
Akhirnya masuk sekolah pun tiba. Hari ini jadwalnya Vio mengantar putranya yang tampan itu pergi ke sekolah. Selama di vila Vio selalu mencari sekolah yang cocok untuk Re sekolah. Vio tidak akan membiarkan Ranti mencari sekolah untuk Re. hal ini menjadi perdebatan antara Re dan Vio.
“Mami, kan onty mau daftarin Re untuk bersekolah di sekolah axelerasi. Kenapa mami nyekolahin aku di sekolahan itu?” kesal Re saat sudah turun hendak sarapan.
“Patuhlah!” jawab Vio singkat dan tegas. Jika Vio sudah menjawab seperti itu, Re hanya bisa menurut saja. Karena Re tidak menyukai ketegasan dan wajah yang dingin dari maminya itu. Terkadang Vio juga memiliki sikap tegas terhadap Re yang suka mengajaknya berdebat.
“Baiklah” nada Re memalas.
“Sudahlah menurut sama orang tua itu akan menjadikan jalanmu dipermudah. Maafin onty ya. Onty sudah salah” elus Ranti pada kepala Re yang ada disampingnya.
“Semua ini gara-gara kamu. Ayo lekas sarapan. Jika lama nanti kamu bisa terlambat” ucap Vio menyalahkan Ranti dan mengajak Re segera sarapan roti selai coklat kesukaan Re. Re menghampiri malas dan segera Re juga Ranti sarapan bersama.
“Wuri, ayo kamu juga sarapan. Habis mengantar Re kamu juga harus kuliah bukan?” ucap Vio pada Wuri.
“Panggil juga Bi Hawa juga Hasan untuk sarapan.
“Maaf, Nona, kami sudah sarapan tadi sama bubur. Maaf kami mendahului Nona dan yang lainnya. Karena kami sudah sangat lapar” tolak Wuri secara halus. Padahal mereka belum sarapan hanya mereka merasa tidak enak jika hampir setiap hari makan bersama dengan tuannya. Tapi benar jika Bi Hawa sudah membuat bubur untuk mereka bertiga, dirinya, Bi Hawa juga Hasan.
“Baiklah. Tapi jangan lupa untuk menyelesaikan kuliahmu sampai tuntas. Bukankah semester ini sudah semester akhir?” jawab Vio sambil menikmati sarapannya.
__ADS_1
“Iya, Nona, insyaa allah bulan depan saya maju untuk skripsi. Mohon doanya ya, nona dan semua. Semoga dilancarkan semuanya” jawab Wuri girang dengan senyum merekah. Hal itu membuat Vio senang karena melihat senyum gembira dari Wuri itu artinya, Wuri belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah Vio mendengar cerita dari Bi Hawa keinginan Wuri, setelah berada di luar negeri, Vio menghubungi relasinya yang kebetulan juga memiliki sebuah kampus ternama. Dia memintanya untuk menerima Wuri untuk menimba ilmu di perguruan tingginya itu. Semua biaya Vio yang menanggungnya. Maka dari itu, Wuri merasa sungkan jika menerima kebaikan tuannya yang seperti itu. Menurutnya, dia tidak boleh memanfaatkan kebaikan dari tuannya itu. Dia juga harus sadar diri.
Setelah mereka menikmati sarapan paginya, Vio mengantarkan Re pergi ke sekolah. Sekolah yang menempuh perjalanan lumayan jauh dari vila membuat Vio tidak pernah merasa pesimis ataupun menyerah. Selama itu untuk Re, apapun akan dia lakukan. Dan Vio mencarikan sekolah yang bagus yang letaknya juga tidak jauh dari vila. Kebetulan di daerah dekat vila hanya itu sekolah yang paling bagus. Hanya rutenya berlawanan dengan arah menuju kotanya. Jadi jika dari sekolah Re menuju ke mansion perjalanan bisa ditempuh selama hampir dua jam-an.
“Sekarang sudah sampai. Mami yakin kamu pasti akan suka sekolah di sini, sayang. Percayalah sama mami. Selamat datang di sekolah paud barumu ya. Semoga kamu menyukainya seperti yang mami harapkan” ucap Vio pada putranya sembari mencium kening Re kemudian melepas seatbeltnya juga Re lalu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Re. Hari ini Vio membawa mobil yang biasa saja, HRV-nya. Dia tidak ingin terlihat mencolok.
