Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-39


__ADS_3

"Bagaimana?"tanya Leon.


"Sepertinya penculikan ini ada hubungannya dengan seseorang,Tuan"jelas Hans.


"Apa maksudmu?"tanya Leon menyerngit tak mengerti.


.


.


.


Abel membuka matanya yang terasa sangat berat dan kepala yang terasa amat sangat pusing.


Abel mengedarkan pandangannya menatap langit langit tempatnya berada sekarang.


"Dimana aku?"monolog nya.


Abel berusaha bangun tapi tubuhnya terasa sangat lemas dan tak berdaya,entah apa yang terjadi padanya.


Abel melihat tangannya yang masih berinfus,dia sempat berfikir jika Leon yang membawanya kembali untuk di rawat di rumahnya,sehingga dia sedikit lega,


Walaupun Abel tidak sepenuhnya percaya pada Leon.


"Apa pak singa yang membawa ku kemari?"batin Abel.


Abel melihat kanan dan kirinya,tempatnya sekarang ini terlihat berbeda dari sebelumnya,pikir Abel.


"Sudahlah Bel,Apa kamu lupa jika rumah milik pak singa sebesar lapangan bola?dasar Abel"batin Abel.


"Pak singa...!!"panggil Abel lirih


"Aku haus,bisakah aku meminta segelas air?"pinta Abel yang melihat ke arah pintu.


Pintu terbuka perlahan yang memperlihatkan seorang pria berpakaian pelayan datang sembari membawa nampan berisi Air putih dan juga buah buahan.


"Kenapa pakaian pelayan ini berbeda dari sebelumnya?"monolog Abel melihat pelayan yang mendekatinya sembari membawa nampan.


"Nona,ini Air dan buah buahan untuk Nona"ucapnya sopan sembari meletakan nampan tersebut di meja kecil di samping tempat tidur.


"Terima kasih"ucap Abel sedikit mengerutkan keningnya.


"Sama sama Nona"jawab pelayan itu sopan.


"Jika Anda memerlukan sesuatu,Anda bisa memencet tombol ini"jelas pelayan itu sambil menunjuk tombol biru di dekat tempat tidur,Abel hanya mengangguk.


"Dimana Tuan mu?"tanya Abel.


"Tuan?"tanya Pelayan itu bingung.


"Iya,Tuan mu dimana?"tanya Abel lagi.


"Bukankah Tuan dari tadi sudah disini menemani Nona?"ucap pelayan tersebut.


"Ha?tapi aku tidak melihatnya"jelas Abel.


Pelayan itu mengedarkan pandangannya hingga berhenti pada seorang pria yang sedang duduk di sofa pojok ruangan yang tak mungkin bisa Abel lihat.


Pria itu hanya mengangguk dan menyuruh pelayan itu pergi,pelayan itu mengerti lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


"Hey,kamu mau kemana?"tanya Abel yang melihat kepergian pelayan tadi.


"Sangat Aneh"lanjut Abel.


Tak...tak...tak...


Bunyi langkah sepatu yang terdengar di telinga Abel,Abel mencari sumber suara itu dan berhenti saat melihat pria yang ia kenal mendekatinya.


Abel melototkan matanya tak percaya,bagaimana mungkin pria yang ia kenal ada disini?


"Sudah bangun?aku sudah lama menunggu mu bangun"ucapnya sambil mendekati Abel.


"Pak Gion?!"ucap Abel terkejut dan segera akan bangkit,namun Gion malah menahannya.


"Jangan bangun dulu,kamu masih belum pulih"jelasnya.


"Apa yang bapak lakukan disini?!!"tanya Abel tegas dan sedikit takut.


"Apa yang kulakukan disini?ini rumah ku,tentu saja aku disini"jelas Gion yang mulai mengelus surai rambut Abel.


Abel terkejut mendengar penuturan Gion,jadi dia sekarang berada di rumah Gion dan Tuan yang di maksud pelayan tadi itu adalah Gion,bukan Leon.


"Jangan menyentuh saya!!"ucap Abel tegas sambil menepis tangan Gion dari kepalanya.


"Kenapa?kamu marah karna aku memukulmu?Abel sayang,aku sungguh tidak sengaja melakukan itu"ucap Gion lembut dengan tatapan sedih. di mata Abel perlakuan Gion itu terlihat sangat mengerikan.


"Kenapa saya bisa disini?saya mau pulang!!"ucap Abel kemudian ingin bangkit,tapi Gion menahannya lagi.


"Ku bilang beristirahatlah!!!"bentak Gion tegas yang membuat Abel takut.


"Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ku?berbaringlah!aku bisa merawatmu hingga sembuh!"lanjut Gion dengan tegas.


