
“Bagaimana dengan perusahaanmu di Pusat Kota? Sepertinya kau lebih sering di Kota Besar” ucap Vio yang mencoba memulai pembicaraan. Baginya keheningan yang tercipta antara dirinya dan laki-laki yang duduk di depannya itu sangat membosankan. Dia tidak suka dengan suasana seperti itu. Sangat canggung rasanya. Kini mereka berdua berada di sebuah restoran ternama juga namun bukan milik keluarga Pramudya.
“Ada Martin yang bisa kesana kemari. Jika ada kamu disana maka aku yang akan kesana” jawab Vrish menggoda Vio menampilkan senyum tipisnya namun terlihat menawan. Hal itu tidak sengaja Vio melihatnya.
“Lalu apa yang kau lakukan di sana? Apalagi dengan penampilan yang jauh dibawah standartmu yang sekarang” lanjut Vrish.
“Bukan urusanmu!” ketus Vio melengos kembali menatap makanannya kemudian menyantapnya.
Hal itu membuat tertawa Vrish. Dia suka melihat perempuan di depannya itu kesal.
“Tidak usah menatapku. Bukan muhrim. Dosa tahu!” ketusnya lagi.
Hal ini mengundang tawa Vrish.
“Memangnya ada yang lucu? Kenapa menertawakanku? Aku berharap mulutmu itu akan terus tertawa seperti itu dan tidak dapat berhenti!” kata-kata pedas Vio itu seketika membungkam mulut Vrish. Masih dengan senyumannya itu dan matanya yang terus menatap Vio, membuat hatinya dipenuhi kupu-kupu dan jantungnya yang berdetak lebih kencang.
“Gimana jika kita bisa menjadi muhrim?” tanya Vrish mendekat yang membuat hati Vio gusar. Dapat ditangkap oleh Vrish jika wanita di depannya itu terlihat gugup namun karena dia pandai menutupinya maka hal itu nyaris tidak terlihat.
“Tentu saja menikah” jawab Vio polos tanpa disadari akan ucapannya itu. Sesaat setelah dia berpikir dengan apa yang barusan dia ucapkan, kemudian rasanya ingin menyembunyikan dirinya dengan wajahnya yang bersemu merah itu ke dalam lubang yang sangat sangat dalam.
“Baiklah, sekarang aku mengkhitbahmu. Itu artinya kamu tidak boleh melirik atau menerima pinangan laki-laki lain” kata-kata Vrish itu terdengar jelas dan tegas di telinga Vio. Apalagi setelah itu laki-laki di depannya itu tertawa bahagia.
“Tidak tidak. Kata siapa aku mau dikhitbah olehmu! Lagi pula kalo kamu ingin mengkhitbahku, lakukanlah di depan kedua orang tuaku. Dasar tidak tahu etika” jawaban Vio itu semakin membuat Vrish tertawa lepas. Dia merasa gemas dengan Vio. Hal itu mengundang banyak orang untuk memandangnya heran.
“Siapa takut. Malam ini juga aku akan menghadap kedua orang tuamu” kemudian Vrish bangkit berdiri dan menarik Vio dari duduknya untuk keluar restoran dan mengantarkannya.
“Apa yang kau lakukan? Aku tidak mau!” Vio menghempaskan cekalannya dari Vrish. Vrish yang melihat itu tertawa gemas. Ingin rasanya dia mencubit pipinya.
“Aku mau ke toilet dulu. Jangan ikuti aku!” ucap Vio yang segera beranjak ke toilet yang akan diikuti oleh Vrish. Kemudian Vrish berhenti menunggu di luar.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, Clara menghampiri Vrish.
“Hei!” ucap Clara menepuk pundak Vrish dari belakang. Hal itu membuat Vrish sangat waspada. Lalu Vrish membantingnya namun setelah dia melihat seorang wanita yang menepuknya, dia menahannya dan terlihat seolah usai berdansa. Dan sayangnya pertunjukan itu dilihat Vio dari jauh. Saat ini Vio sudah keluar dari toilet dan melihat pemandangan yang tak biasa itu, entah kenapa hatinya tidak suka.
Apakah dia cemburu?! Sepertinya dia memang cemburu tapi tidak disadari olehnya. Hatinya merasa kesal dan marah melihat itu. Kemudian dia berlalu melewati mereka berdua dan berpura-pura tidak melihatnya.
Tampaknya dia lupa bahwa Clara mengajaknya berlomba untuk mendapatkan tuan muda Pramudya. Hatinya yang kesal membuka pintu mobil Vrish lalu menutupnya dengan kasar.
__ADS_1
“Jalan! Cepat! Antarkan aku pulang sekarang!” titahnya pada Jefry. Jefry yang melihat itu merasa heran karena nona muda Atmadja masuk tanpa tuan mudanya. Jika dia menuruti perintah nona muda Atmadja, maka kepalanya sebagai taruhannya.
