
Mobil yang dikendarai Vrish dan Nyonya Atmadja berjalan beriringan seperti konvoi. Setelah beberapa menit perjalanan dari pengadilan, akhirnya mereka tiba di sebuah gedung perkantoran yang banyak didatangi para warga untuk menyatukan cinta mereka, KUA. Mobil mereka berbelok masuk melalui pintu gerbang kantor KUA. Gedung yang memiliki bangunan tidak begitu luas namun memiliki halaman yang cukup luas untuk parkir banyak kendaraan.
"KUA? Ngapain kita kesini?" tanya Vio polos.
"Nanti kamu akan tahu sendiri" jawab Vrish santai dengan senyum tipisnya yang tampan.
"Mi, ini kan KUA. Kita kesini ada apa, Mi?" tanya Ranti pada nyonya Atmadja.
"Biasanya kalo kita datang kemari apa yang akan dilakukan tentunya kamu juga paham bukan?" Nyonya Atmadja justru balik bertanya.
Kemudian terlihat Vio dan Vrish keluar dari mobil. Lalu diikuti mami dan Ranti. Tak cukup sampai disitu keheranan Ranti, diapun setelah turun bertanya lagi sama nyonya Atmadja.
"Loh itu sepertinya mobil Tuan besar, mi? Dan juga ada bodyguard tuan besar Pramudya? Loh Tuan Farel dan Nona Siska juga datang?".
"Sudahlah ayo kita masuk" ajak nyonya Atmadja.
"Mami! Vio kenapa diajak kesini? Papi dan kak Farel juga ada disini. Siapa yang mau menikah Mi?" tanya Vio setelah mendapati maminya berjalan ke arahnya.
"Ayo masuk!" gandeng maminya Vio menarik tangan Vio. Vrish yang sudah berjalan terlebih dahulu menemui papanya juga Tuan Besar Atmadja serta teman-temannya.
"Assalamu'alaikum, pa.." sapa Vrish menyalami papanya dan bermaksud menyalami tuan besar Atmadja serta lainnya namun disela ayah mertuanya.
"Papi. Panggil aku papi mulai saat ini!" ujar tuan Atmadja lalu menyambut calon menantunya dengan pelukan.
"Dan mami! Aku tidak mau dipanggil tante!" sahut nyonya Atmadja disertai gelak tawa semua orang yang hadir di sana. Hal ini membuat wajah Vio merona bersemu merah.
Vrish menjabat tangannya pada beberapa keluarga serta rekannya yang hadir di sana. Kemudian setelah keluarga besar mengantrikan untuknya, kini nomornya dipanggil petugas KUA untuk segera masuk. Awalnya, Vrish ingin hari ini KUA khusus untuk melayani pernikahan dirinya dan Vio saja namun Vio pernah berkata padanya bahwa dia ingin menikah sederhana seperti orang-orang pada umumnya. Di KUA merasakan menjadi warga biasa tidak menggunakan kekuasaan kedua orang tuanya. Vio ingin Vrish lah yang mengurusi semuanya sendiri. Tidak boleh meminta para suruhannya untuk membantunya. Dan itu sudah Vrish lakukan hari ini. Namun untuk menunggu antrian sebenarnya nomor antriannya sudah dipanggil dari tadi pagi namun Vrish meminta waktu selesai persidangan pada pihak KUA untuk diantrian terakhir saja. Jadilah keluarga besar menunggui nomor antrian di sesi terakhirnya itu. Semua berkumpul di sana. Papanya, kedua orang tua Vio, para sahabat dan asisten pribadinya yang ditugaskan untuk mengawasinya dari luar KUA juga Farel beserta istrinya tak lupa Re kecil.
"Tolong titip putri kecil kami juga cucu kesayangan kami Re. Meskipun dia tidak lahir dari rahimnya putri kami, tapi dia adalah anak dari putri kami Violetta Anjani. Jadi kami mohon sayangilah mereka seperti kau menyayangi dirimu sendiri. Jika kau sudah tak sanggup menjadikan putri kecil kami seorang istri yang berbakti padamu dan menjaga serta merawat cucu kami, maka kembalikanlah mereka kepada kami dengan utuh tanpa ada kecacatan sedikitpun. Kini kami serahkan tanggungjawab putri kami dan cucu kami padamu untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamamu" pinta Tuan Atmadja pada Vrish setelah duduk menunggu pak penghulu datang.
"Insyaa Allah Pi. Vrish akan menjaga dan menjadi suami yang bertanggungjawab atas Vio dan Re serta Vrish akan menyayangi mereka melebihi diri Vrish sendiri. Karena rasa cinta Vrish lebih dari rasa cinta yang dimiliki putri anda. Vrish menikahinya karena Vrish sangat mencintainya dan ingin menjadikannya bidadari duniaku dan akhiratku" jawab Vrish hormat pada ayah mertuanya. Lalu mereka berpelukan. Kemudian pak penghulu datang untuk segera memulai acaranya.
"Maafkan saya tuan dan nona. Karena saya sholat ashar dulu. Baiklah kita akan mulai saja ya" ucap pak penghulu diangguki semua yang hadir di situ.
