Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 81 Terlacaknya keberadaan Vio


__ADS_3

Keesokan harinya di sebuah tempat selayaknya penjara, dimana Vio disekap.


Srek srek srek. Terdengar suara derap langkah kaki semakin mendekat. Vio yang waspada mendengar suara itu terbangun dari duduknya. Dengan kaki dan tangan yang masih terikat, mulut juga terikat, kini suara langkah itu semakin mendekatinya.


Byurrrr.


Vio yang disiram dengan air dingin itu, menjadi gelagapan namun sikapnya masih terlihat tenang.


“Hahaha! Bagaimana rasanya mandi dengan air es? Dingin bukan?” tanya penculik itu dengan seringai kejam. Vio yang disiram dengan air es itu merasa kedinginan. Lalu penculik itu membuka penutup mata Vio. Vio yang melihat pria di depannya itu membelalakkan kedua matanya. Ternyata dia mengenal pria di depannya itu. Hanya pria itu tidak mengenalnya. Vio mengenalnya saat pria itu dulu menjadi musuhnya di dunia bawah.


“Ternyata kau. Cecunguk black gangster” batin Vio.


“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” pria itu mengejeknya. Lalu membuka kain di mulut Vio.


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Vio dingin.


“Hahahaha” pertanyaan Vio mengundang tawa pria itu.


“Kau meremehkanku” Vio membatin dan menatapnya dengan tajam.


“Nanti kau akan tahu sendiri siapa yang menyuruhku. Hahahaha” pria itu berkata sambil melenggang pergi meninggalkan Vio sendiri.


Jangan tanya Vio. Meskipun dia tidak membawa persiapan apapun, dia selalu memakai cincin yang dia bekali dengan sebuah alat chip pendeteksi keberadaan dirinya. Kedua tangannya *******-***** untuk menekan dan mengaktifkan alat itu.


“Ku harap siapapun akan mengetahuinya” Vio membatin berharap pada siapapun yang menemukan ponselnya karena alat itu terhubung dengan ponselnya.


Di lain sisi.


“Tuan!” Jimy yang berada di mansion bersama Tuan Atmadja, Monti juga Ranti, memberi tahu tanda lampu kedip-kedip di ponsel nona mudanya lalu memberikan ponselnya pada tuan Atmadja.


“Apa maksudnya ini?” tanya tuan Atmadja.


“Hubungi Vrish” lanjutnya. Lalu tampaklah Jimy menelpon Vrish dengan segera. Tuan Atmadja memperhatikan tanda lampu merah itu.

__ADS_1


“Maaf, Tuan, bisakah saya periksa?” Ranti mengajukan pertanyaannya dengan hati-hati. Tuan Atmadja menatap dalam Ranti. Lalu memberikan ponsel Vio.


Setelah dicek dengan teliti, belum sempat Ranti mengucapkan kata-kata, terdengar suara kecil tidak asing di telinga para orang dewasa.


“Onty. Berikan padaku!” perintah Re dengan tatapan tajam menyodorkan tangan kanannya untuk menerima ponsel maminya.


“Ini adalah tanda keberadaan mami, Opa” kata-kata Re membangunkan semangat tuan Atmadja. Dia melangkah cepat menghampiri Re.


“Benarkah? Lalu darimana Re tahu itu adalah letak keberadaan mamimu?” tanya tuan Atmadja heran. Dia tahu jika Re adalah anak yang cerdas, namun dia masih belum percaya dengan cucunya di usia lima tahun cucunya itu mengetahui jika itu alat pelacak. Sedangkan dia yang sudah tua tidak mengenali tanda itu.


“Mami yang pernah cerita pada Re. Jika dalam bahaya, sebuah lampu akan menyala berwarna merah. Jika lampu menyala hijau berarti tandanya sudah aman. Mami pernah mengatakan itu pada Re tentang warna lampu peringatan” jelas Re yang terdengar seperti bocah seusianyaa. Namun setelah mendengar kalimat terakhirnya, semua orang dewasa berpikir hal itu memang benar.


Re berjalan ke ruang kerja maminya yang diikuti beberapa orang dewasa dibelakangnya. Kemudian dia mengambil tempat duduk lalu jari jemari kecilnya mengetik sebuah keyboard untuk menyadap pelacak itu. dengan lincah, hanya terdengar suara jari jemari yang bersentuhan dengan keyboard sebuah computer kerja milik Vio.


Terpampang sebuah lokasi yang letaknya lumayan jauh dari jangkauan di layar monitor.


“Berhasil, Opa. Opa cepat kerahkan semua bawahan opa. Karena mereka sangat kejam” Re berbicara tanpa menoleh pada Opanya. Segera Tuan Atmadja berlari keluar dari ruang kerja, menyuruh Jimy juga Monti.


