Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-62


__ADS_3

Hati Abel menghangat mendengarkan penuturan Leon pada dirinya.


"Pak singa..."ucap Abel pelan dengan tatapan lembut.


"Aku mencintai mu kelinci manis, sangat"ucap Leon kemudian mencium tangan Abel lembut.


"Pak singa begitu manis dan menyentuh hati, tapi bagaimana ini? apa aku sudah mulai mencintai nya?"batin Abel.


"Aku tau kamu belum yakin dengan hati mu, tidak apa apa, aku memahaminya. Tapi ku mohon jangan pernah meninggalkan ku, aku sangat membutuhkan mu di sisi ku" tutur Leon.


"Pak singa"ucap Abel.


"Yah?"jawab Leon.


"Aku tidak pernah membuka hati untuk siapa pun dan itu juga yang membuatku sulit untuk menerima seseorang di sana, tapi kali ini aku merasa berbeda. Aku merasa jika aku bisa mencoba memasukan nama mu disana"jelas Abel sembari tersenyum yang membuat mata Leon seketika berbinar.


"A...apa itu artinya kamu menerima ku menjadi kekasih mu?" tanya Leon yang masih tak percaya dengan penuturan Abel.


Abel mengangguk sembari tersenyum tipis dan itu sudah cukup bagi Leon untuk memahami nya. Leon menggendong tubuh Abel dan memutarnya karna bahagia.


"Kyaa pak singa aku pusing..."teriak Abel.


"Maaf maaf"ucap Leon kemudian menurunkan Abel.


"Aku sangat senang mendengarnya, aku begitu bahagia!"ucap Leon kemudian mencium semua bagian wajah Abel.


"Hentikan itu, haha"ucap Abel kegelian.


"Lihatlah, langit mengambulkan harapan ku"ucap Leon sembari menatap langit yang cerah karna sinar rembulan. Abel tersenyum menatap rembulan yang indah di atas sana dengan tangan yang terus di genggam oleh Leon.


"Aku sangat bahagia"ucap Leon menatap manik mata Abel.


"Ya aku tau itu, kamu mengatakannya berulang kali"ucap Abel terkekeh.


"Haha kamu benar, aku begitu senang hingga mengucapkan kata yang sama berulang kali"ujar Leon.


Abel tersenyum menatap Leon dengan tangan mengelus pipi Leon lembut.


"Aku juga"ucap Abel.


Dan malam itu pun mereka habiskan dengan begitu bahagia. Gelapnya malam menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka berdua. Namun kebahagiaan mereka mendadak terganggu lantaran nyamuk yang mulai menyerang, Leon yang sudah tidak tahan langsung membopong Abel masuk ke monsion.

__ADS_1


"Kita akan tidur di kamar saja, di sana begitu banyak nyamuk, nanti kamu akan sakit"jelas Leon membawa Abel ke kamar.


"Nama nya juga kemah, mana ada kemah yang gak ada nyamuk nya"ucap Abel.


"Pasti ada, aku akan mencarinya untuk mu"ucap Leon yang membuat Abel memukul dada nya pelan.


"Hentikan itu, aku geli mendengarkannya"ucap Abel.


"Aku serius" ucap Leon dengan wajah serius. Abel menjadi diam setelah melihat ekspresi Leon.


"Ekhem, tidak perlu. Aku juga tidak ingin setiap hari berkemah"ucap Abel.


"Kamu yakin?"tanya Leon yang di jawab anggukan oleh Abel.


"Baiklah,karna ini sudah sangat larut, ayo sekarang kita tidur"ucap Leon sembari meletak tubuh Abel di ranjang dan ikut berbaring.


Leon memeluk perut Abel dan menaruh kepalanya di sana, sudah seperti anak kecil yang memeluk Ibu nya.


"Aku sangat bahagia, kelinci manis. Kamu tau? memeluk dan menghirup aroma tubuh mu membuat ku candu"tutur Leon. Abel tersenyum malu mendengar penuturan Leon.


"Tidak boleh, jangan peluk peluk aku lagi" ucap Abel spontan.


"Kenapa? aku kekasih mu, aku berhak melakukannya"ucap Leon kemudian mengeratkan pelukannya.


