Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 78 Rindu Oma dan Opa


__ADS_3

"Mami!" begitu Re pulang sekolah, Re langsung berlari memeluk Vio begitu masuk vila.


"Putra mami sudah pulang. Kasih salam dulu dong ah" ucap Vio mencubit hidungnya yang mancung itu.


"Tadi Re sudah mengucapkan salam di depan pintu sama Bi Hawa yang sudah bukain pintu" jawab Re menggemaskan.


"Tapi sama mami belum. Ayo kasih salam buat mami" ucap Vio mencubit pipi gembulnya Re.


"Assalam'alaikum, Mami!" jawab Re tersenyum memiringkan kepalanya menampilkan senyum yang lucu sekali.


"Wa'alaikumusalam, putra mami yang ganteng" kemudian Vio meletakkan celemeknya. Saat Re masuk, Vio sedang membuat puding coklat dikasih susu fla kesukaan Re di dapur.


"Wah enak sekali. Nanti aku mau habisin sendiri pudingnya" ucap Re melihat puding yang sudah diletakkan ke dalam cetakan itu.


"Nanti kalo sudah dingin baru bisa dimakan. Ayo sekarang ganti baju dulu. Lekaslah mandi dan bersiap untuk makan siang" kata Vio mendorong Re kecil naik ke kamarnya.


"Okay" jawab singkat Re. Lalu mengikuti langkah maminya.


Setelah berselang hampir setengah jam Re dan Vio bersiap untuk makan. Kemudian Vio mengambilkan makanan untuk Re. Ada cumi hitam kesukaan Re dan juga sayur bayam. Meskipun sudah tinggal di luar negeri, Vio juga Ranti selalu membuatkan masakan khas negara asalnya. Hanya Humberger makanan asing kesukaannya, selebihnya masakan mami dan ontynya.


"Assalamu'alaikum semuanya. Wah wah sedang makan siang dengan cumi hitam kesukaan onty. Onty juga mau makan siang dulu ah" ucap Ranti yang tiba-tiba masuk dan nyerobot nimbrung di meja makan tanpa membersihkan dirinya dulu diprotes sama Re.


"Onty tangannya kotor. Ayo bersihin dulu tubuh Onty. Onty kan dari jalan" Re melotot ke arah Ranti yang tangannya menggantung mau mengambil nasi.


"Hehe..kamu benar. Tapi Onty hanya mampir sebentar sayang. Karena Onty mau pergi lagi ke Agoda. Jadi Onty mau cuci tangan saja" ucap Ranti nyengir lalu bangkit untuk mencuci tangannya ke wastafel dekat dapur.


"Ke Agoda? Ada urusan apa ke sana?" tanya Vio mengernyitkan keningnya.


"Ya. Papi Nona menyuruhku untuk ke Agoda hari ini. Untuk bertemu dengan klien. Kebetulan klien papi mengajak ketemu di Agoda. Untung deket dari sini jadi tadi papi memintaku sekalian bisa langsung pulang setelah bertemu klien. Begitu, Nona" jelas Ranti.


"Oo" jawab Vio ber oh ria dengan menyuapkan satu sendok makan makanannya.


"Tapi habis itu Onty langsung pulang kan?" tanya Re sambil makan dengan lahapnya tanpa menatap Ranti.


"Onty belum tahu, Re" jawab Ranti. Lalu mereka makan dengan hidmat tanpa obrolan kembali.


Setelah makan siang, kini Re sedang berada di dalam kamarnya untuk tidur siang. Sedangkan Vio memanggil Ranti ke ruang kerjanya.


"Bagaimana adekmu itu? Apakah mencurigakan?" tanya Vio tentang seorang pria yang membawa mobil Vio tadi di cafe yang berdebat dengan Margareta. Ternyata pria itu adalah adek Ranti yang dimintai tolong oleh Ranti atas perintah Vio. Karena kebetulan adiknya Ranti sedang berada di Kota Agoda.

__ADS_1


"Alhamdulillah tidak, nona. Dia bisa menjalankan misi pertamanya dengan baik" jawab Ranti bangga terhadap adiknya.


"Ambillah. Tolong sampaikan terimakasihku untuk adikmu. Tolong kasihkan ke adikmu" ucap Vio membuat Ranti membelalakkan kedua matanya. Baginya itu hanyalah sebuah permintaan tolong jadi pikirnya tidak sampai disitu.


"Tidak, Nona. Sudah banyak pemberian Nona Muda untuk kami. Jadi aku mohon maaf" jawab Ranti.