“Kemarilah!” terdengar perintah Re pada seseorang di seberang telepon.


“Re! Tunggu! Apa maksudmu minta tolong? Onty tidak akan membiarkanmu menyusul mamimu” teriak Ranti menyusul Re. Re menoleh pada Ranti.


“Onty, jika Re tidak ikut lalu siapa yang akan memberi kode pada mereka?” jawab Re malas.


“Tidak! Onty tidak akan mengijinkan anak Onty kenapa-kenapa. Bisa-bisa mamimu itu memarahiku” ucap Ranti marah. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Re. Bagaimanapun juga Re sangat dia sayang seperti anaknya sendiri.


“Sini! Onty tunjukkan sesuatu padamu!” tarik Ranti pada tangan kecil Re menuju ke sebuah ruangan.


“Waowww! Menakjubkan!” dua kata itu membuat Re melongo merasa takjub dengan ruangan rahasia Vio yang selama ini Vio rahasiakan dari Re.


“Nanti jangan bilang pada mamimu itu jika Onty yang mengajakmu kemari! Berjanjilah dulu. Maka aku akan menunjukkan padamu bagaiman cara kerjanya” sebuah jari kelingking sudah berada di depan mata Re. Lalu Re menyambutnya malas.


“Baik. Aku janji akan merahasiakannya. Karena mami sudah keterlaluan merahasiakannya padaku” ucap Re merasa kesal karena ada ruangan canggih yang disembunyikan darinya.

__ADS_1


“Mamimu itu bukan bermaksud merahasiakannya darimu, nak. Melainkan mami kamu hanya ingin kamu belajar seperti teman-teman sebayamu” jawab Ranti melunak memberitahu Re.


“Iya aku tahu, Onty. Baiklah aku akan mengerjakan misiku. Tolong jika nanti tuan muda Pramudya kemari, tariklah dia masuk kemari” ucap Re seperti orang dewasa.


“Hei anak kecil. Bukan tarik tapi ajak. Ralat kata-katamu itu” ucap Ranti menggoda membenarkannya.


“Kamu masih kecil bicaralah yang sopan!” lanjutnya.


“Pokoknya Onty nunggu diluar saja aku mau konsentrasi” usir Re pada Ranti.


“Kau mengusirku?” seru Ranti.


“Nak, tolong kamu temani mami ya” tiba-tiba nyonya Atmadja menghampiri mereka berdua di ruang rahasia Vio bermaksud meminta tolong pada Ranti untuk membantunya menyiapkan makanan buat orang-orang yang sudah dari semalam tidak mau makan karena sedih memikirkan Vio. Mami bahkan meraung menangisi putri semata wayangnya. Meskipun dia sering berdebat dengan putrinya, namun, mami sangat menyayangi putrinya itu.


“Baiklah, Mami” sebelum beranjak pergi, Ranti melirik Re lalu melangkahkan kakinya lebar-lebar.


Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!” perintah suara kecil itu pada seseorang di balik pintu ruang rahasia maminya.


Sebuah tatapan tajam mengarah pada Re kecil. Hal itu membuat Re merasakannya.


“Sudahlah nanti akan aku jelaskan. Duduklah bersamaku. Aku tahu kemampuanku tidak secanggih dirimu. Tolong temukan mamiku dan selamatkan dia untukku” ucap Re yang kemudian menoleh pada Vrish. Ya yang datang adalah Vrish. Kebetulan saat Vrish masuk bertemu dengan Ranti dan dipersilahkan masuk oleh Ranti.


Masih dengan tatapan tajam pada Re kecil, Re yang merasakan tatapan dingin itu tetap bersikap cuek masa bodoh dan terus mengetikkan banyak kode pada layar monitor.


“Mamiku di sini. Kau carilah dia di sebuah komplek mewah di daerah dekat dengan pesisir. Posisinya ada di barat daya. Apakah kau akan melototiku terus?” akhirnya Re kecil menoleh ke Vrish.


“Darimana kau tahu itu?” tanya Vrish heran. Anak kecil seusianya, harusnya bermain ponsel atau permainan seperti lego susun atau bahkan permainan anak-anak seusianya.


“Apakah kau tidak mengerti, tuan muda Pramudya yang terkenal pandai dalam bidang IT dan berbisnis?” ucap Re menyindir Vrish.


“Kau tahu mengoperasikan semua ini?” Vrish masih merasa heran tidak percaya.

__ADS_1


“Duduklah bersamaku di sini. Tidak usah heran melihatku jika tidak ingin matamu itu copot dan kakimu mati berdiri di situ karena heran padaku” sindir Re. akhirnya Vrish menurutinya dan duduk di sebelah Re kecil. Kini mereka berdua mengamati dan memperhatikan pergerakan tanda merah itu pada layar monitor.


__ADS_2