Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 73 Ziarah ke makam Rena


__ADS_3

Tok tok tok


Bi Ani mengetuk pintu kamar nona mudanya.


“Ya, Bi?” tanya Vio saat membuka pintu kamarnya.


“Pesanan, Nona Muda dari Non Ranti, Nona” jawab Bi Ani.


“Terimakasih, Bi. Aku sudah kangen banget sama makanan ini. tolong Bi Ani panggilkan Re ya” pintanya lalu menerima bungkusan nasi itu dan menuju ke dapur untuk menyiapkannya.


Kemudian Bia Ani melangkah meninggalkan kamar nona mudanya dan memanggil tuan kecilnya yang sedang bermain bersama omanya di halaman belakang yang sengaja dibuat untuk taman bermain buat Re.


“Maaf, Nyonya. Nona Muda memanggil tuan kecil untuk makan siang, Nyonya” ucap Bi Ani yang sudah sampai di halaman belakang.


“Re! Re dipanggil sama mami. Re makan dulu ya, habis ini kita akan mengunjungi mama Re” panggil Oma.


“Baik, Oma. Kalau begitu Re akan makan yang banyak” jawab Re bersemangat lalu berlari ke dapur.


Tak berselang lama, muncul Re dan Oma serta Bi Ani dari halaman belakang.


“Mami!” teriak Re.


“Eits anak mami cayang! Gemess deh mami. Ayo segera cuci tanganmu lalu makan bersama” ucap Vio gemas mencubit pipi putranya.


“Siap, mamiku sayang!” lalu Re berlalu ke wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah selesai mencuci kedua tangannya dia segera menuju ke meja makan.


“Wah sepertinya makanan ini sangat enak, Mi” ucap Re yang tergiur dengan makanan pesanan Vio.


“Tentu saja. Kau pasti akan suka. Ayo makan. Tidak bicara lagi” ucap Vio kemudian mengambilkan makanan untuk putranya itu. Mami, Vio serta Re menikmati makanannya dengan lahap.


“Benar, mami. Aku sangat menyukainya. Sungguh makanan di sana sangat membosankan. Untunglah ada mami yang pandai memasak untukku. Juga onty. Masakannya juga tak kalah lezatnya” Re berbicara sambil menjilati jari-jarinya. Dia makan menggunakan tangan seperti Vio juga mami. Mami dan Vio tersenyum melihat kelakuan putranya itu.


“Aku sudah selesai, Mami, Oma” lalu bangkit dan mencuci tangannya.

__ADS_1


Setelah acara makan siang, kemudian mereka bersiap untuk berziarah ke makam Rena, ibunya Rena juga orang-orang yang dicintai Rena. Tak terasa mobil mereka sampai di pemakaman yang tertata rapi. Mereka berjalan menyusuri makam, dan sampailah di sebuah gundukan bertuliskan nama Rena Brawijaya. Tampak di makam Rena seseorang menunduk seperti menangis tergugu. Ya dia adalah ayahnya Rena.


“Tuan Brawijaya” sapa Nyonya Atmadja. Dan yang disapanya menoleh ke sumber suara. Kemudian bangkit dan mengusap air matanya lalu tersenyum dan mendekati mereka.


“Nyonya Atmadja! Bagaimana kabar anda?” tanya tuan Brawijaya.


“Alhamdulillah baik, Tuan. Tuan sendiri bagaimana kabarnya?” balas nyonya Atmadja.


“Saya baik, nyonya. Selamat datang, Nona. Maaf tidak bisa menyambut kepulangan kalian. Karena saya tidak tahu pasti kepulangan kalian. Re, cucu kakek. Apa kabar sayang?” ucap tuan Brawijaya pada Vio dan beralih pada Re.


“Tidak apa-apa, Tuan. Lain kali jangan membebani Rena dengan air matamu itu. Kasihan dia. Bukankah tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal?” jawab Vio lalu melangkah ke gundukan di depannya itu. Ucapan itu dibalas anggukan dan senyuman oleh tuan Brawijaya. Kemudian berjalan menghampiri Re kecil.


“Re baik, kek. Kakek sendiri bagaimana kabarnya?”


“Kakek baik. Berdoalah untuk mamamu” ucap Tuan Brawijaya.


“Tentu. Bahkan setiap hari Re selalu berdoa untuk mama papa juga nenek. Bahkan untuk semuanya. Baiklah Re mau bertemu mama dulu, Kek” lalu Re berlari menuju ke gundukan Rena. Tuan Brawijaya undur diri.


“Ren, lihatlah putra kecilmu ini. Dia tampan bukan? Dan sekarang bahkan wajahnya jadi mirip denganku. Bukan denganmu. Hehe..Ren, aku kangen banget sama kamu. Semoga kamu mendapat tempat terbaik tempat yang indah ya” kemudian Vio berdoa untuk Rena sahabat tersayangnya itu lalu berjalan ke gundukan disebelah makam Rena, ibunya Rena lalu makam Haris dan Rio. Vio, Re juga mami menaburkan bunga lalu berpamitan pada makam Rena. Setelah dari makam, mereka bertiga langsung pulang. Tidak baik habis ziarah langsung mampir kemana gitu kan gaesss.


