Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-48


__ADS_3

"Huff dasar pak singa!! aku tidak sakit, aku malu!!"batin Abel tapi ia tak bisa mengatakannya dan hanya diam hingga dia di bawa kembali ke kamarnya.


"Sekarang beristirahatlah aku akan memanggilkan dokter" ucap Leon sambil meletakan Abel di ranjang rumah sakit.


"Aku tidak sakit pak singa!" bantah Abel.


"Lantas kenapa wajahmu memerah?"tanya Leon


"I..itu karna aku emm anu" Abel mendadak gugup.


"Aku haus"jawab Abel ngasal.


"Haus?"tanya Leon menyerngit.


"Yah, aku sangat haus" lanjut Abel.


"Baiklah, minum ini" ucap Leon sambil menyodorkan segelas air putih yang terletak di nakas samping ranjang.


"Ah yah terima kasih"ucap Abel gugup dan langsung meneguk air itu.


Leon hanya bisa menyaksikan tingkah Abel yang mendadak aneh itu tanpa mengatakan apapun.


"Pak singa apa kamu tidak akan pulang? "tanya Abel.


"Kurasa tidak, aku tidak akan meninggalkan mu "jawab Leon.


"Aku tidak apa apa pak singa, pergilah pulang dan bersihkan dirimu, kamu pasti belum beristirahat dari tadi karna menjaga ku" jelas Abel panjang lebar.


"Aku sungguh tidak apa, seharusnya kamu yang lebih banyak beristirahat" sarkas Leon.


"Emm bagaimana jika kamu menyuruh Hans kemari untuk mengawasi ku sementara itu kamu kembali untuk membersihkan diri dan beristirahat" usul Abel.


"Kenapa harus Hans? ada apa dengan Hans?"tanya Leon cemburu.


"Tidak apa apa, bukankah Hans orang kepercayaan mu? dia akan menjaga ku dengan baik selama kamu tidak ada" jelas Abel.


"Kelinci manis ku benar, aku harus memberi pelajaran kepada Gion karna berani mengambil milikku"batin Leon.


"Em baiklah, aku akan menelpon nya" ucap Leon setuju sambil menekan nomor di layar ponselnya.


"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?"tanya Hans dari seberang sana.


"Kemarilah" jawab Leon singkat lalu mematikan panggilan.


Abel yang melihat itu hanya melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan Leon pada Hans, itu sangat sadis pikir Abel.


Leon mengalihkan pandangannya ke arah Abel yang menatap nya tanpa berkedip.


"Ada apa sayang?"tanya Leon sambil mendekati Abel yang sedang memandanginya.


"Apa kamu selalu melakukan itu saat menelpon?"tanya Abel pelan.

__ADS_1


"Apa yang ku lakukan?" tanya Leon polos


"Kenapa kamu mengakhiri panggilan begitu saja? apa yang di rasakan Hans saat kamu mematikan panggilan dengan hanya beberapa kata" jelas Abel.


"Hans tidak akan apa apa, dia itu pria bukan wanita, biarkan saja" jawab Leon santai.


"Dasar!" ujar Abel.


Singkat cerita Hans sudah sampai di rumah sakit tempat Abel dirawat dan segera menemui Tuannya itu, dia sama sekali tak mengetahu alasan Tuannya memanggilnya kemari.


"Permiai Tuan" ucap Hans sopan.


"Kau sudah sampai?kemarilah"panggil Leon


Hans menghampiri Leon dan Abel yang sedang terbaring di ranjangnya.


"Aku memanggilmu kemari untuk menjaga dan mengawasi wanita ku selama aku pergi" jelas Leon sambil mengisyaratkan Hans dengan jarinya. Hans mengangguk paham, Tuan nya akan melakukan pekerjaan yang tak bisa ia kerjakan tadi.


Leon menghampiri Abel dan tersenyum hangat padanya.


"Aku pergi sebentar, aku akan segera kembali" ucap Leon kemudian mengecup kening Abel.


"Apa yang pak singa lakukan? Hans melihatnya"batin Abel.


Abel hanya menundukkan kepalanya malu sambil terus mengutuk Leon yang tidak tahu malu itu.


"Jaga dia" pesan Leon tegas pada Hans lalu melenggang pergi.


Akhirnya Abel memecahkan suasana dengan mengusulkan hal aneh.


"Hans"panggil Abel


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"tanya Hans sopan.


"Kumohon jangan panggil aku seperti itu saat kita berdua, aku tidak nyaman"jelas Abel.


"Em baiklah, Kamu perlu apa?"tanya Hans yang lebih nyaman.


"Aku sangat bosan" dengan nada malasnya.


