Pacar Online Yang Tertukar

Pacar Online Yang Tertukar
Bab 32 Hutang penjelasan


__ADS_3

Malam pun tiba. Jam menunjukkan jam delapan malam. Vio hari ini lembur karena akhir bulan semakin dekat. Dia harus menyelesaikan tugasnya sedemikian rupa.


Viopun pulang. Dan tak lupa membeli susu ibu hamil dan camilan-camilan yang mungkin disukai ibu hamil. Ternyata gelagat Vio terlihat oleh Clara. Apalagi Vio berbelanja di mall terbesar di Pusat Kota.


"Wah pelakor ini ternyata akan menjadi ibu ya?" pernyataan ini membuat para pengunjung berhenti dan menatap mereka berdua karena suara Clara yang seorang foto model itu sengaja dikeraskan supaya orang-orang mendengarnya.


Vio terlihat jengah dan marah. Apalagi pulang lembur sudah capek malah bertemu nenek sihir itu lagi. Kenapa kemana-mana bertemu dengan nenek sihir ya. Pikir Vio. Ternyata dunia itu sempit. Vio berusaha untuk menghindari Clara. Namun bukan Clara namanya kalau tidak belum merasa puas memaki Vio sang tunangan tuan muda Pramudya bohongan.


Eh tapi itu kata Clara loh bukan kata Vrish. Ngomong-ngomong Vrish mana ya thor? 🤔


Nanti ada saatnya muncul 😁


"Kamu kenapa sih suka sekali mengusikku? Tidak puas jika hanya memakiku? Atau mau bertarung melawanku?" tantang Vio. Sebenarnya Vio ingin sekali mencabik-cabik monster wanita di depannya itu. Selalu saja mengganggunya saat bertemu.


"Ohooo jadi kamu menantangku ya?! Baiklah ayo kita bertarung dengan cantik" bisik Clara maju selangkah demi selangkah dengan elegannya mendekati Vio.


"Besok sore jam empat datang ke cafe Brown. Kita akan bertemu di sana" lanjut Clara kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan Vio.


"Masa bodoh. EGP deh emang gue pikirin" jawabnya santai dan kembali menuju kasir.


Di apartemen Vio.


"Kamu makan yang banyak. Biasanya bumil itu makannya dobel" Vio menyendokkan lauk pauk banyak ke piring Rena.


"Sudah cukup Vi, meskipun bumil makanku juga tidak seperti kuli bangunan juga kan?! Yang ada sering makan bukan sekali makan dobelnya begini banyaknya" sambil menunjuk ke piringnya. Tampak sepiring makan itu menggunung. Kemudian Rena mengambil seperlunya saja.


Setelah makan malam, Rena mencoba menjelaskan kepada Vio perihal perut buncitnya. Ternyata kehamilan Rena hasil perkosaan saat dia diculik oleh mantan Haris.


"Tapi kamu jangan khawatir, Vi. Aku sudah merenungkan semuanya. Termasuk aku siap menghadapi masa depan bersama anakku. Dia tidak berdosa Vi. Jika aku tidak menginginkannya maka aku sangat berdosa. Aku sudah tidak bisa menjaga diriku sekarang aku akan merasa malu pada Allah jika sampai aku tidak menginginkannya. Tidak ada anak yang ingin ditakdirkan sepertinya bukan?! Asalkan bersamamu dengan selalu memberiku support dan doa hidupku akan terasa jauh lebih bermakna Vi. Aku siap menghadapi gunjingan orang-orang Vi" ucap Rena sambil mengelus perutnya yang sudah tampak membuncit dengan kehamilannya yang sudah berjalan tiga bulan itu. Dan tak terasa air matanya meleleh dengan sendirinya. Vio yang melihat itupun memeluknya memberikan kehangatan.


"Sabar ya, Ren. Kamu wanita kuat. Aku yakin kita akan menghadapi ini bersama-sama. Kelak jika ada yang ingin mempersuntingmu..." belum terselesaikan ucapannya disela oleh Rena.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang mau dengan wanita yang hamil diluar nikah bukan?!" begitu pesimisnya Rena dimata Vio.


"Kamu tidak boleh meragukan takdirnya. Jika nanti ada yang menolakmu, maka akan berhadapan denganku. Eleh elehhh..bodoh syekali laki-laki itu menolakmu wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang ini" kata Vio memegang kedua bahu Rena dan mengedipkan matanya.


"Jika aku jadi kamu, pasti duniaku sudah hancur, Ren. Dan aku tidak akan membiarkan laki-laki itu hidup dengan damai" gemelutuk gigi Vio pertanda marah.


Dalam hati Vio, "aku akan menghubungi pengawal papi dan memperhitungkan perbuatan laki-laki bejat itu".


"Kamu gak akan melakukan sesuatu kan Vi?" tiba-tiba pertanyaan Rena mengagetkannya. Lalu hanya gelengan kepala dan senyuman manisnya yang dia berikan sebagai jawaban Vio kepada Rena.


Rena merasa lega. Meski tahu akan sangat sakit di masa mendatang baik baginya maupun anaknya, dan dia tahu bahwa merawat single parents itu sangat susah seperti yang dialami ibunya dulu. Tapi baginya dengan kehadiran sang buah hatinya nanti akan menjadi obat penawar kegundahan dan kedukaan atas kematian ibu dan calon suaminya itu.


