Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-55


__ADS_3

"Bisa dibilang seperti Makan malam dengan nuansa romantis untuk membicarakan sesuatu dari hati ke hati,Tuan" jelas Hans yang sudah habis pikir.


"Oh" jawab Leon singkat dan segera mengalihkan pandangannya yang dingin itu. Hans hanya bisa mengela nafas.


"Aku kuat"batin Hans.


"Apa jalan jalan atau liburan juga bisa?"tanya Leon datar karna bagi seorang Leon bertanya seperti ini sangat menampar harga dirinya.


"Em, seperti nya juga bisa Tuan"jawab Hans.


"Baiklah, siapkan tiket nya. Aku dan Abel akan pergi liburan" perintah Leon.


"Em, tiket liburan kemana yah Tuan?"tanya Hans yang tak mengerti.


Leon menyerngitkan keningnya mendengar pertanyaan Hans, dia menatap Hans tajam.


"Kau pikir saja sendiri, carikan tempat yang bagus dan pastinya romantis seperti yang kau katakan tadi" jawab Hans tegas.


Hans menundukkan kepalanya mendengar omelan Leon, sebenarnya yang salah di sini Dia atau atasannya? pikir Hans.


"Baik Tuan, akan saya pesankan tiketnya" tutur Hans.


"Hm" jawab Leon sembari menatap Laptop nya.


.


.


.


Abel sekarang sudah kembali ke kamarnya, dia sedang di landa bosan dan kesepian, ingin rasanya ia berlari ke luar halaman untuk menyejukan mata, tapi tubuhnya sekarang sangat lelah dan sudah tak mampu mengelilingi Monsion besar ini.


"Huff, bosan..."tutur Abel sembari menatap halaman dari atas balkon.


"Kenapa dia pulang begitu lama? aku mati kebosanan disini" gumam Abel yang terus memandangi halaman bawah.


Abel tiba tiba melamun dengan pikiran kemana mana, banyak hal yang ingin sekali ia tanyakan pada Leon, tapi dia takut lupa menanyakannya nanti.


"Apa Pak singa juga tidak punya orang tua seperti ku?"


"Di mana orang tua pak singa?"


"Apa dia punya saudara?"


"Apa keluarganya tidak akan marah karna Pak singa membawa ku kemari?"


Begitu banyak pertanyaan di kepala Abel sekarang, dia sampai lupa jika hari semakin sore, tapi dia sama sekali belum beranjak hingga ketukan di pintu kamar membuatnya tersadar.


"Permisi Nona, saya membawakan pakaian untuk Nona pakai" jelas pelayan dari luar.

__ADS_1


Abel tersadar dari lamunannya dan pergi membukakan pintu.


"Iyah?"ujar Abel.


"Nona, ini ada pakaian yang di perintahkan Tuan muda untuk di berikan untuk Anda. Silahkan" jelasnya sopan sebari menyodorkan Paper bag.


"Ah yah,terima kasih" ucap Abel menerima Paper bag yang di berikan pelayan.


"Saya permisi,Nona" ucap nya lalu melenggang pergi.


"Iyah" jawab Abel lalu kembali masuk ke kamar.


"Ternyata sudah sore, aku sampai tidak sadar"gumam nya.


"Aku akan mandi sebelum Pak singa kembali, jika tidak dia akan menggoda ku lagi" gumam Abel yang akan memasuki kamar mandi.


15 menit di kamar mandi membuatnya kembali segar, Abel membuka Paper bag dan melihat pakaian apa yang berikan oleh Leon.


Sebuah Dress tidur dengan rendak di bagian bawahnya, sangat indah dan simple pikir Abel. Abel segera memakai nya dan melihat dirinya di pantulan cermin.


"Pakaian ini sangat bagus, aku sangat takut jika Pak singa meminta ganti uang nya nanti" gumam Abel.


Ketukan di pintu kamar Abel kembali berbunyi, yang ternyata pelayan penyuruh Abel turun untuk menyambut kepulangan Leon di bawah.


"Pak singa sudah pulang? em bagaimana ini?" Abel mulai panik, antara takut dan senang menyatu.


Abel berjejer bersama pelayan Monsion untuk menyambut kepulangan Leon kembali.