“Onty!” Re yang melihat Ranti langsung berlari menghampirinya. Dirinya merasa rindu dengan ontynya.


“Hai! Pangeran kecilku! Bagaimana setelah melihat mama papa juga nenek? Apakah senang?” tanya Ranti.


“Tentu saja, onty. Tapi Re mau bersih-bersih dulu ya. Onty tunggu disini dulu. Jangan kemana-mana!” seru Re sambil berlari menaiki tangga.


“Hati-hati sayang. Jangan berlari!” teriak Ranti.


Vio hanya tersenyum melihat tingkah bocil itu.


“Nyonya besar” sapa Ranti yang diangguki dan senyum merekah Nyonya Atmadja. Kemudian Nyonya Atmadja pergi berjalan menyusul Re.


“Lanjutkan. Mami akan menyusul Re”

__ADS_1


“Ada apa sudah sore baru ke sini?” tanya Vio.


“Maaf, nona. Tadi di café aku dicekal oleh tuan muda Pramudya. Dia menanyakanmu” ucap Ranti ragu-ragu. Namun pasti. Karena bagaimanapun juga nona mudanya harus tahu.


“Besok kita pindah ke vila. Kamu pindah ikut kami. Re pasti senang disana” kata-kata Vio itu didengar oleh Re yang baru turun.


“Pindah kemana, Mi? Bukankah disini sangat nyaman? Kenapa kita pindah, Mi? Re suka disini. Disini ada oma sama opa!” seru Re memberenggut lalu pergi kepangkuan Ranti.


“Sayang, Re pasti suka di sana. Disana juga ad ataman bermainnya. Dan kamu suka dengan pantai bukan? Di sana ada pantai yang sangat indah” bujuk Vio.


“Benarkah itu, Mi?”


Pertanyaan itu diangguki Vio dengan senyuman lebar.


“Nanti kapan-kapan, Re juga bisa berkunjung ke sini lagi. Hm” ucap Ranti.


“Apa Re nanti disana juga akan sekolah? Re tidak mau sekolah, Mi. Re bosan pelajaran anak-anak kecil itu” kata-kata Re itu membuat tertawa Ranti dan Vio.


“Kamu juga anak kecil. Kenapa bosan?” ucap Vio tertawa.


“Re itu sudah bisa semua pelajaran itu. Re bosan” Re merengut.


“Nanti onty carikan sekolah axcelerasi ya. Re bisa langsung sekolah di tingkat yang tinggi” ucap Ranti yang dipelototi Vio.


“Benarkah itu, onty?” Re kegirangan mendengarkan itu.


“Dengar, onty. Hanya kau yang membelaku. Sedangkan mami selalu ingin aku belajar di tempat anak-anak kecil yang membosankan itu. padahal aku tidak menyukainya” bisik Re di telingan Ranti yang masih kedengeran oleh Vio.


“Hei kau itu baru lima tahun. Tidak baik bergaul dengan anak-anak diusia yang jauh berbeda denganmu. Pokoknya mami yang akan mencarikanmu sekolah” lalu Vio beranjak naik kelantai atas untuk membersihkan dirinya.


Terdengar Ranti dan Re tertawa terbahak-bahak karena kemarahan Vio. Setelah sampai di dalam kamarnya, tubuh Vio luruh ke lantai mengingat ucapan Ranti tentang Vrish yang mencarinya.


“Kemana aku harus menghindarinya? Cepat atau lambat dia pasti akan menemukanku” berbeda di dalam hatinya, dia sangat bahagia ketika mendengar kata-kata Ranti tadi. Ternyata tuan muda Pramudya masih mengingatnya.

__ADS_1


Teringat akan identitas tuan muda Pramudya, dia bangkit dan pergi menuju meja TV untuk meraih leptopnya. Jari-jari lentiknya mengetik keyboard untuk mencari berita tentang Vrish. Namun alangkah lunglainya, dia menemukan bahwa Vrish sudah bertunangan. Namun ada berita yang mengatakan bahwa itu hanya gimmick. Vio menjadi bingung. Karena tidak mau berlarut, maka dia segera ke kamar mandi setelah menutup leptopnya. Dia harus bersiap untuk pindah. Dia juga sudah memberi tahu semuanya pada maminya juga papinya tentang Vrish. Bahkan jika dia pulang dia sudah mengatakan pada mami papinya bahwa dia akan tinggal di vilanya sendiri. Karena dia merasa lebih aman. Beruntunglah papi langsung mendekorasi vilanya dengan sebuah taman bermain yang indah untuk putranya itu jika sewaktu-waktu dia pulang. Sebuah taman yang sangat luas sehingga tidak akan membuat bosan Re jika dia tinggal disana.


__ADS_2