Obsesi Sang CEO

Obsesi Sang CEO
Episode-82


__ADS_3

George membalas pelukan Abel dengan baik dan mengelus punggung gadis kecil dipelukannya itu dengan perasaan senang, sekarang dia memiliki anak perempuan.


"Aku tidak tau apa yang terjadi denganku, aku sebelumnya tidak mudah percaya dengan siapapun, tapi dengan dirimu aku sangat percaya, hingga perkataan tadi lolos dari mulutku dan hatiku mendukungnya"batin George.


Abel melepas pelukannya dan kembali duduk di aofa tempat dia duduk sebelumnya, ada rasa lega dan senang di hatinya sekarang ini.


"Aku tidak tau, entah aku terlalu senang mengetahui jika sekarang Ayah Pak singa mengaggapku anak atau yang lainnya..."batin Abel.


"Kalian berpelukan tanpa mengajakku dan bahkan melupakanku"ucap Leon memecahkan suasana haru itu.


"Untuk apa kamu diajak? kamu hanya menggaggu"ucap George mengejek.


Garis sudut bibir Abel kembali terangkat setelah mendengar dan melihat perdebatan antara Ayah dan Anak itu yang tiada hentinya.


"Keluarga yang hangat..."batin Abel.


"Daddy selalu mengejekku"ujar Leon kesal dan wajahnya kembali datar.


"Sudahlah Pak singa, Ayah mu hanya bercanda"ucap Abel menenangkan Leon sembari memegang bahu kokoh milik Leon.


Leon yang tadi berekpresi datar kembali menghangat setelah mendapatkan perlakuan itu dari Abel, senyum yang sempat hilang tadi kembali muncul dengan indah di wajahnya yang tampan.


"Iya aku tau, terima kasih"ucap Leon lembut.


George yang melihat adegan itu merasa sebagai barang mati saja, jiwa usil mengganggu sang anak nya kembali muncul di otak nya itu.


"Ekhem...!"George berdehem dan membuat kedua sejoli mengalihkan pandangannya ke arah suara.


"Abel, kemari..."panggil George pada Abel sembari menepuk sofa di sampingnya.


Leon yang melihat itu sedikit mengerutkan keningnya, sepertinya Daddy nya ini ingin mengganggu nya lagi, fikir Leon.


"Disini saja Dadd"ucap Leon sambil memegang erat tangan Abel yang berada di sebelahnya.


"Apa apaan kamu ini? aku tidak berbicara padamu"ucap George dengan ekspresi sinis.


"Ayolah Pak singa, Daddy mu memanggil ku"jelas Abel membujuk Leon.


"Aku hanya memanggil untuk duduk disini, bukan untuk ku bawa ke luar negeri"ujar George.


Leon menghela nafas berat dan panjang kemudian menatap wajah sang Daddy yang sedang tersenyum misteri dari wajahnya itu.

__ADS_1


"Aku tau kamu mengerjaiku Dadd"batin Leon.


"Pergilah"ucap Leon membiarkan Abel pergi.


Abel tersenyum kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan kearah George dan duduk pelan di dekatnya.


"I...iya Dadd?"tanya Abel sedikit canggung dengan panggilan barunya.


"Aku ingin mengatakan padamu sesuatu"ujar George sembari melirik Leon yang berada di sofa seberang sana.


"Jangan menatap ku seperti itu Dadd, aku mulai kesal sekarang"ucap Leon dengan nada kesal.


"Pergilah jika tidak ingin ku lihat"ucap George tak mau kalah.


"Tapi ini kediamanku"ucap Leon.


"Tidak perduli"ucap George santai.


Abel yang bingung harus apa hanya bisa diam menyaksikan pertengkarang dua manusia ini, tanpa niat untuk melerai ataupun ikut ikutan. Karna Abel berfikir, dia hanya orang baru diantara kedua manusia itu yang belum ia kenal lebih jauh.


"Sangat puas melihat Pak singa di marahi"batin Abel.


"Nak, jangan kamu hiraukan orang itu, mari kita berbicara hangat berdua"ucap George.


"Apa kamu masih sekolah atau sudah lulus?"tanya George lembut.


Sebelum menjawab, Abel melirik sekilas ekspresi Leon di seberang sana yang sudah seperti singa kelaparan, bahkan sekarang wajahnya kembali mendatar dari sebelumnya.