Hari demi hari Vio dan Rena lalui bersama karena Rena masih berada di apartemen Vio. Semakin hari semakin waktunya mendekati pengunduran diri Vio. Kini kabar kelahiran dari anak pasangan Farel dan Siska pun sampai ditelinga Vio. Segera Vio dan Rena meluncurkan kemudinya dengan sangat antusias menyambut kedatangan baby Farel ke dunia fana ini dengan banyak hadiah. Tentunya hadiah-hadiah ini sangatlah bernilai. Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju kamar rawat inap Siska.


"Assalamu'alaikum, kak. Selamat ya kak atas kelahiran ponakanku yang lucu maasyaa allah lucu sekali kamu, nak. Ehh ehh ehhh gemeshh gemesshh aunty sama kamu tiiihhh" Vio langsung mentowel pipi gembul jagoan Farel. Ya anak Farel dan Siska laki-laki gembul dan montok berkulit putih seperti Siska ibunya.


"Ehhh jangan dicolak colek masih ori bapak ibunya aja belum boleh kamu malah yang pertama" sungut Farel.


"Gak! Buat apa kamu bawa pulang anak orang. Sana bikin sendiri" marah Farel sambil mengayunkan bayinya menjauh dari jangkauan tangan nakal Vio.


"Ealah kak Farel ini emangnya bikin ga ada prosesnya apa? Lagian baby Farel ini lucu gembul kak. Iihhh montok kali sih kamu. Unyu unyu unyuu" Vio mengajak bicara si bayi.


Dalam gendongan Farel si bayi tampak menggeliat memdengar ocehan Vio. Dan ini mengundang tawa semua yang ada disitu termasuk ibunya Siska.


"Kak, kenalin ini Rena yang sering aku ceritain ke kak Siska. Hehe..tenang aja Ren, ceritaku gak macem-macem kok hanya semacem" disertai cemgiran kudanya.


Siska dan Rena hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Vio yang seperti anak kecil.


"Hai, Ren! Aku Siska dan ini suamiku Farel. Kakaknya Vio. Dan beliau ibuku" kenalkan Siska pada Rena. Rena mengangguk tersenyum menyapa mereka.


"Kamu hamil, Ren?" tanya Siska yang tidak tahu apa-apa perihal cerita kehidupan Rena.

__ADS_1


"Iya, kak. Tiga bulan" jawab Rena tersenyum.


"Alhamdulillah. Semoga sehat selamat sampai melahirkan nanti ya, Ren" ucap Siska lagi.


"Aamiin" jawab Rena dan Vio.


"Maaf ya, Ren atas berita itu. Kami turut berduka untukmu" ucap berganti oleh Farel.


"Iya, kak terimakasih. Tidak apa-apa" jawaban ini pun juga disertai senyuman tulus Rena. Vio yang mencemaskannya tampak lega. Vio baru saja berpikir tidak mengajak Rena pergi menengoknya tapi Rena minta ikut karena merasa bosan sendirian. Padahal hari masih siang. Mungkin bagi Rena ini bukanlah lingkungannya.


"By the way anyway busway si gembul namanya siapa kak?" tanya Vio pada Farel dan Siska.


"Raka Abimanyu" jawab Farel.


"Wah bagus sekali, kak. Apa itu artinya? Boleh aku tambahi jadi Raka Abimanyu Yudistira Arjuna Nakula Sadewa Bima? Hehehe" tawa Vio.


"Kau adik donat. Entah apa yang terjadi jika kamu besar nanti sayang" ucap Farel kepada bayinya.


Rena berharap wajah anaknya bisa mirip dengannya saja. Sehat dan gemuk seperti baby Raka anaknya Siska dan Farel. Rena semakin antusias menanti hari itu tiba. Kelahiran sang anak ke bumi ini dengan tangisan dan senyum hangatnya yang tidak dibuat-buat. Hal itu membuat Rena mengelus perutnya dan tersenyum bahagia.


"Sabar ya, nak" raih pundak Rena oleh ibu Siska. Rena terkejut dan menoleh dengan sentuhan itu. Sentuhan yang sudah lama ia rindukan. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya sehingga membuat semua yang ada di ruangan itu sontak kaget dan langsung mengerti. Rena baru saja kehilangan ibu yang sangat dia cintai. Sentuhan lembut ibu Siska mengingatkannya pada almarhumah ibunya.


Sontak Rena memeluk ibunya Siska.


"Ibu!" ibunya Siska terlonjak kaget berdiri kaku. Merasa hatinya tersentuh ibunya Siska memeluknya dengan lembut.


Kemudian setelah tersadar kembali, Rena segera meminta maaf pada ibunya Siska.


"Ma..maaf, bu. Aku tidak sengaja memeluk ibu. Spontan aku ingin memeluk ibu" derai air matanya tak terbendung lagi.


"Jika kamu rindu peluklah ibu berkali-kali juga boleh. Kamu sama seperti Vio dan Siska. Siska kamu dapat seorang adik perempuan yang selama ini kamu inginkan bukan? Rena, anggaplah ibu ini ibu kamu dan Siska ini kakak kamu" ucapan ibu Siska membuat banyak orang di situ terharu.

__ADS_1


Kalimat itu diangguki Siska dan berusaha memeluk Rena. Siska mau menerima Rena sebagai adiknya. Kebahagiaan pun bertambah di hati Rena. Luka yang begitu dalam sedikit demi sedikit terobati.


__ADS_2