"Wah sepertinya pengantin wanitanya tampak malu sekali ini. Sampai menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona" goda pak penghulu yang disertai gelak tawa semuanya.
"Baiklah. Apakah anda siap tuan Vrish Abdillah?" tanya tegas pak penghulu pada Vrish.
"Insyaallah siap!" jawab Vrish lantang. Hal itu menjadi bahan lelucon papanya Vrish dan sahabatnya yang mendengar jawaban Vrish. Baru kali ini dilihat oleh tuan Besar Pramudya juga Martin dan Jefrey bahwa Vrish tampak sangat antusias.
"Wah lantang sekali ya jawabannya. Berarti sudah siap segalanya ini ya nona Vio?" pertanyaan pak penghulu itu membuat malu dan salah tingkah Vio yang duduk di sebelah Vrish.
"Bagaimana, Violetta Anjani Atmadja, apakah kau siap untuk dipersunting Vrish Abdillah Adijaya Pramudya termasuk menghadapi godaan besar dari para perayu wanita dengan ketampanannya?" tanya pak penghulu meledek Vio. Hal ini sontak membuat Vio melirik Vrish yang ternyata juga sedang menatapnya tak berkedip menunggu jawaban Vio tersenyum lembut itu hingga mampu membuat hati Vio meleleh.
"Siap!" jawab Vio lantang dengan masih menatap sosok pria disampingnya itu tanpa sadar.
"Ehemmm. Apakah mau saling menatap dulu atau kita lanjutkan acaranya saja?" ganggu pak penghulu membuyarkan lamunan Vio juga Vrish. Mereka berdua terkesiap seketika dan membuat semua orang tertawa lebar.
__ADS_1
"Nanti kalian akan saling menatap dan....hingga puas. Jadi sekarang biar cepat selesai ayo konsentrasi ke depan melihat pak penghulu jangan sampai nanti kamu salah sebut bro" seru Martin membuat Vrish menyikut perutnya.
"Awww! Jahat sekali kau!" rintih Martin. Albert tidak bisa datang karena perasaan yang dikhianati oleh Clara hingga membuatnya tinggal di luar negeri. Dan saat pesta pernikahan nanti baru dia bisa datang.
"Baiklah, nak. Ayo jabat tangan saya" ucap pak penghulu yang disambut tangan Vrish.
"Saya nikahkan Vrish Abdillah Adijaya Pramudya bin Pramudya dengan Violetta Anjani Atmadja binti Atmadja dengan mahar uang sebesar Rp. 23.022.032,- (yang sudah dibingkai dengan lembaran dan koin uang kuno dengan begitu indah) dibayar tunai! Sah?" ucap penghulu dan dimeriahkan dengan jawaban yang menggemakan seluruh ruangan.
"Sahhhhh!!" teriak semua yang hadir.
"Alhamdulillah" jawab Vrish lirih yang didengar Vio. Begitupun Vio mengucap hamdalah dengan menitikkan air matanya.
Lalu mereka berdoa dipimpin penghulu untuk kelanggengan pernikahan putra dan putri mereka. Setelahnya mami Vio dan papinya tidak sanggup menahan tangisannya kemudian mereka berdua memeluk putrinya yang selama ini masih bayi bagi mereka ternyata kini sudah mengakhiri masa lajangnya untuk mengarungi kehidupan berumah tangga.
"Semoga pernikahanmu langgeng dan dipenuhi keberkahan ya nak" ucap mami dan papinya Vio lalu diangguki Vio dan menengadahkan kedua tangannya lalu mengusap ke wajahnya memgaminkan doa mami dan papinya.
"Hemm. Re gak dipeluk sendiri" protes Re.
"Sini anak mami sayang. Terimakasih ya Re sudah merestui kami. Mami sangat sayanggg banget sama Re" peluk gemas Vio pada Re kecil.
"Aduh mami. Sakit nih" rintih Re. Vio tergelak menertawakan Re.
"Kau! Jangan menyakiti mamiku. Jangan membuatnya menangis" ucap Re pada Vrish.
"Tidak akan boy! Panggil aku papi. Bukan paman lagi" jawab Vrish menggendong Re.
"Selamat ya nak, kini kau tiba-tiba sudah punya anak sebesar ini" ledek tuan Pramudya pada Vrish lalu disambut pelukan hangat papanya itu lanjut ke tuan Atmadja juga nyonya Atmadja.
"Selamat ya adikku. Kau ternyata sudah besar sekarang. Sudah tidak bisa diajak bertengkar lagi ya" ucap Farel menangis memeluk Vio tanpa sadar dan Vio pun membalasnya. Ini lah pertama kalinya mereka berpelukan.
"Terimakasih kak. Kau adalah kaka terbaik yang pernah kumiliki" jawab Vio mengusap air matanya tersenyum.
"Hahaha..maaf kak, Vio gak sadar memeluk kakak. Bagaimana...Vrii..iish?" gelaknya lalu ragu menanyakannya pada Vrish yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu.
"Kenapa justru dia yang pertama kali memelukmu? Padahal yanh mengesahkan aku bukan kenapa dia yang memelukmu?" kacau Vrish mengundang gelak tawa semua orang.
