
Setelah berlari pagi, Vio yang sudah kembali ke apartemennya bergegas untuk membersihkan diri. Usai membersihkan diri, Vio sarapan dengan roti yang sudah dia oles dengan selai coklat dan segelas susu.
Drrrttt. Bunyi ponselnya bergetar menandakan panggilan dari papi.
"Assalamu'alaikum, pi" jawab Vio mengangkat panggilan papinya.
"....."
"Iya, pi. Sebentar lagi. Wassalamu'alaikum" jawab Vio dengan lesu.
"Papi gak tahu apa kalo pekerjaan disini sedang bermasalah?" gumamnya sendiri merasa kesal sama papinya. Jika papinya sudah memerintah A maka harus diikuti. Dan Vio tidak pernah bisa membantahnya dikarenakan memang Vio selalu berpikir realistis.
Ting tong ting tong. Bel pintu apartemen berbunyi. Vio bangkit dari duduknya dan bersiap membuka pintu. Sebelum membuka pintu, Vio melihat siapa yang datang dari kamera.
"Pra..Prayoga? Mau ngapain dia kesini?" gumamnya kaget melihat sosok yang tadi pagi buta sudah meracuni kedua matanya dan menusuk hatinya dari kamera disamping pintu.
"Buka pintunya! Aku tahu kamu disitu. Kalau tidak, aku akan menggedor pintu dengan keras" ancam Prayoga dari balik pintu.
Ceklek. Suara pintu dibuka oleh Vio. Vio terpaksa membukanya karena tidak mau menjadi perhatian banyak orang.
Tiba-tiba Prayoga masuk begitu saja membuat Vio spontan kaget karena tidak bisa menghalanginya dengan cepat.
"Oh. Jadi, kau orang kaya?" tanya Prayoga dengan sorot mata tajam menelisik hingga ke dalamnya bak reserse.
"A..aa..aku.." jawab Vio terbata-bata sadar karena selama ini Vio tidak pernah mengatakan identitas sebenarnya karena Prayoga memang tidak pernah menanyakannya secara detail.
__ADS_1
"Aku hanya pekerja biasa" jawab Vio sekenanya.
"Oh ya? Bukankah kawasan ini hanya diperuntukkan para pengusaha atau kaum elit?" tanya Prayoga lagi dengan tatapan yang tajam sampai ke pupil Vio yang berdiri dihadapan Vio dengan jarak beberapa centi itu.
"Ohhh atau kau simpanan pengusaha itu? Tunanganmu itu?" ucapan Prayoga itu sangat menyakiti hati Vio.
"Jika aku memang simpanan pengusaha lalu apa urusanmu? Lalu bagaimana dengan dirimu?" jawab Vio dengan berusaha setenang mungkin.
"Hahaha" tawa Prayoga yang terlihat semakin menakutkan. Tatapan mata yang menakutkan itu bagi Vio adalah hal biasa karena semenjak kejadian tadi pagi, dia mencoba untuk menutupnya.
"Kamu. Dimana dia selalu menyentuhmu? Disini? Disini? Atau disini? Hahaha" hina Prayoga dengan menunjuk bagian-bagian tubuh Vio yang mungkin menjadi jamahan pengusaha itu pikirnya. Sayangnya, semua itu ditangkis oleh Vio saat Prayoga akan menunjuk bagian-bagian tubuh Vio itu. Baginya hal itu tidak sopan dan sudah diluar batas.
Vio terlihat sangat geram. Bagaimana tidak, orang yang pernah dia cintai apa adanya itu justru menghinanya. Tangan Vio mengepal dengan erat. Dia tidak akan melupakan hinaan ini. Dia nyaris tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Prayoga.
"Apakah kau juga menyentuh wanitamu dibagian-bagian yang kau sebutkan tadi? Jadi, hatimu cepat berlabuh didermaga orang lain karena merasa aku tidak bisa kau sentuh karena hubungan kita online? Atau...kau memang sudah memiliki wanita lain ketika bersamaku? Atau justru akukah wanita lain itu? Bukankah pacaran secara online banyak yang kita tidak tahu jika saling menyembunyikannya bukan? Apalagi, jika semua itu tidak adanya kepercayaan" berbagai pertanyaan Vio balik menyerang Prayoga. Hingga membuat Prayoga pucat. Apa yang dia harapkan ternyata tidak berjalan seperti kemauannya. Dia hanya ingin wanita dihadapannya kini mengerti dan meminta maaf lalu menjelaskan setelah kedatangannya. Tapi yang dia lihat semenjak awal bahwa wanita yang dulu menjadi pacar onlinenya, kini terlihat berbeda dari yang dulu ketika masih video call an.
