Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-75


__ADS_3

"Tidak Nona, tidak ada yang aneh, Anda sudah rapi"jawab penjaga itu dan segera mengalihkan pandangannya.


Ting


Lift terbuka.


Abel segera berjalan keluar diikuti penjaga tadi di belakang, ada rasa senang di hati Abel saat akan menemui Leon sekarang ini.


"Aku ingin menemuinya...!!"batin Abel.


Pintu ruangan Leon di ketuk dari luar oleh penjaga tadi dengan Abel di sampingnya yang memegang paperbag makan siang Leon.


"Permisi Tuan, Nona Arabella sudah disini untuk mengantarkan makan siang"jelasnya sopan.


"Masuklah"jawab Leon dari dalam.


Pintu di dorong oleh penjaga itu dan memperlihatkan Leon yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari menatap pintu.


Abel melengkungkan sudut bibirnya saat melihat Leon yang juga sedang melihatnya. Mendadak dia menundukan wajah karna merasa malu.


"Kenapa aku mendadak jadi canggung seperti ini?"batin Abel.


"Silahkan Nona"ucap penjaga tadi membuyarkan Abel.


"Iya terima kasih"ucap Abel.


Penjaga tadipun pergu setelah mengatarkan Abel ke ruangan Leon. Dan sekarang tinggal lah Abel dan juga Leon dengan Abel yang masih setia di depan pintu.


"Apa yang kamu lakukan disana? kemarilah"panggil Leon sembari tersenyum memandang Abel.


"A...ah yah, aku akan kesana"jawab Abel gugup dan berjalan mendekati Leon.


"Aku membawakan makan siang untuk mu, makanlah"jelas Abel sembari meletak paperbag diatas meja Leon.


Leon tak menanggapi ucapan Abel, dia masih setia menatap wajah Abel dengan sengiran seperti orang gila. Abel yang merasa di tatap pun beralih menatap Leon juga.


"Kenapa? kenapa menatap ku seperti itu?"tanya Abel.


"Tidak, aku hanya suka memandangimu ketika bicara, terlihat seperti bernyanyi"jawab Leon yang tidak masuk akal bagi Abel.


"Ha? yang benar saja? dasar Pak singa!"ucap Abel sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ck, jangan menunjukan ekspresi itu pada pria lain, itu akan menyulitkanmu"jelas Leon.

__ADS_1


"Kenapa?"tanya Abel dengan tatapan polos.


"Siall,kenapa kamu selalu membuatku ingin sekali mengurungmu di kamar?"tanya Leon sembari memegang keningnya frustasi.


"Kenapa lagi? kamu sangat aneh, aku hanya bicara dan kamu selalu ingin mengurungku, kupikir kamu sedikit tidak waras"tutur Abel dengan segala kepolosannya.


"Yah, aku memang tidak waras semenjak bertemu denganmu. Kamu tau? di kepala ku hanya ada wajahmu, nama mu, dan senyummu"jelas Leon.


"Em...benarkah? aku tidak percaya"ucap Abel mempermainkan Leon.


"Kamu tidak mempercayaiku? maka kemarilah, aku akan membuktikannya"ucap Leon sembari menepuk pahanya dan dengan cepat Abel menggelengkn kepala.


"Tidak mau, aku tidak mau duduk disana"ucap Abel.


"Kenapa? kemarilah, tidak ada penolakan"ucap Leon tegas yang membuat Abel mau tidak mau harus duduk dipangkuan Leon.


Abel merasa canggung saat akan duduk di pangkuan Leon, namun Leon malah menariknya spontan dan mambuatnya terduduk di pangkuannya.


"Kenapa canggung lagi? bukankah aku kekasihmu?"tanya Leon menatap lekat Abel.


Abel mengangguk kaku dengan wajah merah merona karna malu. Duduk di pangkuan Leon adalah tantangan tersendiri untuknya, selain merasa canggung setengah mati, Leon juga bisa terangsang oleh posisi ini.


"Tenang"batin Abel.


"Sepasang kekasih seperti apa? bukankah seperti ini sudah benar?"tanya Abel polos.