"Ma...maaf" lalu Vio didorong oleh Farel ke pelukan Vrish.
Vio yang merasa malu itu sembunyi di dada bidang Vrish.
"Owwww..uwu sekali kalian" teriak sahabat-sahabatnya itu juga Siska.
"Ayo kita pulang kita harus segera merancang pestanya. Tapi kita akan makan-makan dulu di restoran kami. Bagaimana?" ajak tuan besar Pramudya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan KUA beriring-iringan. Hari ini adalah hari bahagia Vio juga Vrish. Dan sampailah mereka dalam beberapa menit di restoran milik keluarga Pramudya.
"Silahkan semuanya memesan makanan dan minuman apa saja bebas. Hari ini adalah hari bahagia kita jadi kita syukurannya di sini saja ya. Semua free. Ayo semua! Silahkan pilih menunya" seru tuan Pramudya.
"Yang benar saja, Tuan?" ledek tuan Atmadja.
__ADS_1
"Tenang saja. Ayo kita pilih menunya. Atau saya yang memilihkan menu terbaik di sini? Ayolah besan jangan sungkan. Apalagi misi kita sudah tercapai dengan sendirinya kan?" rangkul tuan Pramudya. Kemudian semuanya memilih menu yang mereka mau. Apalagi jarang-jarang mereka bisa menikmati makanan mewah di restoran mewah. Terutama bagi para sahabat Vrish dan Vio. Bisa-bisa mereka tidak makan selama sebulan. Mereka semua menikmati hidangan masing-masing dengan lahap.
"Wahh beneran ini nona muda? Aku bisa makan makanan mewah di restoran ini akhirnya" ucap Ranti tidak percaya namun sangat menikmatinya.
"Bukankah makananmu sudah habis. Kau masih tidak percaya. Kau mau lagi?" Vio melihat sahabatnya itu sangat bahagia. Dia ingin memberikan yang terbaik padanya. Jadi dia menawarkan kembali makan di restoran ini. Tapi seperti biasanya Ranti malu untuk mengungkapkannya. Vio tahu bahwa Ranti jika makan makanan enak selalu ingat dengan keluarganya. Maka Vio berbisik kepada Vrish untuk membungkuskan beberapa makanan yang sama dengan menu yang dimakan Ranti.
"Bo..bolehkah aku..aku minta sesuatu? To..tolong bungkuskan menu makanan yang sama dimakan oleh Ranti. Nanti aku bayar" bisik Vio pada Vrish.
"Baiklah. Tidak usah bayar" Vrish setelah mendapat bisikan dari istrinya itu melirik Ranti dan dapat menebak apa yang dipikiran istrinya itu. Kemudian dia bergegas pergi ke bagian dapur untuk membungkuskan semua menu yang dipesan oleh keluarganya tadi.
"Kakek, semua makanan di sini sungguh enak sekali. Pantas saja harganya mahal ya" celetuk Re pada Tuan Pramudya membuat gelak tawa semua orang dewasa.
"Apa kau memanggilku kakek?" tanya Tuan Besar Pramudya bahagia. Dia memeluk Re dengan hangat. Dia sangat menyukai Re sejak awal bertemu dari luar negeri. Awalnya dia tidak tahu jika Re itu cucunya sahabatnya itu. Dia sangat ingin memiliki cucu seperti Re yang cerdas. Namun kala itu hanya keinginannya saja. Tidak disangka setelah bertemu kembali ternyata Re adalah cucu sahabatnya. Dan bahkan sekarang dia bisa memilikinya juga.
Setelah beberapa menit mereka makan bersama, akhirnya mereka pulang.
"Eits tunggu dulu. Kau pulang bersama papa. Dan menantuku pulang bersama kedua orang tuanya" seru Tuan Besar Pramudya pada putranya.
"Tapi kami sudah menikah papa" protes Vrish.
"Kalian belum mengadakan pesta. Jadi setelah pesta nanti kalian baru boleh serumah. Bagaimana besan? Ini untuk menguji cinta mereka" ucap papanya Vrish lalu membisiki di telinga tuan Atmadja. Dan diangguki oleh sahabatnya itu yang sekarang sudah menjadi besannya.
"Ayo kamu ikut papa" papanya Vrish menarik tangan Vrish.
"Tapi paaa...." akhirnya Vrish manyun menurut. Dia menatap istrinya itu berharap meminta tolong. Namun apa daya, istrinya itu hanya menatapnya dan tersenyum saja.
'Awas kau istriku. Kau akan rasakan balasannya nanti' ucap Vrish dalam hati.
Kemudian mereka pulang satu per satu. Dan Vio pulang ikut kedua orang tuanya. Hari ini mereka akan merencanakan pesta yang akan digelar dalam
...************************...
...Jangan lupa kasih author semangat yah...
...Klik jempol terindahmu like and coment...
...Happy Reading๐๐๐...
Ilustrasi gambar pemeran Farel
Pemeran Jefery
Ingat ya semua gambar hanya ilustrasi saja ๐ค
__ADS_1