Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-57


__ADS_3

"Aw. hentikan, itu sakit!"keluh Abel yang mulai membalas perbuatan Leon dengan mencubit pinggang Leon.


"Akh!" teriak Leon.


"Makanya jangan suka mengganggu orang, huh" ucap Abel kesal.


"Baik baik, aku tidak mengganggu mu lagi" ucap Leon.


"Bagus, pergilah mandi"ucap Abel.


"Oke oke" jawab Leon sembari menarik hidung Abel dan berlari ke kamar mandi.


"Kyaa!! Pak singa!"teriak Abel kesakitan.


Setelah kepergian Leon ke kamar mandi, Abel yang sedang duduk di atas kasur mendadak tersenyum sendiri. Ada rasa senang di hati nya, dia tidak tau mengapa rasa itu datang kembali.


Abel berjalan ke luar kamar dan berjalan entah kemana di dalam Monsion besar itu. Abel terus melangkahkan kaki nya mengitari Monsion dengan senyum yang selalu terlihat di bibirnya, ada rasa senang di hati nya sekarang ini.


"Rumah pak singa benar benar besar, ini seperti pusat perbelanjaan saja" gumam Abel sembari melihat lihat pajangan dinding.


"Padahal tadi pagi aku baru saja berkeliling dan itu pun hanya sebagian kecil dari tempat ini, huh! butuh waktu lama untuk mengetahui semua letak rumah ini"lanjutnya.


Kaki Abel terus melangkah menyusuri tiap sudut Monsion Leon, dia terkagum kagum dengan tempat ini. Mewah,indah, dan megah pikir Abel.


Saat dia hendak melewati satu ruangan,Abel melihat banyak sekali penjaga yang berjaga di sana. Mereka seperti patung yang tak bergerak dari tempatnya.


Abel mendekati penjaga itu dengan langkah pelan. Penjaga disini sangat tinggi,sehingga membuat Abel harus mendongak untuk menatap wajah penjaga nya.


"Nona? apa yang Nona lakukan disini?"tanya salah satu penjaga.


"A...aku tadi berkeliling tempat ini dan berakhir disini"jawab Abel jujur.


"Sebaiknya Nona kembali ke kamar Nona"ucap Penjaga tadi.


"Kenapa? memang nya ada apa disana?"tanya Abel sembari menunjuk pintu ruangan yang di jaga oleh penjaga.


"Bukan apa apa, sebaiknya Nona kembali atau Tuan Muda akan marah" ujar sang penjaga.


Abel menatap intens pintu itu kemudian memilih pergi dari sana, dia sangat penasaran dengan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa harta Pak singa di simpan disana? kenapa mereka menjaga ketat tempat itu? aku harus bertanya pada pak singa!"batin Abel.


Saat perjalan kembali ke kamarnya, Abel melihat Leon yang sedang berjalan mendekatinya dengan tergesah gesah.


"Kamu kemana saja? aku panik mencarimu setelah selesai mandi tadi" tutur Leon sembari menangkup kedua pipi Abel dengan tangannya.


"Em...tadi aku berjalan jalan di dalam rumah mu"jelas Abel.


"Begitu? baiklah, jangan pergi tanpa mengabari ku lagi hm?"ujar Leon dan di jawab anggukan oleh Abel.


"Ayo sekarang kita makan malam" ucap Leon sembari menggandeng tangan Abel lembut. Abel tersenyum tipis melihat perhatian yang di berikan Leon, hatinya senang.


"Pak singa..."panggil Abel


"Hm"jawab Leon sembari menoleh ke arah Abel yang ada di sampingnya.


"Apa aku harus mengganti semua barang dan makanan yang kamu berikan suatu saat nanti?"tanya Abel polos.


Leon mengangkat sudut bibirnya mendengar pertanyaan polos Abel. Bagaimana mungkin dia akan meminta ganti atas apa yang dia berikan?dan itu pun pada Abel,orang yang ia cinta?


"Tidak perlu, tapi kamu harus menyiapkan keperluan ku setiap hari. Bagaimana?"tawar Leon sang ahli mencari kesempatan.


"Keperluan apa?"tanya Abel tak mengerti.


"Apa? siapa juga yang ingin menikah denganmu"cibir Abel.


"Kamu yakin?"tanya Leon dengan senyum menggoda. Abel hanya memalingkan wajahnya agar tak melihat Leon yang seperti orang kerasukan pikir Abel.


"Hm"Abel berdehem.


"Kita lihat saja nanti, jika aku berhasil memperistri dirimu, maka kamu harus di hukum setiap malam" tutur Leon tepat di telinga Abel yang langsung membuat Abel menegang.


"Haha, ayo duduk dan makan"Leon tertawa kemudian duduk bersama Abel di ruang makan. Abel hanya mengangguk canggung.


"Aku tidak terlalu memikirkan ucapan pak singa, tapi kenapa rasanya sangat mengerikan?"batin Abel.


"Ayo siapkan makanan untukku, istriku sayang" goda Leon sembari menatap Abel.


"Siapa istrimu? aku bukan istrimu" ucap Abel kesal.

__ADS_1


"Maka menikahlah dengan ku, maka kamu akan menjadi istri ku" ucap Leon dan Abel hanya memutar matanya.


"Aku sedikit geli mendengar ucapan Pak singa, tapi aku ingin sekali tersenyum lepas"batin Abel.


Abel menyiapkan makanan di piring Leon dengan telaten, dia sudah seperti seorang istri yang melayani suami saja.


"Ini"ucap Abel sembari meletakan piring yang sudah ia isi makanan di depan Leon pelan.


"Terima kasih istriku yang cantik"ucap Leon yang membuat Abel secara spontan tersenyum geli.


"Berhentilah mengatakan itu, aku geli sendiri mendengarkannya"keluh Abel.


"Tidak akan, kecuali kamu menikah dengan ku maka aku akan mengganti panggilan ini"ujar Leon.


"Terserah, aku lelah berdebat denganmu" ucap Abel kemudian duduk di kursinya dan memakan makanannya. Leon tersenyum sambil melirik Abel yang sedang makan dengan wajah kesalnya itu.


"Kemajuan yang mantap"batin Leon kemudian ia ikut makan seperti Abel.


Setelah beberapa lama akhirnya ritual makan malam Leon dan Abel berakhir, Abel yang hendak membereskan sisa makanan di larang oleh Leon.


" jangan lakukan, aku punya banyak pelayan untuk melakukannya"jelas Leon.


"Tidak apa, aku akan membereskannya. Ini hanya sebentar"ucap Abel namun Leon tetap kekeh pada pendiriannya.


"Kelinci manisku yang cantik, jangan lakukan ini. Lebih baik kita ke kamar dan melakukan hal lain" ucap Leon lembut kemudian menggedong Abel kembali ke kamar.


"Pak singa, turunkan aku!" ucap Abel.


"Apa kamu mau aku turunkan sekarang? kita sedang menaiki tangga" ucap Leon tersenyum menggoda Abel.


Abel melihat kebawah dan benar saja, Mereka sedang menaiki tangga.


"Baiklah,jangan turunkan aku" ucap Abel mengalah.


Leon tertawa kecil melihat kelinci manisnya ini dan secara spontan dia mengecup lembut kening Abel.


"Sangat manis dan lucu" ujar Leon.


Abel tersipu malu dengan wajah merah mendengar penuturan Leon padanya, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan agar tak dilihat oleh Leon.

__ADS_1


"Aku malu..."batin Abel.


Bersambung...


__ADS_2