Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-71


__ADS_3

"Akh! aku tidak menggodamu, itu tulus dari lubuk hatiku yang terdalam"ucap Leon membuat pipi Abel memanas.


"Sudahlah, kamu tidak akan pernah bisa berhenti menggodaku"ucap Abel yang akan beranjak, namun Leon yang melihat itu dengan cepat menarik pergelangan tangan Abel, sehingga membuat tubuh Abel oleng dan jatuh di pelukan Leon.


Abel membolakan matanya dengan nafas tertahan saat wajahnya dengan wajah Leon hanya berjarak beberapa senti saja, jika dia bergerak sedikit maka mereka akan berciuman.


"Bernafaslah, jika tidak kamu akan kehabisan oksigen"ujar Leon menyadarkan Abel.


Abel memundurkan tubuhnya dan menghirup udara rakus. Leon yang melihat itu menahan tawa nya saat melihat tingkah Abel yang sangat menggemaskan pikirnya.


"Ekhem, ku rasa ada seseorang yang berjanji padaku"ucap Leon basa basi sembari mengangkat tubuh Abel agar duduk di pangkuannya.


"Eh?..."ujar Abel spontan saat Leon mengangkat tubuhnya.


"Ku pikir kamu memiliki janji yang belum kamu tepati" tutur Leon sembari mengendus endus leher Abel, yang langsung membuat tubuh Abel menegang dan tak sanggup bergerak sedikit pun.


"Aku akan mengatur pernikahan kita, em...mungkin besok waktu yang tepat"ucap Leon sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Abel.


"APA?!"teriak Abel terkejut dan spontan akan berdiri, namun dengan sigap di tahan oleh tangan besar Leon.


"Kenapa? apa ada yang salah?"tanya Leon santai sembari menaruh dagunya di pundak Abel.


"Lepaskan aku"ucap Abel gugup.


"Kenapa harus di lepaskan? bukan kah kita sepasang kekasih? dan sebenar lagi kita akan segera menikah" ujar Leon kembali mendusel wajahnya di leher Abel.


"Hentikan Pak singa! ini geli"ucap Abel akan menyingkirkan wajah Leon dari lehernya, namun dengan sangat cepat Leon mencekal kedua tangan Abel agar tidak memberontak.


"Kamu geli? maka biasakanlah, maka ini tidak akan geli lagi"ucap Leon, kali ini bukan lagi menduselkan wajahnya, melainkan mencium leher Abel dengan semau hati nya.


"Kyaa!! lepaskan! "teriak Abel yang merasa geli sekaligus berfikir buruk sekarang ini.


Leon dan menanggapi teriakan Abel, dia masih asik dengan kegiatannya hingga tanpa sadar membuat tanda merah kebiruan di sana.


"Pak singa, kumohon hentikan. Kyaa!!"teriak Abel saat Leon menggigit pelan lehernya.


"Hentikan! apa kamu mau membunuhku? itu sakit!"ucap Abel marah.

__ADS_1


"Maka dari itu diam dan nikmati saja, maka ini tidak akan sakit"ucap Leon dengan suara deep voice nya.


"Enak saja! aku tidak mau, menyingkirlah!"ucap Abel.


"Tidak mau"jawab Leon santai kemudian memeluk kembali Abel dari belakang.


"Hey lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas"teriak Abel.


"Apa?! kamu tidak bisa bernafas?!"tanya Leon dengan ekspresi panik sandiwara nya.


"Hah?"Abel kebingungan.


"Astaga?! kamu tidak bisa bernafas, aku akan memberimu nafas buatan"ucap Leon kemudian menarik tengkuk Abel dan menciumnya dalam.


"Emmghh"gumam Abel yang mendapat serangan mendadak, dia berulang kali mendorong dan memukul dada Leon. Bukan nya menyudahi, Leon malah memperdalam ciumannya hingga tidak ada celah disana.


"Emhhgg!!"teriak Abel di sela sela ciuman yang langsung membuat Leon menyudahi kegiatannya dan tersenyum dengan wajah tak berdosa.


"Dasar pria mesum! aku akan melaporkanmu kepolisi karna tuduhan mencabuli anak di bawah umur!"ucap Abel marah sembari memukul dan mencubit Leon semau hatinya.