Vrish yang melihat itu menyadari ada yang salah dengan wanita pujaannya kini. Kemudian dia menyusul dan menepis panggilan Clara.
“Vrish! Hampir saja aku berhasil merayunya. Kenapa bisa bertemu wanita itu disini? Dan itu tadi apa? Kenapa wanita itu bisa masuk ke dalam mobilnya Vrish? Dan tiba-tiba berlari menuju mobil lainnya? Apakah dia melihat kami? Apa itu artinya dia cemburu?” Clara memanggilnya namun tidak dihiraukan oleh Vrish. Dia tersenyum lebar dan penuh kelicikan di matanya. Dia melihat Vrish yang berlari mengejar Vio sang desainer itu.
“Cepat! Atau aku pulang sendiri?!” ketus Vio lalu membuka pintu mobil dan beruntunglah Monti tiba tepat waktu. Saat Vio melihat pemandangan tadi, Vio langsung menghubungi Monti. Ternyata asistennya itu bergerak dengan cepat. Vio hanya memperkirakan Monti berada di mansion orang tuanya jadi dia berpikir bahwa Monti pasti lama maka dia berusaha untuk meminta asisten Vrish untuk mengantarkannya dulu siapa tahu mau mengantarkannya. Ternyata dia salah menduga. Majikan tetaplah majikannya. Kemudian Vio bergegas turun dan berlari cepat menuju mobilnya yang kini ada Monti yang sudah membukakan pintu untuknya.
“Darimana kamu bisa bergerak begitu cepat?” tanya Vio pada Monti karena memang tidak tahu itu.
“Tadi saya mengisi bahan bakar, Nona. Dan setelah saya keluar dari SPBU, saya bermaksud untuk membeli stok makanan untuk keluarga saya di rumah ke mini market terdekat dari SPBU, dan disaat itulah Nona menelepon saya” penjelasan itu baru dipahami Vio. Hampir dia melupakan itu. Monti sangat bertanggungjawab akan keluarganya. Dia adalah tulang punggung keluarga. Terbangun dari sadarnya, Vio menoleh ke belakang.
“Cepat! Aku tidak mau pria aneh itu mengejar kita” titahnya pada Monti setelah masuk ke dalam mobilnya.
“Sial! Cepat ikuti mobil itu!” kini titah Vrish pada asistennya untuk mengikuti mobil Vio.
“Baik, Tuan” mobil Vrish melaju mengikuti jalan mobil Vio. Kecepatan mengemudi Jefry tak kalah dari Monti. Namun, ketika mobil Vrish hendak mendekati mobil Vio, Vio yang hatinya merasa kesal pun meminta Monti untuk bergantian mengemudi.
“Cepat kau minggir” desak Vio.
“Tapi, Nona. Ini sangat berbahaya” Vio yang merasa semakin kesal pun terlihat geram. Kemudian Monti pun menggeser tubuhnya berbarengan dengan Vio. Dapat tercium di indera penciuman Monti betapa harumnya tubuh dari nona mudanya. Namun, pikiran itu ia tepis kembali. Dia hanya menganggap nona mudanya sebagai majikannya saja tidak lebih.
Setelah jalanan dirasa sepi, Vio memperlambat jalannya.
“Akhirnya” gumam Monti lirih yang masih di dengar Vio. Itu membuat Vio menoleh dan heran. Ternyata asistennya sedari dia mengambil alih kemudi, tampak raut kekhawatiran.
“Kamu nanti akan terbiasa” ucap Vio mengagetkan Monti sehingga Monti tersipu dan salah tingkah. Harga dirinya sudah ketahuan oleh nona mudanya.
Tak terasa mereka berdua telah sampai di sebuah villa di daerah tepi pantai yang jauh dari mansion dan bahkan dari apartemen Vio. Tepatnya di pinggiran kota. Monti yang melihat itu tampak bingung.
“Ini adalah tempat persembunyianku. Hanya aku, Rena, mami dan papi yang tahu. Orang lain tidak ada yang boleh tahu. Karena ini adalah vila hasil dari jerih payahku sendiri tanpa uang dari papi mami. Kau juga” Monti yang paham akan kata-kata majikannya itu menganggukkan kepalanya.
“Baik, Nona. Saya akan menjaga semua ini” jawabnya tegas dan penuh kesetiaan.
Sedangkan ditempat lain.
“Sial! Kenapa bisa kau dikalahkan bawahannya itu?” Vrish marah mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Semua gara-gara wanita liar itu. Rubah kecilku jadi kabur” ucapnya kesal dengan raut wajah yang suram.
“Kemana dia pergi? Apakah dia kembali ke apartemennya? Atau ke mansionnya?” batinnya.
“Kita ke apartemennya sekarang” kemudian Jimy melajukan mobilnya ke apartemen Vio.
Setelah menempuh perjalanan jauh, kini mereka tiba di apartemen Vio, namun tidak terlihat kendaraan Vio yang ditumpangi tadi. Ternyata tebakan Vrish salah.
