
Esok di kantornya Vio.
Vio menghadap HRD untuk menerima balasan surat pengunduran dirinya.
“Terimakasih, pak. Saya terima suratnya ya. Mohon maaf jika selama ini kinerja saya tidak sesuai dengan keprofesionalitasan dalam bidang yang selama ini saya handle. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini dalam membimbing saya. Tentunya semua ini menjadi ilmu bagi saya. Saya mohon undur diri” dengan berdiri Vio membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
“Iya, sama-sama Vio. Sangat disayangkan ya, pegawai secerdas kamu harus mengundurkan diri karena keluarga” ucap Kepala HRD dengan tersenyum ramah.
Kemudian Vio pergi keluar menuju ruangan Farel.
Tok tok tok..
“Masuk” suara dari dalam.
Ceklek
Viopun masuk. “Pak, ini surat balasan dari Pak Bahtiar, Kepala HRD” dengan menunjukkan surat itu pada Farel kemudian dia menjatuhkan bokongnya di atas kursi di depan meja kerja Farel.
Vio yang melihat Farel membuka amplop itu, tiba-tiba teringat bertemunya Vio dan Farel pertama kalinya. Saat itu, ketika Vio mencoba melamar pekerjaan di kantor tempat Farel bekerja ini dengan pakaian yang biasa pada umumnya dipakai para pelamar kerja. Kebetulan setelah diterimanya Vio bekerja pada satu perusahaan dengan Farel, sore harinya Vio bertemu dengan Farel seorang laki-laki yang dia lihat saat di perusahaan tadi yang dia lamar di sebuah taman. Laki-laki cuek dan dingin dengan wajah kakunya itu melewati tempat Vio berdiri saat melamar kerja. Saat itu Farel sedang membelikan camilan di dekat taman untuk Siska saat Farel akan menjemput Siska dari sebuah mall. Ketika itu, ada sebuah motor yang lewat dengan kencang hampir menabrak Farel. Beruntunglah Farel ditolong oleh Vio hingga dia selamat tanpa luka. Dari semenjak itu Farel mengetahui sifat asli Vio yang disadari Farel sama persis dengan almarhumah adiknya. Disitulah Farel tampak berwarna kembali hidupnya. Penuh dengan senyuman dan ceria daripada sebelumnya yang selalu bersikap cuek dan dingin. Berbagai drama di lalui Vio dan Farel. Bahkan disebut perebut laki orang dan lain sebagainya, hanya Vio bersikap biasa saja. Hanya dengan Farel Vio berani bergurau. Karena sudah merasa nyaman dengan kehadiran Farel sebagai kakak. Perasaan yang tidak pernah Vio rasakan selama ini. Perasaan yang berbeda ketika sedang berada dengan Farel. Seolah merasa terlindungi meskipun dia sendiri jago bela diri, tapi dia merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang kakak. Dari sanalah Siska menyadari kesalahannya. Saking cintanya dengan Farel dan tak mau kehilangannya, Siska selalu posesif di depan Vio. Bahkan over protektif tidak boleh pergi berdua dengan Vio kala itu.
“Kenapa kamu senyam senyum gitu? Dari dulu aku ini sudah tampan. Kalua tidak tampan mana mungkin abang memiliki adik sepertimu?” seringai bibir Farel bangga tatkala merasa diperhatikan oleh Vio. Tanpa sadar Vio pun menitikkan air matanya.
“Loh loh kenapa adik abang kok malah nangis sihh?! Ihh cengeng amat. Mana Vioku yang kuat dan gemesin itu?!” sambil mendekat dan mencubit pipi tirus Vio lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
“Terimakasih, kak sudah melebihi mimpiku. Aku memang bukan sedarah denganmu. Tapi mungkin aku adikmu yang dilahirkan kembali untukmu, kak” ucap Vio menangis sedih. Dia bersyukur memiliki kakak angkat yang sangat menyayanginya itu. Farel pun tak terasa ikut terharu menitikkan air mata sadar akan kata-katanya tadi. Baginya Vio adalah adik kandungnya. Dia tidak peduli pemikiran orang lain. Jika ada yang bertanya padanya saat berjalan berdua dengan Vio bahkan banyak yang mengira mereka sepasang kekasih, Farel tak segan mengatakan bahwa mereka kakak beradik. Jika dipikir-pikir agak mirip juga lama-lama, dari bentuk face nya yang sama. Sama-sama oval dan berpipi tirus.
Setelah perpisahan dengan Farel dan teman-temannya di sebuah café tadi siang, kini waktunya Vio untuk pulang. Hatinya sudah merasa lega sekarang. Namun, naas, lagi-lagi sial bagi Violetta jika di jalan bertemu dengan nenek sihir itu lagi. Vio yang malas pun mempercepat langkahnya untuk segera menuntaskan tujuannya yaitu berbelanja bahan makanan karena tadi pagi Rena berpesan jika nanti Vio pulang minta tolong dibelikan bahan makanan dan camilan karena bumil saat ini sangat ingin memakan sesuatu sebagai camilan. Semenjak hamil, Rena selalu mengubah bahan-bahan makanan menjadi camilan yang lezat. Tentu saja secara dia kan punya toko roti.
Brukk
Suara seperti orang jatuh.
“Hahahaha..” tawa itu seperti Vio kenal.