"Apa ini sudah benar?"batin Abel.


Leon berjalan dengan gagah serta wajah datarnya melewati pelayan, namun mendadak berhenti di depan barisan Abel.


Abel merasa canggung ketika Leon berhenti di hadapannya, apa yang akan terjadi setelah ini? monolog Abel.


Abel menatap Leon dengan tatapan seperti anak kucing, Leon hampir kelepasan ingin tersenyum melihat itu.


"Kamu menyambutku?"tanya Leon pada Abel dengan sedikit menunduk agar bisa sejajar dengan Abel.


"Eh? em...pelayan yang menyuruh ku untuk turun"jawab Abel apa adanya.


"Benarkah? ku kira kamu yang ingin sekali menyambutku" ujar Leon sembari mengangkat dagu Abel.


Abel merasa malu dengan tindakan Leon yang tidak melihat keadaan, pelayan disini masih berjejer.


"Kalian semua kembali bekerja" perinta Leon dan seketika semua pelayan bubar menyelesaikan pekerjaan masing masing.


"Apa sekarang kamu masih malu?"tanya Leon yang tau jika Kelinci manisnya sedang malu.


Abel tersenyum malu mendengar pertanyaan Leon, kenapa Leon sangat tau isi kepalanya? monolog Abel.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo masuk" ucap Abel mengalihkan pembicaraan.


Leon terkekeh melihat respon dari Abel, kelinci manisnya ini benar benar keras kepala.


"Baiklah, ayo kita masuk sekarang" ucap Leon sembari menggendong Abel ala bridal stile.


"Eh...?"teriak Abel spontan.


"Pak singa, apa kamu lakukan? ayo turunkan aku, aku bisa jalan sendiri" ujar Abel.


"Tapi aku ingin menggendong mu, aku sangat merindukanmu seharian di kantor" jawab Leon yang menaiki tangga.


"Ayolah pak singa, kamu pasti lelah. Ayo turunkan aku" bujuk Abel.


"Aku tidak lelah lagi setelah melihatmu" tutur Leon yang sudah menaruh Abel di atas ranjang.


Leon duduk bersama Abel di atas ranjang dengan Abel yang terus mengalihkan pandangannya.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?"tanya Leon memecahkan suasana sembari melonggarkan dasinya.


"Tidak ada, aku hanya mengelilingi tempat ini sebentar"jawab Abel santai.


"Oh yah, aku tadi mengajak pelayan mu untuk makan siang bersama. Apa kamu tidak marah? aku yang mengajak mereka, mereka tidak bersalah" jelas Abel sedikit khawatir.


Leon tersenyum mendengar penjelasan Abel, dia membuka mantel jas nya kemudian melepas beberapa kancing kemejanya dan menggulung lengannya ke atas.


"Pak singa? kamu tidak marah kan?"tanya Abel sembari menggoyangkan lengan Leon karna Leon tidak menoleh.


"Shitt, dia sangat manis "batin Leon.


Leon berpura pura tidak mendengarkan Abel yang terus menggoyangkan lengannya.


"Pak singa? kamu mendengar ku? hey" tanya Abel dengan sedikit keras dan berhasil membuat Leon menoleh.


"Kamu mengajak mereka makan bersama mu?"tanya Leon tepat di wajah Abel, sangat dekat.


"Eh? em...iya" jawab Abel lirih.


"Karna kamu telah melakukannya maka kamu harus menggantinya" ucap Leon


"Ha? bagaimana aku harus menggantinya?"tanya Abel dengan wajah polos.


"Mudah saja, ayo pijat kepala ku. Aku sangat pusing sekarang" jawab Leon sembari memegang keningnya berlaga pusing.


"Apa harus aku?"tanya Abel.


"Tentu saja, kamu mengajak mereka makan bersama tanpa meminta izin ku, itu berarti kamu harus menggantinya" jelas Leon.


Leon sebenarnya tidak mempermalasahkan ini, bahkan dia sangat senang mengetahui Abel yang baik dengan pelayan nya,namun Leon tetaplah Leon. Dia akan mengambil kesempatan jika ada kesempatan.

__ADS_1


"Ayo terus lalukan hal hal yang membuatku di untungkan"batin Leon


Bersambung...


__ADS_2