"Yah, kamu benar, tapi apa kamu sudah mencintaiku?"tanya Leon.


"Em..."gumam Abel sembari berfikir.


"Entahlah, aku merasa kesepian saat aku tidak melihatmu, dan aku sangat berantusias saat tau kamu menyuruhku mengantarkan makanan untukmu"jawab Abel jujur.


Leon tersenyum lebar dan secara spontan mencium seluruh wajah Abel berkali kali setelah mendengar penuturan yang keluar dari bibir seorang Abel.


"Terima kasih, terima kasih sudah sangat jujur denganku. Kamu tau? mendapatkan kekasih yang cantik dan terkenal sangatlah mudah bagi ku, tapi kekasih yang mau jujur dengan kekasihnya itu sangatlah langka, dan aku beruntung mendapatkanmu"jelas Leon panjang lebar tak sanggung membendung perasaan bahagia di dadanya.


Entah kenapa saat mendengar penuturan Leon, Abel tersenyum lebar dan ikut bahagia. Apa dia sudah benar benar mencintai Leon? pikir Abel.


"Aku mencintaimu"ucap Leon kemudian mencium seluruh wajah Abel lagi.


"Haha hentikan itu, itu geli"kekeh Abel.


"Itu salahmu karna sudah berani membuatku jatuh cinta padamu"jawab Leon.

__ADS_1


"Kenapa jadi salahku? aku tidak melakukan apapun"sarkas Abel dengan wajah polosnya.


"Huft, sudahlah, berhentilah menunjukan wajah polos itu, aku rasanya ingin mengurungmu agar tidak dilihat oleh orang lain"jelas Leon.


"Iya, sekarang sudah jam makan siang, ayo makan sekarang"ucap Abel dan hendak beranjak dari pangkuan Leon.


"Jangan pergi dulu, biarkan seperti ini, aku merindukanmu"jelas Leon sembari memeluk Abel manja.


"Jangan seperti itu, ini sudah jam makan siang"ucap Abel.


"Baiklah, ambil makan siangnya dan suapi aku"ucap Leon.


"Em...baiklah"jawab Abel setuju.


Abel beranjak dari pangkuan Leon dan mukai mengeluarkan kotak makanan yang ada di dalam paper bag yang ia bawa tadi.


"Apa kamu suka salad?, aku memasak makanan lengkap disini, aku juga membuatkanmu jus alpukat tadi"celoteh Abel sembari mengeluarkan semua makanan dari paperbag.


Leon tersenyum senang mendengar celoteh dan perhatin yang diberikan Abel untuknya, sangat menyenangkan saat kekasihmu membawakan makanan untukmu, bukan?


"Yah, aku suka apapun yang kamu masak"jawab Leon.


"Baguslah, aku jadi merasa senang mendengarnya"ucap Abel sembari tersenyum senang.


"Kenapa kamu sangat manis tiap hari nya? jika seperti ini terus, aku tidak yakin aku akan tahan lebih lama"ujar Leon yang membuat Abel menatap Leon dengan beberapa kali mengerjapkan matanya.


"Aku tidak tau, mungkin gen orang tua ku sangat bagus"jawab Abel polos dan kembali menyusun makanan.


Leon terkekeh ringan mendengar penuturan polos yang keluar dari bibir merah cery itu, dia tidak akan pernah bosan dengan gadis di hadapannya ini.


"Kamu benar, gen orang tua mh telah membentuk malaikat cantik dan baik hati seperti mu"ujar Leon.


Abel hanya tersenyum menanggapi ucapan Leon, padahal tadi dia hanya ngasal menjawab, tapi Leon pandai dalam bermain kata kata.


"Berhentilah menggodaku dan makan ini"ucap Abel sembari memasukan mulut Leon dengan sesuap makan siang.


"Eum...ini enak"ucap Leon sembaru mengunyah makanan yang diberi oleh Abel.


"Tentu, karna Abel yang memasaknya"jawab Abel berlaga sombong.


"Yah, kamu akan menjadi istriku yang baik nanti"ucap Leon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2