
Sepulang dari butik Bunda Hesti, Vrish melajukan kendaraannya menuju mansion keluarga istrinya. Sebelum sampai rumah, Vrish membelokkan mobilnya ke sebuah kios bunga untuk membelikan sebuket bunga rose berwarna merah. Karena Vio sangat menyukai bunga.
Setelah beberapa menit perjalanan, Vrish telah sampai mansion. Kedua mertuwanya sedang berada di mansion bagian belakang di taman bermain yang saat itu sedang ada Farel beserta keluarganya berkumpul. Mereka tampak bahagia.
"Assalamu'alaikum!" sahut Vrish ketika pintu utama dibuka oleh Bi Ani.
"Wa'alaikumsalam, Tuan muda!" jawab Bi Ani.
"Bi, apakah nona..emm Vio..emm..." Vrish masih tampak malu untuk menyebutkan nama Vio dengan sebutan istri. Dia terlihat salah tingkah.
"Maaf, tuan muda. Istri anda sedang tidak ada di mansion. Apakah, nona muda tidak mengatakannya pada anda?" ucap Bi Ani membantu maksud dari tuan muda barunya.
"Tidak di mansion? Sejak kapan, Bi?" tanya Vrish heran karena sudah menjadi istrinya saja kenapa Vio tidak memberi tahunya?
'Jadi kau bermain kucing-kucingan lagi..istriku?' sebelah tangannya mengepal kuat tampak amarah diwajahnya.
"Silahkan masuk, Tuan muda. Di dalam ada tuan dan nyonya juga keluarga Tuan Farel" ucap Bi Ani yang mengetahui amarah suami nona mudanya.
'Aduh nona muda, kenapa kau cari masalah dengannya? Kenapa juga harus bilang seperti tadi?' batin Bi Ani dilema.
"Silahkan duduk, Tuan muda" segera Bi Ani memanggil tuan dan nyonyanya yang sedang asyik bermain dengan Raka putra Farel dan Siska.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Ada tuan muda" ucap Bi Ani pada majikannya.
"Baiklah. Ayo mi kita keluar dulu. Farel, Siska kami keluar dulu atau kalian mau ikut keluar? Ada Vrish di depan. Cucu Opa, Opa ke depan dulu ya ada tamu, Raka bermain di sini dulu sama Paman Monti ya" ucap Tuan Atmadja pada Farel juga Raka.
"Baik Opa! Yeeee..Ayo paman kita bermain" seru Raka senang mengajak Monti. Apalagi jika bersama Monti dia akan diajari bela diri.
"Baiklah pi. Kami ikut papi sama mami" senyum Farel pada orang tua angkatnya. Lalu mereka berempat berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Vrish menantu mereka.
"Assalamu'alaikum. Nak, apa kabar? Kenapa kamu merasa sungkan? Kamu menantu di sini jadi kamu adalah putra kami juga. Apakah kamu mencari istrimu?" ucap tuan Atmadja pada menantunya sambil mempersilahkan duduk kembali.
"Iya, pi. Ini untuk Vio. Dan ini ada sedikit buah-buahan buat kalian" jawab Vrish kemudian menyerahkan sebuket bunga juga kado untuk istrinya juga buah-buahan untu keluarga istrinya.
"Maaf pi lalu dimana istriku?" tanya Vrish membuat kedua orang tua itu bingung.
"Loh apa Vio tidak memberitahumu kalo dia sudah dua hari berada di vilanya?" tanya balik papi mertuwanya yang mengernyitkan keningnya.
"Dia sempat memberitahuku lewat pesan kemarin..." tiba-tiba dia teringat kejadian kemarin saat dia sedang mandi, tiba-tiba teleponnya berdering namun Vrish belum sempat mengangkatnya lalu ada pesan masuk, pesan itu dari rubah kecilnya. Kala itu dia baru sempat membaca pesan yang berbunyi "Assalamu'alaikum Vrish, maaf aku ijin ya aku tidak menginap di mansion tapi...." belum sepenuhnya dia baca tapi ponselnya sudah terjatuh ke dalam bathup dan rusak. Seketika Vrish minta tolong Jefery untuk memperbaikinya. Namun sayang pesan itu telah hilang.
"Boleh aku minta alamat vilanya?" tanya Vrish pada mertuanya. Setelah mendapatkannya, Vrish segera melajukan kendaraannya ke vila istrinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Vrish telah sampai ke sebuah vila yang sangat luas. Vila megah bak istana. Tampak Martin membuka pintu dan mengobrol dengan penjaga vila. Tak lama sesudahnya, penjaga vila membuka pintu gerbang yang tinggi itu. Mobil berjalan pelan melewati pintu gerbang. Setelah melewati taman bunga yang berjajar rapi dan indah bagaikan menyambut kedatangan para tamu itu, kendaraan Vrish telah sampai ke halaman depan vila. Martin segera memarkirkan kendaraannya. Dengan gerakan cepat, Vrish melonjak turun dan membunyikan bel pintu. Martin yang menyusul itu menyegarkan matanya dengan berdecak kagum pemandangan vila.
'Vila yang sangat indah. Siapapun yang datang ke sini pasti tidak mau pulang' batin Martin yang melihat ke sekeliling vila dengan kagum.
Sesaat kemudian terlihat seorang ART paruh baya keluar membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum. Tuan Muda Pramudya..." belum selesai menyapa tuan mudanya, Bi Hawa disuruh diam oleh Vrish dengan isyarat telunjuk tangannya di depan bibirnya.
"Ssttt! Diamlah. Dimana istriku? Jangan katakan aku datang" pinta Vrish.
"Nona muda di kamarnya, Tuan. Mari saya antarkan" ajak Bi Hawa masuk ke dalam.