"Rasakan itu! dasar cabul!"ucap Abel yang masih terus memberi Leon pelajaran.


Entah kenapa, bukannya merasa kesakitan, Leon malah tertawa geli dengan tindakan Abel sekarang ini. Tidak masalah baginya saat Abel memukul atau mencubitnya, tapi ancaman nya yang akan melaporkan dirinya kepolisi sungguh hal yang sangat bodoh pikir Leon.


Setelah merasa puas memberi Leon pelajaran, Abel menatap Leon tajam dengan dada naik turun karna marah.


"Sudah selesai?"tanya Leon santai sembari memberi senyum manis pada Abel.


"Jangan bertanya!"ucap Abel kesal kemudian hendak beranjak.


"Mau kemana? bukan kah kamu ingin melaporkanku kepolisi dengan tuduhan mencabuli anak di usia dini?. Em...tapi kurasa polisi tidak akan menerima laporanmu, karna kamu sudah tua"ujar Leon yang langsung membuat Abel membalikan badannya dan menatap Leon horor.


"Apa yang kamu katakan? aku tua? Hey! yang tua disini itu kamu!"ucap Abel tidak terima sembari berkacak pinggang menatap Leon.


"Benarkah? tapi aku masih terlihat muda"ucap Leon narsis sembari bergaya cool dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Dasar pak singa tua! sudah tua tidak sadar diri, huh!"sindiri Abel kemudian melangkah pergi memasuki kamar mandi.

__ADS_1


"Hey, kamu mau kemana? ayo lanjutkan perdebatan ini"teriak Leon.


"Dasar Pak singa tua"gumam Abel kemudian menutup pintu kamar mandi kesal.


Selepas kepergian Abel, tawa Leon pecah dan menggema di seluruh kamar. Membuat Abel marah dan berdebat dengannya adalah hal yang paling di sukai oleh Leon selain perlakuan manis dan imut Abel.


"Ku rasa Monsion ini tidak akan lagi sepi setelah kedatangan mu kemari, aku menyukaimu"gumam Leon menatap pintu kamar mandi.


Sedangkan Abel di kamar mandi terus mendumel kesal merutuki Leon yang menyebalkan pikir Abel.


"Dasar Pak singa Tua! dia mengataiku tua sedangkan dia sendiri yang tua, dasar tidak sadar diri! huft..."dumel Abel.


Abel membasuh muka nya dan menatap dirinya dari balik layar cermin besar di kamar mandi itu, kemudian tersenyum sendiri melihat wajahnya.


"Dasar Pak singa tua! hahaha"gumam Abel cekikikan.


"Dan dasar Abel bodoh, bagaiman caramu melaporkan Pak singa ke kantor polisi? kamu kekasihnya sekarang! sadarlah Bell. Kamu hanya akan di tertawakan saat mengajukan laporan jika kekasihmu menciummu"ujar Abel berbicara pada dirinya sendiri dari balik layar cemin.


"Ini semua karna Pak singa! aku tidak akan berbicara padanya, huft..!"ucap Abel kembali ke mode kesal sembari menyilangkan kedua tangan di dada dan menatap dirinya dari cermin.


"Wah, gaya ku sangat bagus saat sedang berpose seperti ini. Sangat disayangkan aku tidak memiliki ponsel untuk berfoto"gumam Abel.


Setelah merasa puas mendumel di kamar mandi,Abel melangkahkan kaki nya keluar dan memasang wajah datar.


"Pokoknya aku tidak akan bicara dengan Pak singa"batin Abel.


Leon yang sedang berbaring di atas kasur melirik Abel yang keluar kamar mandi dengan ekspresi datar dan sama sekali tidak melihat atau pun meliriknya.


"Kenapa sangat lama? aku sudah lama menunggu"ucap Leon seolah oleh melupakan semua kejadian tadi.


Abel tak menanggapinya dan berjalan ke arah sofa dengan ekspresi yang masih sama.


"Kamu mau kemana?"tanya Leon yang melihat Abel berjalan kesofa dan tidak menanggapi nya.


Bersambung...


Like,komen,vote:)

__ADS_1


__ADS_2