Sekolah yang terlihat sederhana dari luar. Begitu kaki Vio dan Re menginjak pintu gerbang yang disambut dengan dua orang satpam yang satu mengatur lalu lintas penyebrangan anak sekolah dan pendampingnya, yang satu berjaga di depan pintu gerbang bersama para guru untuk menyambut kedatang para murid juga orang tua yang mengantar. Begitu masuk, ternyata sekolah itu memiliki halaman yang sangat luas di dalam. Di dalam sana banyak arena bermain untuk anak-anak usia dini dan semua arena dialasi dengan pasir yang ditengah-tengah arena ada jalan rerumputan untuk lewat yang aman untuk anak-anak usia dini.
“Selamat pagi, Nyonya, Ibu dari Raykanda. Selamat datang di sekolah” sambut seorang ibu guru dengan senyum merekah tampak tulus dengan wajah orientalnya. Ibu gurunya menyapa melihat name tag yang terdapat pada dada Re. Karena Vio mendaftarkannya lewat online dan membayarpun juga dengan transfer. Untuk pengambilan seragam kebetulan waktu Wuri ada perjalanan ke arah kampus jadi Vio meminta untuk mengambilnya.
“Selamat pagi, ibu guru. Perkenalkan saya maminya Raykanda. Violetta. Dan ini putra saya Re. Dia lebih suka dipanggil Re” balas Vio dengan memperkenalkan dirinya.
“Anak ini sungguh sangat tampan. Entah seperti apa wajah dari papinya Re. Tapi jika dilihat wajahnya mirip dengan maminya” batin gurunya yang memerhatikan dengan seksama. Lalu tersenyum.
“Kamu sangat tampan” senyum merekah gemas melihat Re dengan tangan memegang kedua pipi Re.
“Aku sungguh tidak suka ibu guru memegang kedua pipiku seperti itu!” ketus Re kesal. Perkataan itu membuat ibu guru Ria tertawa. Lalu bangkit berdiri.
“Maaf, jika kamu tidak suka. Nanti katakana pada Ibu Ria apa yang kamu tidak suka dan kamu suka. Okay?” ucap guru Re dengan ramah.
__ADS_1
“Re, tidak sopan bicara seperti itu pada ibu gurumu, nak. Maafkan Re, Bu Ria atas sikapnya. Mungkin nanti Re agak merepotkan Ibu guru Ria” ucap Vio khawatir.
“Ya, Mami Re. tidak apa-apa. Sifat anak-anak memang ada yang seperti itu. Percayakan pada kami, Nyonya. Baiklah Re, Ibu Ria akan membawamu ke kelas barumu. Salim dulu sama mami dan berpamitan, nak” ucap Bu Guru Ria dengan lembut.
“Mami, Re mau sekolah asalkan mami menunggu Re di rumah. Mami tidak Re ijinkan untuk bekerja di kantor. Jika mami mau ke kantor, Re tidak mau sekolah” sungut Re yang masih tampak kesal.
“Iya, sayang. Mami akan bekerja dari rumah saja. Biar onty yang bekerja di kantor kan?” bujuk Vio pada putranya.
“Ingat pesan mami, tidak membuat ulah selama di sekolah. Okay?” ucapnya lagi berpesan.
“Iya, mami bawel. Re bukan anak yang nakal” jawaban itu membuat Vio hatinya tergelitik ingin tertawa. Dia tahu jika Re anak penurut namun keras kepala seperti dirinya.
“Ibu Ria, saya nitip Re ya. Jika ada sesuatu dengannya, tolong hubungi saya” ucap Vio beralih ke bu guru Ria.
“Iya, Nyonya. Mami Re tidak perlu khawatir. Insyaa allah Re aman bersama kami. Anda bisa menjemput Re pada jam 12 siang nanti” jawab Bu Guru Ria. Lalu meninta Re untuk berpamitan pada maminya kemudian pergi meninggalkan Vio yang masih berdiri memperhatikan putranya hingga Re berbelok pada sebuah ruangan bersama gurunya.
Vio merasa lega karena Re tidak keras kepala.
“Hari ini, putramu sudah sekolah Ren. Beruntunglah kamu memiliki putra secerdas Re, Ren. Tapi kenapa sifatnya tidak sepertimu yang sangat bersemangat bersekolah. Justru sifatnya itu menuruniku. Dulu ketika aku kecil juga tidak mau pergi ke sekolah hanya karena aku merasa pintar. Tapi ternyata mamiku benar, Ren. Re membutuhkan teman sebayanya. Sepertiku dulu. Hingga aku bertemu denganmu. Semoga Allah memberikan tempat terindah untukmu, Ren” gumamnya yang masih berdiri di depan pintu gerbang sekolah Re memperhatikan punggung Re hingga menghilang dari pandangannya. Lalu dia berbalik berjalan menuju mobilnya. Dia akan menjemputnya kembali nanti siang di jam 12 sesuai perkataan gurunya barusan.
__ADS_1