"Tidak usah diantarkan. Cukup ditunjukkan saja disebelah mana kamarnya?" tanya Vrish tidak mau diantar karena mau memberikan kejutan bagi istrinya yang nakal.
"Anda cukup naik ke lantai atas lalu berjalanlah lurus disitulah kamar nona muda, tuan" jawab Bi Hawa.
"Terimakasih" Vrish menampilkan senyum manisnya. Bi Hawa terkejut dan merasa tersanjung memiliki tuan muda yang ramah.
"Kamu tunggulah di sini atau kemanapun kau pergi tetaplah berada di sekitar vila" ucap Vrish pada Martin.
"Hmm katakan saja jika tak mau diganggu" gumam Martin yang mendapat pelototan Vrish. Lalu Vrish berjalan naik ke atas menuju kamar Vio sesuai yang diarahkan Bi Hawa. Sedangkan Martin ikut bersama Bi Hawa.
"Tuan, mari ikut saya saja. Di taman belakang ada suguhan lezat. Mari Tuan" ajak Bi Hawa ramah.
"Suguhan apa, Bi? Benarkah lezat?" tanya Martin sambil berjalan mengikuti langkah kaki Bi Hawa.
'Siapa wanita yang ada dalam ayunan itu?' batinnya mengamati gerakan ayunan yang bergoyang kesana kemari dengan diikuti gerakan rambut panjang yang tergerai indah membelakanginya.
'Indah sekali' takjubnya membatin. Setelah langkahnya sampai di dekat ayunan itu terlihat seorang wanita tiduran dengan buku menutup wajahnya.
'Siapa bidadari ini?' batinnya lagi merasa terpesona.
"Tuan, kemarilah. Silahkan duduk. Sambil menikmati pemandangan laut dari sini, saya akan menyiapkan camilan buat anda. Permisi" Bi Hawa melenggang meninggalkan Martin sendiri.
"Bibi, kenapa berisik sekali? Aku masih ngantuk Bi" tiba-tiba terdengar suara merdu dari ayunan itu. Seorang perempuan cantik terbangun dari tidur siang bolongnya. Dengan rambut acak-acakan bak rumbai singa itu menengok ke sana kemari lalu melemparkan bukunya.
Brukk
"Aduhh. Hei kau jangan sembarangan membuang bukumu!" seru Martin kesal mengagetkan Tiwi yang sedang mengucek matanya.
"Aaaaa. Si..siapa kau!" Tiwi yang kaget itu melonjak turun dari ayunan gantung itu. Berjalan ke arah Martin lalu menunjuknya dan marah kesal karena mengagetkannya.
"Hmmm siapa kau? Berani-beraninya kau masuk wilayah sini. Mau ku hajar kau?!" Tiwi mengelilingi Martin dan menatapnya dari bawah sampai atas hingga ke bawah lagi lalu ingin menghajarnya.
__ADS_1
Beruntung Bi Hawa datang tepat waktu.
"Hei kau singa betina! Aku kesini bersama tuanku. Enak saja kau mengusirku. Bukannya meminta maaf malah seenaknya mau mengusirku" seru Martin tak kalah kesalnya. Kepalanya sudah kena lemparan buku tebalnya hingga sakit.
"Tiwi! Bersikaplah sopan. Tuan Martin adalah sahabat tuan muda Pramudya suami nona muda kita. Jadi bersikaplah sopan" tegur Bi Hawa menggelengkan kepalanya lalu menaruh camilan lezat di meja samping Martin duduk.
"Silahkan tuan. Maafkan keponakan saya, Tiwi" Bi Hawa merasa tidak enak karena sikap Tiwi keponakannya.
"Terimakasih Bi. Tidak apa-apa" akhirnya Martin mengalah.
"Minta maaflah pada Tuan Martin, Tiwi" tegur Bi Hawa lagi.
"Baiklah baiklah, bi. Tuan saya minta maaf. Saya tidak tahu jika tuan adalah sahabat tuan muda. Tolong maafkan saya ya tuan" ucap Tiwi yang berpura-pura menampilkan wajah memelasnya.
"Kali ini aku akan maafkan dengan syarat....kau temani aku jalan-jalan keliling vila setelah aku menyantap camilan ini. Hmmm sungguh lezat, bi. Bolehkah aku nambah lagi, bi?" ucap Martin memjilati jari-jari tangannya yang dilihat Tiwi sangat menjijikkan.
"Kau sungguh jorok" ucap Tiwi melengos.
"Tiwi!" panggil Bi Hawa mengingatkan sikapnya.
"Maafkan Tiwi, Tuan!" ucap Bi Hawa merasa sungkan atas sikap keponakannya yang ceplas ceplos itu.
"Sebagai hukumannya, bolehkah saya minta diajak berkeliling vila, bi?" ucap Martin pada Bi Hawa meminta persetujuannya tanpa menoleh bi Hawa dan masih menatap tajam Tiwi. Tiwi yang mendapatkan tatapan tajam itu menjadi salah tingkah.
"Silahkan tuan!" lalu Bi Hawa segera meninggalkan tempat itu.
"Ayo antarkan aku" tarik Martin tangan Tiwi yang membuat Tiwi kaget dan entah kenapa jantungnya berdebar tak karuan tangannya disentuh oleh tuan arogan itu.
Ilustrasi gambar Tiwi
...****************...
Nah kira-kira ada yang tahu ga ya apa yang akan dilakukan oleh Vrish di kamar Vio?🤔
Hayo ga boleh suudzon loh😅
Suudzon boleh kok kan sudah sah😄
...****************...
...Yuuk readers ikuti terus dan jangan lupa dukung kasih jempol cantiknya like dan coment👍✍...
__ADS_1
...Ditunggu yahh👌😉...
...Terimakasih🥰😘...