"Tahan tawa mu Bell, kamu tidak mungkin menertawakannya sekarang, nanti saja"batin Abel.


"Saya masih sekolah, dan tidak lama lagi akan lulus"jawab Abel sopan.


George mengganguk pelan tanda mengerti, kemudian melirik Leon di seberang sana dengan wajah mengejek. Abel yang melihat ekspresi George sedikit kagum, lantaran ekpresi itu sama sekali mirip dengan Leon.


"Benar benar pinang di belah dua, ini adalah alasan kenapa Pak singa memiliki sifat menyebalkan dan arogan, pasti di dapat dari Daddy nya"batin Abel.


Leon yang sadar dilirik oleh Daddy nya hanya membuang muka ke arah samping dan pura pura mengabaikannya.


"Ekhem! Nak Abel, apa kamu menyukai pria tua di seberang sana?"tanya George sedikit meninggikan volume suaranya agar Leon dapat dengan jelas mendengarnya.


"Aku menunggu wajah penasaran itu..."batin George menelisik wajah Leon.

__ADS_1


Leon yang mendengar pertanyaan dari Daddy nya pada Abel dengan spontan memutar kepalanya memandang kedua manusia yang berada di seberang sofa.


"Yah, akhirnya Daddy menanyakan ini, walaupun Abel mengatakan 'tidak', aku tidak peduli, aku akan tetap menikahinya"batin Leon.


Sedangkan Abel yang mendapat pertanyaan itu, seketika merasa sedikit malu dan canggung. Harus kah ia jujur jika ia memang sudah mencintai Leon?


"Apa aku harus jujur dan katakan sekarang? tapi rasanya sedikit canggung dan malu untuk ku"batin Abel.


Kedua pria beda umur itu sama sama menatap Abel untuk mendengar jawaban yang keluar dari bibir nya.


Tampak Leon sangat gelisah, dia terus memandangi wajah Abel tanpa lepas sedikit pun.


"Ayo katakan 'ya'"batin Leon berharap.


"Bagaimana nak? apa kamu menyukainya atau tidak? jika tidak maka tidak apa apa, aku masih punya kenalan anak pengusaha yang lebih tampan darinya"ucap George memanas manasi Leon. Dan benar saja tampak guratan kesal di raut wajah Leon mendengarkan ucapan sang Daddy.


"Apa yang Daddy katakan? Abek milikku, dan Daddy tidak boleh mengenalkannya pada siapapun"ucap Leon tegas.


"Milikmu milikmu seenaknya, memangnya dia barang? dasar tua!"ucap George sinis. Leon menatap Daddy nya tajam, dia benar benar frustasi menghadapi Daddy nya ini yang adalah cerminan dirinya itu.


"Sudah sudah, jangan bertengkar terus, kalian itu Anak dan Ayah"ucap Abel memberhentikan suasana riuh tadi.


George dan Leon secara spontan menatap Abel yang sedikit pusing dengan keributan yang mereka buat tadi secara terus menerus.


"Maaf, tapi bisakah jangan bertengkar? ada banyak hal yang bisa dilakukan selain bertengkar. Catur misalnya?"jelas Abel pelan dengan wajah polos yang tampak imut dilihat mata.


"Kamu benar, Daddy saja yang selalu memancing"ucap Leon.


"Memang kamu pantas di ejek"ucap George tak mau kalah.


"Tolong berhenti!!"teriak Abel yang langsung membuat keduanya berhenti berdebat.


"Jika seperti ini terus, lebih baik aku pulang kerumah saja yah, aku lebih suka mendengar keributan kota daripada keributan ini"jelas Abel sembari menunduk.


"Apa yang kamu katakan nak? kita tidak bertengkar, kita hanya memperlihatkan kasih sayang kami, benar begitu Leon?"tanya George sembari tersenyum misteri. Leon yang sudah paham dengan kode itu hanya ikut tersenyum dan mengiyakannya.


"Benar yang dikatakan Daddy, itu adalah cara kami menunjukkan kasih sayang kami sebagai seorang pria"ujar Leon.


Abel mengangkat kepala dan menatap wajah kedua manusia itu, lalu mempercayainya begitu saja.


"Benarkah? aku baru tau, maafkan aku yang membuat keributan tadi"ucap Abel sedikit menundukkan kepala.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2