"Aku? Apanya yang berubah? Aku masih sama. Hanya ada sedikit luka saja dihatiku" jawab Vio. Entah kenapa saat menatap mata sendu Prayoga, hati Vio menjadi lemah. Namun, entah merasa kasihan atau masih ada ruang untuk Prayoga. Sebenarnya dia tidak suka banyak menjelaskan. Namun kali ini dia akan memancing Prayoga untuk bicara.
"Maaf" akhirnya Prayoga yang tadi menghina sekarang kembali ke Prayoga yang Vio kenal dulu. Entah karena pengaruh wanita itu atau karena hal lain sehingga membuat Prayoga menjadi egois.
"Maafkan aku. Aku sudah menyakitimu. Aku sudah menyerah dengan perjuanganku untuk hubungan kita" kata-kata Prayoga disela oleh Vio dengan suara tegas.
"Hubungan? Hubungan seperti apa yang kau maksud? Apakah hubungan sebagai pacar online? Bukankah menurutmu hubungan sebagai pacar online itu hanya sebatas online saja? Hanya hal iseng yang kau tujukan untuk kesenanganmu saja? Lalu...apa itu menyerah? Apa yang kau maksud dengan menyerah? Menyerah atas hal apa? Semenjak kau mengatakan itu semua bukankah itu artinya kau sudah menganggap hubungan kita tak ada artinya? Meskipun bagiku hubungan kita sekedar online tapi suatu hubungan yang berarti. Ternyata kau mempermainkan aku" jelas Vio panjang lebar.
Ya, saat itu, saat Vio menelepon Prayoga dan bahkan mengirim pesan saat Vio melihat Prayoga diluar apartemen sederhananya di Pusat Kota kala itu, Prayoga yang kembali lagi ke kotanya dengan hati yang hancur, secara tidak sengaja bertemu dengan Prisa di dalam kereta api. Waktu itu Prayoga pulang dengan naik kereta api karena hatinya yang terluka dia hanya ingin perjalanan pulangnya lebih lambat sambil menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Hai!" colek Prisa yang melihat Prayoga sedang memejamkan matanya dengan earphone ditelinganya.
"Maaf jika aku membangunkanmu. Kebetulan kita bertemu di sini. Bolehkah aku duduk bersamamu disini?" tanya Prisa yang membuat Prayoga malas membalas ucapannya. Apalagi dia sudah tahu niat Prisa. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Terimakasih" lalu Prisa duduk di kursi penumpang depan Prayoga. Dan dibiarkan begitu saja oleh Prayoga.
"Kamu darimana? Sepertinya perjalananmu jauh" tanya Prisa hati-hati karena dilihat olehnya wajah yang muram.
Prisa yang semenjak mengenal Prayoga memiliki niat yang tidak baik pun apalagi secara kebetulan bertemu incarannya, mencari celah untuk mengetahuinya. Namun pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Kenapa dia berwajah muram gitu ya?" tanyanya dalam hati dengan memandang Prayoga intens.
Prayoga yang merasa dilihatpun itu merasa jengah dan risih. Lalu diapun pergi menuju toilet dengan meninggalkan ponselnya.
Disaat itulah kebetulan ponselnya bergetar kemudian dilihat Prisa sebuah nama "ayank" tak lama panggilan itu pun mati dengan sendirinya. Dengan cekatan Prisa membuka ponsel Prayoga yang juga tidak dikunci pakai kata sandi atau semacamnya. Dibaca sebuah pesan lalu dibalas oleh Prisa. Ya pesan itu yang menjawab adalah Prisa dan tidak ketahuan sampai sekarang karena pesan itu langsung dihapus oleh Prisa. Dengan senyum smirk terlihat sadis. Kemudian Prisa mengembalikan ponsel seperti pada semula. Tak lama setelah itu Prayogapun kembali dan menuju kursinya lalu mengambil ponselnya. Beruntunglah Prayoga tidak membacanya yang dikarenakan sudah dihapusnya pesan-pesan itu.
Lalu kenapa Prayoga sekarang mau sama Prisa? Ya dikarenakan Prisa pandai merayu dengan bermaksud membantu bekerja mengelola mini marketnya dengan janji mampu melebarkan sayapnya. Itulah kenapa Prayoga sangat menghargai jasa Prisa.
Flashback off ya.
"Biarkan aku jelaskan semuanya. Apa yang kau lihat tadi bukanlah yang sebenarnya" jelas Prayoga yang saat ini diusir oleh Vio dan membuka pintu apartemen lalu menutupnya kembali saat berhasil mengusir Prayoga dari apartemennya.
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Semua sudah terbukti" gumamnya pada dirinya sendiri. Kemudian dia bersiap untuk pergi ke kantor. Sebelumnya dia akan menelpon Ranti untuk mengantarkannya ke A&W Group terlebih dahulu bersama Monti.
"Cepat kau jemput aku bersama Monti. Aku mau ke A&W Group jam 08.0" suara Vio yang merdu dari balik ponselnya.
__ADS_1
"Baik" diikuti anggukan kepala.