
Abel tersipu malu dengan wajah merah mendengar penuturan Leon padanya, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan agar tak dilihat oleh Leon.
"Aku malu..."batin Abel.
Leon terkekeh melihat tingkah Abel yang mulai berangsur angsur berubah, Abel lebih penurut. Mungkin Leon telah besar kepala karna berfikir Abel sudah mulai luluh dengan nya.
"Sekarang berbaringlah kelinci manis" ucap Leon sembari meletakan tubuh Abel di kasur king size.
Leon ikut berbaring bersama Abel di kasur dengan terus menatap wajah Abel yang ada di samping nya. Abel yang dilihat seketika menjadi salah tingkah, dia dengan cepat memalingkan wajah nya.
"Jangan memandangi ku seperti itu"ujar Abel.
"Lalu? apa seperti ini?"tanya Leon sembari mengukung Abel di bawah tubuhnya.
"Begini?"tanya Leon dengan tatapan menggoda pada Abel.
"Menyingkirlah, jangan mulai lagi" ucap Abel sembari mendorong Leon ke samping nya.
"Haha, kelinci manis ku kembali malu ternyata"Leon terkekeh melihat wajah Abel yang memerah.
"Jangan terus menggodaku!"perintah Abel kesal yang membuat Leon menjadi gemas dengannya.
"Baiklah, aku akan berhenti. Ayo kemari" ucap Leon kemudian memeluk Abel dalam pelukannya. Abel tidak menolak saat di peluk oleh Leon, ada rasa senang di hatinya saat di peluk Leon.
Abel menyembunyikan wajahnya yang memerah itu di dada bidang Leon. Dapat ia cium aroma mas kulin dari tubuh Leon dengan jarak sedekat ini.
"Pak singa sangat wangi"batin Abel.
Leon yang tau jika Abel sedang mengendus endus tubuhnya dari balik pelukan hanya tersenyum tipis, dia sangat gemas dengan kelinci manisnya ini.
"Kenapa kamu sangat keras kepala? dengan tingkah mu yang seperti sangat membuat ku tersiksa!"batin Leon.
"Ekhem! sepertinya ada mesin pengendus di sekitar sini" tutur Leon menyindir Abel. Abel yang sadar jika Leon membicarakannya seketika berhenti mencium dada Leon, wajahnya semakin memerah layaknya tomat matang.
"Siapa? aku tidak mengendus mu" ucap Abel gugup sembari mendongakkan wajahnya menatap Leon.
"Memang nya siapa yang mengatakan jika kamu mengendus tubuh ku?"tanya Leon dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
Abel merutuki kebodohannya yang membongkar sendiri perbuatannya, jika dia boleh memilih dia akan memilih mengubur diri di dalam tanah karna terciduk.
"Hiks...aku sangat malu"batin Abel.
"Sudahlah, aku panas!" ucap Abel sambil mendorong dada Leon untuk menutupi rasa malu nya.
"Haha, aku bercanda. Kemarilah, ayo peluk aku lagi"tutur Leon kemudian menarik tubuh Abel lagi dalam pelukannya.
Abel hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun, dia tidak bisa berbohong jika di dalam dekapan Leon dia merasa sangat nyaman dan hangat.
"persis seperti sama dengan pelukan ayah"batin Abel kemudian menutup matanya.
"Apa kamu menyukai pelukan ku?"tanya Leon.
"Em...tidak, siapa juga yang suka di peluk oleh mu" ucap Abel berbohong.
"Dasar pembohong!"ucap Leon kemudian menggigit pipi Abel pelan.
"Aw! kenapa menggigit ku? ini sakit"keluh Abel.
"Itu hukuman karna berbohong padaku"jawab Leon santai. Abel hanya diam kemudian memejamkan kembali matanya.
"Aku ada kabar baik untukmu" ucap Leon. Abel mendongak setelah mendengar penuturan Leon.
"Kabar baik apa?"tanya Abel.
"Kita akan pergi ke Negara X untuk liburan" jawab Leon.
"Liburan? ke Negara X? kenapa?"tanya Abel berbondong.
"Em...karna aku ingin liburan"jawab Leon ngasal.
"Lalu? kenapa mengajakku?"tanya Abel lagi. Leon menghela nafasnya berat, gadis di hadapannya ini benar benar tidak peka.
"Karna aku takut kamu kembali di culik atau di ambil orang lagi" jelas Leon. Pipi Abel seketika memerah mendengar penuturan Leon yang bisa dibilang sangat manis.
"Tapi kenapa di Negara X? itu sangar jauh, lebih baik liburan di sini sini saja" ucap Abel.
__ADS_1
"Di sini sini itu di mana?"tanya Leon tak mengerti.
"Em...aku banyak sekali memikirkan hal hal seru di kepala ku, bagaimana jika kita berkemah di halaman rumah mu? halaman rumah mu sangat luas, bahkan aku bisa membuat ruko di sana" jelas Abel panjang lebar dengan wajah polosnya.
Leon terkekeh pendengar penjelasan Abel yang sangat polos, jika gadis di luaran sana akan sangat senang jika di ajak berliburan luar negeri, maka berbeda dengan gadis yang ada di hadapannya ini.
"Berkemah?"tanya Leon dengan alis yang naik sebelah.
"Iyah, aku sebenarnya akan berkemah semester ini. Tapi karna kamu mengurung ku mungkin aku tidak akan mengikuti kemah semester ini" jawab Abel dengan guratan sedih di wajahnya.
Cup
Leon mengecup kening Abel lembut, kemudian mengeratkan pelukannya.
"Baiklah, kita akan berkemah di halamam rumah dan mulai sekarang kamu akan homeschooling" ujar Leon.
"Homeschooling? aku tidak mau belajar di rumah, aku ingin bersekolah" bantah Abel.
"Tidak boleh, kamu akan tetap bersekolah di rumah. Aku tidak akan mengambil resiko jika kamu kembali di ganggu" ucap Leon final.
"Hm, baiklah"jawab Abel lirih.
"Aku tau Pak singa hanya melindungi ku, tapi ini sedikit berlebihan"batin Abel.
"Sekarang tidurlah"ucap Leon mengelus lembut kepala Abel, Abel mendongak menatap Leon dengan tatapan seperti kucing.
"Baiklah, tapi kita jadi kan kemah nya?"tanya Abel antusias yang membuat Leon terkekeh.
"Iya, kita akan berkemah. Dasar kelinci!"ucap Leon kemudian mencium lembut bibir merah cery itu.
Abel membatu, rasa ciuman kali ini sangat berbeda baginya.
"Kenapa tubuh ku tidak menolak lagi saat di cium Pak singa?"batin Abel.
Secara perlahan Abel hanyut tertidur dalam dekapan hangat Leon yang menenangkan hatinya. Leon terus memandangi wajah Abel yang terlelap dalam dekapannya tanpa mengalihkan pandangan.
"Kamu adalah gadis yang sangat sempurna untukku, rasanya sangat hampa di hati ku ketika tidak melihatmu"gumam Leon sembari mengelus lembut rambut Abel.
__ADS_1
"Selamat tidur kelinci manis, aku mencintai mu"lanjutnya kemudian mengecup kening Abel lembut.
Bersambung...