahagiaan selalu kamu rasakan mulai sekarang" batin Leon.


Leon membawa Abel ke halaman rumah sakit yang terdapat taman mini di sana, Abel nampak senang di bawa Leon kemari.


"Apa kamu suka?"tanya Leon.


"Yah, akhirnya aku bisa bernafas di luar ruangan lagi" jawab Abel.


"Baguslah jika kamu menyukainya, jika tidak akan ku ratakan rumah sakit ini jika kamu tidak menyukainya" tutur Leon yang membuat wajah Abel berubah drastis menjadi jengah.


"Bisakah jangan bersikap Arogan? ckk dasar CEO arogan!" cibir Abel.


"Untuk apa aku memiliki banyak uang jika tidak bisa membuatmu senang?" ucap Leon.


Wajah Abel mendadak memerah dan jantung nya berdetak kencang mendengar pernyataan Leon.


"Apa apa dengan diriku? kurasa aku mulai sakit lagi setelah mendengar perkataan arogan pak singa ini"batin Abel.


"Yah yah yah, kamu yang terhebat" ucap Abel mengejek.


"Dan kamu adalah yang terindah"lanjut Leon yang kembali membuat wajah Abel memerah.


"Ada apa dengan mu Bel? jangan mudah jatuh padannya!"batin Abel.


"Ada apa dengan wajah mu? wajahmu memerah"tanya Leon sambil menangkup kedua pipi Abel denhan telapak tangan besarnya.


"Aku tidak apa apa"jawab Abel gugup.


"Kurasa sudah cukup jalan jalannya, ayo kembali ke ruanganmu, wajahmu memerah mungkin kamu sekarang demam karna udaranya" ucap Leon kemudian mendorong Abel kembali ke ruangannya.


"Huff dasar pak singa!! aku tidak sakit, aku malu!!"batin Abel tapi ia tak bisa mengatakannya dan hanya diam hingga dia di bawa kembali ke kamarnya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2