“Selidiki dia kemana. Cari kamera CCTV di seluruh penjuru kota ini” titah Vrish pada Monti.
“Baik, Tuan”
Di Villa rahasia Vio.
“Kau pulanglah sekarang. Pakai mobil lain yang ada di dalam garasi” perintah Vio itu mengagetkan Monti kembali. Dia khawatir jika nonanya sendirian di tempat sepi seperti ini. Mana bangunannya sangat luas dan mewah lagi.
“Sudah kamu jangan khawatir tentangku. Di sini ada maid yang menemaniku” lanjut Vio lagi yang dibarengi keluarnya dua orang maid muda dan hampir setengah baya dari dalam. Lalu menghampiri mereka berdua. Nona mudanya selalu bisa membaca pikirannya.
“Selamat datang, Nona Muda. Assalamu’alaikum” sambut para maid yang tampak gembira menyambut nona mudanya datang. Sangat jarang nona mudanya berkunjung bahkan untuk menginap.
“Wa’alaikumsalam. Bibi Hawa, Wuri, terimakasih atas sambutan hangatnya. Bagaimana kabar kalian?” balas Vio menghangat. Hatinya yang kesal dan marah itu menjadi hangat ketika melihat rona bahagia sambutan para maidnya. Wuri adalah ponakan dari Bibi Hawa yang baru lulus sekolah. Karena tidak ada dana jadi Wuri ikut bibinya membantu menjaga villa tersebut. Dia bermaksud mengumpulkan hasil gajinya untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi, namun, kondisi perekonomian keluarganya sangatlah bergantung padanya.
Setelah melihat nona mudanya memasuki vila itu, kemudian Monti melajukan mobilnya ke dalam garasi yang pintunya dibuka secara otomatis. Di dalam sana terdapat dua buah mobil yang satu mobil biasa dan yang satu mobil sport mewah. Ternyata tidak hanya dua maid itu saja yang tinggal disana, melainkan ada seorang laki-laki usia kisaran hampir kepala tiga, masih muda, yang ternyata ditugasi untuk merawat mobil-mobil nona mudanya itu. Sekaligus menjadi security vila dan dilakukan bergantian dengan temannya yang kebetulan malam itu ganti shift dengan pemuda jangkung itu.
“Saya, Hasan, Tuan. Tuan akan memakai mobil yang mana? Biar saya ambilkan kuncinya” ucap Hasan dengan senyum ramahnya.
“Yang ini saja” dia menunjuk sebuah mobil tipe HRV.
“Baiklah, Tuan. Tuan tunggu di sini sebentar saya akan mengambilkan kuncinya” kemudian, Hasan berlari mengambilkan kuncinya. Setelah mendapatkan kuncinya, dia memberikannya pada Monti. Monti akhirnya akan pulang memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Ini” perkataan nona mudanya yang tiba-tiba itu mengagetkan Monti yang sedang mengeluarkan mobil berwarna putih itu. Nona mudanya menyodorkan sebuah amplop coklat berisikan uang karena terlihat lumayan tebal.
“Tidak, Nona. Saya masih ada” tolak Monti menjadi sungkan. Karena tidak hanya kali ini dia dan keluarganya dibantu oleh Vio, namun sudah berulangkali. Dia memang sangat senang bekerja pada keluarga Atmadja. Namun, dia tidak mau dianggap memanfaatkan kebaikan tuannya itu. Beruntunglah dia juga memiliki keluarga yang pengertian. Adiknya yang dia biayai sekolahnya kini mau berusaha untuk bangkit sendiri dengan membuka usaha onlineshop di rumahnya. Awalnya Vio ingin membantunya dengan memberikan sebuah kios. Namun ditolak secara halus oleh keluarganya. Bagi mereka, mereka sudah bisa hidup seperti saat ini pun sudah bersyukur. Apalagi itu semua juga tidak lepas dari bantuan keluarga Atmadja.
“Ambillah! Kau bisa berpikir sendiri” ucapan Vio itu tidak dimengerti Monti. Melihat nona mudanya yang sudah menghilang dari pandangannya, lamunannya disadarkan oleh Hasan.
“Tuan, maksud Nona Muda, mungkin untuk ayah sama ibu, Tuan” Hasan yang selalu tersenyum itu mengingatkan Monti pada adiknya di rumah.
__ADS_1
“Jika tuan tidak ingin menggunakannya, tabungkanlah untuk umroh atau haji kedua orang tua, Tuan” imbuhnya lagi. Dan lagi-lagi ucapan itu menyadarkan Monti akan ibadah yang sangat diinginkan oleh ibunya yaitu berangkat umroh. Lalu Monti menepuk pundak Hasan dan membalasnya dengan senyuman hangat juga. Bergegas ia melajukan mobil milik tuannya itu pulang ke rumahnya.