"Tentu saja tidak boleh setiap saat memeluk ku, aku bisa sesak nafas"jelas Abel.


"Tidak akan, aku tidak akan membiarkan mu sesak nafas apalagi hingga sakit. Aku memeluk mu dengan cinta dan itu tidak akan membuatmu sesak"ucap Leon, Abel tersenyum malu serta merasa geli. Leon selalu saja begitu, dia sudah seperti seorang penyair bagi Abel.


"Berhentilah bersyair, aku merasa geli"ucap Abel sembari terkekeh.


"Aku tidak bersyair, dasar kelinci"ucap Leon gemas lalu mengecup bibir Abel.


"Jangan mencium ku!"ucap Abel kesal.


"Aku berhak melakukannya, kamu kekasih ku"ucap Leon santai.


"Tapi kamu harus meminta ijin ku dulu, jangan melakukan seenaknya" tutur Abel.


"Aku tidak perduli, aku akan tetap melakukannya dengan atau tanpa persetujuanmu"ucap Leon tersenyum jail sembari menggigit pipi Abel pelan.


"Aw! kenapa kamu suka sekali menggigit ku? aku bukan makanan"ucap Abel kesal.

__ADS_1


"Em baiklah, aku minta maaf sayang"ucap Leon kemudian mengelus pipi Abel lembut, Abel tersenyum melihat ekspresi Leon sekarang yang seperti anak kucing daripada Pak singa.


Leon kembali lagi meletakan kepalanya di perut Abel sambil mendusel dusel wajah disana serta menyuruh Abel mengelus kepalanya. Sangat nyaman pikir Leon.


"Ayo kita bikin Anak"tutur Leon yang membuat mata Abel terbelalak.


"Apa?!"teriak Abel kemudian menyingkirlan kepala Leon dari perut nya.


"Ayo kita bikin Anak, 2 sampai 3 anak sudah cukup sebagai penerus ku" jawab Leon dengan santai sembari berbaring menatap Abel.


"Yang benar saja? kita baru saja berpacaran, tidak! aku tidak mau!"ucap Abel kemudian dengan cepat beranjak dari tempat tidur.


"Itu tidak masalah kan? apa kita perlu menikah dulu baru bisa memproses nya?"tanya Leon.


"Kyaa!! tidak! berhentilah mengatakan hal hal vulgar"teriak Abel.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapan ku?"tanya Leon sembari menunjukan senyum smirk nya pada Abel.


"Sudahlah, tidak ada gunanya menjelaskan. Aku akan tidur di sofa saja"ucap Abel kemudian berjalan ke arah sofa. Leon yang mendengar jika Abel akan tidur di sofa segera beranjak mengejar Abel.


"Tidak boleh, kamu tidak boleh tidur di sofa. Ayo kita tidur"ucap Leon sembari menggendong Abel.


"Tidak, tidak mau! aku tidak mau..."teriak Abel.


"Syutt.., jangan berteriak atau kita akan benar benar membuat Anak malam ini"ucap Leon tepat di depan wajah Abel yang membuat Abel seketika terdiam.


"Aku tidak tau, menerima Pak singa sebagai kekasih ku itu hal yang benar atau tidak...hiks"batin Abel.


Leon meletakan Abel di kasur secara perlahan dan tersenyum hangat, Abel merasa sangat gugup dan sedikit takut dengan senyuman Leon sekarang ini.


"Sudah, jangan takut. Aku tidak akan melakukannya. Ayo sekarang tidur dan mulai hari yang baru esok pagi"ucap Leon mengelus kepala Abel lembut.


Perlahan rasa khawatir di hati Abel sedikit berkurang dan ia juga mulai terlelap dengan tangan Leon yang terus mengusap kepalanya.


"Persis seperti kelinci"ucap Leon pada Abel yang sudah mulai tertidur hanya dengan elusan di kepala.


Leon terkekeh pelan melihat wajah Abel yang sudah terlelap itu dan ingatan tentang wajah Abel yang panik saat ia mengatakan akan memproses Anak malam ini. Haha begitu menggelitik hati Leon.


"Aku memang tidak melakukannya sekarang, tapi tidak untuk nanti. Kelinci manis ku yang menggemaskan"ucap Leon kemudian mengecup sekilas bibir Abel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2