Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-63


__ADS_3

Leon terkekeh pelan melihat wajah Abel yang sudah terlelap itu dan ingatan tentang wajah Abel yang panik saat ia mengatakan akan memproses Anak malam ini. Haha begitu menggelitik hati Leon.


"Aku memang tidak melakukannya sekarang, tapi tidak untuk nanti. Kelinci manis ku yang menggemaskan"ucap Leon kemudian mengecup sekilas bibir Abel.


.


.


.


Nampak seorang gadis cantik masih tertidur lelap di bawah selimut dengan nyenyak,hingga tak menyadari jika dia sekarang sedang bersama seorang pria.


Leon yang sudah bangun terlebih dahulu langsung di suguhkan pemandangan manis di hadapannya melihat gadis pujaannya masih tidur dengan wajah menggemaskan.


"Sekarang beritahu aku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati padamu?"gumam Leon sembari menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Abel.


Leon mengangkat sudut bibirnya bahagia, dia tidak pernah menduga akhirnya Abel menerima dirinya sebagai kekasih walau Abel belum sepenuhnya yakin dengan perasaanya, tapi tidak masalah bagi Leon, yang terpenting Abel sudah menerimanya dan dia adalah orang pertama dalam hidup Abel.


"Apa kelinci manis ku ini tidak berniat bangun?"mengelus pipi Abel.


Huuft...


Leon menghembuskan nafasnya ke wajah Abel, Abel mulai merasa terganggu. Leon kembali menghembuskan nafasnya di wajah Abel, dan akhirnya Abel dengan terpaksa membuka mata.


"Pak singa?"suara parau khas orang bangun tidur.


"Sudah bangun?" tanya Leon sambil menyanggah kepalanya menggunakan tangan menatap Abel.


"Ah yah aku kesiangan, maaf"hendak bangun, namun dengan cepat tangan Leon menahan nya.


"Jangan pergi dulu"ucap Leon manja sambil memeluk perut Abel posesif.


"Aku mau cuci muka, minggir"ucap Abel sembari menarik tangan Leon yang memeluknya.


"Tidak"jawab Leon singkat dan langsung mendapat tatapan bingung dari Abel.


"Ada apa lagi?"tanya Abel jengah.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin menghambiskan waktu ku denganmu sebelum ke kantor"jelas Leon.


"Huft, kamu di kantor tidak sampai sehari, ayolah pak singa, ini sudah siang nanti kamu akan terlambat"ucap Abel jengah dan kesal.


Leon melepaskan pelukannya dan menatap wajah Abel lekat dalam jarak yang sangatlah dekat.


"Apa lag..."terpotong lantaran Leon yang mengecup bibir Abel sekilas.


"Morning kiss Kelinci manis"ucap Leon sembari tersenyum. Abel mengerutkan keningnya, Leon terlalu sering menciumnya tanpa permisi, Abel sedikit kesal dengan itu.


"Sudah kubilang jang..."ucap Abel lagi lagi terpotong karna Leon mengecup bibirnya berulang ulang kali.


"Yah, aku akan tetap melakukannya. Jika kamu tidak mau aku melakukan hal kecil ini, maka biarkan aku melakukan hal besar dengan cara membantu mu mengandung anak ku"jelas Leon santai.


Tubuh Abel seketika menegang setelah mendengar penuturan Leon yang sangat mengerikan di telinga Abel. Ini hari pertama dia menjadi kekasih Leon, tapi penyakit [mesum] Leon semakin menjadi jadi saja pikir Abel.


"Yayaya terserah, sekarang menyingkirlah dariku"ucap Abel, Leon dengan terpaksa membiarkan Abel pergi ke kamar mandi.


Sekarang ini Abel sedang menggosok gigi dan secara tiba tiba tangan besar memeluknya dari belakang.


"Sayang, kamu wangi sekali"ucap Leon sembari mengirup aroma leher Abel, Abel merasa kegelian dan tanpa sengaja menyemburkan busa odol yang ada di mulutnya ke wajah Leon.


"Kenapa menyemburku?"tanya Leon


"Aku tidak sengaja, itu karna kamu terus mengganggu ku"jawab Abel.


"Sekarang bilas wajah mu"ucap Abel menyuruh Leon mencuci wajahnya.


"Tidak, kamu harus bertanggung jawab. Ayo bersihkan"ucap Leon sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Huft, baiklah"ucap Abel kemudian mengambil lap basah untuk membersihkan wajah Leon.


"Ayo menunduk, kamu begitu tinggi"pinta Abel.


"Em...tidak"ucap Leon kemudian menggendong Abel ala koala.


"Eh? turunkan aku"ucap Abel.

__ADS_1


"Tidak, ayo bersihkan"ucap Leon kemudian mendekatkan wajahnya di wajah Abel.


"Ekhem! baiklah"ucap Abel berdehem sebelum akhirnya membersihkan wajah Leon dengan gugup.


"Sudah"ucap Abel yang sudah selesai membersihkan wajah Leon.


Leon menoleh ke arah cermin yang ada di sampingnya, bukan untuk melihat wajahnya yang bersih atau tidak, tapi untuk melihat pose mereka berdua dengan Abel yang berada di gendongannya.


"Lihat kesamping"perintah Leon ada Abel dan Abel secara spontan melihat kesamping.


"Bukan kah kita terlihat romantis di cermin?"tanya Leon yang membuat Abel tersipu malu.


"Ayo turunkan aku"ucap Abel pelan.


"Tidak akan, aku suka menggendong mu"ucap Leon sembari meletakan Abel di meja yang ada di kamar mandi.


Leon menatap Abel dengan tatapan lapar, melihat Abel di pagi hari adalah sebuah tantangan iman untuk Leon tiap hari nya.


"Ke...kenapa kamu memandangku seperti itu?"tanya Abel gugup.


Leon tak menjawabnya dan malah mendekatkan wajahnya ke arah wajah Abel dengan senyum smirk nya yang menggoda.


"A...apa?"tanya Abel sembari memundurkan dirinya tapi tidak bisa lantaran dia sedang ada di atas meja.


"Kenapa masih takut dengan ku? bukan kah aku kekasihmu? ayo peluk aku"ucap Leon kemudian merentangkan tangannya.


Awal nya Abel sedikit gugup, namun Leon benar, dia adalah kekasih Leon sekarang. Leon mendekat hendak memeluk Leon, namun secara cepat Leon malah menarik tengkuk Abel dan menciumnya dalam.


Leon menggigit kecil bibir Abel agar terbuka, dan benar saja Abel membukanya. Tak menyiakan kesempatan, Leon segera mengabsen seluruh bagian mulut Abel tanpa terlewat.


"Balas, Baby"ucap Leon di sela sela ciuman dengan suara deep voice nya. Abel awal nya tidak ingin membalasnya, namun lama kelamaan dia mulai terbuai dan membalas ciuman Leon, Abel bahkan mulai mengalungkan tangannya di leher Leon.


Terdengar lengguhan di sela sela ciuman yang berasal dari Abel lantaran Leon yang memeluk pinggangnya hingga menempel sempurna di dada bidang Leon.


Tangan Leon tak tinggal diam, tangannya mulai menjalar ke bawah baju tidur yang kenakan Abel dan mengelus lembut paha Abel yang membuat Abel makin terbuai.


Abel memejamkan matanya saat tangan besar Leon mengelus elus pahanya di bawah sana. Melihat Abel yang menikmati permainannya, Leon semakin semangat dalam kegiatannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2