Semakin geram Vio dibuatnya. Ingin sekali membalas wanita licik itu. Entah apa urusannya dengannya, kenapa wanita itu sepertinya sangat dendam dengannya. Seakan tiada puasnya ketika bertemu untuk menyakitinya. Ya, yang terjatuh itu Vio. Karena tergesa-gesa dia tidak menyadari seseorang menjegalnya. Orang itu adalah teman Clara siapa lagi kalau bukan si ratu gossip di kantornya itu, eh maksudnya mantan teman kantornya kemarin sebelum resign. Vio lalu menoleh mendengar tawa mereka semakin jelas. Banyak orang yang menatapnya.
“Lihatlah pelakor itu. Punya mata tapi kemana matanya sampai jalanpun tidak bisa melihat orang-orang disekitarnya. Haha..” tawa Clara lagi. Entah kenapa wanita licik itu suka sekali mengganggunya.
“Hati-hati kalo jalan. Dasar pelakor!” ucap pengunjung mall lain.
Tampak Vio menggertakkan giginya. Raut muka dingin dan sorot mata kejam itu kembali berkobar bak bensin yang tersulut api dia akan meledakkan apa saja, begitulah raut muka Vio saat ini. Dia tidak suka apabila ada masalah sudah menyangkut nama orang tuanya.
“Oh ya? Aku tidak takut. Bukankah tunanganku itu seorang miliarder? Tentu saja tunanganku tidak akan membiarkanku hidup terlunta-lunta bukan, nona Clara yang terhormat?” kata-kata Vio bernada mengejek Clara dan sahabatnya itu sambal berdiri dari jatuhnya.
“Rupanya kamu tidak kapok atas kejadian kemarin, sayang? Hahaha…” bisik Clara kemudian mendekat di telinga Vio dengan tawanya yang lebar seolah menggema di seluruh mall itu sambal berlalu.
“Dasar nenek sihir tidak tahu malu!” gumam Vio yang ditinggalkan dua orang penjahat yang tidak tahu malu itu. bagaimana tidak tahu malu, tentu saja tidak, karena mall itu milik keluarga Clara. Selain seorang foto model, Clara juga seorang anak pebisnis di bidang Retail. Memiliki retail dimana-mana di setiap kota besar tentu sudah termasuk pebisnis sukses juga bukan tapi masih taraf dalam negeri.
__ADS_1
“Jadi dia orang yang sudah mencelakaiku kemarin. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja” gemelutuk gigi-giginya hingga membuat rahangnya mengeras.
“Lihat saja nanti” gumamnya lagi.
Segera Vio berlalu meninggalkan mall tersebut. Diapun belum berbelanja. Akhirnya dia memutuskan untuk berbelanja di mall yang dekat dengan apartemennya. Dia memilih belanja di mall besar itu karena dekat dengan kantor dan searah. Perkiraannya karena jika ia belanja di mall yang dekat dengan kantor itu nanti dia tinggal jalan lurus pulang saja tanpa mampir-mampir lagi.
Ddrrrrttt…ddrrrttt…
“Assalamu’alaikum, Ren. Ada apa? Apakah ada lagi yang kamu butuhkan? Mumpung aku masih di mall bawah nih” jawab Vio sambungan telepon dari Rena.
“Kamu baik-baik saja kan, Vi? Entah kenapa perasaanku tidak enak dari tadi kemarin. Aku mengkhawatirkan kamu, Vi. Cepatlah pulang ya. Hari sudah hamper gelap. Aku juga sudah menyiapkan air hangat buatmu mandi” ucap Rena yang tampak khawatir terdengar dari suaranya. Semenjak Rena hamil memang lebih sensitive.
“Siap, nyonya. Aku akan segera tiba” jawab Vio lalu mematikan sambungannya.
Setelah tiba di apartemennya, Rena yang tampak khawatir itu bergegas membantu Vio membawakan sebagian belanjaannya. Lalu bertanya dan membuatkan minuman buat Vio.
“Bagaimana hari ini? Berjalan lancar kan semuanya? Di acc sama HRD kan? Dan..apakah kamu dijalan tadi bertemu dengan kejadian yang tidak mengenakkan? Kamu pasti lelah. Maafkan aku ya, Vi selalu merepotkanmu” pertanyaan Rena itu seolah-olah menginterograsinya.
“Dari mana kamu tahu dijalan ada suatu kejadian? Kenapa kamu berubah jadi peramal?” tanya Vio membuatnya memicingkan sebelah matanya.
“Dari kemarin aku sudah merasa khawatir sama kamu. Dan aku curiga padamu dari kemarin. Apa kamu lupa habis berkelahi? Siapa yang kau hajar kemarin?” jawaban Rena itu mendapat intimidasi dari tatapan Vio.
“Aku melihat lenganmu terluka dan melihat kemejamu robek seperti terkena senjata tajam. Aku tahu kamu bisa bela diri, Vi. Tapi kamu juga harus hati-hati. Lalu siapa mereka?” lanjut Rena menjelaskan.
__ADS_1
“Mereka utusan nenek sihir dan si ratu gossip itu. Ya kamu benar, Ren. Aku harus lebih hati-hati lagi. Maafkan aku kemarin tidak bercerita denganmu karena khawatir membuatmu begini” tampak hening sejenak.
“Dan tadi ketika berbelanja di mall terdekat dengan kantorpun bertemu mereka lagi. Mereka sangat mengusikku. Aku tidak boleh tinggal diam, Ren” lanjutnya lagi. Akhirnya Vio bercerita semuanya tanpa ada yang dikurangi. Ternyata kehamilan Rena ini justru membuatnya sangat antusias ingin ikut membalasnya. Namun jika diingat-ingat lagi benar kata Vio, dia saat ini sedang berbadan dua.