"Tidak akan!kamu tidak akan pernah pulang dan kembali bersama si breng*sek itu"ucap Gion tegas.


"Bapak tidak berhak menahan saya di sini!saya ingin pergi!"ucap Abel sambil menyibak selimutnya dan akan berdiri,namun ia lupa jika ia masih terinfus.


"Akhhh"teriak Abel saat jarum infus itu masih melekat pada tangannya saat ia bergerak.


"Abel.."ucap Gion panik saat melihat Abel menjerit kesakitan dan tangannya yang terinfus mengelurkan darah.


Gion dengan cepat meraih tangan Abel,tapi Abel langsung menariknya.


"Jangan menyentuh saya!!saya ingin pergi"bentak Abel sembari tangannya yang lain ingin mengambil botol infus.Namun belum sempat tangannya meraih botol itu,Gion menarik tangan Abel yang akan menggapai botol infusnya.


"Jangan pernah melakukan itu,Abel!! sekarang kembali ke ranjang mu!"perintah Gion tegas sambil memegang kedua bahu Abel.


"Saya bilang jangan menyentuh saya!!"bentak Abel kemudian mengambil buah yang ada di meja dan melemparnya ke arah Gion.


"Kenapa bapak membawa saya kemari?!!!saya ingin pulang!!"teriak Abel yang masih melempari Gion.


Gion menyambar tangan Abel kemudian memaksa Abel untuk berbaring ke kasurnya.


"Lepaskan saya!!"teriak Abel sambil meronta ronta,dia bahkan melupakan rasa sakit di tangannya.


Leon mulai kewalahan mengatasi Abel yang terus meronta sehingga membuat tangannya yang terinfus semakin banyak mengeluarkan darah.


"Saya tidak mau disini,Lepaskan saya!!,tolonggg!!"teriak Abel.


Leon mengambil sebuah suntik di laci meja dan mengarahkannya ke lengan Abel,perlahan penglihatan Abel menghilang dan akhirnya Abel tak sadarkan diri.

__ADS_1


Gion menatap Abel yang sudah jatuh pingsan karna pengarus suntikan yang ia berikan barusan.


"Maafkan aku,tapi aku tidak suka saat kamu menolakku dan luka mu semakin parah karna terus meronta"ucap Gion pada Abel.


.


.


.


"Sia*lan!!"umpat Leon.


"Sekarang bawa anak buah ke sana!!,kita akan kesan sekarang"perintah Leon dengan tersulut Emosi pada Hans.


"Baik,Tuan"jawab Hans kemudian pergi.


"Kamu sudah berani membawa kelinci manisku pergi,maka bersiaplah untuk ajalmu"gumam Leon dengan tersenyum smirk.


Leon,Hans dan juga beberapa Anak buah Leon sudah bergerak menuju tempat kediam Gion dan Abel berada,Leon begitu murka sekarang,dia akan menghabisi Gion saat di hadapan nya nanti.


.


.


.


"Anak buah Tuan Leon dan juga Tuan Leon sedang dalam perjalan kemari,Tuan"jelas bawahan kepercayaan Gion.


"Sia*lan si Leon"umpat Gion.


"Segera siapkan mobil,kita akan pergi sekarang"perintah Gion dan bawahannya mengangguk mengerti.


Setelah Gion tadi membius Abel,Gion segera memanggil dokter untuk mengobati luka ditangan Abel.


Gion berjalan kearah Abel yang sedang terbaring tak sadarkan diri karna masih dalam pengaruh obat bius.


"Sayang,kita harus pergi sekarang,si breng*sek itu akan datang kemari untuk membawamu pergi,aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"ucap Gion pada Abel sembari menggenggam tangan Abel.


.


.


.


Mobil yang di kendarai Leon sudah berada di halaman Monsion milik Gion,Leon mengeluarkan senapannya dan menembak jendela kaca monsion itu.


"Breng*sek!keluar kamu!!"panggil Leon marah sembari mendobrak pintu utama.


Hans dan juga para anak buahnya yang lain ikut masuk kedalam dan memeriksa seluruh ruangan.


"Keluarlah!!dasar pecundang!dimana kamu kamu menyembunyikan Wanitaku?"teriak Leon menggema di seluruh ruangan.


Hans datang menghampiri Leon dengan terburu buru.


"Tuan,sepertinya mereka semua sudah pergi dari sini saat kita dalam perjalanan"jelas Hans.


"Shitt!!baji*ngan kau Gion!!"umpat Leon.


"Cepat cari keberadaan mereka!"perintah Leon tegas dan segera kembali ke mobilnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2