"Kalau kau..." belum sempat melanjutkan kata-katanya, Ranti langsung menyelanya.


"Jika Nona membayar adikku itu artinya kami saya disini hanya dianggap sebagai bawahan Nona" kata-kata Ranti langsung menusuk relung hati Vio bak menampar wajahnya.


"Baiklah. Tapi jika kelak membutuhkan sesuatu untukmu ataupun keluargamu, katakanlah jangan sungkan. Okay?!" jawab Vio tersenyum bangga pada asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Ya, Nona" jawab Ranti tersenyum terharu. Hingga membuat kedua bola matanya berkaca-kaca. Karena tidak mau terlihat oleh nona mudanya, dia langsung pamit untuk segera ke Kota Agoda.


"Maaf, Nona, aku pergi dulu. Nanti aku akan segera pulang jika sudah selesai" ucap Ranti.


"Ya. Re pasti menunggumu. Semoga sukses" Vio menepuk lengannya. Tapi Ranti langsung memeluknya. Vio sangat terharu. Ranti sama seperti Rena. Meskipun wajah datarnya itu selalu muncul disaat berhadapan dengan klien tapi dia selalu ceria didepannya dan juga Re. Vio membalas pelukannya.


"Assalamu'alaikum" salam Ranti.


"Wa'alaikumsalam hati-hati" jawab Vio.


Di tempat Vrish.


"Apakah Clara tahu?"


"Sudah, Tuan. Karena kemarin saya memdengar sendiri dia memerintah seseorang untuk mencari tahu tentang Nona Muda Atmadja" jawab Jefrey.


"Awasi dia. Jangan sampai dia menyentuhnya" ucap Vrish mengeratkan giginya.


"Baik, Tuan" jawab Jefry. Lalu dia kembali ke ruangannya.


"Cincin ini akan kembali pada tuannya" gumamnya tersenyum miring setelah kepergian Jefrey.


Brakk!!


"Kau tidak mengangkat teleponku, Vrish!" tiba-tiba seorang wanita masuk ruangan Vrish tanpa seijin Vrish.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" ucap Vrish santai tanpa mengalihkan pandangannyake arah Clara.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan padamu. Kapan kau akan menikahiku? Bukankah sudah lama kamu menggantungku seperti ini? Aku juga butuh kepastian Vrish" ucap Clara tiba-tiba bergelayut manja di lengan Vrish.


Vrish berdiri menyingkirkan tangan Clara dari lengannya.


"Aku tidak akan menikah denganmu. Sudah kubilang berulang kali. Apakah kau ini manusia tidak bertelinga?" ucap Vrish kesal.


"Silahkan keluar!" usir Vrish.


"Vrish..!" tak terima Clara mengeluarkan kata-kata serapahnya.


Tidak ada yang berani mengusirnya karena para karyawan Vrish tahu bahwa Clara adalah tunangan bosnya.


"Awas kamu!" ucap Clara sangat marah entah pada siapa. Lalu dia keluar meninggalkan kantor Vrish.


"Cepat kau cari tahu tentang Violetta Andjani" perintahnya pada seseorang ditelepon.


"Aku akan menghabisimu, pegawai rendahan" amarahnya tampaknya sudah tak terbendung lagi. Lalu dia melajukan mobilnya keluar halaman parkir perusahaan Abadi.


Di vila.


"Bi, aku sama Re akan pergi keluar. Sepertinya Re bosan di vila. Aku akan mengajak Re ke mansion. besok pagi baru kami pulang" ucap Vio pada Bi Hawa.


"Baik, Nona. Hati-hatilah di jalan, Nona" jawab Bi Hawa.


Ya, Re memang minta diantar ke mansion. Karena Re sudah sangat merindukan oma sama opanya juga kakeknya.


"Ayo, Mi. Cepatlah!" teriak Re yang sore itu sudah berada di dalam mobil bersama Hasan.


"Iya!" seru Vio.


"Bi, aku sudah berkirim pesan pada Ranti. Tidak usah menungguku juga Re. Jadi minta tolong layanilah dia seperti kau melayaniku. Dia anak yang baik" ujar Vio.


"Baik, Nona" jawab Bi Hawa tersenyum.


"Saya sudah menganggapnya anak saya sendiri nona" lanjutnya.


Vio tersenyum senang.


"Baiklah. Assalamu'alaikum" ucap Vio.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" jawab Bi Hawa.


Kemudian mereka bertiga meninggalkan vila dengan senyum merekah terutama Re si tuan kecil. Senyumnya girang sekali.


__ADS_2