"Kamu bisa memainkan ponsel ini" usul Hans random sambil menyodorkan ponsel.


"Astaga Hans, bagaimana aku bisa memainkan ponsel dengan tangan ku yang seperti ini" jelas Abel sambil melirik tangannya yang terperban dan terinfus.


"Ah yah aku lupa" ucap Hans sambil mengaruk kepala yang tak gatal.


"Ayo menari" perintah Abel yang membuat wajah Hans berubah 180 derajat.


"Menari?"tanya Hans


"Yah, menarilah untukku, kupikir bekerja bersama pak singa sangat menegangkan saraf dan persendian, maka dari itu kamu perlu reefresh sejenak selama dia tidak ada. Menarilah" jelas Abel dengan wajah serius dan polos nya.

__ADS_1


Hans hanya bisa menghela nafasnya kasar, ingin sekali rasanya ia menertawakan dirinya sendiri yang bisa bisa nya di anggap seperti itu oleh Abel.


"Bisa ku akui jika berkerja bersama Tuan sangat melatih kesabaran, tapi itu lebih baik daripada harus menari seperti yang di minta Abel" batin Hans.


"Kurasa itu tidak perlu, aku sama sekali tidak apa apa" jelas Hans.


"Kamu serius? melihat pak singa mematikan panggilan begitu saja tadi membuatku berfikir jika kamu adalah pria tersabar yang ku tahu" ucap Abel dengan bola mata lebar memandangi Hans.


"Sekarang bagaimana cara menjelaskan nya"batin Hans.


"Itu sudah biasa, aku tidak apa apa."ucap Hans agar Abel segera menutup topik menarinya tadi.


Abel menatap Hans selidik, ia ingin melihat apakah Hans berbohong atau tidak. Sedangkan Hans tegang setengah mati di lihat Abel seperti itu, mungkin sekarang Abel sudah seperti Leon saja yang suka menatap orang dengan tatapan mengintimindasi pikir Hans.


"Em,baiklah aku percaya" ujar Abel yang membuar Hans seketika lega.


"Duduklah, untuk apa kamu berdiri di sana terus?" ucap Abel yang melihat Hans dari sampai hingga sudah lama belum jua duduk dan hanya berdiri.


"Tidak apa, aku akan seperti ini saja" jawab Hans dengan sikap yang kembali ke sikap awalnya.


"Ah sudahlah, mungkin semua orang yang bekerja bersama pak singa tidak akan mudah lelah, jika aku yang berada di posisi itu mungkin kaki ku akan semakin pendek karna tidak duduk" batin Abel.


.


.


.


Leon berjalan dengan aura mencengkam bagi siapa yang melihatnya, tidak ada senyuman atau tatapan bersahabat dari wajahnya itu.


Ia memerintahkan anak buah nya untuk membuka satu ruangan dan berjalan masuk ke dalam.


"Sudah bersiap untuk kehidupan yang menyedihkan?" ujar Leon sambil memandangi seseorang yang di ikatnya di sebuah kursi dalam keadaan luka di bahu nya dan juga dengan tampilan yang sangat kacau.


Orang itu mengangkat kepalanya menatap Leon dengan tatapan benci dan nafas yang memburu karna marah.


"Dasar baj*ingan!! lepaskan aku breng*sek!" umpat nya pada Leon.


"Cih, masih bisa menantang" Leon berdecih sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Apa kau tau kesalahan mu apa? hah!!"bentak Leon sambil menarik kerah baju yang di kenakan orang itu.


"Aku tidak bersalah! dia milikku dan kamu lah yang merebutnya!!" jawab orang itu lantang dan langsung mendapat satu bogeman dari Leon.


"Jangan pernah mengatakan jika dia milikmu, itu menjijikan! sampai kapanmu dia adalah milikku bukan milikmu Gion breng*sek!" jelas Leon yang sudah tersulut emosi.


"Ckk! kau beruntung karna kamu yang dulu bertindak, jika saja aku yang dulu bertindak maka dia sudah lama menjadi istriku!" ucap Gion dengan sinis pada Leon dan lagi dan lagi Leon membogem wajah tampan Gion bertubi tubi tanpa henti sehingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya itu.


"Kau tau? kesalahan terbesarmu adalah bermain main dengan seorang Leon, orang yang seharusnya kau jauhi tapi kau malah membuat api disaat nyawamu berada di tangannya" ucap Leon dengan amarah yang menggebu gebu dab sekali lagi membogem wajah Gion lalu pergi.


Gion hanya bisa menahan rasa sakit di tubuh nya itu tanpa mengatakan apapun, dia tidak akan melepaskan Gion begitu saja jika ia berhasil lepas dari sini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2